Lin Yuan hanyalah seorang satpam biasa yang ingin menikmati hidup tenang setelah meninggalkan gelarnya sebagai Raja Tentara Bayaran paling mematikan.
Namun, hari-harinya berubah menjadi kacau ketika ia terjebak kesepakatan menjadi pacar palsu seorang CEO wanita sedingin es bernama Shen Yuxuan demi menggagalkan pertunangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Cipratan pecahan kaca berserakan di atas karpet mahal berwarna merah marun.
Zhao Tian baru saja membanting gelas anggur kristalnya ke dinding dengan amarah yang meluap luap.
Napas tuan muda keluarga Zhao itu memburu dan matanya merah karena menahan rasa frustrasi.
Berita tentang Bos Ma yang memutus kontrak kerja sama baru saja sampai ke telinganya setengah jam yang lalu.
Dia tidak habis pikir bagaimana seorang preman senior seperti Bos Ma bisa ketakutan setengah mati.
"Satpam rendahan itu pasti punya latar belakang yang tidak kita ketahui."
Zhao Tian bergumam sambil menggigit ibu jarinya dengan cemas.
Di ruangan yang remang remang itu, seorang pria berpakaian serba hitam duduk santai di sudut sofa.
Pria itu memiliki tato kalajengking di lehernya dan sedang memainkan sebilah belati berburu.
Sring.
Suara gesekan logam terdengar tajam saat pria itu memutar belatinya dengan sangat cepat.
Dia adalah Kalajengking Hitam, pemimpin kelompok pembunuh bayaran profesional dari luar kota.
"Tuan Muda Zhao, kau membayar kami dengan harga yang sangat tinggi hanya untuk mengurus seorang satpam?"
Kalajengking Hitam bertanya dengan nada meremehkan yang sangat kental.
"Jangan remehkan dia, orang itu sangat berbahaya dan memiliki kemampuan bela diri tingkat tinggi."
Zhao Tian menatap Kalajengking Hitam dengan pandangan penuh peringatan.
"Aku ingin kalian menghancurkan mental satpam itu dan keluarga Shen sekaligus."
Zhao Tian berjalan ke meja kerjanya dan mengambil sebuah foto berukuran sedang.
Dia melemparkan foto itu ke atas meja di depan Kalajengking Hitam.
Foto itu menampilkan seorang gadis muda cantik yang sedang tersenyum ceria.
"Ini adalah Shen Mengyao, adik kandung dari Shen Yuxuan."
Zhao Tian menjelaskan tujuannya dengan senyum yang sangat licik dan kejam.
"Tangkap gadis ini hidup hidup dan bawa ke gudang kosong di pelabuhan barat."
Kalajengking Hitam mengambil foto itu dan menatapnya dengan penuh minat.
"Gadis yang sangat cantik, apakah kami boleh bersenang senang dengannya sebelum membunuhnya nanti?"
Pertanyaan menjijikkan itu dijawab dengan tawa pelan dari Zhao Tian.
"Lakukan apa pun yang kalian mau setelah satpam itu datang dan melihatnya hancur."
Zhao Tian kembali menuangkan anggur ke dalam gelas barunya.
"Aku ingin melihat wajah putus asa Jenderal Shen saat tahu putri bungsunya rusak di tangan kalian."
Kalajengking Hitam berdiri dan memasukkan belatinya kembali ke sarungnya.
"Anggap saja tugas ini sudah selesai, Tuan Muda Zhao."
Pembunuh bayaran itu berjalan keluar dari ruangan dengan langkah tanpa suara bagaikan hantu.
Rencana kotor keluarga Zhao kini beralih dari sabotase bisnis menjadi ancaman nyawa yang nyata.
Siang hari di lobi Grup Shen terasa cukup sibuk dengan lalu lalang karyawan.
Lin Yuan sedang bersandar di meja resepsionis sambil mengunyah permen karet.
Dia sedang menggoda resepsionis cantik yang pipinya sudah merona merah sejak tadi.
"Jadi Nona manis, jam berapa kau selesai bekerja hari ini?"
Lin Yuan bertanya dengan nada santai dan senyum yang meluluhkan hati.
Belum sempat resepsionis itu menjawab, sebuah suara melengking yang riang memotong pembicaraan mereka.
"Kakak ipar yang tampan."
Lin Yuan menoleh ke arah pintu masuk utama dan langsung menghela napas panjang.
Shen Mengyao berlari kecil ke arahnya dengan senyum yang sangat cerah.
Gadis genit itu mengenakan celana pendek berbahan denim yang memamerkan kaki jenjangnya.
Atasannya adalah kaus putih ketat model sabrina yang memperlihatkan bahu mulusnya.
Setiap karyawan pria di lobi itu tanpa sadar menelan ludah melihat penampilan berani Mengyao.
Tentu saja tidak ada yang berani menegur karena dia adalah adik kandung dari CEO mereka.
Bruk.
Mengyao langsung menabrakkan tubuhnya ke Lin Yuan dan memeluk lengan pria itu erat erat.
Dua gundukan kenyal miliknya kembali bergesekan dengan lengan berotot Lin Yuan.
"Kakak ipar sedang apa di sini, apa Kakak tidak rindu pada adik iparmu yang manis ini?"
Mengyao menatap Lin Yuan dengan mata bulatnya yang dikedipkan berkali kali.
Lin Yuan menarik lengannya dengan pelan dari pelukan maut tersebut.
"Aku sedang bekerja mencari nafkah, Mengyao, jangan mengganggu satpam yang sedang bertugas."
Lin Yuan menjawab dengan wajah datar seolah tidak terpengaruh sama sekali.
'Bocah ini benar benar tidak tahu bahaya dari pakaian yang dia kenakan.'
Lin Yuan membatin sambil menatap celana pendek Mengyao yang menurutnya terlalu minim.
"Bekerja itu membosankan, temani aku jalan jalan ke pusat perbelanjaan sekarang juga."
Mengyao kembali menarik tangan Lin Yuan dengan paksa.
"Kakak perempuanku yang kaku itu terlalu sibuk, jadi kaulah yang harus menemaniku."
Lin Yuan mengusap bagian belakang lehernya merasa sedikit kerepotan.
"Kalau aku pergi, kakakmu yang kejam itu pasti akan memotong gajiku bulan ini."
Lin Yuan memberikan alasan agar bisa lolos dari ajakan gadis genit ini.
Namun Mengyao langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon kakaknya.
"Halo Kak Yuxuan, aku mau pinjam pacarmu sebentar untuk menemaniku belanja ya."
Terdengar suara teriakan marah Shen Yuxuan dari ujung telepon yang langsung dimatikan oleh Mengyao.
Klik.
"Nah, sudah dapat izin dari CEO, ayo kita pergi sekarang Kakak ipar."
Mengyao tersenyum penuh kemenangan dan menyeret Lin Yuan menuju pintu keluar.
Lin Yuan hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah mengikuti kemauan gadis itu.
Dia tahu Shen Yuxuan pasti sedang mengamuk di ruangannya saat ini karena cemburu.
Namun ada alasan lain kenapa Lin Yuan akhirnya bersedia mengikuti Mengyao keluar dari gedung.
Insting tajamnya sebagai mantan tentara bayaran menangkap sesuatu yang tidak beres.
Sejak Mengyao melangkah masuk ke lobi tadi, Lin Yuan merasakan tatapan mengancam dari luar gedung.
Ada seseorang yang membuntuti gadis ini dari jarak jauh dengan niat yang sangat buruk.
Lin Yuan memutuskan untuk tetap diam dan mengikuti permainan ini untuk memancing ikan keluar dari air.
Mereka berdua berjalan menuju mobil sport merah milik Mengyao yang terparkir di depan lobi.
"Biar aku yang menyetir, Nona muda."
Lin Yuan meminta kunci mobil dari tangan Mengyao dengan nada yang sedikit memaksa.
Mengyao memberikan kunci itu dengan senang hati dan duduk di kursi penumpang.
Brummm.
Suara mesin mobil sport itu meraung keras saat Lin Yuan menginjak pedal gas.
Mobil merah itu melesat membelah jalanan Kota Hai menuju pusat perbelanjaan terbesar di pusat kota.
Sepanjang perjalanan, Mengyao tidak berhenti mengoceh dan menggoda Lin Yuan.
"Kakak ipar, apa kau benar benar menyukai wanita yang dingin seperti Kak Yuxuan?"
Mengyao bertanya sambil memiringkan tubuhnya menghadap Lin Yuan.
Kaus putihnya sedikit merosot, memperlihatkan belahan dadanya yang menggoda.
"Dia itu membosankan dan tidak tahu cara memanjakan pria."
Lin Yuan melirik sekilas ke arah pemandangan indah itu sebelum kembali fokus ke jalan.
"Kakakmu punya pesona tersendiri yang membuatku tidak bisa berpaling darinya, Mengyao."
Lin Yuan menjawab dengan kalimat halus yang tidak akan menyinggung siapa pun.
"Cih, padahal aku jauh lebih seksi dan penurut daripada dia."
Mengyao memanyunkan bibirnya merasa tidak terima dengan jawaban Lin Yuan.
Lin Yuan hanya tersenyum tipis dan melirik kaca spion tengah mobilnya.
Sebuah mobil van hitam terlihat menjaga jarak sekitar lima puluh meter di belakang mereka.
Mobil itu sudah mengikuti mereka sejak keluar dari gerbang Grup Shen.
'Para amatir ini bahkan tidak tahu cara menjaga jarak yang benar saat membuntuti target mereka.'
Lin Yuan mencibir dalam hati melihat cara kerja para penguntit tersebut.
Setengah jam kemudian, mereka tiba di parkiran VIP pusat perbelanjaan.
Mengyao langsung keluar dari mobil dan menarik tangan Lin Yuan menuju pintu masuk mal.
Selama dua jam berikutnya, Lin Yuan mengalami siksaan nyata yang lebih berat dari medan perang.
Dia harus menemani Mengyao keluar masuk puluhan butik pakaian mewah.
Mengyao sengaja mencoba berbagai macam baju terbuka dan meminta pendapat Lin Yuan.
Setiap kali keluar dari ruang ganti, gadis itu akan berpose menggoda di depan Lin Yuan.
"Bagaimana dengan gaun merah ini, Kakak ipar? Apa ini cukup untuk membuat para pria tergoda?"
Mengyao berputar pelan memperlihatkan gaun merah ketat yang memeluk tubuhnya.
Lin Yuan yang duduk di sofa ruang tunggu hanya bisa menghela napas pasrah.
Tangannya sudah penuh dengan belasan tas belanjaan bermerek mahal.
"Kau terlihat sangat cantik, tapi kakakmu pasti akan membakar gaun itu kalau melihatmu memakainya."
Lin Yuan menjawab dengan jujur sambil meminum air mineral botolnya.
Dia tidak benar benar memperhatikan lekuk tubuh Mengyao saat ini.
Fokus utamanya sedang disebar ke seluruh penjuru area pusat perbelanjaan tersebut.
Ada tiga pria mencurigakan yang menyebar di sekitar butik ini.
Mereka berpura pura melihat barang, namun mata mereka terus mengawasi gerak gerik Mengyao.
Niat membunuh yang menguar dari ketiga pria itu sangat jelas terbaca oleh Lin Yuan.