NovelToon NovelToon
Satu Bulan Menunda Cerai

Satu Bulan Menunda Cerai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.

Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 28: Langkah Kaki yang Seirama

Keheningan yang ditinggalkan oleh hantaman pintu kamar nomor dua terasa lebih pekat daripada malam-malam terburuk di awal pernikahan mereka.

 Di atas kasur, Surat Perjanjian Cerai Mutlak yang ditandatangani oleh Gisella masa lalu bergeming bagai monumen kegagalan.

Adrian telah menutup hatinya kembali, memasang dinding es yang jauh lebih tebal karena dibangun di atas rasa dikhianati.

Bagi Gisella, malam itu dilalui tanpa memejamkan mata.

Namun, alih-alih tenggelam dalam ratapan tak berdaya, mentalitasnya sebagai seorang mantan manajer humas profesional perlahan mengambil alih.

"Jika ini adalah krisis reputasi terbesar dalam hidupku, maka menyerah bukan bagian dari rencana mitigasi,"

 gumam Gisella pada kegelapan kamar, menghapus sisa air mata di pipinya.

Dia tahu Adrian adalah pria berbasis data. Pria itu tidak akan memercayai kata-kata kosong atau tangisan dramatis.

Satu-satunya cara untuk meruntuhkan kesalahpahaman ini adalah dengan menyajikan "bukti baru" yang tidak bisa dibantah oleh logika ilmiah sang profesor.

Kamis pagi bergulir dengan ketegangan yang kasat mata.

Atmosfer di ruang makan kediaman Arthur kembali membeku.

 Adrian duduk di kepala meja, mengabaikan cangkir tehnya, dan hanya fokus membaca tumpukan jurnal tanpa menoleh sedikit pun saat Gisella masuk.

Sesuai dengan perintah dingin Adrian semalam—"jangan pernah menyentuh dapurku lagi"—Gisella tidak memasak.

Dia duduk di kursinya dengan tenang, mengenakan pakaian yang rapi, memandang Adrian dengan tatapan yang tidak lagi penuh ketakutan, melainkan ketetapan hati yang matang.

"Adrian,"

panggil Gisella tenang.

Adrian tidak menurunkan jurnalnya.

 "Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan draf pembelaan baru, Gisella."

"Aku tidak sedang membela diri. Aku hanya ingin menyerahkan ini,"

ucap Gisella sembari menggeser selembar kertas putih ke arah Adrian.

Alis Adrian bertaut di balik kacamata peraknya.

Dia menurunkan jurnalnya sedikit, melirik kertas tersebut. Itu bukan surat cerai yang kemarin, melainkan sebuah Surat Analisis Kronologi Finansial dan Grafologi yang ditulis tangan oleh Gisella sendiri semalam suntuk.

"Apa ini?"

tanya Adrian, suaranya tetap datar namun ada kilat penasaran yang tertangkap oleh radar Gisella.

"Itu adalah analisis perbandingan antara Gisella yang menulis surat cerai di dalam laci itu dengan aku yang berada di hadapanmu sekarang," jawab Gisella teguh.

Dia menunjuk poin pertama pada kertas tersebut.

"Perhatikan tanggal pada meterai surat cerai itu, Adrian. Dokumen itu dibuat dan ditandatangani tepat tiga hari sebelum insiden benturan kepalaku di rumah sakit. Sifat tinta dan penekanan pena menunjukkan kondisi psikologis yang terburu-buru dan panik—pola yang sama dengan surat-surat ancaman Julian."

Gisella menopang dagunya, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Adrian.

"Sekarang, bandingkan dengan draf Manajemen Nutrisi atau coretan partitur Chopin yang kubuat minggu lalu. Gaya penulisan, penekanan aksen, bahkan struktur bahasaku menggunakan pendekatan logika linier. Seseorang yang berniat melarikan diri dengan uang taruhan judi tidak akan menghabiskan waktunya menghitung kalori sup tomat suaminya atau mempelajari struktur melodi klasik hanya untuk bersandiwara."

Adrian terdiam.

Matanya memindai kertas analisis yang disodorkan Gisella.

Sebagai ilmuwan, otaknya secara otomatis memproses data tersebut. Struktur perbandingan grafologi yang disajikan Gisella sangat presisi—terlalu rapi untuk ukuran sebuah kebohongan impulsif.

"Data ini tidak mengubah fakta bahwa tubuhmu memegang kendali atas dokumen cerai sah itu,"

ucap Adrian, mencoba mempertahankan benteng esnya meski suaranya tidak lagi setajam semalam.

"Tubuh ini, ya. Tapi bukan jiwaku, Adrian," balas Gisella lirih namun tajam.

 "Kau bilang semalam kau ingin menjalani sisa waktu ini sebagai dua orang asing. Baik, mari kita lakukan. Tapi sebagai orang asing yang cerdas, aku menolak meninggalkan rumah ini dengan status sebagai penipu yang tidak terbukti. Aku akan tetap di sini sampai hari ketiga puluh, bukan untuk melarikan diri bersama Julian, tapi untuk membuktikan bahwa analisismu tentang diriku semalam adalah kesalahan kalkulasi terbesar dalam karier ilmiahmu."

Setelah melayangkan tantangan verbal yang sangat elegan itu, Gisella bangkit dari kursi, memberikan sedikit anggukan hormat, lalu berjalan keluar dari ruang makan dengan langkah kaki yang tegap dan anggun.

Adrian menatap punggung Gisella yang menjauh, lalu beralih pada kertas analisis di tangannya.

Untuk pertama kalinya, sang profesor merasa teorinya sendiri goyah oleh tesis tandingan yang diajukan oleh istrinya.

Sore harinya, pukul empat lewat empat puluh lima menit.

Gerimis tipis mengguyur kota Aethelgard, membuat suasana di ruang tengah semakin temaram.

Sesuai perintah Adrian, piano hitam besar itu tertutup rapat.

Tidak ada alunan Chopin. Tidak ada melodi

Romance de Amour.

Namun, tepat pukul lima sore, suara langkah kaki yang ritmis terdengar menuruni tangga.

Adrian berjalan masuk ke ruang tengah, mengenakan sweter rajut hitamnya.

 Dia berdiri di dekat sofa, menatap piano yang sunyi dengan perasaan hampa yang mendadak menyerang dadanya.

Keheningan yang dia minta semalam ternyata terasa begitu menyiksa setelah seminggu penuh kehangatan.

"Cklek."

Pintu penghubung dari arah taman belakang terbuka.

Gisella masuk membawa sebuah kotak kardus kecil berisi beberapa botol kaca kosong dari laboratorium luar yang sempat tertinggal di paviliun.

Pakaiannya sedikit basah terkena rintik gerimis, membuat beberapa helai rambut cokelatnya menempel di pipi.

Gisella terkejut melihat Adrian berdiri di sana, namun dia segera menguasai diri dan berniat berjalan melewati pria itu tanpa suara—mematuhi aturan "dua orang asing".

Namun, saat langkah kaki Gisella tepat berada di samping Adrian, kaki wanita itu mendadak tersangkut pada pinggiran karpet tebal yang sedikit tertekuk.

Tubuhnya limbung ke depan, dan kotak kardus di tangannya hampir terlepas.

"Gisella!"

Dengan refleks seorang pria yang selalu memperhatikan, Adrian bergerak cepat.

Lengannya yang kokoh melingkar di sekeliling pinggang Gisella, menarik tubuh wanita itu dengan sentakan kuat ke arah dadanya sebelum dia sempat terjatuh ke lantai marmer.

"Deg."

Kotak kardus itu jatuh berdebam di karpet, namun botol-botol di dalamnya aman.

Yang tidak aman adalah detak jantung kedua insan tersebut.

Gisella menahan napas, wajahnya terbenam di dada bidang Adrian yang hangat.

Dia bisa mendengar dengan sangat jelas detak jantung Adrian yang berdegup kencang—ritme panik yang sama dengan malam di dermaga. Sementara itu, Adrian mendekap tubuh Gisella dengan erat, menghirup aroma wangi samar air hujan dan lavender yang menguar dari rambut istrinya.

Dalam posisi sedekat itu, semua ego, dinding es, dan surat cerai di dalam laci seolah menguap begitu saja.

Tubuh dan insting mereka menolak untuk saling asing.

Adrian perlahan melonggarkan dekapannya, namun tangannya tidak dilepaskan dari pinggang Gisella.

Dia menunduk, menatap wajah Gisella yang mendongak menatapnya dengan sepasang mata cokelat yang berkaca-kaca namun penuh dengan keteguhan.

"Kau bilang kita adalah dua orang asing,"

bisik Gisella, napasnya terasa hangat di dagu Adrian.

"Tapi tanganmu tidak berkata demikian, Profesor."

Adrian menatap bibir Gisella, lalu beralih ke matanya.

Rahang tegasnya mengendur.

Rasa lelah karena menahan rindu dan gengsi selama dua puluh empat jam terakhir membuat seluruh pertahanannya runtuh.

Surat cerai itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan rasa takut kehilangan yang nyata saat melihat Gisella hampir terjatuh tadi.

"Aku menarik kata-kataku semalam,"

 ucap Adrian, suaranya terdengar parau dan dalam, bergetar oleh kejujuran emosi yang meluap.

"Kalkulasiku memang salah, Gisella. Analisis grafologimu tadi pagi... dan bagaimana tubuhku bereaksi saat melihatmu dalam bahaya barusan... membuktikan bahwa jiwamu telah menghapus seluruh jejak pengkhianatan masa lalu dari rumah ini."

Adrian mengangkat tangan kanannya, menyentuh pipi Gisella yang dingin karena air hujan, mengusapnya dengan ibu jari dengan kelembutan yang teramat sangat.

"Jangan menjadi orang asing bagiku, Gisella. Aku tidak peduli dengan siapa yang menandatangani surat cerai itu di masa lalu. Yang aku tahu, wanita yang berdiri di hadapanku sekarang, yang menantang logikaku dengan keberaniannya... adalah wanita yang tidak akan kubiarkan melangkah keluar dari pintu rumah ini saat hari ketiga puluh tiba."

Gisella memejamkan matanya sejenak, menikmati kehangatan telapak tangan Adrian yang terasa begitu protektif di pipinya.

Rasa lega yang luar biasa membuncah di dalam dadanya.

Krisis terbesar mereka telah terlewati, bukan karena manipulasi, melainkan karena mereka memilih untuk menyelaraskan langkah kaki mereka di atas ritme kepercayaan yang baru.

"Kalau begitu,"

Gisella membuka matanya, seulas senyuman manis dan menawan kembali terukir di wajahnya.

"Buka pianonya, Adrian. Jam lima sore sudah lewat lima menit, dan kau berutang satu pelukan hangat karena telah menuduhku sembarangan semalam."

Adrian terkekeh rendah—sebuah suara tawa lepas yang sangat jarang terdengar di kediaman Arthur.

Dia mempererat pelukannya di pinggang Gisella, membawa wanita itu ke dalam dekapan hangat yang seirama dengan detak jantung mereka yang kini telah menyatu sepenuhnya di bawah naungan takdir baru yang mereka ukir bersama.

1
Mar lina
lanjut Thor ceritanya
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...
Mar lina
Aku mampir, Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!