Tujuh tahun lalu, Kirana Ayu Pradipta ditinggalkan tanpa penjelasan oleh kekasihnya, Raditya Alamsyah Wibowo. Kirana pergi tanpa tahu kebenaran, membangun hidup dan kariernya dari nol, tumbuh jadi perempuan tegar yang tak lagi percaya cinta. Tujuh tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Bukan sebagai sepasang kekasih, tapi sebagai rival bisnis dalam tender proyek properti terbesar di Jakarta. Radit yang dingin berusaha merebut kembali hati Kirana, sementara Kirana harus memilih antara membalas dendam, melindungi perusahaannya, atau membuka hatinya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XIV - Kalimat yang Tersimpan
Angka digital di jam mejanya menunjukkan pukul sebelas malam ketika Radit duduk di tepi ranjang, laptop kerja tertutup rapat di sampingnya, pikirannya jauh dari segala urusan proyek.
Ia tidak tahu apa yang sedang Kirana lakukan malam itu. Yang ia tahu cuma satu hal yang sudah mengendap di dadanya sejak rapat tim gabungan terakhir, sejak Valerie sengaja memposisikan diri di sampingnya di depan seluruh tim, ia yakin bahwa Valerie sudah menangkap kilasan cemburu yang tidak bisa disembunyikan dari wajah Kirana.
Radit sampai pada satu keputusan yang sudah lama ia hindari. Ia tidak bisa lagi terus menunda kebenaran yang seharusnya sudah ia ungkapkan sejak lama.
Kirana berhak tahu kenapa ia pergi tujuh tahun lalu. Berhak tahu peran ayahnya dalam kehancuran bisnis keluarga Pradipta. Berhak tahu semua yang selama ini Radit sembunyikan.
...****************...
"Lu yakin mau lakuin ini sekarang?" Farrel bertanya siang itu, duduk di seberang meja kerja Radit, ekspresinya serius mendengar rencana yang baru saja Radit ceritakan. "Situasinya udah cukup rumit sama proyek gabungan ini. Kalau lu buka semua ini sekarang, lu bukan cuma mempertaruhkan hubungan lu sama Kirana. Lu mempertaruhkan seluruh proyek, mungkin posisi lu sendiri di Wibowo Group kalau ayah lu sampai tahu."
"Gua tau risikonya," Radit menjawab, suaranya tenang meski hatinya dipenuhi kecemasan yang sama. "Tapi gua udah capek, Rel. Capek pura-pura, capek nyembunyiin sesuatu yang seharusnya udah dia tahu dari dulu."
Farrel menghela napas panjang, menggeleng pelan. "Ya udah. Kalau lu udah yakin. Tapi pikirin baik-baik cara lu nyampein. Ini bukan sekadar pengakuan cinta, Dit. Ini kebenaran yang bisa ngehancurin kepercayaan dia sama lu kalau disampein dengan cara yang salah."
"Iya, gua tau." Radit menatap kedua tangannya sendiri di atas meja. "Tapi semakin gua tunda, artinya gua masih milih jadi pengecut yang sama kayak tujuh tahun lalu. Gua nggak mau lagi kayak gitu, Rel."
"Terus, kalau Kirana malah makin marah? Kalau dia mikir lu baru ngaku sekarang karena kepepet?"
"Mungkin dia bakal ngerasa gitu." Radit menghela napas. "Tapi minimal dia denger yang sebenernya dari mulut gua sendiri, bukan dari orang lain."
Farrel diam sejenak. "Lu udah pikirin gimana kalau ayah lu tau soal ini?"
"Belum," Radit mengaku. "Tapi gua udah capek nunggu waktu yang tepat, Rel. Nggak akan pernah ada waktu yang tepat buat hal kayak gini."
"Kalau lu butuh gua temenin pas ketemu dia, bilang aja," Farrel menawarkan. "Meski gua yakin lu bakal nolak."
"Ini harus gua sendiri yang ngomong, Rel." Radit tersenyum tipis, satu-satunya senyum yang berhasil ia keluarkan sepanjang percakapan itu. "Tapi makasih udah nawarin."
Radit mengusap wajahnya kasar, menghabiskan sisa siang itu menyusun kata-kata dalam kepalanya, membayangkan bagaimana ia bisa menjelaskan semuanya. Bagaimana ayahnya, tujuh tahun lalu, memaksanya memilih antara cinta pertamanya dan keselamatan bisnis keluarga, mengancam akan menghancurkan bisnis Bambang Pradipta kalau Radit tidak segera memutuskan hubungan itu. Bagaimana ia, yang saat itu baru dua puluh tiga tahun, terlalu takut dan terlalu naif untuk melawan ayahnya, memilih pergi tanpa penjelasan karena berpikir itu cara paling cepat melindungi Kirana dari kehancuran yang akan menimpanya.
Ia tidak tahu, saat itu, keputusannya tidak menyelamatkan apa-apa. Ayahnya tetap menghancurkan bisnis Bambang Pradipta meski Radit sudah menuruti perintahnya, seolah perpisahan itu cuma jadi bumbu pemanis tambahan dari rencana yang sudah disusun matang oleh Hartono.
Menjelang petang, Radit akhirnya mengetik pesan yang cukup sederhana untuk dikirim tanpa terlalu banyak konteks yang bisa disalahartikan.
Kirana, bisa kita ketemu besok sore? Ada yang perlu aku jelasin ke kamu. Bukan soal proyek. Ini penting.
Ia menekan kirim sebelum keraguan mengubah pikirannya lagi.
Balasan Kirana datang lebih cepat dari yang ia perkirakan.
Oke. Kafe deket kantorku, jam lima?
Radit tersenyum kecil membaca balasan itu, harapan kecil mulai bersemi di dadanya. Besok, akhirnya, ia akan mengatakan yang sebenarnya.
...****************...
KRRRING! KRRRING!
Dering ponsel membelah keheningan kamarnya tepat pukul dua pagi, begitu keras hingga Radit terlonjak bangun. Nama yang tertera di layar membuat jantungnya seketika berdegup kencang. Bu Ratna, asisten pribadi ayahnya, orang yang tidak pernah menelepon di jam seperti ini kecuali untuk keadaan darurat.
"Pak Radit," suara Bu Ratna terdengar panik, "Pak Hartono baru saja dilarikan ke rumah sakit. Beliau kena serangan jantung di rumah, barusan."
Radit langsung bangun dari ranjangnya, tubuhnya dipenuhi adrenalin yang menghapus semua sisa kantuk. "Rumah sakit mana? Bagaimana kondisinya?"
"Rumah Sakit Cahaya Medika, Pak. Menurut dokter, ini serangan jantung ringan, tapi mereka masih periksa lebih lanjut untuk memastikan tidak ada komplikasi."
"Saya ke sana sekarang," Radit menjawab, sudah meraih jaket dan kunci mobil bahkan sebelum panggilan itu benar-benar berakhir.
Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi kekhawatiran.
Sesampainya di rumah sakit, ia menemukan ayahnya terbaring di ranjang ICU, wajahnya pucat.
"Kau nggak perlu buru-buru datang," Hartono berkata, suaranya lemah namun masih membawa nada memerintah yang selalu jadi ciri khasnya. "Aku baik-baik saja."
"Ayah baru saja kena serangan jantung," Radit menjawab, mencoba menahan campuran rasa khawatir dan kemarahan yang belum benar-benar sembuh. "Tentu saja aku harus datang."
Hartono menatapnya lama, dan untuk sesaat, Radit bisa melihat sesuatu yang jarang sekali ia lihat di mata ayahnya — kerentanan yang biasanya tersembunyi rapat di balik otoritas yang selalu ia tunjukkan. "Kau sudah makan malam? Jangan sampai kau sendiri jatuh sakit gara-gara khawatir padaku."
Radit tidak menjawab, tidak yakin bagaimana harus merespons kepedulian yang jarang diperlihatkan ayahnya.
"Ayah," Radit akhirnya berkata, memilih kata-katanya hati-hati, "dokter bilang Ayah harus jauh dari stres. Ada yang lagi Ayah pikirin selain kesehatan sendiri?"
Hartono menatapnya lama, "Nggak ada. Cuma capek aja, kok."
Radit tidak percaya, tapi ia memilih untuk tidak mendesak. Ia duduk di kursi samping ranjang, memperhatikan wajah ayahnya yang biasa begitu tegas kini terlihat rapuh di bawah lampu ICU yang terang.
"Ayah inget nggak," Radit bertanya pelan, hampir tanpa sadar, "tujuh tahun lalu, malam Ayah nelepon aku waktu aku lagi sama Kirana?"
Sesuatu berubah sekilas di wajah Hartono, cepat sekali sebelum ia kembali memasang ekspresi netral. "Kenapa nanya itu sekarang?"
"Nggak apa-apa," Radit menjawab cepat, menyesali pertanyaan yang keluar begitu saja. Bukan di sini, bukan sekarang, saat ayahnya baru saja lolos dari maut. "Lupain aja."
Hartono menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, seolah tahu ada lebih banyak di balik pertanyaan itu, tapi memilih tidak mengejarnya.
Dokter yang menangani Hartono masuk, menjelaskan bahwa meski serangan jantung ini tergolong ringan, kondisi Hartono butuh pengawasan ketat selama beberapa hari ke depan, mengingat usia dan riwayat tekanan darah tinggi yang beliau miliki.
"Pak Hartono perlu ketenangan selama masa pemulihan," dokter itu menjelaskan. "Hindari apa pun yang bisa memicu stres, termasuk urusan bisnis atau konflik keluarga."
Kata-kata itu menghantam Radit. Rencananya bertemu Kirana besok sore, untuk mengungkapkan kebenaran yang tertunda selama tujuh tahun, kini terasa seperti kemewahan yang tidak bisa lagi ia gapai.
Ia duduk di kursi tunggu ICU, meraih ponselnya dengan tangan yang terasa berat, mengetik pesan pembatalan janji pada Kirana.
Kirana, maaf, aku nggak bisa ketemu sore ini. Ada keadaan darurat. Aku bakal hubungin kamu lagi begitu semuanya sudah baik-baik saja.
Ia menekan kirim, menatap layar ponselnya lama, merasakan kebenaran yang seharusnya sudah ia ungkapkan besok, kini kembali tertunda untuk kesekian kalinya.
...****************...
Farrel datang menyusul sekitar pukul empat pagi, membawa dua cangkir kopi dari mesin penjual otomatis di lobi, duduk di sebelah Radit tanpa banyak bicara.
"Lu pasti batalin pertemuan sama Kirana," Farrel membuka suara.
"Gua nggak punya pilihan lain," Radit menjawab, suaranya nyaris berbisik di keheningan koridor yang mulai sepi menjelang subuh. "Gimana caranya gua ngasih tahu kebenaran yang bisa ngehancurin hubungan gua dan ayah, tepat setelah dia baru aja nyaris kehilangan nyawanya?"
Farrel tidak menjawab, hanya menepuk pundak sahabatnya pelan.
Radit tahu penundaan ini cuma akan menambah satu lapisan lagi pada tumpukan kebohongan yang sudah terlalu lama ia simpan. Dan ia tidak tahu sampai kapan tumpukan itu bisa bertahan sebelum akhirnya meledak dan runtuh, membawa serta semua yang telah ia coba lindungi.
tapi orang yang pernah memberi luka justru masih selalu memenangkan ruang di hati.
para musuh 💪💪