NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17

Sirene ambulans memecah keheningan dini hari. Mobil ambulans melaju cepat menuju Rumah Sakit Kabupaten. Di dalam ambulans, Angela duduk di samping brankar sambil menggenggam erat tangan ibunya.

"Ibu..." bisiknya lirih. "Aku di sini, jangan tinggalin Angela, ya, Bu." Sang ibu membuka mata perlahan.

Meski wajahnya pucat, senyum tipis tetap tersungging di bibirnya.

"Dasar anak cengeng." Angela langsung tertawa di sela tangisnya.

"Ibu masih sempat ngeledek aku."

"Kalau nggak gitu, siapa lagi yang mau ngeledekin kamu?" ucap ibu Sulastri lembut dan pelan. Angela menunduk. Air matanya kembali menetes.

"Angela kangen, Bu." Wanita itu mengusap pelan kepala putrinya.

"Ibu juga kangen." Perawat yang duduk di depan hanya bisa tersenyum haru melihat pemandangan itu.

 

Di belakang ambulans, Mobil Raymond terus mengikuti dengan jarak aman.Tatapannya fokus ke jalan. Namun pikirannya dipenuhi bayangan Angela yang terus menangis.

Ponselnya tiba-tiba bergetar, di layar tertera nama 'Edward Wijaya' . Segera Raymond menekan tombol headset di setir.

"Ya, Yah." Suara Edward terdengar tenang.

"Sudah sampai?"

"Baru masuk wilayah rumah sakit."

Bagaimana kondisi ibu Angela?

Raymond mengembuskan napas pelan.

"Masih sadar."

"Tapi kondisinya lemah."

Di seberang telepon terdengar suara Diana.

Raymond.

"Iya, Ma."

"Mama sudah menghubungi Direktur Rumah Sakit Kabupaten."

Raymond sedikit terkejut.

"Ma?"

"Beliau teman lama Mama. Tim medis terbaik sudah disiapkan."

Raymond terdiam beberapa detik.

"Terima kasih, Ma."

Suara Diana terdengar lembut.

Nggak usah berterima kasih. Sekarang tugas kamu cuma satu.

Raymond mengernyit.

"Apa?"

Jangan biarkan Angela merasa sendirian."

Tatapan Raymond melembut.

"Iya, Ma."

"Kalau perlu biaya apa pun...Bilang sama Mama."

Raymond tersenyum tipis.

"Baik." Panggilan pun berakhir. Untuk pertama kalinya malam itu, Raymond benar-benar merasa bersyukur memiliki keluarga yang selalu mendukung setiap keputusannya.

 

Sepuluh menit kemudian...

Ambulans berhenti di depan Instalasi Gawat Darurat.

Pintu belakang langsung dibuka.

"Cepat!"

"Pasien sesak napas!"

"Dorong ke ruang tindakan!"

Beberapa tenaga medis sigap membawa brankar masuk.

"Dok!" Angela ikut berlari di samping ibunya.

"Tolong selamatkan Ibu saya!" Seorang dokter muda mengangguk cepat.

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin."

Pintu ruang tindakan pun tertutup.

Brak!

Angela berdiri mematung di depan pintu.

Tatapannya kosong, tangannya masih gemetar. Perlahan kakinya kehilangan tenaga.

Bruk. Dia terduduk di lantai koridor, wajahnya tertunduk, air mata kembali jatuh.

"Kalau tadi aku pulang lebih cepat, mungkin Ibu nggak bakal separah ini."

"Kalau aku lebih sering nelepon, mungkin aku sadar Ibu lagi bohong."

"Kalau aku..." Belum selesai Angela menyalahkan dirinya, sebuah suara menghentikannya.

"Bukan salah kamu." Angela mendongak.

Raymond sudah berdiri di depannya, Ia berjongkok hingga sejajar dengan Angela. Tatapannya begitu teduh.

"Kamu dengar aku." Angela menggigit bibir.

"Tapi..." Raymond menggeleng pelan.

"Ibu kamu menyembunyikan penyakitnya karena beliau ingin kamu tetap kuliah dengan tenang. Kalau sekarang kamu terus nyalahin diri sendiri pengorbanan beliau jadi sia-sia."

Angela terdiam. Kalimat itu menghantam benteng yang sejak tadi ia bangun.

Raymond mengeluarkan sapu tangan bersih dari sakunya. Dengan gerakan hati-hati, dia mengusap air mata yang membasahi pipi Angela.

"Nangis boleh. Tapi jangan sampai kehilangan semangat." Angela menatap Raymond.

"Kenapa..." suaranya tercekt "kamu baik banget sama aku?" Raymond tersenyum tipis.

"Bukan baik."

"Terus?"

"Aku cuma melakukan apa yang seharusnya kulakukan." Angela mengernyit.

"Maksudnya?" Raymond mengangguk pelan.

"Iya."

"Karena orang yang aku sayang, nggak boleh nangis sendirian."

Deg.

Jantung Angela seolah berhenti berdetak.

Matanya membulat.

"Bentar..."

"Kamu tadi bilang apa?"

Raymond baru sadar kalimatnya terucap begitu saja. Dia terdiam beberapa detik.

Lalu menghela napas pelan. Tatapannya tak lagi menghindar.

"Aku bilang...orang yang aku sayang."

Angela hanya mampu menatapnya. Koridor rumah sakit mendadak terasa sunyi.

Angela masih menatap Raymond tanpa berkedip. Dadanya naik turun.

Jantungnya berdetak begitu kencang hingga telinganya sendiri bisa mendengarnya.

"Ray..."

Suaranya lirih.

"Kamu sadar nggak... barusan ngomong apa?" Raymond tidak langsung menjawab.

Ia mengembuskan napas pelan, lalu mengangguk.

"Sadar." Angela mengerjap pelan.

"Jadi....aku nggak salah dengar?"

"Nggak." Raymond menatap mata Angela dengan mantap.

"Aku memang bilang begitu." Angela spontan menundukkan kepala. Pipinya memerah.

Di situasi seperti ini, di tengah rasa takut kehilangan ibunya, Pengakuan Raymond justru membuat perasaannya semakin campur aduk.

"Aku..." Angela mengepal pelan ujung bajunya.

"Aku nggak tahu harus jawab apa." Raymond tersenyum tipis.

"Nggak usah dijawab sekarang."

"Lho?"

"Kamu lagi banyak pikiran. Aku nggak mau nambah beban kamu."

Angela mengangkat kepalanya perlahan.

Tatapannya mulai berkaca-kaca lagi.

"Kamu...kenapa selalu ngerti isi kepala aku?"

Raymond terkekeh pelan.

"Mungkin...karena aku terlalu sering merhatiin kamu." Angela langsung menghela napas panjang.

"Ih..."

"Kenapa?"

"Kalau kamu ngomong kayak gitu terus, aku bisa benar-benar jatuh cinta." Raymond membalas dengan senyum tipis yang jarang sekali terlihat.

"Memangnya sekarang belum?"

Angela langsung melotot.

"Raymond!" Untuk pertama kalinya, Raymond benar-benar menggoda Angela.

Melihat reaksi gadis itu yang salah tingkah, sudut bibirnya kembali terangkat.

Angela mendengus pelan sambil memukul lengan Raymond.

"Ngeledek, ya?"

"Sedikit."

"Nah, kan!" Angela menggeleng-geleng kepala.

"Kevin sama Rio pasti ngajarin yang aneh-aneh." Raymond mengangguk tanpa merasa bersalah.

"Mungkin." Angela sampai nggak bisa menahan tawanya. Di tengah kecemasan yang memenuhi hatinya, Raymond tetap berhasil membuatnya tersenyum. Lalu, tawa itu mendadak terhenti saat Pintu ruang tindakan terbuka. Angela spontan berdiri.

"Dok!" Dokter yang keluar masih mengenakan masker. Wajahnya tampak serius.

"Keluarga pasien?" "Saya, Dok!"

Angela langsung menghampiri.

"Gimana kondisi Ibu saya?" Dokter melepas maskernya perlahan.

"Ibu Anda berhasil kami stabilkan." Angela langsung menutup mulutnya. Air mata haru kembali mengalir.

"Alhamdulillah..."

"Tapi..." Senyum di wajah Angela perlahan menghilang. Dokter melanjutkan,

"Jantung beliau sangat lemah."

"Selain itu, ada infeksi yang sudah cukup lama. Kami harus merawat beliau beberapa hari ke depan."

Angela mengangguk cepat.

"Iya, Dok. Lakukan apa pun yang terbaik buat Ibu." Dokter membuka map medis di tangannya.

"Tetapi, rumah sakit kami memiliki keterbatasan alat. Kami menyarankan pasien dirujuk ke rumah sakit yang fasilitasnya lebih lengkap di kota." Angela langsung terdiam.

Kota? Biaya rumah sakit di kota pasti jauh lebih mahal. Belum lagi biaya transportasi.

Belum lagi biaya rawat inap. Tanpa sadar, tatapannya kembali menunduk. Raymond yang sejak tadi berdiri di sampingnya melangkah maju.

"Dok."

Dokter menoleh.

"Kalau dirujuk malam ini, apakah kondisi pasien memungkinkan?"

Dokter mengangguk.

"Bisa. Asal menggunakan ambulans dengan pendamping tenaga medis." Raymond mengangguk mantap.

"Baik. Kita berangkat malam ini juga." Angela langsung menoleh.

"Ray..." Raymond membalas tatapannya.

"Nggak ada waktu buat ditunda."

"Tapi rumah sakit di kota...biayanya besar." Raymond menghela napas pelan.

Lalu, untuk pertama kalinya di depan Angela, ia berbicara dengan nada tegas yang biasa ia gunakan saat memimpin perusahaan.

"Dengarkan aku." Angela otomatis terdiam.

"Selama masih ada cara buat menyelamatkan Ibu kamu....uang bukan hal yang perlu kamu pikirkan."

"Tapi..."

"Aku bilang..." Raymond menggenggam pelan kedua bahu Angela. "...serahkan semuanya sama aku." Angela menatap wajah Raymond.

Tatapannya begitu yakin. Seolah tidak ada masalah yang tidak bisa ia selesaikan.

Air mata Angela kembali jatuh.Namun kali ini dia tidak lagi menolak. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berbisik,

"...Terima kasih." Raymond mengusap pelan kepala Angela.

"Kita hadapi sama-sama." Di belakang mereka, Dokter memperhatikan keduanya sambil tersenyum tipis. Dalam hati ia bergumam,

"Semoga wanita itu segera sadar... bahwa pria di sampingnya bukan hanya sedang membantu."

"Dia sedang mempertaruhkan seluruh hatinya."

****

"Pak Dokter."

Raymond melangkah mendekat sambil mengulurkan tangan.

"Tolong siapkan surat rujuknya sekarang."

Dokter mengangguk sigap.

"Baik, Pak."

"Saya akan koordinasi dengan rumah sakit tujuan."

"Secepat mungkin."

"Terima kasih."

Dokter segera berlalu bersama beberapa perawat. Koridor kembali hening. Angela masih berdiri mematung. Tatapannya mengikuti dokter yang semakin menjauh. Pikirannya bercampur aduk.

Ibunya selamat.

Tapi perjuangan mereka belum selesai.

Perlahan, Raymond berdiri di sampingnya.

"Boleh duduk dulu?" Angela menggeleng.

"Nggak."

"Kalau aku duduk..."

"...takut malah lemas." Raymond mengangguk pelan.

"Kalau gitu..." Dia menunjuk ke arah dispenser di ujung koridor. "...aku ambilin air putih."

"Nggak usah." Angela buru-buru menahan lengan Raymond.

"Aku nggak haus." Raymond menatap tangan Angela yang masih menggenggam lengannya.

Angela baru sadar.

Refleks dia langsung melepaskannya.

"Eh... maaf."

"Nggak apa-apa." Raymond tersenyum tipis. "Apa kamu panik?"

"Iya." Angela mengembuskan napas panjang.

"Aku takut kalau kamu pergi, terus aku sendirian lagi." Kalimat itu keluar begitu saja. Begitu sadar apa yang diucapkannya... Angela langsung menutup mulut.

"Eh... Bukan gitu maksudnya." Raymond menahan senyum.

"Terus?" Angela menggaruk pelan pelipisnya.

"Maksudnya...aku lagi butuh teman." Raymond mengangguk pelan.

"Berarti benar." Angela mengernyit.

"Hah?"

"Kamu nggak mau sendirian." Angela hanya bisa menghela napas pasrah.

"Kalau sama kamu...aku selalu kalah ngomong." Raymond terkekeh kecil.

"Soalnya kamu jujur." Angela mendelik gemas.

"Kamu juga."

"Tapi bahaya."

"Kenapa?"

"Soalnya tiap kamu jujur...jantung aku langsung nggak normal." Raymond terdiam beberapa detik. Lalu, senyumnya kembali muncul.

"Berarti nanti sekalian diperiksa."

Angela memukul pelan lengan Raymond.

"Ih!"

"Masih sempat bercanda." Raymond mengusap pelan lengannya yang dipukul.

"Kan kamu udah senyum." Angela spontan menyentuh sudut bibirnya. Ternyata benar.

Tanpa sadar dia memang sedang tersenyum.

"Ih..."

"Kamu sengaja, ya?" Raymond mengangguk santai.

"Iya."

"Nyebelin."

"Tapi berhasil." Angela mendecak pelan.

"Aku jadi bingung, harus kesel atau terima kasih." Angela pura-pura berpikir.

"Terima kasih aja." Angela langsung tertawa pelan. Suasana yang tadi begitu menegangkan perlahan berubah hangat. Belum sempat mereka berbincang lebih lama,

Seorang perawat berlari menghampiri.

"Permisi!"

Angela dan Raymond langsung menoleh.

"Iya, Mbak?"

Perawat itu terlihat sedikit tergesa.

"Pasien atas nama Ibu Sulastri sudah sadar sepenuhnya."

"Beliau terus meminta bertemu putrinya."

Mata Angela langsung berbinar.

"Ibu sadar?"

Perawat mengangguk.

"Iya."

"Tapi jangan terlalu lama."

"Kondisi beliau masih lemah."

Angela langsung mengangguk berkali-kali.

"Iya, Mbak."

"Terima kasih."

Tanpa pikir panjang, Angela berlari menuju ruang perawatan.

Baru dua langkah...

Raymond memanggilnya.

"Angela."

Angela berhenti lalu menoleh.

"Iya?"

Raymond melangkah mendekat.

Dia merapikan pelan rambut Angela yang berantakan sejak tadi.

Beberapa helai menutupi wajah gadis itu.

"Nah."

Angela hanya diam.

Raymond membetulkan kerah jaketnya yang sedikit miring.

"Lurus."

Angela menatap Raymond tanpa berkedip.

"Kenapa...?"

Raymond mengusap pelan puncak kepalanya.

"Aku nggak mau Ibu kamu lihat anaknya dalam keadaan berantakan."

Angela menggigit bibir bawahnya.

Air matanya kembali menggenang.

"Kamu..."

"...selalu mikirin hal-hal kecil."

Raymond tersenyum hangat.

"Bukan hal kecil."

"Apa?"

"Kalau itu tentang kamu..."

"...buat aku semuanya penting."

Angela benar-benar kehilangan kata-kata.

Dadanya terasa hangat.

Di saat hidupnya seperti sedang runtuh...

Lelaki di depannya justru sibuk memastikan dirinya tetap kuat.

Dengan mata yang masih berkaca-kaca, Angela mengangguk pelan.

"Aku masuk dulu."

"Iya."

"Sampai nanti."

Raymond mengangguk.

"Aku tunggu di luar."

Angela melangkah masuk ke ruang rawat.

Sementara Raymond tetap berdiri di depan pintu.

Tatapannya mengikuti langkah Angela hingga menghilang di balik pintu.

Tanpa ia sadari...

Dari ujung koridor, seorang dokter senior memperhatikan pemandangan itu sambil tersenyum.

"Anak muda..."

gumamnya pelan.

"Kalau sudah jatuh cinta..."

"...tatapan matanya memang tidak pernah bisa berbohong."

****

Angela menarik napas panjang di depan pintu ruang perawatan.

Tangannya yang menggenggam gagang pintu sempat bergetar.

Perawat yang berdiri di sampingnya tersenyum lembut.

"Silakan masuk, Mbak."

"Iya... makasih."

Ceklek...

Pintu perlahan terbuka.

Ruangan itu sederhana.

Hanya ada satu tempat tidur pasien, suara mesin monitor yang berdetak pelan, dan aroma obat yang khas.

"Ibu..."

Suara Angela nyaris berbisik.

Wanita yang terbaring di ranjang perlahan menoleh.

Begitu melihat Angela...

Senyumnya langsung mengembang, meski wajahnya masih terlihat sangat pucat.

"Nduk..."

Angela nggak sanggup lagi menahan air mata.

Dia berlari kecil, lalu berlutut di samping ranjang.

"Ibu..."

Tangannya langsung menggenggam tangan sang ibu.

"Makasih..."

"Makasih udah nunggu Angela."

Sang ibu mengusap pelan punggung tangan putrinya.

"Dasar..."

"...masih aja nangisan."

Angela tertawa kecil sambil menghapus air matanya.

"Ini gara-gara Ibu."

"Ibu bikin Angela takut."

Wanita itu menghela napas pelan.

"Maafin Ibu."

"Ibu nggak mau..."

"...ngerepotin kamu."

Angela langsung menggeleng cepat.

"Jangan ngomong gitu."

"Angela ini anak Ibu."

"Kalau Ibu sakit..."

"...ya harus bilang."

"Jangan dipendem sendirian." Sang ibu tersenyum penuh kasih.

"Kamu masih kuliah."

"Ibu nggak mau cita-cita kamu berhenti."

Angela menunduk.A ir matanya kembali jatuh.

"Cita-cita Angela..."

"...nggak ada artinya kalau Ibu nggak sehat."

Ruangan kembali hening. Beberapa detik kemudian...

Sang ibu melirik ke arah pintu.

"Nduk..."

"Iya, Bu?"

"Tadi..."

"...Ibu lihat ada laki-laki yang nganter kamu."

Angela sedikit terkejut.

"Oh..."

"Iya."

"Ibu lihat dari ambulans."

"Dia nggak berhenti jagain kamu." Angela tanpa sadar tersenyum tipis.

"Iya..."

"Namanya Raymond."

"Teman kampus?" Angela mengangguk pelan.

"Iya..."

Meski jawabannya singkat, pipinya perlahan berubah merah. Sang ibu yang melihat itu langsung tersenyum jahil.

"Cuma teman?"Angela langsung salah tingkah.

"Ibu..."

"Jawab dulu." Angela menggigit bibir.

"Iya..."

"...teman." Sang ibu mengangkat sebelah alis.

"Teman yang rela nyetir tengah malam."

"Teman yang ngurus rumah sakit."

"Teman yang dari tadi nunggu di luar."

Angela menunduk. Jarinya memainkan ujung selimut.

"Nggak tahu..."

"Ibu sih." Sang ibu terkekeh pelan.

"Meski Ibu lagi sakit..."

"...mata Ibu masih tajam."

"Ibu lihat cara dia mandang kamu." Angela mengangkat kepala.

"Emangnya kenapa?"

"Seumur hidup Ibu..."

"...baru kali ini lihat laki-laki menatap perempuan seperti itu." Angela terdiam.

Sang ibu melanjutkan dengan suara yang lembut.

"Tatapan yang isinya cuma satu."

"Apa?"

"Takut kehilangan."

Deg.

Jantung Angela langsung berdegup kencang.

Bayangan Raymond yang menggenggam tangannya di dalam mobil...

Mengusap air matanya...

Menemaninya tanpa mengeluh...

Sampai mengatakan bahwa dirinya adalah orang yang disayangi...

Semua kembali terlintas di kepalanya.

Senyum kecil tanpa sadar muncul di bibirnya.

Sang ibu langsung menyenggol pelan tangan Angela.

"Nah."

"Senyumnya beda." Angela buru-buru menutup wajahnya.

"Ibu..."

"Malah ngeledekin."

"Ibu kan ibumu."

"Kalau bukan Ibu yang ngeledekin..."

"...siapa lagi?" Mereka berdua tertawa pelan.

Tawa sederhana itu membuat ruangan yang tadi terasa dingin menjadi hangat.

Namun...

Tok... tok...

Suara ketukan terdengar dari luar.

Perawat membuka pintu sedikit.

"Maaf mengganggu."

"Iya, Mbak?"

"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan pasien."

Angela menoleh.

"Siapa?"

Perawat tersenyum tipis.

"Mas Raymond."

Angela langsung berdiri.

"Ray?"

Perawat mengangguk.

"Beliau bilang..."

"...kalau pasien sudah bangun, beliau ingin memastikan kondisi pasien secara langsung."

Sang ibu tersenyum penuh arti.

"Nah..."

"Suruh masuk." Angela langsung salah tingkah.

"Ibu..."

"Buruan."

"Ibu penasaran sama calon..." Belum selesai kalimat itu...

Angela buru-buru menutup mulut ibunya.

"Ibuu!" Sang ibu tertawa pelan.

"Oke... oke."

"Nggak jadi ngomong."

Angela menggeleng pasrah sambil tersenyum malu. Lalu ia melangkah menuju pintu.

Angela membuka pintu perlahan.

Di luar...

Raymond berdiri tegak dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana.

Meski wajahnya masih terlihat tenang seperti biasa, sorot matanya langsung berubah begitu melihat Angela.

"Gimana kondisi Ibu?"

Angela mengembuskan napas lega.

"Udah jauh lebih baik."

"Alhamdulillah."

Raymond mengangguk pelan.

Ketegangan di wajahnya akhirnya sedikit menghilang.

Angela memperhatikan Raymond beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil.

"Ibu mau ketemu kamu."

Raymond mengernyit.

"Aku?"

"Iya."

"Yakin?"

Angela mengangguk sambil menahan senyum.

"Yakin."

"Beliau yang minta."

Raymond menarik napas pelan.

"Oke."

 

Raymond melangkah masuk ke ruang perawatan.

Begitu melihatnya, Ibu Sulastri langsung tersenyum ramah.

"Nak..."

Raymond segera mendekat.

"Iya, Bu."

Tanpa ragu, Raymond membungkukkan badan lalu mencium punggung tangan Ibu Sulastri dengan penuh hormat.

"Perkenalkan."

"Nama saya Raymond Wijaya."

"Terima kasih sudah mengizinkan saya mengantar Angela pulang."

Ibu Sulastri tampak sedikit terkejut.

Jarang sekali ada anak muda yang masih menjunjung sopan santun seperti itu.

Beliau mengusap pelan kepala Raymond.

"Terima kasih juga..."

"...karena sudah menjaga anak Ibu."

Raymond tersenyum tipis.

"Itu sudah menjadi tanggung jawab saya."

Angela yang berdiri di samping ranjang langsung melotot.

"Tanggung jawab?" Dalam hati, pipinya kembali memanas. Ibu Sulastri menangkap reaksi putrinya. Senyumnya makin lebar.

"Nak Raymond."

"Iya, Bu?"

"Tadi Pak RT cerita..."

"...semua biaya rumah sakit mau kamu tanggung." Raymond mengangguk pelan.

"Iya, Bu."

"Saya hanya ingin Ibu cepat sembuh."

Ibu Sulastri langsung menggeleng.

"Nggak bisa." Raymond sedikit bingung.

"Kenapa, Bu?"

"Ibu nggak mau ngerepotin orang lain."

Raymond tersenyum sopan.

"Ibu nggak sedang ngerepotin saya."

"Tapi..."

"Saya membantu karena saya mau." Angela ikut angkat bicara.

"Ray..."

"Biar aku aja yang cari jalan."

"Nanti aku nyicil."

Raymond menoleh. Tatapannya lembut, tetapi tegas.

"Angela."

"Hm?"

"Kamu pernah bilang sama aku..."

"...kalau keluarga itu saling nolong tanpa hitung-hitungan."

Angela terdiam.

Dia memang pernah mengucapkan kalimat itu beberapa waktu lalu.

Raymond melanjutkan,

"Kalau begitu..."

"...izinkan aku melakukan hal yang sama."

Angela menggigit bibir.

"Iya, tapi..."

"Udah." Raymond tersenyum tipis.

"Jangan dipikirin."

Ibu Sulastri memperhatikan keduanya bergantian.

Semakin lama...

Semakin yakin dengan dugaannya.

"Nak Raymond."

"Iya, Bu?"

Beliau menggenggam tangan Raymond.

"Gimana keadaan orang tua kamu?"

Raymond sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.

"Alhamdulillah, sehat, Bu."

"Mereka baik sama kamu?"

Raymond tersenyum hangat.

"Sangat baik."

Mama saya, Diana..."

"...bahkan sudah menghubungi rumah sakit ini supaya Ibu dapat penanganan terbaik."

Angela langsung menoleh kaget.

"Hah?"

"Kok aku baru tahu?"

Raymond menggaruk pelan tengkuknya.

"Lupa bilang."

Angela sampai geleng-geleng kepala.

"Kamu tuh..."

"...selalu kerja diam-diam."

Ibu Sulastri menatap Raymond dengan mata berkaca-kaca.

"Tolong..."

"Sampaikan terima kasih Ibu buat kedua orang tua kamu."

Raymond mengangguk hormat.

"Pasti, Bu."

Belum sempat pembicaraan berlanjut...

Pintu kembali diketuk.

Seorang dokter masuk sambil membawa beberapa berkas.

"Permisi."

"Pasien sudah siap dirujuk."

"Kita akan berangkat tiga puluh menit lagi."

Raymond langsung berdiri.

"Baik, Dok."

Dokter menyerahkan map kepada Raymond.

"Silakan lengkapi administrasinya."

Raymond menerimanya.

"Saya urus sekarang."

Angela spontan ikut berdiri.

"Aku ikut."

Raymond menggeleng pelan.

"Nggak usah."

"Lho?"

"Kamu temenin Ibu."

"Administrasi biar aku yang urus."

Angela menatap Raymond beberapa detik.

Lalu mengangguk pelan.

"Iya..."

Saat Raymond hendak keluar...

Terdengar suara lirih dari belakang.

"Raymond."

Raymond menoleh.

"Iya, Bu?"

Ibu Sulastri tersenyum hangat.

"Jangan capek-capek jagain Angela."

Raymond melirik sekilas ke arah Angela yang sedang salah tingkah.

Lalu ia tersenyum tulus.

"Nggak akan capek, Bu."

"Karena..."

Tatapannya berhenti tepat di wajah Angela.

"...menjaga Angela bukan beban buat saya."

Ucapan itu membuat Angela langsung menundukkan kepala.

Wajahnya memerah sampai ke telinga.

Sementara Ibu Sulastri hanya bisa tersenyum puas.

Dalam hati, beliau berdoa pelan.

"Ya Allah... kalau memang anak ini jodoh Angela, mudahkanlah langkah mereka. Tapi jika bukan, jagalah hati keduanya agar tetap baik."

Doa itu meluncur tulus, diiringi harapan seorang ibu yang hanya ingin melihat putrinya hidup bahagia.

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
Lenny Utami
ihhh bisa ae ahh
Lenny Utami
ahhh masaa...
Lenny Utami
lucu bangett
Lyvia
thor km bikinQ senyum2 sendiri, jadi ingat masa2 sekolah dulu, suwun thor upnya, ttp semangat 💪💪💪😄
yaya
lucuu ih...😍
Lenny Utami
kode sekeras itu masa enggak ngeh sih Anggela
Lenny Utami
gemes🤭
Lenny Utami
Reymond kyk piyik ngintilin Angela Mulu...😌
Lenny Utami
kalo aku kabur. GK pede di liatin GT...😭
Lenny Utami
so sweettt nya.... bikin aku senyum² sendiri
Miasell Tea
di tunggu lanjutan nya
awal yang seru😍
Miasell Tea
manis banget,,,,,
padahal seru kenapa sepi komen nan y
Miasell Tea: oh pantesan,,, sama2 ka jangan lama2 y up ny penasaran di tunggu lanjutan ny
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!