NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebiasaan Baru yang Mengganggu

Langit sore itu berwarna abu-abu pekat, angin bertiup kencang membawa aroma tanah basah seolah hendak mengguyur bumi dengan hujan lebat.

Di dalam rumah besar itu, udara terasa agak lembap namun sejuk, suasana yang biasanya tenang dan tertib, kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih hidup dan sedikit melelahkan bagi Vira.

Siapa sangka, kejadian kesalahpahaman malam itu justru memicu sebuah fenomena baru yang sangat meresahkan hati dan tenaga Vira. Farzhan menemukan "surga" baru yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Ternyata, tangan Vira yang selama ini sering ia anggap ceroboh, hanya bisa membuat kekacauan, dan sulit diajak rapi, ternyata punya kekuatan magis. Tenaganya pas, tekanannya enak, dan jari-jarinya sangat lihai saat bergerak di antara otot-otot yang tegang.

Rasa pegal, kaku, dan rasa lelah yang menumpuk di tubuh Farzhan seharian bekerja keras, seketika hilang terbawa angin begitu saja setelah disentuh dan dipijat oleh istrinya itu.

Dan sejak saat itu... Farzhan jadi kecanduan.

Ia jadi sangat rajin, sangat pandai mencari alasan, dan sangat konsisten minta dipijat. Bukan hanya sesekali saat sakit atau lelah berat, tapi 'Setiap Hari' tanpa libur dan tanpa gaji bagi si tukang pijat pribadinya.

Cuaca tak jadi penghalang, waktu pun bukan masalah bagi Farzhan Ibrahim. Entah pagi saat matahari belum bersinar atau malam sudah larut dan dingin menusuk tulang, ia akan selalu punya cara untuk mendatangi Vira.

 

Sore hari, pukul 18.30.

Hujan turun rintik-rintik membasahi kaca jendela, membuat suasana luar jadi redup dan sepi. Farzhan baru saja pulang kerja. Jasnya sudah dilepas, dasi sudah dikendurkan, wajahnya terlihat lelah namun matanya berbinar begitu melihat Vira sedang merapikan meja makan.

Belum sempat Vira menghela napas lega atau duduk sebentar, suaminya itu sudah duduk manis di sofa ruang tengah, merentangkan kaki panjangnya dan tangannya lebar-lebar, lalu menatap Vira dengan tatapan memelas yang sangat menyebalkan namun sulit ditolak.

"Vi, aku lelah sekali hari ini," keluhnya pelan, suaranya terdengar berat dan lelah. "Hujan-hujanan di jalan, terus rapat panjang sampai punggung rasanya kaku jadi keras seperti batu. Sini dong, duduk di sini. Pijat aku sebentar saja, hanya lima belas menit kok, tidak lebih."

Awalnya Vira mau menolak dengan tegas, mau mengingatkan soal tugas rumah yang belum selesai. Tapi melihat wajah lelahnya yang nyata, ditambah ingatan saat Farzhan sakit dulu yang begitu bergantung padanya, hati Vira jadi luluh seketika.

"Ya sudah. Sini." jawab Vira pasrah sambil duduk di samping pinggang suaminya.

Namun, janji 15 menit itu ternyata cuma mitos belaka. Yang dikira sebentar, ternyata berlangsung sampai hampir 1 jam penuh. Farzhan sangat betah, matanya terpejam nikmat, bahkan sampai mendengkur pelan dan hampir tertidur pulas di sofa itu. Vira malahan menjadi korban, kedua tangannya terasa pegal luar biasa, bahunya sendiri jadi kaku karena menekan terus-menerus.

Tapi itu belum seberapa dan masih bisa dimaafkan. Yang paling membuat Vira stres, emosi, dan rasanya ingin melempar bantal ke kepala suaminya adalah kebiasaan Farzhan yang tidak pandang waktu.

Malam itu, pukul 01.15 dini hari.

Hujan di luar turun sangat deras, angin menderu kencang menabrak ke kaca jendela, menciptakan suara gemuruh yang menenangkan dan membuat siapa saja ingin tidur nyenyak di balik selimut. Suasana di dalam rumah hening total, hanya terdengar suara rintik air.

Vira sudah tidur pulas. Rasanya baru saja memejamkan mata, baru saja masuk ke mimpi indah yang manis. Tiba-tiba...

TOK... TOK... TOK...

Suara ketukan pintu kamarnya terdengar jelas, keras, dan tegas. Tidak pelan, tidak sopan, tidak berperasaan. Bunyinya persis seperti orang mau menagih hutang yang sudah jatuh tempo.

"Vira bangun..." suara berat Farzhan terdengar dari balik pintu, beradu dengan suara hujan.

Vira menggeram di dalam tidur, menarik selimut tinggi-tinggi menutupi kepalanya.

Ah jangan dengarkan Vira... itu cuma mimpi... itu suara hujan... itu hantu gentayangan... Ayo tidur lagi Vira...

TOK! TOK! TOK! Lebih keras, lebih berisik.

"Vira! Bangun... buka pintunya."

Dengan mata yang masih berat rasanya mau memejam kembali, Vira terpaksa bangun dengan langkah terseok-seok. Ia berjalan menuju pintu sambil mengucek mata yang perih. Ia membuka pintu sedikit, hanya mengintip dengan wajah bengong dan mengantuk parah.

"Apa, Zhan?! Jam berapa ini?! Orang lagi tidur nyenyak tauuu! Dingin lagi!" omelnya pelan tapi tajam, sambil memeluk tubuhnya sendiri karena udara malam yang dingin.

Di depannya, Farzhan berdiri dengan baju tidur lengan panjang, rambutnya agak berantakan karena terkena angin koridor, dan wajahnya yang terlihat... justru segar bugar atau mungkin cuma pura-pura kesakitan saja?

"Maaf sudah membangunkanmu di jam segini," bisik Farzhan tapi suaranya tetap terdengar jelas dan penuh alasan. "Tadi aku tidur lalu salah posisi. Leher aku rasanya kaku, sakit sekali sampai tidak bisa nengok ke kiri. aku jadi tidak bisa tidur kalau sakit begini. Aku minta pijat lagi biar rileks, supaya nanti bisa tidur lagi. Please, hanya sebentar kok."

Farzhan bahkan membulatkan matanya lebar-lebar, mencoba gaya puppy eyes yang menurutnya imut dan ampuh. Tapi di mata Vira yang sedang mengantuk berat dan kesal, ekspresi itu justru terlihat seperti hantu yang sedang kelaparan dan butuh korban.

"Ya Tuhan, Malam-malam begini!" Vira hampir berteriak tapi ditahannya supaya tidak mengganggu ketenangan rumah.

"Kamu ini Manusia apa makhluk apa sih?! Jam satu pagi begini minta pijat! Badanku juga capek tau tidak?! Aku juga butuh istirahat!"

"Tapi aku sakit Vi... ini keadaan darurat kesehatan," elak Farzhan santai.

Ia mendorong pelan bahu Vira masuk kembali ke kamar, lalu dia sendiri ikut masuk dan duduk santai di tepi kasur Vira, seolah itu hak mutlaknya. "Hanya pijat leher dan bahu aja kok. Hanya sebentar. Ayo, ayo, jangan marah-marah nanti cepat tua."

Vira menatap nanar ke arah jam dinding. Jarumnya menunjuk pukul 01.20 pagi. Di luar, guntur mulai bergemuruh pelan.

Dengan hati yang dongkol setengah mati, tangan yang gemetar karena dingin dan mengantuk, serta mata yang rasanya mau tertutup lagi, Vira terpaksa duduk bersila di belakang Farzhan.

"Tolong agak keras, jangan pelit tenaga!" perintah Farzhan, nada bicaranya persis seperti tamu VVIP di spa mewah bintang lima.

"Iya-iya! Terima kasih, Tuan Muda. Sudah menjadi klien istimewa tukang pijat pribadi selama 24 jam!" gerutu Vira sambil mulai meremas bahu dan leher suaminya dengan sedikit kasar, melampiaskan kekesalannya.

"Aduh! Yang lembut, jangan kasa begitu! Kamu mau bunuh aku diam-diam?!" protes Farzhan sambil memutar lehernya mencari posisi enak.

"Ya sudah jangan minta kalau ngeluh terus!"

"Maaf, ayo terusin! Enak kok tekanannya, cuma kurang sedikit... nah gitu... pas."

Dan begitulah, selama hampir satu jam penuh Vira harus melayani "pasien" yang rewel, pemilih, dan manja itu di tengah malam buta, ditemani suara hujan yang makin deras. Farzhan malah jadi makin rileks, napasnya teratur, dan akhirnya ngantuk berat, lalu berjalan santai kembali ke kamarnya sambil melambaikan tangan.

"Terima kasih, Vira. Tidur yang nyenyak. See you besok pagi."

Sementara Vira? Ia jatuh menempel kembali ke kasur dengan napas memburu, kedua tangannya terasa pegal luar biasa, dan matanya sudah tak ingin terbuka lagi.

"Ya ampun... ini namanya eksploitasi tenaga kerja terselubung! Gaji tidak ada, fasilitas tidak ada, kerjaan nambah terus! Udah jadi pembantu rumah tangga, sekarang resmi jadi tukang pijet juga! Dasar suami menyebalkan dan tidak punya hati!"

 

Keesokan harinya, dan hari-hari berikutnya tak peduli cuaca panas terik atau hujan badai angin ribut, kebiasaan aneh ini terus berlanjut dengan konsistensi tinggi.

Farzhan seakan punya sensor atau alarm khusus di tubuhnya. Kapan saja dia merasa pegal sedikit saja, lelah sedikit saja, atau bahkan hanya bosan saja, dia akan langsung mencari keberadaan Vira ke seluruh penjuru rumah.

"Vi, tangan aku kram setelah ngetik laporan seharian... butuh dipijat di ujung-ujung jari."

"Vi, betis aku terasa berat habis jalan terus, tolong urut sebentar."

"Vi, bantu aku pijat telapak tangan yang ini, biar rileks dan lancar aliran darahnya."

Vira benar-benar kewalahan. Tangannya yang tadinya halus dan lembut, sekarang terasa sering pegal dan kram juga karena terlalu sering dipakai menekan otot-otot kekar suaminya. Ia jadi sering menguap di siang hari, matanya agak sayu karena kurang tidur akibat sering dibangunin tengah malam demi "kebutuhan medis" Farzhan yang sering dibuat-buat itu.

"Zhaaaaan..."

suatu sore saat langit mulai kemerahan dan udara terasa gerah, Vira akhirnya protes keras saat Farzhan lagi asyik menikmati pijatan di ruang tengah.

"Kamu ini punya tulang apa tidak sih?! Kok gampang sekali pegalnya?! Ini otot kamu terbuat dari karet?! Atau jangan-jangan kamu sengaja cari alasan dan sakit dibuat-buat biar aku sentuh-sentuh kamu terus hah?!"

Farzhan tersenyum santai tanpa membuka mata, kepalanya bersandar nyaman di dada Vira. Ia menikmati sensasi lembut di punggungnya sambil menjawab dengan nada tenang dan ngeyel.

"Bisa jadi," jawabnya santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"kita kan suami istri. Wajar dong suami minta perhatian dan sentuhan sama istrinya. Itu juga masuk poin kerja sama dan saling menjaga di Aturan 2.0 kan? Lagipula, tangan kamu memang sangat nyaman untuk dipakai memijat, beda sama tukang pijat luar. Daripada aku panggil orang asing yang belum tentu bersih, belum tentu terpercaya, dan belum tentu enak, kan lebih baik kamu yang pegang. Aman, halal, dekat, dan gratis."

"GRATIS?! Hah! Kamu pikir tenaga aku itu angin lalu yang bisa diambil seenaknya?!" Vira mencubit pinggang Farzhan pelan tapi cukup keras buat dia melompat kaget.

"Aduh! Jangan kasar dong!" Farzhan terkekeh pelan. "Kalau kamu capek ya bilang, nanti aku gaji pake... ehmm... kasih izin makan cokelat sebungkus besar besok. Gimana? Murah meriah kan?"

Vira sudah tidak kuat lagi mau marah-marah panjang lebar. Ia hanya bisa menghela napas panjang, menatap langit-langit ruangan besar itu sambil menggerakkan tangannya kembali memijat bahu suaminya.

Ya Allah... kenapa sih laki-laki ini punya sejuta cara buat menyusahkan dan membuat pusing hidup aku... Tapi ya sudahlah... siapa suruh aku nikah sama dia.

Meski mulutnya terus mengeluh dan berkata kebiasaan ini sangat mengganggu, tangan Vira tetap terus bergerak lembut, penuh perhatian, dan tak pernah mengurangi tenaganya.

Kebiasaan baru yang mengganggu dan melelahkan ini, perlahan tapi pasti, berubah menjadi rutinitas manis yang ternyata... bisa membuat rumah ini terasa jauh lebih hangat, lebih akrab, dan lebih manusiawi daripada sebelumnya.

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!