Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Ketika Takdir Memainkan Peran

PROLOG

Dunia ini sering kali berputar dengan logika yang tak masuk akal. Seperti angin yang berhembus dari timur, namun tiba-tiba membawa hujan ke barat. Kita bisa merencanakan setiap langkah sehati-hati mungkin, memetakan jalan dengan detail, memastikan tak ada batu kerikil yang mengganjal. Namun, takdir? Ah, takdir adalah seniman yang paling suka mengubah kanvas lukisan saat warnanya baru setengah kering.

Ia datang bukan untuk meminta izin, melainkan untuk mengetuk pintu hingga lepas dari engselnya. Ia datang bukan untuk menawarkan pilihan, melainkan untuk menuntut penerimaan. Seperti kata seseorang, semula kau ingin berkelana ke utara, mencari kebebasan dan angin sejuk, tapi takdir malah memintamu terbang ke selatan, bahkan membuatmu berpindah dengan sukarela.

Dan kadang, takdir yang paling kejam sekaligus paling indah, adalah mempertemukan kembali dua hati yang sejak lama memilih untuk saling membenci.

...****************...

Waktu seolah berjalan dengan kecepatan yang tidak wajar, atau mungkin justru terlalu lambat bagai seekor kura-kura yang sedang bermeditasi. Jarum jam dinding tua di sudut ruangan itu terus berdetak, tik... tok... tik... tok..., bunyinya terdengar begitu jelas memecah keheningan malam, seolah sedang menghitung mundur sisa kesabaran seorang manusia.

Pukul sembilan lewat dua puluh menit. Di sebuah apartemen sederhana yang terletak di lantai dua puluh sebuah gedung perkotaan, Vira Calista duduk termenung di tepi kasur. Matanya menatap nanar ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota yang tak pernah tidur. Lampu-lampu terlihat berkedip-kedip seperti ribuan kunang-kunang yang kehilangan arah, sementara deru kendaraan di bawah sana menjadi simfoni kesepian yang tak berujung.

Di usianya yang baru menginjak dua puluh enam tahun, Vira seharusnya sedang menikmati masa-masa paling indah. Masa di mana seorang wanita muda bisa bebas mengejar mimpi, bergandengan tangan dengan orang yang dicintai, atau setidaknya pulang ke rumah dengan perut kenyang dan hati yang hangat. Namun, takdir seolah memiliki skenario lain yang jauh lebih rumit daripada naskah drama sinetron televisi.

Bagi banyak orang, merantau adalah sebuah petualangan. Sebuah momen emas untuk membuktikan diri, menaklukkan dunia, dan menjadi sosok yang mandiri. Tapi bagi Vira, merantau rasanya seperti dihukum tinggal di planet Mars yang dingin dan sepi. Jauh dari Evan dan Fenny, ayah dan ibunya yang selama ini menjadi benteng pertahanannya, membuat Vira merasa seperti burung yang sayapnya tiba-tiba patah di tengah langit luas.

"Ah, andai saja aku tidak keras kepala waktu itu," gumamnya pelan, suaranya hampir tertelan oleh angin malam yang berhembus pelan lewat celah jendela.

Rasa sesal itu memang ada, tapi ia tahu siapa yang harus disalahkan. Bukan ayahnya, bukan pula ibunya. Ini semua adalah buah dari keputusannya sendiri. Vira yang memaksa ingin mandiri, Vira yang ingin membuktikan bahwa ia bisa berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus menjadi bayang-bayang orang tuanya. Ironisnya, keputusan "berani" itulah yang justru membawanya masuk ke dalam labirin kesedihan ini.

Dan yang paling menyakitkan? Ia harus merantau sendiri walau jarak tidak begitu jauh dari orang yang sangat dia kenal baik.

Jika saja jarak tidak memisahkan mereka, mungkin saat ini ia sudah pulang, memeluk kedua orang tuanya, dan menangis sepuasnya seperti anak kecil yang baru tersandung batu. Tapi karena berada di kota yang berbeda, rasa gengsi dan rasa ingin terlihat kuat di mata Evan dan Fenny, anak pertamanya yang selama ini manja akhirnya menjadi "keras kepala" dan ya, mereka membiarkan putri mereka berjuang sendiri. Mereka pikir Vira kuat. Mereka tidak tahu, bahwa di balik senyum manisnya, Vira adalah kumpulan air mata yang siap tumpah kapan saja.

 

Hari-hari berlalu dengan warna yang kelabu. Pagi datang membawa kesibukan, malam datang membawa kerinduan. Vira mencoba bertahan, mencoba tersenyum meski rasanya pahit seperti memakan buah pare mentah. Namun, hidup memang suka memberi kejutan dan sayangnya, kali ini kejutan itu berwujud bencana besar.

Masalah itu datang tanpa diduga, menyergapnya bagai petir di siang bolong. Sebagai Bendahara di perusahaan tempatnya bekerja, Vira memegang tanggung jawab besar atas aliran dana. Ia selalu berusaha teliti, meski sifat aslinya yang ceroboh sering kali membuatnya harus bekerja dua kali lebih keras untuk menutupi kekurangan. Namun kali ini, bukan kelalaiannya yang menjadi masalah.

Ada tangan-tangan licik yang bermain di belakang layar. Yorie Nabila dan Alan, rekan kerjanya yang selama ini terlihat ramah, ternyata telah merancang skenario yang sangat rapi. Mereka memanipulasi data, mengalirkan dana ke rekening pribadi, dan menyusun bukti-bukti palsu yang semuanya mengarah pada Vira.

"Kerugian ini mencapai angka yang fantastis, Nona Vira," suara atasan terdengar dingin dan tegas di ruangan itu beberapa jam yang lalu. "Semua jejak audit menunjuk pada Anda. Sebagai bendahara, Anda yang bertanggung jawab penuh."

"Tidak! Itu bukan saya, Pak! Saya difitnah! Yorie dan Alan yang melakukannya!" Vira mencoba membela diri, suaranya bergetar menahan tangis.

Namun, bukti-bukti yang dipajang di hadapannya terlihat begitu "sempurna". Tanda tangan yang dipalsukan, arsip yang dimanipulasi. Ia terjebak. Jerat itu sudah terlalu erat mengikat lehernya.

"Kami tidak peduli siapa yang melakukannya. Secara administrasi, nama Anda yang ada di sana," sahut atasan itu dengan nada menekan. "Pilihannya sederhana. Ganti seluruh kerugian itu dalam waktu tiga hari, atau kami akan melayangkan laporan polisi. Anda tahu akibatnya bagaimana, kan? Anda akan mendekam di tahanan, dan nama baik Anda serta keluarga akan hancur lebur."

Dunia Vira seakan berhenti berputar. Kakinya lemas seolah dipukul palu raksasa. Angka yang disebutkan itu bukan nominal receh. Itu adalah jumlah yang sangat besar, jauh melampaui tabungan yang ia miliki selama ini. Bagaimana mungkin ia bisa mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu sesingkat itu?

 

Kini, di keheningan apartemennya, Vira memeluk lututnya erat-erat. Air mata sudah kering, tertahan oleh rasa syok dan panik yang luar biasa. Pikirannya kalut, berputar-putar mencari jalan keluar.

Ia mulai membuka daftar kontak di ponselnya. Satu per satu nama ia gulir. Siapa yang bisa ia minta tolong?

Pertama, ia teringat kedua orang tuanya. Evan dan Fenny. Mereka pasti punya uang. Mereka pasti sanggup membayarnya. Tapi... Saat menggeser layar ponsel, jari Vira terhenti di nama 'Ayah'. Dadanya sesak. Bagaimana mungkin ia menceritakan hal ini? Ia yang kemarin-kemarin begitu bangga bilang kalau ia sudah mandiri, kalau ia bisa hidup sendiri tanpa merepotkan mereka. Jika sekarang ia datang meminta uang dalam jumlah besar karena masalah pekerjaan, apa yang akan mereka pikirkan? Mereka pasti kecewa. Dan yang lebih parah, mereka pasti akan memaksanya pulang, menariknya kembali ke sarang ternyamannya, dan Vira akan selamanya dianggap sebagai anak manja yang tidak bisa diandalkan.

Tidak bisa. Tidak boleh. Aku tidak boleh melibatkan Ayah dan Ibu.

Lalu siapa lagi? Teman-teman kantor? Mereka semua sudah menjauh seakan ia membawa penyakit menular, atau mungkin memang sudah dihasut oleh Yorie dan Alan. Sepupunya, Meisya dan Haikal? Mereka pasti mau membantu, tapi Vira tahu kondisi ekonomi mereka juga pas-pasan. Meminta bantuan berarti membebani mereka, dan itu juga bukan solusi karena jumlahnya terlalu besar.

Vira melempar ponselnya ke atas kasur dengan frustrasi. Ia membenamkan wajahnya ke dalam bantal, ingin berteriak sekeras-kerasnya tapi suaranya tertahan.

"Kenapa hidupku selalu begini sih?!" gerutunya pada semesta. "Mau mati aja rasanya!"

Di tengah keputusasaannya itu, sebuah nama muncul begitu saja di benaknya. Sebuah nama yang biasanya hanya ia sebut jika sedang menggerutu atau marah-marah.

Farzhan Ibrahim.

Hanya dengan memikirkan nama itu, dada Vira terasa sesak oleh emosi campur aduk. Farzhan, Pria itu... Laki-laki yang entah kenapa takdir selalu menyatukan jalan mereka sejak mereka masih kecil. Mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga kuliah, mereka selalu berada di tempat yang sama. Seolah-olah Tuhan sedang iseng bermain puzzle dan memasang dua keping yang sama sekali tidak cocok dalam satu kotak.

Farzhan Ibrahim. Anak dari Zyan Ibrahim, bos besar yang juga atasan dari orang tuanya. Pria itu kaya raya, berkuasa, dan yang paling penting... ia sangat mampu. Mampu menyelesaikan masalah sebesar ini dengan mungkin hanya menggerakkan satu jari saja. Uang? Bagi Farzhan, jumlah yang membuat Vira pusing tujuh keliling itu mungkin hanya seperti uang jajan hariannya.

Selain itu, meskipun mereka selalu bertengkar, ikatan mereka sebenarnya sangat dekat. Keluarga mereka akrab. Mereka tahu seluk-beluk satu sama lain. Farzhan tahu betapa cerobohnya Vira, dan Vira tahu betapa menyebalkannya sifat perfeksionis Farzhan. Tapi di saat-saat genting seperti ini... hanya Farzhan yang punya kekuatan untuk menyelamatkannya dari jeratan hukum.

"Haruskah aku menghubunginya?" bisik Vira ragu-ragu.

Ia meraih kembali ponselnya, mencari nama kontak pria itu. Namanya ia simpan dengan nama 'Si Robot Kaku'. Ia menatap foto profilnya—foto formal dengan wajah datar tanpa ekspresi, khas Farzhan.

Jari telunjuknya melayang di atas tombol panggil. Hampir saja ia menekannya. Hampir saja suara sambungan telepon terdengar. Tapi tiba-tiba, gengsi dan harga dirinya meledak.

Apa?! Aku minta tolong sama dia?!

Bayangan wajah Farzhan muncul di kepalanya. Pria itu pasti akan memasang wajah sinis. Ia pasti akan mengejeknya. 'Sudah kubilang kan Vi, otakmu itu cuma dipakai buat hiasan. Selalu aja bikin masalah.' Atau mungkin ia akan berkata, 'Kamu itu kan mau mandiri? Kenapa sekarang datang merengek minta tolong sama aku?'

Duh, membayangkan saja Vira sudah ingin memukul dinding! Farzhan itu memang tampan, kaya, dan sempurna di mata orang lain, tapi baginya ia adalah musuh utama! Sombong, dingin, dan suka merendahkan. Bagaimana mungkin Vira, dengan kepala yang tegak ini, harus bersujud meminta bantuan pada orang yang paling ia benci?

"Tidak mau! Dan tidak akan pernah! Mending aku masuk penjara aja daripada malu sama dia!" Vira melempar ponselnya lagi, kali ini lebih keras.

Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu. Pikirannya bertempur hebat. Logika berkata hubungi Farzhan, ayo selamatkan dirimu. Tapi ego dan gengsi perempuan itu berteriak keras, bilang jangan pernah tunduk pada Si Robot itu!

"Kalau aku telpon dia, dia akan merasa menang selamanya. Dia akan tetap menganggap aku beban seumur hidup. Nanti setiap kita ketemu, pasti dia ungkit-ungkit hal ini. 'Oh iya, waktu itu kamu hampir masuk penjara loh, siapa yang menyelamatkanmu? Aku kan?' Aduh, membayangkannya saja terasa ngeri banget!" Vira mengacak-acak rambutnya sendiri yang sudah berantakan.

Tapi realita kembali menyakitinya. Bayangan dirinya mengenakan baju tahanan, digiring polisi, ditunjuk-tunjuk orang, dan membuat orang tuanya menangis malu... itu jauh lebih menakutkan daripada ejekan Farzhan.

Vira terduduk lemas di lantai. Air matanya kembali menetes. Ia benar-benar buntu.

"Zhan... kenapa sih kamu harus jadi orang yang paling bisa bantu aku, tapi juga orang yang paling bikin aku gengsi?" keluhnya pelan.

Ia mengambil lagi ponselnya. Layarnya menyala, menampilkan nama 'Si Robot Kaku'. Jantung Vira berdegup kencang. Ia menelan ludah, berkali-kali. Jarinya gemetar. Ia ingin menekan tombol hijau itu. Ia ingin berteriak minta tolong.

Tapi pada detik terakhir, dengan air mata yang mengalir deras, Vira menekan tombol kunci. Layar menjadi gelap, memantulkan wajahnya yang sedih dan kacau.

"Tidak bisa... Aku tidak sanggup," isaknya pelan. "Maaf Zhan... Aku gengsi. Aku tidak bisa minta tolong sama kamu. Aku harus cari cara lain. Aku harus..."

Namun kata-kata itu terdengar begitu lemah, bahkan untuk telinganya sendiri. Ia tahu, tidak ada cara lain. Tidak ada harapan lain. Kecuali... keajaiban turun dari langit.

Malam semakin larut. Waktu terus berjalan, menggerus sisa waktu yang ia miliki. Vira masih duduk di lantai, memeluk kakinya, terperangkap dalam dilema yang menyiksa. Antara harga diri yang harus dipertahankan, atau nasib yang harus diselamatkan. Dan di sudut kota lain, Farzhan Ibrahim mungkin sedang sibuk dengan dunianya yang rapi dan teratur, sama sekali tidak menyadari bahwa musuh bebuyutannya sedang berada di ambang kehancuran, dan terlalu gengsi untuk memanggil namanya.

 

Terpopuler

Comments

Siti Sarfiah

Siti Sarfiah

ceritanya bagus, sabar ya vira mudahan ada jalan keluar dan akan ada rezeki untuk mengembalikan uang yg d ambil oleh rekan kerja

2026-05-23

1

Elisabeth Ratna Susanti

Elisabeth Ratna Susanti

like subscribe plus iklan 👍

2026-06-14

0

lihat semua
Episodes
1 Ketika Takdir Memainkan Peran
2 Kenangan Kecil yang Pahit
3 Bayang-bayang Masalah
4 Tawaran yang Aneh
5 Nikah? Dengan Dia?
6 Kontrak Pernikahan yang Aneh
7 Tanda Tangan di Surat Nikah
8 Tinggal Bersama Singa
9 Satu Atap, Dua Dunia
10 Perang Paling Konyol
11 Aturan Rumah yang Ketat
12 Farzhan yang Misterius
13 Vira yang Kewalahan
14 Makan Malam yang Canggung
15 Kesalahpahaman yang Lucu
16 Kebiasaan Baru yang Mengganggu
17 Ternyata Kamu Bukan Setan
18 Saat Dia Mulai Peduli
19 Jejak Masa Lalu
20 Jadi, Rasa itu Namanya Cemburu, ya?"
21 Persiapan Hari spesial
22 Hadiah Istimewa
23 Malu-malu Kucing
24 Pertahanan yang Mulai Retak
25 Malam Hujan dan Obat Pusing
26 Sentuhan yang Tidak Disengaja
27 Rahasia di Balik Pintu yang Tertutup
28 Tatapan yang Tidak Bisa Dijelaskan
29 Jantung yang Berkhianat
30 Timbulnya Orang Ketiga
31 Intrik di Perusahaan Film
32 Perang Melawan Orang Sendiri
33 Vira yang Mulai Merindu
34 Farzhan yang Tidak Ada Kabar
35 Persekongkolan Jahat
36 Vira dalam Bahaya
37 Batin yang Saling Menguatkan
38 Zyan, Ayah yang Gagah Perkasa
39 Farzhan, Pelindung yang Tangguh
40 Kebenaran Akan Bersinar
41 Orang Tua Mulai Curiga
42 Aku Tidak Bisa Hidup Tanpamu
43 Maafkan Aku yang Bodoh
44 Cinta Itu Puitis, Kamu Itu Humoris
45 Persetujuan Orang Tua
46 Bulan Madu yang Kacau
47 Janji di Bawah Bintang
48 Takdir Terindah
49 Satu yang Ngidam, Semua yang Sibuk
50 Mood yang Berubah-Ubah
51 Persiapan Kecil dan Kekhawatiran Besar
52 Hari yang Penuh Warna
53 Tanda Awal yang Kacau tapi Manis
54 Nama yang Penuh Makna
55 Hari Penuh Doa, Tawa, dan Harapan
56 Penjaga Setia yang Selalu Berbawa Hadiah
57 Lebih Heboh dari Orang Tuanya
58 Janji Kecil di Bawah Langit Sore
59 Penyedia Segala Kebutuhan Rista
60 Calon Suami Evarista
61 Hati yang Tak Pernah Berubah
62 Syarat Kencan dari Ayah
63 Kencan Pertama
64 Keputusan di Balik Layar
65 Sidang untuk Sepasang Kekasih
66 Tempat di Mana Segalanya Bermula
67 Maukah Kamu Menerima Lamaranku?
68 Gaun Impian dan Waktu Bersama
69 Wejangan untuk Masa Depan
70 Hari yang Ditunggu Akhirnya Tiba
71 Rumah Baru, Rasa yang Baru
72 Nasi Goreng Bukan Sembarang Toping
73 Teh Hangat dan Hangatnya Pelukan
74 Manisnya Hari-hari Kita
75 Kejutan yang Nyaris Menjadi Salah Paham
76 Jejak Warna dan Janji yang Makin Kuat
77 Hari Penuh Tawa dan Jejak Kaki di Rumput
78 Keinginan yang Aneh
79 Janji yang Semakin Menguat
80 Di Bawah Langit yang Sama
81 Back to Us, Zehar & Alesha
Episodes

Updated 81 Episodes

1
Ketika Takdir Memainkan Peran
2
Kenangan Kecil yang Pahit
3
Bayang-bayang Masalah
4
Tawaran yang Aneh
5
Nikah? Dengan Dia?
6
Kontrak Pernikahan yang Aneh
7
Tanda Tangan di Surat Nikah
8
Tinggal Bersama Singa
9
Satu Atap, Dua Dunia
10
Perang Paling Konyol
11
Aturan Rumah yang Ketat
12
Farzhan yang Misterius
13
Vira yang Kewalahan
14
Makan Malam yang Canggung
15
Kesalahpahaman yang Lucu
16
Kebiasaan Baru yang Mengganggu
17
Ternyata Kamu Bukan Setan
18
Saat Dia Mulai Peduli
19
Jejak Masa Lalu
20
Jadi, Rasa itu Namanya Cemburu, ya?"
21
Persiapan Hari spesial
22
Hadiah Istimewa
23
Malu-malu Kucing
24
Pertahanan yang Mulai Retak
25
Malam Hujan dan Obat Pusing
26
Sentuhan yang Tidak Disengaja
27
Rahasia di Balik Pintu yang Tertutup
28
Tatapan yang Tidak Bisa Dijelaskan
29
Jantung yang Berkhianat
30
Timbulnya Orang Ketiga
31
Intrik di Perusahaan Film
32
Perang Melawan Orang Sendiri
33
Vira yang Mulai Merindu
34
Farzhan yang Tidak Ada Kabar
35
Persekongkolan Jahat
36
Vira dalam Bahaya
37
Batin yang Saling Menguatkan
38
Zyan, Ayah yang Gagah Perkasa
39
Farzhan, Pelindung yang Tangguh
40
Kebenaran Akan Bersinar
41
Orang Tua Mulai Curiga
42
Aku Tidak Bisa Hidup Tanpamu
43
Maafkan Aku yang Bodoh
44
Cinta Itu Puitis, Kamu Itu Humoris
45
Persetujuan Orang Tua
46
Bulan Madu yang Kacau
47
Janji di Bawah Bintang
48
Takdir Terindah
49
Satu yang Ngidam, Semua yang Sibuk
50
Mood yang Berubah-Ubah
51
Persiapan Kecil dan Kekhawatiran Besar
52
Hari yang Penuh Warna
53
Tanda Awal yang Kacau tapi Manis
54
Nama yang Penuh Makna
55
Hari Penuh Doa, Tawa, dan Harapan
56
Penjaga Setia yang Selalu Berbawa Hadiah
57
Lebih Heboh dari Orang Tuanya
58
Janji Kecil di Bawah Langit Sore
59
Penyedia Segala Kebutuhan Rista
60
Calon Suami Evarista
61
Hati yang Tak Pernah Berubah
62
Syarat Kencan dari Ayah
63
Kencan Pertama
64
Keputusan di Balik Layar
65
Sidang untuk Sepasang Kekasih
66
Tempat di Mana Segalanya Bermula
67
Maukah Kamu Menerima Lamaranku?
68
Gaun Impian dan Waktu Bersama
69
Wejangan untuk Masa Depan
70
Hari yang Ditunggu Akhirnya Tiba
71
Rumah Baru, Rasa yang Baru
72
Nasi Goreng Bukan Sembarang Toping
73
Teh Hangat dan Hangatnya Pelukan
74
Manisnya Hari-hari Kita
75
Kejutan yang Nyaris Menjadi Salah Paham
76
Jejak Warna dan Janji yang Makin Kuat
77
Hari Penuh Tawa dan Jejak Kaki di Rumput
78
Keinginan yang Aneh
79
Janji yang Semakin Menguat
80
Di Bawah Langit yang Sama
81
Back to Us, Zehar & Alesha

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!