Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.
Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.
Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Tungku Beracun
Paviliun Alkimia Barat adalah salah satu dari empat pilar kekayaan Sekte Pedang Awan Mengalir. Bangunan megah bertingkat sembilan itu terbuat dari Batu Kumala Merah yang memancarkan hawa hangat sepanjang tahun, melelehkan salju dalam radius seratus tombak dari pelatarannya. Aroma wangi dari ribuan jenis tanaman herbal spiritual menguar di udara, bercampur dengan bau tajam dari belerang dan abu.
Bagi para murid resmi sekte, tempat ini adalah surga yang penuh dengan pil ajaib untuk mempercepat kultivasi mereka. Namun, bagi para pelayan fana, Paviliun Alkimia adalah rahang monster purba yang tak pernah kenyang menelan nyawa manusia.
Lin Ye berjalan dalam diam di belakang Pengawas Zhao. Jubah abu-abunya yang tipis berkibar tertiup angin dingin yang mulai memudar saat mereka memasuki area paviliun. Sepanjang jalan, ia melihat puluhan pelayan fana lainnya bekerja bagai kuda; memikul keranjang-keranjang bijih besi spiritual, menumbuk akar beracun hingga tangan mereka melepuh, dan menjaga api tungku di ruang bawah tanah.
Di mata para kultivator berjubah putih yang sesekali melintas, pelayan-pelayan ini bahkan tidak terlihat seperti manusia. Mereka hanyalah semut-semut pekerja yang bernapas.
"Berhenti di sini," geram Pengawas Zhao. Tubuh gemuknya berhenti di depan sebuah pintu besi hitam pekat yang melengkung ke dalam, terletak di sayap paling kanan lantai dasar paviliun. Di atas pintu itu, terukir angka tiga.
Pintu itu tertutup rapat, tapi dari celah-celahnya, asap berwarna hijau kehitaman terus merembes keluar. Suhu di sekitar pintu itu sangat tinggi, membuat udara di sekitarnya tampak beriak. Dua orang penjaga tingkat kedua Alam Pengumpulan Qi berdiri cukup jauh dari pintu itu, menutup hidung dan mulut mereka dengan saputangan yang telah direndam cairan penawar racun.
Melihat kedatangan Pengawas Zhao, salah satu penjaga mendengus kesal. "Akhirnya kau bawa juga tumbalnya, Zhao Tua. Tungku nomor tiga milik Tetua Han meledak saat dia sedang mencoba memurnikan Pil Ular Api. Ruangan itu kini dipenuhi Racun Api Belerang. Kalau tidak segera dibersihkan, racunnya akan merusak formasi pelindung ruangan dan menyebar ke area luar."
"Tentu, tentu," Pengawas Zhao membungkuk hormat, wajahnya yang tadi kejam saat menatap Lin Ye kini berubah menjadi penuh senyum menjilat. "Pelayan rendahan ini sangat rajin. Dia pasti akan menyelesaikan tugasnya."
Penjaga itu melirik Lin Ye yang tampak kurus dan menundukkan kepala. Ia tertawa merendahkan. "Bocah tanpa meridian? Tubuh fananya paling hanya bisa bertahan lima menit di dalam sebelum paru-parunya meleleh. Tapi sudahlah, lima menit cukup untuk membersihkan sebagian abu. Kalau dia mati, seret keluar mayatnya dan lempar ke jurang seperti biasa."
Kata-kata itu diucapkan dengan nada yang sangat santai, seolah mereka sedang mendiskusikan nasib seekor serangga.
Pengawas Zhao menendang betis Lin Ye, meski Lin Ye sudah mengeraskan ototnya agar tidak goyah. "Kau dengar itu, babi malas? Buka pintunya, bersihkan pecahan tungku dan abu di dalamnya! Jangan berani keluar sebelum lantainya bersih!"
Lin Ye tidak menjawab. Tanpa ragu, ia melangkah maju. Tangannya yang dipenuhi kapalan mendorong pintu besi hitam yang panasnya setara dengan besi tempa.
Ckiiieeet...
Begitu pintu terbuka selebar tubuh manusia, gelombang panas dan kepulan asap hijau beracun langsung menerjang keluar seperti binatang buas yang lepas dari kandang. Para penjaga dan Pengawas Zhao segera melangkah mundur sambil mengerutkan kening.
Lin Ye masuk ke dalam. Pintu besi yang berat itu kembali tertutup dengan suara dentuman keras di belakangnya, menguncinya di dalam neraka kecil tersebut.
Di dalam, suasananya jauh lebih mengerikan. Ruangan itu berbentuk bundar dan cukup luas, namun jarak pandangnya tertutup sama sekali akibat kabut beracun tebal. Di tengah ruangan, sebuah tungku tembaga setinggi dua meter terbelah menjadi dua. Abu hitam berserakan di mana-mana, sementara api hijau kecil masih menyala di beberapa sudut, membakar sisa-sisa tanaman herbal yang gagal disatukan.
Seketika, Lin Ye merasakan matanya perih. Tenggorokannya terbakar seperti dimasuki bara api. Kulitnya melepuh dan memerah dalam hitungan detik. Ini adalah Racun Api Belerang tingkat tinggi; bahkan kultivator Pengumpulan Qi tingkat awal akan mati jika terjebak di sini tanpa pil penawar.
Namun, di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuh fananya, senyum tipis, dingin, dan nyaris gila terbentuk di bibir Lin Ye.
"Makananku telah disajikan," bisiknya serak.
Tanpa membuang waktu, Lin Ye melangkah ke tengah ruangan, tepat di dekat tungku yang hancur, tempat konsentrasi racun paling pekat. Ia duduk bersila di lantai batu yang sangat panas, mengabaikan jubah tipisnya yang mulai hangus.
Ia memejamkan mata dan memfokuskan pikirannya. Aksara-aksara purba dari Sutra Kekosongan Penelan Bintang kembali menyala di dalam benaknya.
Di dalam Dantian-nya, Kuali Penelan Bintang yang selama ini diam tiba-tiba berputar cepat. Seberkas cahaya kosmik ungu redup memancar dari Dantian, menembus setiap pori-pori kulit Lin Ye.
Tubuh Lin Ye mendadak berubah menjadi sebuah pusaran air di tengah lautan.
Wusss!
Asap hijau kehitaman yang memenuhi ruangan tiba-tiba bergerak tak beraturan. Seolah ditarik oleh magnet raksasa tak kasatmata, asap beracun dan hawa panas itu tersedot masuk ke dalam pori-pori kulit Lin Ye, mengalir langsung ke Dantian-nya.
Prosesnya sangat menyakitkan. Racun itu merobek jaringan ototnya, tapi detik berikutnya, Kuali Penelan Bintang memurnikan racun kotor itu, menghancurkan sifat perusaknya, dan mengubahnya menjadi untaian murni energi fisik dasar yang kembali dialirkan ke seluruh tubuh Lin Ye untuk menyembuhkan dan memperkuat otot-otot yang sobek tersebut.
Merusak, memurnikan, menyembuhkan, memperkuat. Siklus ini terjadi ribuan kali dalam setiap tarikan napas.
Kuali purba itu tidak mengenal konsep "racun". Di mata kuali yang diciptakan untuk melahap Hukum Langit dan Bumi ini, kabut beracun itu hanyalah bentuk energi kelas sangat rendah—tidak lebih dari setetes air lumpur.
Selama satu jam penuh, Lin Ye terus bermeditasi. Suara gemuruh pelan terdengar dari dalam tubuhnya, seolah ada drum perang yang ditabuh di balik tulang rusuknya. Tulang-tulangnya menjadi lebih padat, otot-ototnya yang ramping memadat sekeras kawat baja, dan kulitnya yang melepuh perlahan mengelupas, digantikan oleh lapisan kulit baru yang memiliki ketahanan terhadap api biasa.
Ketika Lin Ye membuka matanya, kilatan ungu menyapu kegelapan ruangan.
Asap hijau beracun telah lenyap tak bersisa. Suhu ruangan kembali normal, bahkan terasa sedikit dingin. Ia telah "memakan" seluruh racun di dalam ruangan ini bersih hingga ke akar-akarnya.
Lin Ye mengepalkan tinjunya. Suara retakan udara pelan terdengar.
"Kekuatan fisikku naik pesat. Jika sebelumnya aku hanya setara dengan manusia kuat, sekarang kekuatanku mungkin sebanding dengan kultivator Pengumpulan Qi Tingkat Kedua, atau bahkan Tingkat Ketiga jika hanya beradu pukulan fisik murni," gumam Lin Ye sambil menakar keadaan tubuhnya sendiri.
Karena ia menggunakan jalur Sutra Kekosongan, tidak ada gelombang Qi spiritual yang bocor dari tubuhnya. Jika seorang Tetua memeriksanya pun, mereka hanya akan melihat pemuda fana yang kebetulan memiliki fisik yang sehat. Sembilan nadinya masih "tersekat" dari luar. Ini adalah penyamaran yang paling sempurna yang diberikan oleh surga.
Ia berdiri dan mulai melakukan tugas yang sebenarnya: membersihkan ruangan. Sambil menyapu pecahan tungku dan abu hitam, matanya menangkap sesuatu yang tersembunyi di bawah puing-puing tembaga panas.
Ia membungkuk dan menyingkirkan puing tersebut. Di sana, tergeletak tiga butir pil bundar seukuran kelereng. Warnanya hitam pekat, permukaannya kasar dan tidak beraturan, memancarkan bau hangus yang menyengat.
Ini adalah Pil Limbah. Produk gagal dari proses alkimia Tetua Han. Pil ini mengandung sembilan bagian racun api dan hanya satu bagian sisa energi spiritual. Di sekte mana pun, pil limbah seperti ini dianggap sangat berbahaya dan biasanya dihancurkan atau dibuang ke jurang racun, karena jika tertelan, racun apinya akan langsung membakar meridian kultivator hingga menjadi abu.
Namun, mata Lin Ye berbinar redup. Ia mengambil ketiga pil limbah itu. Kuali di Dantian-nya bergetar pelan, memberikan sinyal rasa "lapar".
Bagi orang lain, ini adalah racun mematikan. Bagi Lin Ye, ini adalah pil kultivasi tingkat atas.
Dengan cepat, ia menyembunyikan ketiga pil limbah itu ke dalam kantong kulit kecil di balik celananya yang kotor. Ini adalah sumber daya pertamanya. Mulai sekarang, dia tahu di mana dia bisa mendapatkan "makanan" kultivasi tanpa menarik kecurigaan siapa pun: tempat pembuangan sampah Paviliun Alkimia.
Setelah memastikan lantai ruangan bersih dari puing besar, Lin Ye mengambil napas panjang. Dia tidak boleh keluar dengan keadaan sehat bugar. Itu akan membongkar semua rahasianya.
Dengan kejam terhadap dirinya sendiri, Lin Ye menggigit keras lidahnya. Rasa amis darah segera memenuhi mulutnya. Ia juga mengacak-acak rambutnya, menempelkan sedikit abu hitam ke wajahnya, dan membuat napasnya menjadi tersengal-sengal dan dangkal.
Lalu, ia melangkah tertatih-tatih menuju pintu besi dan memukulnya perlahan dari dalam.
Brak... Brak...
Pintu perlahan terbuka dari luar. Dua penjaga dan Pengawas Zhao masih berdiri di kejauhan, menutupi hidung mereka, menanti mayat yang akan mereka seret.
Namun, alih-alih mayat, Lin Ye jatuh tengkurap melintasi ambang pintu. Tubuhnya gemetar hebat. Ia terbatuk-batuk keras, memuntahkan darah hitam (campuran darah dan abu) ke atas lantai salju.
"Pelayan ini... pelayan ini telah... menyelesaikan tugas..." ucap Lin Ye dengan suara yang sangat lemah, nyaris tak terdengar, sebelum berpura-pura jatuh pingsan di atas salju.
Pengawas Zhao dan kedua penjaga itu terbelalak lebar. Mata mereka seolah mau melompat keluar dari rongganya. Mereka buru-buru melihat ke dalam ruangan tungku. Benar saja, ruangan itu bersih, dan anehnya, asap beracunnya telah mengendap dan menghilang entah ke mana.
"Bagaimana mungkin?!" salah satu penjaga berseru tak percaya. "Bahkan tikus beracun pun akan mati di dalam sana! Bagaimana sampah fana ini bisa hidup?"
Pengawas Zhao mendekat dengan ragu, menatap tubuh Lin Ye yang pingsan dengan jijik namun juga heran. "Mungkin... mungkin saat tungku meledak, ada celah saluran udara bawah tanah yang retak, dan bocah ini kebetulan bersembunyi di dekat sana, sehingga racunnya tersedot keluar oleh angin gunung? Lagipula, lihat kondisinya, dia sudah setengah mati. Dia hanya beruntung."
Kedua penjaga itu saling pandang dan mengangguk. Masuk akal. Tidak ada penjelasan lain. Mengatakan bahwa pelayan tanpa meridian menyerap seluruh racun itu lebih mustahil daripada babi yang tiba-tiba bisa terbang.
"Cih. Nyawanya sungguh keras seperti kecoak," dengus penjaga lainnya. "Zhao Tua, bawa dia pergi. Jangan kotori pelataran paviliun dengan muntahan darahnya."
Pengawas Zhao menggerutu, meraih kerah jubah belakang Lin Ye, dan menyeretnya pergi menyusuri jalan berbatu seperti menyeret karung beras. Di bawah seretan kasar yang melukai kulit itu, Lin Ye yang sedang memejamkan mata diam-diam tersenyum dalam hati.
Langkah pertamanya dalam merampas sumber daya surga telah berhasil diselesaikan dengan sempurna.