NovelToon NovelToon
Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cthulhu / Dunia Lain / Action / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: DaoisttjmlCe

Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.

Dengan semakin berkembangnya tenaga uap dan mesin, siapa yang bisa mendekati sosok Master Q? Terselubung dalam kabut dan kegelapan, siapa atau apa kejahatan yang mengintai dan berbisik di telinga kita?

Terbangun dengan serangkaian kebingungan dan misteri, Bagas Pratama mendapati dirinya bereinkarnasi ke tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu di dunia yang dipenuhi oleh lautan dan dikuasai oleh mesin uap, bajak laut, meriam, serta Ramuan, Q, dan Anomali.

Ikuti kisah Rostav Zertu dalam menghadapi bahaya dan misteri yang mengincarnya, saat terlibat dengan organisasi-organisasi rahasia yang ada di dunia.

Ini adalah kisah dari "Kapten Mawar Hitam".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Tubuh yang Mengapung

Setelah tiba di dapur, Rostav meletakkan barel di dekat meja dan membuka penutupnya. Bau amis darah segera menyeruak begitu penutup barel terbuka. Berbeda dengan ikan berwajah iblis yang dagingnya sendiri tidak memiliki terlalu banyak darah setelah diolah, karena darahnya mengalir keluar dengan deras begitu dagingnya dipotong, walaupun memang masih ada darah yang terperangkap di dalam dagingnya, tapi tidak sampai sebanyak itu.

Ikan bersisik emas ini, darahnya tetap terperangkap di dalam daging walaupun dia memotongnya menjadi bagian-bagian yang sangat kecil, membuat dagingnya berwarna merah pekat. Hal itu menandakan bahwa darahnya begitu pekat dan kental, sehingga sulit untuk mengalir keluar. Maka dari itu, Rostav memilih untuk mencuci darahnya terlebih dahulu, setidaknya untuk mengurangi bau amis dan darahnya.

"Sebenarnya, proses ini memang sedikit merepotkan dan cukup menguras waktu. Tapi, menurutku hal itu tetap lebih baik daripada membiarkan darah ikan terus menetes ke atas kompor selama proses pengasapan berlangsung. Selain dapat membuat area memasak menjadi lebih kotor, darah yang menetes dalam jumlah banyak juga bisa memengaruhi kualitas pengasapan itu sendiri.

"Memang, ikan berwajah iblis yang sebelumnya diasapi juga mengeluarkan darah saat diproses. Akan tetapi, jumlahnya hanya tetap terkendali sehingga tidak terlalu mengganggu. Berbeda dengan daging ikan bersisik emas ini. Darah yang keluar jauh lebih banyak dan memiliki tekstur yang lebih kental. Karena itu, proses pengasapannya membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan ikan berwajah iblis.

"Itulah alasan mengapa daging ikan ini perlu dicuci terlebih dahulu sebelum diasapi. Dengan membersihkan sebagian darah yang masih menempel atau tersimpan di dalam daging, jumlah darah yang akan keluar selama pengasapan dapat berkurang secara signifikan. Selain membuat proses memasak menjadi lebih bersih, langkah tersebut juga membantu mempercepat pengasapan, sehingga panas dan asap dapat bekerja lebih efektif pada daging ikan. Meskipun menambah satu tahapan pekerjaan, hasil akhirnya jauh lebih baik dan prosesnya menjadi lebih mudah untuk dikendalikan," Rostav bergumam pada dirinya sendiri sambil menatap tumpukan daging ikan di barel, maka dari itu, dia menyeret barel ke arah wastafel di samping meja dan mencuci dagingnya satu per satu.

Dia mencucinya hingga benar-benar bersih, setelah itu daging yang telah dicuci dia letakkan di atas meja baja tahan karat. Dia mengambil tusuk besi dan menusuk dagingnya satu persatu hingga semuanya benar-benar habis. Setelah itu dia mengangkat pengait di samping kompor, menguncinya agar tidak turun, dan meletakkan tusuk besi itu di pengaitnya, dan kemudian menyalakan kompor hingga uap panas berwarna putih keluar.

Uap putih itu, panasnya bisa membuat kulit terkelupas, uap putih itu menyelimuti daging yang masih basah dan melewatinya, memasuki sebuah corong pipa dan keluar di udara tinggi. Kapal itu kini terlihat seperti pabrik industri, dengan beberapa cerobong asap dari pipa yang menghiasi kapal. Salah satu cerobong asap itu mengeluarkan uap putih panas, sementara yang lainnya tetap terdiam, tidak bekerja.

Empat jam kemudian, Rostav bangkit dari kasurnya dan melangkah menuju dapur. Dia melihat bahwa daging ikan yang sebelumnya dia tangkap telah matang dan kering, menyusut menjadi lebih kecil. Rostav mematikan kompor dan menunggu daging menjadi sedikit lebih dingin. Setelah dirasa daging menjadi dingin, Rostav mengambil tusuk besi dan meletakkan semua daging di atas meja. Dia mengambil satu, suhunya bisa dibilang masih hangat, dan akhirnya mencobanya.

Seperti yang dijelaskan di buku, dagingnya memang alot dan keras, butuh sedikit usaha untuk menggigitnya. Juga, rasanya memang hambar, tidak seperti daging ikan berwajah iblis yang memiliki rasa asin alami. Tapi, itu jauh lebih baik dari pada memakan roti keras, setidaknya tekstur dagingnya tidak sekeras roti dari ruang penyimpanan itu.

"Walaupun tekstur dagingnya keras, alot, dan rasanya hambar, tapi ini jauh lebih baik dari pada roti keras yang lebih cocok digunakan sebagai senjata dari pada makanan," Rostav mengambil satu potong daging lagi lalu mengambil wadah kayu dari lemari gantung, dan menyimpan sisanya ke dalam. "Sekarang, stok makanan sudah aman, saatnya kembali ke rutinitas monoton," Rostav menutup lemari gantung sambil bergumam.

"Aku rasa aku harus membersihkan tubuhku, aku sudah membersihkan dek. Dek saja sudah bersih, bagaimana dengan tubuhku?" dia menunduk, melihat penampilannya sendiri. Dia pergi ke kamarnya dan mengambil pakaian yang sama, karena memang hanya itu yang ada.

"Aku mengambil handuk, kemeja putih berlengan panjang, dasi hitam, rompi hitam, celana hitam, sepatu boot hitam, dan trench coat berwarna hitam. Hm, gaya berpakaian seperti ini sungguh mirip dengan Era Victoria. Apa aku sedang kembali ke masa lalu? Hehehe, lupakan," setelah mengambil pakaian ganti, dia segera pergi ke kamar mandi, meletakkan pakaian ganti dan handuk di gantungan, lalu menanggalkan semua pakaiannya.

Setelah itu dia mandi dengan nikmat dan menghabiskan waktu hingga setengah jam lamanya. Dia mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan mengenakan pakaian ganti. Setelah merasa rapi, dia hendak pergi keluar sebelum akhirnya pandangannya teralihkan oleh tumpukan pakaian kotor di keranjang.

Jika dia berada di Bumi, dia hanya perlu mengandalkan mesin cuci untuk membersihkan dan mengandalkan matahari untuk mengeringkan. Tapi dia kini berada di dunia lain, dia tidak pandai mencuci baju menggunakan tangan. Tapi, melihat tumpukan pakaian kotor itu membuatnya gelisah.

"Aku mungkin bisa mencoba membersihkannya di bak mandi, tapi bagaimana dengan mengeringkannya?" Rostav bersandar di dinding kamar mandi sambil memikirkan bagaimana cara dia mengeringkan pakaiannya. "Jika aku di Bumi, aku akan meletakkannya di gantungan dan membiarkan matahari mengeringkannya. Tapi aku berada di dunia lain, matahari di tempat ini saja terlihat mengerikan dan tertutup kabut tebal, butuh berapa lama untuk pakaiannya bisa kering sempurna? Ditambah badai bisa datang kapan saja."

Rostav terdiam selama beberapa saat, bingung apakah dia perlu untuk mencucinya atau tidak. Dia mempertimbangkan segala kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.

"Jika aku mengeringkannya menggunakan uap di kompor..." dia segera menghilangkan pikiran itu dan melanjutkan, "tidak, tidak, itu ide yang bodoh. Pakaiannya bisa-bisa rusak walaupun aku mengaturnya ke suhu terendah... ah, sudahlah, tidak usah terlalu memikirkannya, lagipula, masih banyak stok pakaian di lemari," Rostav mengibaskan jubahnya dan melangkah keluar, dia tidak ingin waktunya terbuang hanya untuk memikirkan apakah dia akan mencuci pakaiannya atau tidak. Dia akan memikirkannya nanti.

Seperti rutinitasnya yang biasanya, setiap hari sudah memasuki sore, Rostav lebih suka berdiam diri di dek kapal untuk melihat matahari terbenam, karena itulah satu-satunya hiburan yang dapat dia dapatkan. Dengan melihat matahari terbenam itu, dia selalu mengingat tentang Bumi, tentang kondisinya di Bumi saat ini.

"Apa yang terjadi dengan tubuhku di Bumi? Apakah tubuhku di sana sudah mati? Apakah aku sudah dikuburkan? Apakah teman-temanku akan sedih atas peninggalanku? Hah, sungguh, walaupun aku kini berada di dunia lain, aku tidak bisa menghilangkan fakta bahwa aku dulunya berasal dari Bumi. Tentu saja aku masih mengkhawatirkan diriku sendiri, jika sudah selama ini, mungkin tubuhku sudah dikuburkan," Rostav menghela napas sambil menatap matahari tenggelam ke arah barat.

Dia menyandarkan tangannya di pagar dek sambil sesekali melirik ke arah meriam di sampingnya, sebelum akhirnya perhatiannya tergantikan oleh sesuatu di kejauhan.

"Itu...?" Rostav menyipitkan matanya, berusaha melihat lebih jelas apa sesuatu di kejauhan itu. Dia melebarkan telapak tangannya dan meletakkannya tepat di atas alis, untuk setidaknya mengurangi intensitas cahaya matahari yang menyilaukan. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah depan, berusaha untuk melihat sesuatu yang mengapung di kejauhan.

"Ck, jaraknya terlalu jauh untuk bisa melihatnya dengan lebih jelas," dia mendecakkan lidahnya tanpa sadar karena kekesalan. Karena merasa usahanya sia-sia, dia memilih untuk menunggu sesuatu yang mengapung itu mendekati kapalnya. Karena saat ini angin sedang bergerak dari arah barat ke timur, dan sesuatu yang mengapung itu pasti mengikuti ombak.

Beberapa menit kemudian, akhirnya sesuatu yang mengapung itu terlihat dengan lebih jelas. Rostav menyipitkan matanya sebelum akhirnya bola matanya membulat sepenuhnya ketika melihat sebuah tubuh yang mengapung di atas sebuah barel.

"Itu... tubuh manusia?"

1
anggita
klo bisa novelnya dipromosikan Thor, biar dikenal pembaca NT.
anggita: ga pa" ijin promo aja. ditempat kami bebas. banyak kok teman" author yg promo dsini.
total 2 replies
anggita
ikut dukung like👍 iklan☝aja, moga novelnya lancar👌.
Blueria: semangat gann🔥
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!