NovelToon NovelToon
Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pangeran Kegelapan

​Kemewahan yang sesungguhnya dari dinasti Sterling terpancar sempurna malam ini di Grand Ballroom Hotel Splendide. Gedung pencakar langit yang terletak di pusat distrik finansial kota itu tampak bermandikan cahaya lampu sorot yang megah. Karpet merah membentang luas dari lobi luar hingga ke tangga utama, menyambut kedatangan para tamu undangan yang merupakan bagian dari satu persen orang teratas di dunia: para diplomat asing, pengusaha multinasional, selebritas papan atas, hingga para petinggi yang bergerak di wilayah abu-abu.

​Begitu limosin hitam legam berlogo Sterling berhenti tepat di depan lobi, puluhan wartawan dan fotografer dari berbagai media massa internasional yang sudah stand by di balik pagar barikade langsung merapat. Kilatan lampu kilat (blitz) kamera mendadak menyala bertubi-tubi bagaikan badai petir di malam hari, menciptakan pendar cahaya putih yang menyilaukan.

​Pintu mobil dibukakan dari luar. Eleanor Sterling melangkah keluar terlebih dahulu dengan keanggunan seorang ratu sosialita yang sudah terbiasa dengan sorotan publik. Namun, atmosfer di sekitar karpet merah mendadak membeku selama satu detik sebelum akhirnya meledak dalam kehebohan yang lebih besar ketika Eleanor berbalik dan mengulurkan tangannya untuk menuntun Chloe keluar dari kabin mobil.

​Jepretan kamera mendadak menjadi tiga kali lipat lebih agresif. Semua lensa kamera seolah bersekongkol untuk berputar dan mengunci sosok Chloe secara mutlak. Malam ini, Chloe benar-benar menjadi pusat perhatian tunggal yang mencuri seluruh pasokan udara di tempat itu. Gaun malam haute couture berwarna merah marun gelap (deep burgundy) yang membalut tubuh mungilnya tampak berkilau magis di bawah lampu sorot. Kulit putih porselennya, leher jenjangnya yang indah, serta tatapan mata rusanya yang jernih namun menyiratkan kemurnian yang langka di dunia luar, sukses menyihir setiap pasang mata yang memandangnya.

​"Siapa wanita di sebelah Eleanor Sterling?!"

"Apakah dia model baru dari Paris?!"

"Tunggu, lihat garis wajahnya... Apakah dia bagian dari keluarga Sterling yang disembunyikan?!"

​Bisik-bisik penasaran dari para pemburu berita saling bersahutan di tengah riuhnya suara jepretan kamera. Chloe merasa dunianya mendadak berputar. Kilatan lampu blitz yang menyambar-nyambar sempat membuatnya pusing dan reflek meremas lengan Eleanor dengan kuat. Namun, barisan pengawal bertubuh kekar dengan setelan jas hitam antipeluru langsung bergerak sigap, membentuk pagar betis yang kokoh di kanan dan kiri mereka, memberikan perlindungan mutlak agar tidak ada satu pun orang atau kamera yang bisa menyentuh seujung rambut Chloe.

​Eleanor menepuk punggung tangan Chloe dengan lembut, menyalurkan ketenangan. "Tegakkan dagumu, Mawar Kecil. Berjalanlah perlahan bersamaku. Malam ini, kau adalah bintangnya," bisik Eleanor dengan senyuman bangga yang tak luntur.

​Dengan anggun, mereka berjalan melintasi karpet merah, menaiki tangga utama, dan melangkah masuk ke dalam Grand Ballroom yang luar biasa megah. Langit-langit ruangan itu dihiasi oleh lampu kristal gantung raksasa yang memancarkan pendar keemasan yang hangat. Ratusan meja bundar berlapis kain beludru putih telah dipenuhi oleh para tamu undangan berbusana formal mewah.

​Petugas protokoler yayasan dengan sangat hormat menuntun Eleanor dan Chloe menuju barisan kursi paling depan—area VIP utama yang hanya dikhususkan untuk lingkaran tertinggi keluarga Sterling. Di sana, terdapat jajaran kursi beludru hitam dengan ukiran emas. Eleanor duduk di kursi tengah, sementara Chloe diarahkan untuk duduk di kursi sebelahnya. Tepat di samping kanan Chloe, terdapat sebuah kursi kosong yang di atas mejanya diletakkan sebuah papan nama kecil berbahan akrilik hitam dengan ukiran huruf emas yang tegas: Asher Sterling. Kursi kosong itu sengaja disisakan sebagai simbol kehadiran sang penyumbang dana utama, meskipun semua orang di ruangan itu tahu bahwa kursi itu hampir tidak pernah ditempati.

​Tidak lama kemudian, lampu ballroom perlahan meredup, menandakan acara lelang amal tahunan telah resmi dimulai. Seorang kurator seni terkenal naik ke atas panggung utama, membuka acara dengan pidato singkat sebelum mulai menampilkan barang-barang lelang pertama: mulai dari lukisan abad pertengahan, botol anggur langka peninggalan perang, hingga artefak kuno bernilai jutaan dolar.

​Selama acara berlangsung, Chloe berusaha duduk dengan keanggunan terbaik yang bisa ia tampilkan. Dia melipat kedua tangannya di atas pangkuan, menjaga punggungnya tetap tegak lurus sesuai instruksi Eleanor. Sesekali, jika ada pengusaha wanita senior atau istri diplomat dari meja sebelah yang menatap ke arahnya dengan pandangan menilai atau mengangguk sopan, Chloe akan membalasnya dengan seulas senyuman tipis yang sangat manis dan tulus—sebuah senyuman murni yang tanpa ia sadari membuat beberapa pria muda dari kalangan konglomerat di barisan belakang tidak bisa mengalihkan pandangan dari pesonanya.

​Acara lelang telah berjalan paruh waktu, memasuki sesi pertengahan di mana barang-barang dengan nilai tertinggi mulai dikeluarkan. Suasana ballroom yang tadinya tenang dan dipenuhi oleh suara ketukan palu lelang yang elegan mendadak berubah drastis ketika sebuah gema keributan yang hebat terdengar dari arah pintu masuk utama ballroom.

​BRAK!

​Pintu ganda raksasa ballroom yang dilapisi kuningan itu mendadak terbuka secara paksa dengan bunyi dentuman yang cukup keras.

​Seluruh tamu undangan di dalam ruangan seketika tersentak dan menoleh ke belakang secara serempak. Para pengawal internal hotel yang berjaga di dalam ruangan langsung menegang, namun mereka tidak berani bergerak satu inci pun ketika melihat siapa sosok yang baru saja melangkah masuk dengan aura yang seakan siap merobek seisi ruangan.

​Asher Sterling datang.

​Pria itu melangkah masuk bukan sebagai tamu undangan biasa, melainkan seolah-olah sedang memimpin sebuah serbuan militer. Di belakangnya, Kenzo dan belasan pengawal elit dari divisi keamanan Sterling melangkah dengan formasi taktis yang ketat, memancarkan aura dominasi dunia hitam yang begitu kaku, dingin, dan mematikan. Kehadiran mereka seketika menyedot habis atmosfer hangat dan ceria dari acara gala amal tersebut, menggantikannya dengan ketegangan yang mencekat leher.

​Asher mengenakan setelan tuksedo hitam tiga bagian yang dirancang khusus, membalut tubuh masifnya dengan sangat sempurna. Rambut hitamnya tertata rapi, dan rahang tegasnya mengeras kaku. Sepasang mata kelabunya berkilat tajam bak elang yang sedang mengincar mangsanya, menyisir seisi ballroom dengan pandangan yang membuat siapa saja yang berani menatapnya langsung menundukkan kepala karena takut.

​Tanpa memedulikan tatapan syok dari ratusan pasang mata, Asher melangkah tegap melintasi karpet tengah, langsung berjalan lurus menuju barisan kursi paling depan. Targetnya hanya satu.

​Di barisan depan, Eleanor yang melihat kedatangan adiknya seketika menyandarkan punggungnya di kursi sembari melipat kedua tangannya di dada. Sebuah senyuman kemenangan yang sangat lebar terukir di bibir merahnya. Foto yang dia kirim tadi siang ternyata bekerja dengan sangat luar biasa, batin Eleanor puas. Si beruang kutub yang benci acara publik ini akhirnya keluar dari sarangnya hanya dalam hitungan jam setelah melihat istrinya tampil memukau di luar rumah.

​Sementara itu, Chloe duduk mematung dengan jantung yang berdegup melompat-lompat di dalam dadanya. Dia benar-benar terkejut, bingung, dan diliputi rasa takut yang mendadak kembali membubung tinggi. Mengapa Asher tiba-tiba datang ke sini? Pikirannya langsung melayang pada peringatan kejam Asher pagi kemarin bahwa dia hanyalah barang tebusan yang tidak boleh melakukan hal-hal di luar keinginan suaminya. Apakah Asher datang ke sini untuk menyeretnya pulang dan menghukumnya karena kelancangan ini?

​Sebelum Chloe sempat menguasai kepanikannya, Asher sudah tiba di meja mereka. Tanpa ragu sedikit pun dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, pria itu langsung menarik kursi kosong di samping Chloe dan mendudukkan tubuh masifnya di sana. Kehadiran fisik tubuh Asher yang begitu dekat seketika membawa aroma parfum wood and bergamot yang akrab bercampur dengan hawa dingin yang mengintimidasi, mengurung seluruh indra penciuman Chloe.

​Asher tidak menoleh ke arah Eleanor, juga tidak menatap para tamu lain. Dia duduk bersandar, melipat satu kakinya di atas kaki yang lain, lalu mengarahkan pandangan matanya lurus ke arah panggung lelang. Namun, Chloe bisa merasakan dengan sangat jelas bagaimana rahang Asher tetap mengeras dan napasnya berembus berat—sebuah tanda nyata bahwa pria itu sedang menyimpan amarah yang teramat besar di balik ekspresi wajahnya yang flat dan dingin. Aura kemarahan itu begitu pekat hingga membuat Chloe tidak berani bahkan hanya untuk menoleh atau mengajaknya bicara. Dia hanya bisa meremas kain gaun merah marunnya di bawah meja dengan jemari yang gemetar.

​"Hadirin sekalian, kita memasuki barang lelang utama malam ini," suara kurator di panggung kembali bergema, mencoba mencairkan ketegangan pasca kedatangan Asher. "Satu set perhiasan langka peninggalan kekaisaran Rusia abad ke-19, dinamakan 'The Royal Crimson Rose'. Terdiri dari kalung berlian yang dihiasi oleh batu rubi merah darah sebesar telur burung puyuh, sepasang anting, dan gelang senada. Kita buka harga mulai dari lima juta dolar!"

​Beberapa konglomerat di barisan belakang mulai mengangkat papan penawaran mereka. "Enam juta!" "Tujuh juta!"

​Asher masih duduk menyandarkan tubuhnya dengan tenang, matanya menatap rubi merah di atas panggung yang memiliki warna yang sangat mirip dengan gaun yang dikenakan Chloe malam ini. Tiba-tiba, tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang sedingin es, Asher mengangkat tangan kanannya sedikit, memberikan kode kepada Kenzo yang berdiri di belakang kursinya.

​Kenzo langsung mengangkat papan penawaran resmi atas nama Sterling. "Dua puluh juta dolar," ucap Kenzo dengan suara yang lantang dan tenang.

​Seluruh ballroom seketika mendadak senyap. Angka yang disebutkan Kenzo melompat terlalu jauh, memotong semua persaingan dalam satu kali pukulan telak. Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang cukup gila atau berani untuk menawar lebih tinggi dari harga yang diajukan oleh penguasa dinasti Sterling jika mereka masih menyayangi nyawa dan bisnis mereka.

​"Dua puluh juta dolar... satu kali... dua kali... tiga kali... Sah! Satu set perhiasan The Royal Crimson Rose resmi menjadi milik Tuan Asher Sterling!" Ketukan palu kurator terdengar, diikuti oleh tepuk tangan riuh yang dipaksakan dari para tamu undangan.

​Asher membeli satu set perhiasan langka bernilai ratusan miliar itu tanpa berkedip sedikit pun, seolah-olah dia baru saja membeli sebotol air mineral. Dia kemudian melirik sekilas ke arah Chloe melalui sudut matanya—sebuah tatapan kelabu yang begitu tajam, intens, dan sarat akan klaim kepemilikan yang mutlak, seolah ingin menegaskan kepada seluruh pria di ruangan itu bahwa mawar merah di sampingnya ini telah memiliki pemilik yang sangat berbahaya.

​Melihat acara lelang utama telah selesai, para wartawan resmi yang diizinkan masuk ke dalam ballroom segera bergerak maju, melihat momen langka di mana Asher Sterling akhirnya duduk di kursi kehormatannya bersama seorang wanita misterius yang luar biasa cantik.

​Beberapa fotografer bersiap membidikkan kamera mereka ke arah meja utama. "Tuan Sterling, Nyonya Sterling, mohon menghadap ke arah kamera sebentar!" panggil salah satu fotografer senior dengan sopan namun penuh harap.

​Chloe yang masih diliputi rasa bingung dan takut reflek menegang, tidak tahu harus berbuat apa. Namun, sebelum dia sempat bereaksi, sebuah lengan kekar yang hangat dan kokoh tiba-tiba bergerak cepat dari samping.

​Asher mengulurkan tangan kanannya, melingkarkan lengan kekar itu di sekeliling pinggang ramping Chloe dengan tarikan yang kuat namun tidak menyakiti, membawa tubuh mungil Chloe untuk merapat sempurna tanpa jarak ke sisi tubuh masifnya. Tidak hanya itu, Asher sedikit memiringkan tubuhnya, menundukkan kepalanya hingga wajah tampannya berada sangat dekat dengan pelipis Chloe, memamerkan sebuah pose yang teramat mesra, posesif, dan intim di depan publik.

​Di bawah kilatan lampu blitz kamera yang kembali meledak bertubi-tubi mengabadikan momen spektakuler tersebut, Chloe hanya bisa terpaku dalam dekapan hangat suaminya. Dia menyadari satu hal di tengah gemuruh jepretan kamera malam ini: Asher mungkin marah karena kelancangannya keluar rumah, namun di depan dunia, pria itu tidak akan pernah membiarkan siapa pun meragukan bahwa Chloe adalah milik mutlak seorang Asher Sterling.

1
Idah Faridah
dtunggu thor lanjutanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!