NovelToon NovelToon
SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obrolan Malam dan Sepatu yang Lelah

Ruang tengah rumah sederhana itu terasa sejuk saat malam mulai turun. Alisha duduk lesehan di karpet, menggoreskan pena di atas buku catatan fisikanya. Namun, fokusnya buyar setiap lima detik karena ocehan Aleta yang tiada henti di sebelahnya.

"Kak Alisha, beneran deh, tadi pas Kak Shaka megang tangan Kak Ivanka tuh... beuh! Keren banget kayak di drama-drama!" Aleta menopang dagunya dengan kedua tangan, matanya berbinar-binar menatap langit-langit rumah.

"Dia itu udah tinggi, pinter, mukanya kayak aktor-aktor blasteran gitu lagi. Kok bisa ya ada cowok sesempurna Kak Shaka di sekolah kita? kakak kok bisa sih biasa aja tiap hari sekelas sama dia? Kalau aku jadi kakak, kayaknya tiap hari udah jantungan."

Alisha menghela napas panjang, menutup buku fisikanya dengan suara berdebam pelan. Ia menatap adiknya dengan tatapan muak yang tertahan.

"Aleta, stop. Kuping gue panas dari tadi isinya Shaka, Shaka, dan Shaka," ketus Alisha. "Dia itu aslinya nyebalkan, bermulut pedas, dan gengsian. Nggak usah terlalu tinggi ngayalnya. Buruan, mana tugas matematika lo yang katanya minta dibantu?"

Aleta langsung mengerucutkan bikirnya, tampak sebal karena fantasi indahnya dirusak oleh realita sang kakak. Dengan malas, ia menyodorkan sebuah buku cetak matematika dan selembar kertas coret-coret yang isinya penuh dengan coretan frustrasi.

"Nih... susah banget, kak. Aku bener-bener gak mudeng sama rumus aljabar yang ini. Dari tadi siang aku plototin, kepalaku malah pusing," keluh Aleta, suaranya merendah. Di bidang akademik, Aleta memang selalu merasa tertinggal jauh di belakang Alisha yang berotak encer.

Alisha menarik buku itu. Melihat deretan angka yang berantakan, ekspresi ketusnya melunak. Biar bagaimanapun, Aleta adalah adiknya. Ia menggeser duduknya agar lebih dekat, lalu mulai menuliskan rumus dengan sabar.

"Sini liat. Gak usah langsung pusing liat hurufnya. Konsepnya itu tinggal lo pindahin ruasnya aja, Ta. Kalau di kiri positif, pindah ke kanan jadi negatif. Coba kerjain yang nomor dua."

Di sudut ruangan dekat TV, Bapak yang sedang melinting tembakau dan Ibu yang baru selesai melipat kain baju, memperhatikan kedua anak gadis mereka.

Bapak tersenyum bangga, menatap Alisha dengan binar mata yang cerah. "Nah, contoh tuh Mbakmu, Nduk. Biar bapak cuma buruh tani, tapi bapak bangga punya anak pinter kayak Alisha. Nanti kalau Alisha dapet beasiswa kuliah ke kota, derajat keluarga kita pasti keangkat."

Ibu yang duduk di sebelah Bapak menghela napas pelan. Matanya beralih menatap rambut Alisha, lalu menatap kulit putih Aleta yang terawat.

"Pinter itu emang nomor satu, Pak," sahut Ibu dengan nada suara yang agak pelan, hampir seperti berbisik tapi masih terdengar. "Tapi Ibu tuh kadang kepikiran... Alisha ini perempuan. Di kota nanti orang-orangnya modern, dandanannya cantik-cantik. Ibu cuma khawatir Alisha kalah saing pergaulan di sana. Liat tuh si Aleta, biarpun otaknya gak seencer Mbak-nya, tapi luwes, pinter ngerawat diri. Perempuan kan yang dilihat pertamanya itu..."

"Ah, Ibu ini ngomong apa, sih. Zaman sekarang yang penting itu isi otak!" potong Bapak, tidak setuju dengan kekhawatiran Ibu yang terlalu konvensional.

Alisha mendengarnya. Jemari tangannya yang memegang pensil sempat membeku sesaat di atas kertas. Topeng cerianya hampir retak, namun ia buru-buru menarik napas dalam-dalam dan kembali berpura-pura sibuk mengajari Aleta. Rasa insecure itu kembali mengetuk hatinya, disuarakan langsung oleh kekhawatiran Ibunya sendiri.

Klek.

Suara pintu depan terbuka memecah kecanggungan di ruangan itu. Langkah kaki yang terdengar berat dan lelah melangkah masuk ke dalam rumah. Itu Aryan. Kakak tertua mereka baru saja pulang dari syif malamnya sebagai buruh di pabrik sepatu besar.

Aryan tampak lelah, seragam pabriknya sedikit kusut, dan aroma karet serta lem sepatu tipis masih tercium dari tubuhnya. Namun, begitu matanya menangkap kedua adiknya di ruang tengah, senyum hangat langsung terbit di wajahnya yang tegas.

Aryan melepas sepatu kerjanya, lalu berjalan mendekat. Pandangan matanya langsung tertuju pada Alisha, penuh dengan binar perhatian dan rasa bangga yang tidak bisa disembunyikan.

"Belum tidur, Sha?" tanya Aryan lembut, tangannya terulur untuk mengacak rambut hitam Alisha dengan sayang. "Jangan kemalaman tidurnya, besok kan kamu ada persiapan olimpiade. Kamu harus jaga kondisi badan, jangan sampai kecapekan."

Alisha mendongak, tersenyum manis menyambut kakaknya. "Belum, Kak. Ini lagi bantuin Aleta sebentar. Kak Aryan mau Alisha ambilkan minum? Atau mau Alisha panasin lauk?"

"Gak usah, biar Kakak ambil sendiri. Kamu fokus aja belajar," jawab Aryan, masih memandangi Alisha dengan tatapan protektif seolah Alisha adalah permata rapuh yang harus dijaga dari kerasnya dunia—tatapan berlebih yang terkadang justru membuat Alisha merasa dikasihani karena kekurangan fisiknya di mata orang lain.

Di sebelah mereka, Aleta yang memegang pensil mendadak terdiam. Ia melihat bagaimana tangan Aryan mengacak rambut Alisha, mendengar bagaimana Bapak selalu memuji kakaknya, dan melihat bagaimana Ibu selalu mencemaskan fisik Alisha seolah Alisha punya kekurangan yang fatal.

Aleta menunduk, meremas pensilnya pelan. Ada rasa sesak dan cemburu yang tiba-tiba merayap di dadanya. Kenapa semua perhatian di rumah ini selalu berputar di sekitar Mbak Alisha? Apa karena aku bodoh, makanya gak ada yang bangga sama aku?

"Ya udah, Kakak ke belakang dulu ya. Aleta, belajarnya yang bener, jangan malah nggosip terus sama Mbakmu," ucap Aryan mengingatkan Aleta sekilas dengan nada biasa, sebelum melangkah menuju dapur diikuti oleh Ibu yang hendak menyiapkan makan malam untuk anak bujangnya itu.

"Iya, Kak," sahut Aleta lirih, pandangannya tertuju pada buku matematika tanpa benar-benar membacanya lagi. Mood belajar gadis cantik itu seketika lenyap, digantikan oleh riak konflik terpendam yang mulai membesar di dalam dadanya.

1
S3C
semangat author 👍👍👍👍
Anisa Nurlatifah: siap,Makasihhhh😍😍😍😍👍💪
total 1 replies
Anisa Nurlatifah
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!