NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: PROTES DI KAMAR MANDI KANTOR

Langkah kaki Anaya saat menghentak lantai sofa terdengar seperti barisan tentara yang siap berangkat perang. Namun, sebelum pinggul indahnya sempat menyentuh permukaan sofa kulit tersebut, matanya tidak sengaja menangkap detail lain pada penampilan sang CEO.

Kemeja hitam premium yang membungkus tubuh tegap Bima ternyata tidak luput dari musibah kopi buatan sendiri itu. Ada bercak basah berukuran cukup besar di bagian perut sebelah kanan, merembes hingga ke sela-sela kainnya.

Anaya mendengus, meletakkan kembali tumpukan map tebal itu ke meja kopi dengan bantingan pelan. "Pak Bima, itu kemeja Bapak juga ikutan basah. Kalau didiemin sampai malam, bisa jamuran dan bau apek. Mending Bapak lepas, biar saya bersihin sekalian di wastafel dalam."

Bima melirik bagian perutnya sendiri, lalu tersenyum tipis di dalam hati. Pancingannya berhasil. "Oke. Kebetulan saya bawa kemeja cadangan di loker, tapi kemeja ini harus langsung dikeringkan biar gak berbekas nodanya."

Bima membuka dua kancing teratas kemejanya, lalu melepas kain mahal itu dengan satu gerakan malas yang lagi-lagi memperlihatkan sekilas bayangan otot dadanya yang padat. Dia menyerahkan kemeja basah itu kepada Anaya, sementara dirinya sendiri kini hanya mengenakan kaus dalam singlet hitam ketat yang mencetak jelas bentuk tubuh atletisnya.

"Bawa ke kamar mandi dalam ruangan saya. Di sana ada hairdryer di bawah kabinet," perintah Bima santai.

"Iya pak saya tahu, kan saya yang nyiapin benda itu." Sela Anaya sambil menyambar kemeja itu dengan ekspresi wajah yang sengaja dibuat sekaku mungkin, menolak untuk terpesona oleh pemandangan gratis di depannya. Dia melangkah cepat masuk ke dalam kamar mandi mewah bernuansa marmer hitam yang terletak di sudut ruangan CEO.

Begitu masuk, Anaya langsung menyalakan kerah wastafel, menggosok bagian kemeja yang terkena kopi dengan sedikit sabun cair, lalu meraih hairdryer berdaya tinggi dari dalam laci.

Cklek.

Suara kunci pintu yang diputar dari dalam mendadak memecah kesunyian. Anaya langsung berbalik dengan cepat. Matanya melebar saat melihat Bima sudah berdiri di ambang pintu yang kini tertutup rapat, melipat kedua tangannya di depan dada dengan punggung bersandar pada daun pintu yang terkunci.

"Pak Bima?! Ngapain Bapak ikut masuk ke sini, terus kenapa pintunya dikunci?!" seru Anaya panik, suaranya bersaing dengan gemercik air wastafel.

"Di luar dingin karena AC-nya dipasang maksimal, sedangkan saya gak pakai kemeja," jawab Bima dengan alasan paling tidak masuk akal yang pernah Anaya dengar sepanjang lima tahun bekerja di sini. "Lagipula, saya mau memastikan kamu ngeringin kemeja saya dengan teknik yang benar. Kain itu tipenya sensitif, gak boleh asal semprot angin panas."

Anaya menarik napas dalam-dalam, menahan emosinya yang sudah berada di ubun-ubun. Dia menyalakan hairdryer tersebut ke tingkatan maksimal, menciptakan suara deru bising yang langsung memenuhi ruangan kedap suara itu.

Wuuuuzzzz.

Sambil mengarahkan moncong hairdryer ke kain kemeja yang basah, Anaya memulai aksi protesnya yang tertunda. Udara di dalam kamar mandi yang sempit itu mendadak terasa menghangat, membaurkan aroma maskulin tubuh Bima dengan wangi Black Opium milik Anaya yang semakin menguar pekat akibat hawa panas.

"Bapak beneran keterlaluan ya!" setengah berteriak, Anaya menatap Bima dengan pandangan galak. "Saya tahu ya, insiden kopi tumpah ini murni akal-akalan Bapak aja kan?! Sengaja banget biar saya gak bisa datang ke acara reuni D3 saya nanti malam!"

Bima tidak membantah. Pria itu justru melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga punggung Anaya perlahan terdesak ke pinggiran meja wastafel marmer.

"Kalau iya, kenapa?" jawab Bima santai, suaranya agak dinaikkan agar terdengar di balik deru hairdryer, namun nadanya terdengar sangat tenang dan intimidatif. "Saya kan sudah bilang, saya gak suka wangi parfum kamu hari ini. Dan saya lebih gak suka lagi kalau kamu memamerkan wangi itu ke cowok-cowok gak jelas di luar sana."

"Itu namanya pelanggaran hak asasi karyawan, Pak Bima!" protes Anaya, tangannya yang memegang hairdryer mulai gemetar karena kedekatan tubuh mereka yang kelewat batas. "Jam kantor saya selesai jam lima sore! Setelah itu, hidup saya, mau saya pergi sama siapa, mau saya ketemu mantan pacar saya sekalipun, itu bukan urusan Bapak lagi!"

Mendengar frasa 'mantan pacar' keluar langsung dari bibir Anaya, sorot mata Bima mendadak berubah menjadi sangat tajam dan gelap. Rasa posesif yang menuntut kepemilikan mutlak langsung menguasai seluruh isi kepalanya.

Bima memajukan tubuhnya satu langkah lagi. Tangannya yang besar bergerak maju, langsung mematikan tombol hairdryer di tangan Anaya dengan satu sentuhan kasar.

Klik.

Suara deru angin mendadak mati total, menyisakan keheningan yang luar biasa pekat dan mencekam di dalam kamar mandi. Napas Anaya memburu, dadanya naik turun dengan cepat saat menyadari tubuh Bima kini benar-benar mengurungnya di antara meja wastafel.

Kaus dalam hitam yang dikenakan Bima berjarak sangat dekat dari wajah Anaya, memamerkan kehangatan radiasi tubuh pria itu yang mendadak membuat konsentrasi Anaya buyar.

"Coba ulangi lagi, Anaya," bisik Bima, suaranya kini terdengar sangat rendah, serak, dan sarat akan ancaman yang teramat seksi. Dia mencondongkan wajahnya ke depan, membuat ujung hidungnya hampir bersentuhan dengan pipi Anaya yang sudah merona merah. "Siapa yang kamu sebut mantan pacar tadi? Dan apa kamu bilang? Bukan urusan saya?"

Anaya menelan ludah dengan susah payah. Keberaniannya yang menggebu-gebu tadi mendadak menciut menjadi butiran debu di bawah tatapan mata elang Bima yang mengunci sasarannya tanpa ampun.

"Pak... Bapak jangan deket-deket begini deh," cicit Anaya, tangannya yang memegang kemeja setengah basah kini ia gunakan untuk membatasi dada bidang Bima agar tidak semakin menempel pada tubuhnya. "Ini... ini namanya penyalahgunaan kekuasaan jabatan."

Bima terkekeh rendah, sebuah suara bariton yang langsung menggetarkan ulu hati Anaya. Satu tangan Bima bergerak naik, menyelipkan jemari panjangnya ke balik helaian rambut di dekat telinga Anaya, lalu mengusap perlahan kulit leher jenjang sekretarisnya yang masih menyisakan keharuman Black Opium.

"Saya gak peduli soal jabatan, Anaya," bisik Bima lagi, tatapannya turun mengunci bibir ranum Anaya yang sedikit terbuka karena terengah-engah. "Selama lima tahun ini kamu selalu ada di bawah jangkauan pandangan mata saya. Jadi jangan harap, bahkan setelah kamu kasih surat resign itu, kamu bisa dengan mudah pergi ke pelukan cowok lain dengan wangi seberdosa ini."

"Bapak... Bapak egois banget sih," bisik Anaya, suaranya nyaris hilang karena getaran aneh di antara mereka kini sudah mencapai tingkat yang sangat berbahaya, siap meledak kapan saja menjadi kobaran api gairah yang tidak bisa dipadamkan lagi.

"Iya, saya memang egois," aku Bima tanpa ragu, matanya kembali menatap lurus ke dalam manik bola mat Anaya, memamerkan seluruh riak dominasi dan rasa kepemilikan yang selama ini tersembunyi di balik formalitas dokumen kantor. "Dan ego saya... menolak keras membiarkan kamu keluar dari ruangan ini malam ini, Anaya Sandriana."

Tunggu kelanjutannya besok, bakal rilis 2 bab tiap harinya jam 08.00 dan 11.00. Stay tune ya kakak, boleh juga kasih hadiah dan dukungannya juga kalau berkenan. Thank uuu

*

1
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!