NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Anak Kembar
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!

...

Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.

Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 09// MBKCM

​Malam itu, Mercedes-Benz hitam yang membawa Ardan membelah jalanan ibu kota menuju kawasan perumahan elite tempat kediaman utama keluarga Arkatama berada. Mansion megah bergaya Eropa klasik itu berdiri kokoh, memancarkan kemewahan yang tenang dari balik pilar-pilar betonnya yang menjulang tinggi.

​Ardan melangkah masuk ke dalam lobi utama setelah menyerahkan jas abu-abunya kepada pelayan rumah yang menyambut di depan pintu. Langkah kakinya yang tegas membawanya menuju ruang makan utama, tempat di mana dia diberitahu bahwa kakeknya sudah menunggu.

​Benar saja, begitu pintu kayu jati ruang makan dibuka, Ardan langsung disambut oleh sosok Kakek Wirya, pria tua yang masih tampak bugar dan berwibawa di usianya yang berkepala tujuh. Beliau sudah duduk tenang di ujung meja makan panjang yang telah dipenuhi berbagai hidangan mewah.

​Kakek Wirya mendongak, tersenyum lebar melihat kedatangan cucu tertuanya. "Ah, Ardan! Kamu sudah pulang. Sini, duduklah. Kakek sengaja menunggumu untuk makan malam bersama."

​Ardan berjalan mendekat, namun dia tidak langsung menarik kursi. Dia hanya berdiri di dekat meja dengan tangan yang bertumpu pada sandaran kursi kayu di depannya.

​"Maaf, Kek. Aku sudah makan di luar dengan Bimo setelah selesai inspeksi di Royal Plaza tadi sore," tolak Ardan dengan nada suara yang datar namun tetap sopan.

​Kakek Wirya tidak tampak kecewa. Beliau justru melambaikan tangannya dengan santai, mengisyaratkan agar Ardan tetap mengambil tempat duduk. "Tidak apa-apa kalau kamu sudah makan, Ardan. Yang penting duduk saja di sini dulu menemani Kakek. Lagipula, sebentar lagi ada tamu penting yang akan datang ke rumah ini."

​Mendengar kata tamu penting, sepasang alis tebal Ardan langsung bertaut. Raut wajah Kakek Wirya yang tampak berbinar senang dan penuh rahasia itu seketika membuat Ardan menaruh curiga. Firasatnya mengatakan ini bukanlah kunjungan bisnis biasa.

​Ardan melirik ke arah Bimo yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk, berjaga di dekat pintu masuk ruang makan. Tatapan mata Ardan seolah menuntut penjelasan dari asisten pribadinya itu. Namun, Bimo yang ditatap seperti itu langsung mengangkat kedua tangannya sedikit, lalu mengode dengan gelengan kepala samar, mengisyaratkan bahwa dia benar-benar tidak tahu-menahu soal agenda tersembunyi Sang Kakek malam ini.

​Ardan akhirnya mengembuskan napas pendek. Dia menarik kursi dan duduk di sana dengan posisi tubuh yang tegap, melipat kedua tangannya di depan dada. "Tamu penting siapa yang Kakek maksud? Ini sudah hampir jam delapan malam. Kenapa tidak mengatakannya padaku atau Bimo sebelumnya agar jadwalnya bisa disesuaikan?"

​Kakek Wirya terkekeh pelan, menyesap teh hangatnya sebelum menjawab. "Kalau Kakek bilang dari kemarin, kamu pasti sengaja menjadwalkan rapat dadakan sampai tengah malam di kantor untuk menghindari Kakek, kan? Kakek sudah hafal semua trikmu, Ardan."

​Sebelum Ardan sempat menyanggah ucapan kakeknya, pembicaraan mereka terputus oleh suara ketukan yang berasal dari arah lobi depan. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah sepatu heels yang mengetuk lantai marmer dengan ritme yang anggun dan teratur.

​Tak... Tak... Tak...

​Pintu ruang makan yang terbuka lebar menampilkan sosok wanita yang baru saja dibicarakan. Tamunya adalah Dania Abraham.

​Wanita pilihan kakek Wirya itu datang dengan mengenakan dress ketat berwarna merah menyala yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas, dipadukan dengan riasan wajah yang tebal dan glamor. Rambutnya yang panjang ditata dengan gaya bergelombang yang rapi, namun memiliki warna yang cukup mencolok. Warna pirang keemasan yang sangat terang, bukan pirang asli melainkan buatan salon kelas atas yang menghabiskan biaya belasan juta rupiah.

​Dania berjalan masuk dengan segala kemewahannya, menenteng tas branded kecil di pergelangan tangannya. Dia mengulas senyum paling menawan yang dia miliki, lalu melangkah langsung menuju tempat Kakek Wirya duduk.

​"Selamat malam, Kakek Wirya," sapa Dania dengan nada suara yang dibuat selembut dan seanggun mungkin. Dia membungkuk sedikit untuk menyalami pria tua itu dengan takzim. "Maaf ya, Kek, kalau Dania datangnya sedikit terlambat. Jalanan Jakarta memang selalu tidak bersahabat, macet sekali."

​Kakek Wirya tertawa renyah, menyambut uluran tangan Dania dengan sangat hangat. "Oh, tidak apa-apa, Dania. Kakek senang sekali kamu akhirnya bisa menyempatkan diri datang malam ini. Duduklah di sebelah Ardan."

​Dania mengangguk patuh. Sebelum duduk, dia mengalihkan pandangannya pada Ardan yang sejak tadi hanya menatapnya dengan tatapan kosong dan dingin. Senyum di bibir Dania semakin melebar, dia sengaja mengibaskan rambut pirangnya sedikit sebelum menyapa pria di hadapannya.

​"Hai, Kak Ardan. Akhirnya kita bisa bertemu juga secara langsung," ucap Dania dengan nada manja yang kentara, mencoba memancing perhatian sang CEO muda. "Aku senang sekali waktu Kakek Wirya mengundangku datang ke sini malam ini. Soalnya, kalau menunggu Kak Ardan yang mengajakku keluar, Kakek bilang Kak Ardan akan terus beralasan sibuk dengan pekerjaan kantor."

​Ardan hanya menanggapi sapaan itu dengan anggukan kepala yang sangat tipis, nyaris tak terlihat sebagai bentuk formalitas. "Selamat malam, Dania."

​"Dania sengaja Kakek undang ke sini karena Kakek tahu kamu itu keras kepala, Ardan," timpal Kakek Wirya sambil memberi isyarat pada pelayan untuk menyiapkan piring dan alat makan baru untuk Dania. "Kalian berdua ini sudah dewasa, sudah saatnya saling mengenal lebih jauh. Jangan cuma urusan bisnis saja yang ada di dalam kepalamu itu."

​Dania tertawa kecil, melirik Ardan dari balik bulu mata palsunya yang lentik. "Iya nih, Kek. Papa juga sering bilang kalau Kak Ardan itu gila kerja banget orangnya. Tapi tidak apa-apa, pria yang bertanggung jawab dengan pekerjaannya itu justru terlihat sangat seksi di mataku."

​Jika biasanya dalam situasi seperti ini Ardan akan menilai wanita di depannya dengan objektif mengakui bahwa semua wanita yang dijodohkan dengannya itu sebenarnya cantik dan menarik, namun dia terpaksa menarik diri dan bersikap dingin karena terhalang oleh fakta pahit tentang kemandulannya, maka malam ini rasanya sangat berbeda.

​Malam ini, ego dan fokus Ardan sama sekali tidak berada di ruang makan itu.

​Saat matanya menatap penampilan Dania yang serba gemerlap dari ujung kepala hingga ujung kaki, ingatan Ardan justru melompat kembali pada kejadian sore tadi di Royal Plaza. Di dalam otaknya, secara tidak sadar dia mulai membandingkan wanita pilihan keluarganya yang berkelas ini dengan sosok Kiana.

​Ardan memperhatikan rambut pirang buatan salon milik Dania yang tampak kaku karena terlalu banyak memakai hairspray, lalu memorinya justru memunculkan bayangan rambut panjang hitam legam milik Kiana yang sore tadi diikat kuncir kuda secara asal, namun bergerak dengan begitu indah dan alami saat gadis itu berlari kecil di area parkiran.

​Dia menatap dress merah mahal yang dikenakan Dania, lalu membandingkannya dengan kaos putih polos longgar dan celana jeans sederhana yang dipakai Kiana sore tadi. Di mata Ardan yang aneh malam ini, kesederhanaan Kiana justru terlihat jauh lebih bersih, murni, dan menyegarkan pandangan daripada kemewahan Dania yang terkesan terlalu dipaksakan untuk menarik perhatiannya.

​Bahkan, saat Dania mulai berbicara panjang lebar menceritakan tentang liburan terakhirnya ke Paris dengan gaya bicara yang berkelas, telinga Ardan justru merindukan suara tawa lepas yang renyah milik Kiana saat mengejar sahabatnya di parkiran tadi sore. Sebuah tawa tulus yang tampaknya sudah mencuri seluruh perhatiannya tanpa dia sadari.

​Ardan mengepalkan tangannya di bawah meja, merasa frustrasi dengan isi kepalanya sendiri yang mendadak tidak waras. Bagaimana bisa dia membandingkan seorang putri dari keluarga terpandang dengan seorang pelayan butik sederhana yang baru ditemuinya beberapa hari lalu?

​"Kak Ardan? Kak Ardan mendengarkanku, kan?" panggil Dania menyentuh lengan kemeja Ardan pelan, membuyarkan lamunan pria itu.

​Ardan langsung menarik lengannya menjauh secara halus dengan dalih ingin memperbaiki posisi duduknya. Tatapan matanya kembali menjadi sedingin es saat menatap Dania. "Maaf, Dania. Aku sedikit lelah karena urusan pekerjaan di mall tadi. Kakek, kalau tidak ada hal penting lagi yang ingin dibahas, aku izin ke kamar duluan untuk membersihkan diri."

​Kakek Wirya menghela napas melihat sikap dingin cucunya yang kembali muncul, sementara Dania hanya bisa menahan senyum kaku di wajahnya, merasa harga dirinya sedikit terusik oleh penolakan halus pria idaman di depannya itu.

1
Lisa
Gmn tuh sadar atau g si Ardan klo twins benar² anaknya..
Lisa
Keras kepala banget si Ardan ini..msh blm mau mengakui klo twins adl anaknya
Lisa
👍 bagus Kiana..anggaplah si Ardan itu udh g ada..
Lisa
ya bener ceo koq g tegas sikapnya..periksa ke dokter yg lain donk..
Dewi Amalia
malass bca cerita nya msa ceo mudah di bohongi berkali-kali.. seharusnya gnti dg dokter yg lain...
jenny
menanti penyesalan Ardan 😁
Novaa: tunggu kelanjutannya ya, terimakasih sudah mampir 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!