Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Matahari Untuk Anak-anak
Hujan rintik-rintik masih mengetuk kaca jendela dapur, membawa serta aroma tanah basah yang khas. Di sudut ruangan yang remang-remang itu, Rania duduk di atas kursi kayu tua yang sudah mulai kusam, tangannya sedang mengaduk perlahan isi panci di hadapannya. Asap tipis mengepul, membawa aroma bubur ayam yang baru saja mulai matang, bercampur dengan bau sisa kayu bakar yang masih menempel di udara. Jam dinding tua di dinding berdentang pelan, menandakan pukul empat pagi. Di luar sana, langit masih gelap gulita, seolah enggan beranjak dari pelukan malam.
Namun bagi Rania, hari-harinya sudah lama tidak lagi diatur oleh terbit atau terbenamnya matahari. Waktunya kini dihitung dari tangisan anak-anak, dari tumpukan pakaian kotor, dari pesanan makanan yang harus diselesaikan, dan dari rasa lelah yang entah kapan akan benar-benar bisa ia lepaskan.
Ia menghela napas panjang, mengusap pelan pelipisnya yang terasa berdenyut. Pandangannya jatuh ke meja makan di seberang sana, tepat ke kursi kayu kosong yang sejak tiga bulan terakhir tak pernah lagi terisi. Kursi itu masih sama persis seperti terakhir kali ditinggalkan oleh orang yang pernah menjadi pusat dunianya—Bara, suaminya. Tidak ada pesan perpisahan, tidak ada penjelasan, bahkan tidak ada jejak ke mana ia pergi. Satu hari Bara berangkat kerja seperti biasa, berjanji akan pulang membawa oleh-oleh untuk kedua anak mereka, tapi sampai matahari terbit dan tenggelam berkali-kali, ia tak pernah kembali.
Dunia Rania seakan runtuh saat itu juga. Di tengah keterkejutan, rasa sedih, dan marah yang meluap, ia sadar satu hal: ia tidak boleh hancur. Di dalam kamar tidur di belakangnya, ada dua nyawa kecil yang bergantung sepenuhnya padanya. Ada Dika, anak pertamanya yang berusia tujuh tahun, yang mulai pandai bertanya "Ke mana Ayah pergi?" dengan tatapan polos yang menusuk hati. Ada juga Naya, putri keduanya yang baru berusia dua tahun, yang belum mengerti apa-apa, tapi sangat membutuhkan kasih sayang dan perlindungan.
Jika Rania jatuh, maka anak-anaknya pun ikut jatuh. Itulah satu-satunya alasan yang cukup baginya untuk bangkit, menahan air mata, dan melanjutkan hidup meski hatinya terasa berlubang besar.
"Bu...?"
Suara lirih memecah lamunannya. Rania menoleh cepat, menyeka sisa air mata yang nyaris lolos dari sudut matanya dengan punggung tangan, lalu tersenyum lebar saat melihat sosok kecil berdiri di ambang pintu dapur. Dika berdiri di sana dengan mata masih setengah terpejam, memeluk boneka beruang lusuh yang sudah menjadi sahabat tidurnya sejak lama.
"Kenapa sudah bangun, Nak? Masih pagi sekali lho," sapa Rania lembut, berjalan menghampiri anaknya lalu berjongkok agar posisinya sejajar. Ia mengusap rambut hitam legam putranya dengan penuh kasih sayang.
"Aku dengar suara Ibu di sini. Ibu tidak tidur lagi?" tanya Dika, matanya berkeliling mencari sesuatu, sebelum akhirnya bertanya dengan nada ragu, "Ayah belum pulang juga ya, Bu?"
Hati Rania terasa dicubit hebat. Pertanyaan itu selalu sama, setiap hari, dan menjawabnya adalah ujian terberat baginya. Ia menelan ludah, berusaha menahan getaran di suaranya. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan anak-anak. Ia harus menjadi benteng yang kokoh, dinding yang melindungi mereka dari badai apa pun.
"Ayah... Ayah sedang ada pekerjaan yang jauh sekali, Dek. Pekerjaan yang sangat penting, jadi belum bisa pulang dulu," jawab Rania pelan, selembut mungkin, namun matanya menatap tajam ke dalam manik mata anaknya, berusaha meyakinkan bukan hanya Dika, tapi juga dirinya sendiri. "Tapi tidak apa-apa. Selama Ayah belum pulang, kan ada Ibu. Ibu akan menggantikan tugas Ayah juga, menjaga kalian berdua sampai kapan pun. Ibu janji."
Dika mengangguk pelan, meski samar-samar terlihat kekecewaan di wajah kecilnya. Ia memeluk leher ibunya erat. "Aku sayang Ibu. Ibu hebat sekali."
Kalimat sederhana itu, terucap dari bibir seorang anak kecil, terasa lebih berat dan lebih berharga daripada apa pun yang pernah didengar Rania seumur hidupnya. Air mata yang sedari tadi ditahannya hampir tumpah seketika, tapi ia segera memeluk balik tubuh kecil itu dengan erat, menanamkan kekuatan dari anaknya ke dalam dirinya sendiri.
"Terima kasih, Nak. Sekarang kamu mandi dan siap-siap ya. Hari ini Ibu antar sekolah seperti biasa. Nanti sepulang sekolah kita beli jajan kesukaan Dika, bagaimana?"
Wajah Dika langsung berubah cerah, seolah lupa sejenak akan rasa kehilangan yang membayangi. Ia berlari kecil kembali ke kamar untuk bersiap, meninggalkan Rania yang masih terdiam berdiri di sana. Kekuatan. Ia harus punya kekuatan berkali-kali lipat dari wanita biasa. Dulu, sebelum menikah, ia adalah wanita yang lembut, yang selalu bersandar pada Bara untuk segala hal. Masalah kecil saja dulu bisa membuatnya menangis berjam-jam. Tapi sekarang? Semua itu seolah menjadi kenangan dari kehidupan orang lain.
Rania kembali ke kompor, mengangkat panci berisi bubur yang sudah matang sempurna. Hari ini ia punya pesanan dua puluh bungkus bubur untuk kantor desa di pinggir kota, ditambah pesanan kue basah untuk acara pengajian tetangga. Uang hasil menjual makanan itulah yang sekarang menjadi satu-satunya sumber penghidupan mereka. Uang tabungan yang ditinggalkan Bara sudah menipis dengan cepat untuk kebutuhan sekolah Dika, susu Naya, dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Ia tidak boleh bermalas-malasan. Kalau ia berhenti bekerja bahkan satu hari saja, perut anak-anaknya yang akan kelaparan.
Ia ingat betul bagaimana awalnya tetangga mulai berbisik-bisik di belakang punggungnya saat Bara hilang tanpa kabar. Ada yang bilang Bara pasti sudah bosan dan pergi mencari wanita lain. Ada yang berasumsi Bara mungkin punya masalah besar dan lari menyelamatkan diri. Ada yang kasihan, tapi tak sedikit juga yang mencemooh, mengatakan nasib Rania kini sudah tamat, hidupnya akan sengsara tanpa laki-laki di sisinya.
"Kasihan sekali Rania, muda-muda sudah ditinggal suami. Bagaimana dia mau membesarkan dua anak sendirian? Pasti akan susah sekali," begitu bisik salah satu tetangga tempo hari, cukup keras hingga terdengar olehnya saat sedang menjemur pakaian di halaman.
Dulu, kata-kata seperti itu akan membuatnya menangis seharian. Tapi kini, Rania hanya tersenyum kecut dan mempercepat gerakan tangannya. Biarkan saja mereka bicara. Yang paling penting bukanlah apa kata orang, tapi apa yang bisa ia buktikan dengan keringat dan usahanya sendiri. Ia tidak akan membiarkan dirinya jatuh ke dalam belas kasihan orang lain. Ia akan membuktikan bahwa seorang wanita, seorang ibu, bisa berdiri tegak dan memikul beban dunia sekalipun di pundaknya, demi anak-anaknya.
"Bu... susu..." suara serak kecil terdengar dari arah kamar tidur utama.
Rania segera mematikan kompor dan bergegas masuk. Di atas kasur tipis itu, Naya sudah duduk dengan mata berbinar-binar, tangannya menggapai-gapai ke arah ibunya. Rania menggendong putri kecilnya, mencium pipi gembul itu berkali-kali dengan rasa syukur yang mendalam. Meski berat, meski lelah, melihat wajah dua malaikat kecil inilah yang membuat segala rasa sakit itu hilang seketika.
"Siapa anak cantik Ibu? Ini Naya ya? Pintar bangunnya," goda Rania sambil mencium ubun-ubun anaknya yang harum. Ia menyusui Naya sambil matanya menatap keluar jendela. Hujan sudah berhenti. Di ufuk timur, cahaya samar mulai terlihat, menerobos mendung yang perlahan menipis. Matahari akan segera terbit.
Rania tahu, perjalanan ke depannya tidak akan mudah. Masih banyak hari-hari panjang yang harus ia lalui sendirian. Masih ada tagihan sekolah, kebutuhan rumah, sakit demam anak-anak, dan rintangan hidup lainnya yang pasti akan datang bertubi-tubi. Ia mungkin akan menangis lagi di balik pintu kamar mandi saat tidak ada yang melihat. Ia mungkin akan merasa lelah hingga tulang-tulangnya terasa nyeri. Ia mungkin akan merasakan sepi yang menusuk di malam-malam sunyi.
Tapi Rania berjanji pada dirinya sendiri, pada almarhum orang tuanya, dan pada suaminya yang entah di mana: ia tidak akan pernah menyerah. Ia akan menjadi ayah sekaligus ibu yang terbaik. Ia akan bekerja lebih keras, berjuang lebih gigih, agar Dika dan Naya tetap tumbuh bahagia, tidak kekurangan kasih sayang, dan bangga memiliki ibu seperti dirinya.
Sebagai wanita, ia mungkin rapuh jika dilihat fisiknya. Tapi sebagai seorang ibu, ia adalah pejuang yang tak terkalahkan. Ia adalah tiang yang menopang seluruh rumah ini agar tidak roboh.
"Ibu harus kuat," bisiknya pelan, seakan menjadi mantra penguat jiwanya sendiri.
Naya sudah tertidur kembali dalam gendongannya, kenyang dan tenang. Rania membaringkannya kembali ke kasur, lalu berjalan keluar menuju teras rumah. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup udara pagi yang segar dan dingin. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar namun penuh tekad, ia melangkah kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Hujan mungkin turun dan membasahi bumi, badai mungkin datang dan menerpa, tapi matahari tetap akan terbit di pagi hari. Begitu pun hidupnya. Meski kelam dan penuh luka kemarin, hari ini tetap harus dimulai. Dan Rania akan memulainya dengan hati yang tegar, berjanji bahwa apa pun yang terjadi, ia akan tetap berjalan tegak, demi buah hatinya, demi masa depan mereka, dan demi dirinya sendiri yang kini sedang belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya.