Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Bagaimana kalau Tuan Muda serahkan nyawa padaku?
Wang Chan mengangkat kepalanya sekali lagi.
Wen Tianren berhenti.
Ia menghadap ke arah Wang Chan kembali, alisnya naik, matanya menyipit, dan senyum kecil muncul di sudut bibirnya. Senyum yang tidak ramah.
"Aku masih tidak terbiasa ditolak orang," ucapnya sambil mengibaskan pakaiannya dengan gerakan yang dibuat santai. "Kuberi kau dua pilihan."
Wen Xiang terlihat khawatir.
Tangannya yang tadinya tenang di samping tubuh kini mengerat, jari-jarinya menggenggam ujung jubahnya.
Orang-orang di bawah menahan napas.
Suasana yang tadinya ramai dan bersorak kini berubah menjadi sunyi yang mencekam. Bahkan angin seolah berhenti bertiup.
"Bergabung dengan Keluarga Wen..."
Wen Tianren mengangkat tangannya, telunjuknya menunjuk lurus ke arah Wang Chan.
Wajahnya serius, tidak ada lagi senyum, tidak ada lagi nada bercanda.
"Atau mati di sini!"
Orang-orang terkejut mendengarnya. Beberapa mundur selangkah tanpa sadar, seolah ancaman itu juga ditujukan pada mereka.
Beberapa lainnya menggumam pelan, merasa kasihan pada Wang Chan.
Tidak mudah lolos dari cengkeraman Keluarga Wen, terutama setelah membuat Tuan Muda mereka marah.
Qing Yi dan Liu Chiyang juga sangat terkejut. Qing Yi hampir melompat ke arena, kakinya sudah setengah terangkat, tubuhnya sudah condong ke depan, siap menerjang.
Namun Liu Chiyang menahannya. Tangannya meraih pergelangan Qing Yi, mencengkeramnya dengan erat.
"Tunggu," bisik Liu Chiyang.
"Tapi Kak Liu, Wang Chan—"
"Percaya padanya."
Liu Chiyang sendiri merasa sedikit bersalah.
Ia berpikir bahwa Wang Chan mungkin akan kalah dalam satu atau dua ronde, lalu turun dengan selamat.
Tidak ada yang istimewa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tapi malah sebaliknya. Wang Chan memenangkan keseluruhan kompetisi. Dan sekarang ia terpojok oleh Tuan Muda Keluarga Wen.
Liu Chiyang menggigit bibirnya. Ini salahnya. Ia yang mendorong Wang Chan. Ia yang bilang ini bagus untuk mencoba kemampuan.
Di dalam arena, Wang Chan menghela napas. Panjang. Dalam.
Seperti orang yang sudah terlalu sering menghadapi situasi seperti ini dan bosan dengan ulah yang itu-itu saja.
'Sudah kuberi kau kesempatan,' pikirnya. 'Kau sendiri yang cari masalah.'
Ia mengangkat kepalanya, menatap Wen Tianren lurus-lurus. Tidak ada rasa takut di matanya. Tidak ada keraguan.
Hanya ketenangan yang aneh, seperti danau yang sangat dalam sehingga tidak ada badai yang bisa mengganggu permukaannya.
"Aku benar-benar tidak ingin bergabung dengan Keluarga Wen. Tapi juga tidak mau mati."
Wang Chan sedikit melangkah ke samping.
Gerakannya lambat, tidak terburu-buru, tapi setiap langkahnya terasa berat, mengandung niat yang sudah bulat.
Cincin penyimpanannya berkedip samar di jari manisnya.
"Jadi aku punya saran lain."
Wen Tianren menyipitkan mata. Rasa penasaran mulai muncul lagi di benaknya, bercampur dengan sedikit kekaguman.
Biasanya orang sudah berlutut ketakutan mendengar ancamannya. Tapi pemuda ini malah berdiri lebih tegak.
"Hoo?" Wen Tianren mengeluarkan suara yang panjang, nada penasaran yang dibuat-buat. "Apa?"
Wang Chan tersenyum. Bukan senyum ramah. Bukan senyum menyerah.
Tapi senyum yang dingin, senyum yang membuat bulu kuduk Wen Tianren meremang tanpa ia sadari.
"Yang disebut sebagai 'yang terkuat di bawah Nirvana' pada akhirnya juga hanyalah kultivator Ranah Transformasi Roh."
Sebuah tombak hitam muncul di tangan Wang Chan.
Tombak itu panjang, hampir sama tinggi dengan tubuhnya, dengan bilah di ujungnya yang berkilau tajam di bawah sinar matahari.
Energi spiritual hitam merambat di sepanjang batang tombak, berdenyut pelan seperti detak jantung.
Wang Chan mengibaskan tombak itu ke samping.
Wush!
Udara teriris. Suara mendesis tajam menggema di alun-alun.
"Bagaimana kalau Tuan Muda Wen serahkan nyawanya padaku?!" serunya, suaranya lantang, menggema di antara dinding-dinding bangunan di sekitar alun-alun.
Semua orang terkejut.
Bukan hanya penonton biasa, bahkan para tetua yang berdiri di balkon ikut terperanjat.
Beberapa dari mereka secara naluriah mengaktifkan energi spiritual mereka, bersiap jika terjadi sesuatu.
Wen Xiang menutup mulutnya dengan tangannya. Matanya membulat, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Qing Yi yang ikut mendengar begitu khawatir sampai hampir melompat ke arena lagi.
Kakinya sudah terangkat, tubuhnya sudah condong ke depan, dan kali ini Liu Chiyang harus menggunakan kedua tangannya untuk menahan.
"Lepaskan aku, Kak Liu! Wang Chan akan—"
"Lihat!" potong Liu Chiyang, matanya tidak lepas dari arena. "Lihat dia."
Liu Chiyang percaya pada Wang Chan. Dia tidak akan bicara asal-asalan.
Dia tidak akan mengancam seseorang seperti Wen Tianren tanpa alasan yang jelas.
Mungkin ada sesuatu yang tidak mereka ketahui.
Sementara itu, Wen Tianren terdiam sesaat.
Ia menatap Wang Chan. Menatap tombak hitam di tangannya. Menatap energi spiritual hitam yang merambat di batang tombak itu.
Kemudian ia tertawa.
Bukan tawa kecil yang tertahan. Bukan tawa sinis yang dingin.
Tapi tawa kencang, tawa yang menggema di seluruh alun-alun, tawa yang membuat beberapa burung di atap-atap rumah terbang ketakutan.
"Hahahaha!"
Wen Tianren membuka kedua tangannya lebar-lebar, seperti sedang merangkul seluruh dunia.
Wajahnya yang tadinya serius kini berubah cerah, matanya berbinar, dan senyumnya melebar dari telinga ke telinga.
"Aku sudah tau!" serunya. "Hari ini pasti akan ada pertempuran besar!"
Ia melesat ke samping, tubuhnya melayang ke udara, meninggalkan arena dan balkon di belakangnya. Jubahnya yang panjang berkibar-kibar seperti sayap elang raksasa.
"Ayo! Kita ke Medan Pertempuran Langit!"
Wang Chan hanya tersenyum tipis. Senyum kecil yang nyaris tidak terlihat.
Dengan satu dorongan, ia melompat ke udara.
Tombaknya masih tergenggam erat di tangan kanannya, dan energi spiritual hitam mulai menyelimuti seluruh tubuhnya, membentuk aura yang gelap dan menakutkan.
Ia mengikuti Wen Tianren.
Dua sosok melesat di langit Kota Jiang, meninggalkan jejak energi spiritual di belakang mereka.
Di bawah, orang-orang mulai bergerak.
Mereka mengikuti dari tanah, berlarian ke arah Medan Pertempuran Langit, tempat di luar Kota Jiang di mana para kultivator biasa menyelesaikan perselisihan mereka.
Qing Yi dan Liu Chiyang ikut berlari. Qing Yi masih cemas, matanya tidak lepas dari sosok Wang Chan yang semakin kecil di langit.
Liu Chiyang di sampingnya juga serius, untuk pertama kalinya hari itu, senyum anggunnya hilang, digantikan oleh ekspresi yang tegang dan penuh perhitungan.
Ini adalah pertarungan yang menarik. Dua jenius. Dua Ranah Transformasi Roh. Dua ego yang tidak mau mengalah.