Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Bangunnya Sang Roh Cerewet
Kompas Navigasi Dimensi di tangan Zeng Niu terasa hangat, memancarkan fluktuasi ruang yang sangat murni. Hologram Sembilan Benua Fana berputar pelan di atasnya, memancarkan cahaya kebiruan yang menerangi wajah ketiga orang di dalam istana kristal yang remang-remang itu.
"Ini barang bagus! Sangat bagus!" Qian Fugui menggosok kedua tangannya, matanya berbinar menatap kompas tersebut layaknya melihat gunung emas. "Niu-bro, jika kita bawa ini ke pelelangan di ibukota Benua Utara, kita bisa membeli seluruh sekte kecil! Ah, tidak, kita bisa membeli kota!"
Zhao Ying memberikan tatapan tajam pada kultivator gemuk itu. "Paman Fugui, jika kau berani menjual benda ini, seluruh ahli Nascent Soul di dunia fana akan memburumu sampai tulangmu menjadi abu. Ini adalah artefak pengontrol tabir benua."
Fugui langsung menelan ludah, memeluk pedang kayunya. "A-Aku hanya bercanda, Nona Ying. Aku sangat mencintai nyawaku."
Zeng Niu mengabaikan ocehan Fugui. Ia memusatkan perhatiannya pada kompas raksasa tersebut. "Bagaimana cara kita mengaktifkannya? Aku hanya memiliki kultivasi Pengumpulan Qi Tahap 4. Untuk membuka portal ruang melintasi benua biasanya membutuhkan tenaga ahli Inti Emas atau lebih."
"Kompas ini memiliki inti energinya sendiri dari zaman purba," jelas Zhao Ying, melangkah mendekat dan menunjuk ke bagian tengah jarum kristal. "Kau hanya perlu memberikan sedikit 'pancingan' Qi untuk menyelaraskan gelombangnya dengan Dantianmu. Setelah terikat, kompas ini akan menarik energi alam di sekitarnya untuk membuka gerbang."
Zeng Niu mengangguk pelan. Ia duduk bersila di lantai obsidian yang dingin, meletakkan kompas itu di pangkuannya.
Ia memejamkan mata dan mulai memutar Sutra Bencana di dalam Dantian jahitannya. Perlahan, Qi setara Tahap 4 mengalir melalui meridiannya yang kini berlapis benang emas sisa racun Tabib Gu, lalu merambat menuju telapak tangannya yang menempel pada kompas.
Saat energi murni dari kompas kuno itu beresonansi dengan Qi fana milik Zeng Niu, sebuah gelombang balik terjadi. Sisa energi ruang yang sangat kuno meresap masuk ke dalam tubuh Zeng Niu, mengaliri meridiannya seperti air sejuk yang menyiram tanah kerontang.
Tepat pada saat itulah, sesuatu terjadi di dalam tubuhnya.
Di tempat terdalam dalam dirinya di Lautan Kesadaran (Sea of Consciousness) yang telah mengering dan retak sejak ledakan Dantiannya di Puncak Tengkorak Beku setetes air kehidupan akhirnya jatuh.
BZZZT...
Sebuah percikan suara yang sangat kecil, sehalus gesekan jarum, menggema di dalam benaknya.
Zeng Niu menghentikan napasnya. Kesadarannya langsung tenggelam ke dalam benaknya sendiri.
Di tengah Lautan Kesadarannya yang gelap gulita dan dipenuhi retakan akibat luka parah masa lalu, setitik cahaya ungu tiba-tiba berkedip. Cahaya itu perlahan membesar, membentuk siluet kelopak teratai yang terbuat dari petir murni. Dari dalam teratai petir itu, sesosok wanita mungil seukuran telapak tangan perlahan melayang naik.
Wanita itu mengenakan zirah transparan yang terbuat dari kilatan guntur, rambut ungunya yang panjang berkibar layaknya badai miniatur. Wajahnya cantik namun sangat angkuh, persis seperti seorang dewi yang sedang marah.
Itu adalah Lei Ling, Roh Pedang Petir Hukuman Langit yang selama ini tertidur lelap demi melindungi sisa jiwa Zeng Niu saat ia meledakkan dirinya sendiri!
"Bocah bodoh keparat!"
Itu adalah kalimat pertama yang menggema di kepala Zeng Niu, diiringi oleh cambukan petir imajiner yang menghantam dasar Lautan Kesadarannya. Suara wanita itu melengking, penuh omelan, namun entah mengapa terdengar sangat merdu di telinga Zeng Niu saat ini.
Lei Ling melipat tangannya di dada, melayang dengan wajah ditekuk. "Aku baru tidur sebentar untuk memulihkan diri, dan lihat apa yang kau lakukan pada rumahku?! Retak di mana-mana! Gelap! Dan apa-apaan Dantian penuh jahitan benang beracun di bawah sana itu?! Kau pergi ke penjahit baju fana untuk memperbaiki urat nadimu?!"
Di dalam dunia nyatanya, sudut bibir Zeng Niu perlahan tertarik ke atas. Sebuah senyum tipis, tulus, dan penuh kelegaan yang sangat jarang ia tunjukkan terukir di wajah perunggunya.
Setidaknya kau masih punya rumah untuk ditinggali, Nona Cerewet, balas Zeng Niu melalui komunikasi batin, suaranya terdengar sangat rileks. Lama tidak bertemu. Aku mengira kau sudah mati kelaparan.
Mendengar nada suara Zeng Niu yang tenang namun hangat itu, amarah Lei Ling seketika mereda. Roh petir itu menundukkan wajah mungilnya. Bahunya sedikit bergetar. Sebagai entitas spiritual yang terikat kontrak jiwa, ia tahu persis penderitaan, kesepian, dan neraka rasa sakit yang telah dilalui pemuda ini selama berbulan-bulan di dunia fana.
"Kau... kau benar-benar ceroboh, Zeng Niu," bisik Lei Ling, suaranya kini melunak, menyembunyikan isak tangis spiritualnya dengan dengusan gengsi. "Aku mengira kita akan hancur sepenuhnya di ledakan itu. Jika kultivasimu tidak mencapai Tahap 4 dan menyerap energi purba dari artefak di tanganmu ini, aku mungkin tidak akan pernah bisa bangun lagi."
Aku belum mati, jadi kau juga tidak kuizinkan mati, jawab Zeng Niu dengan arogansi khasnya. Sekarang setelah kau bangun, apakah kau bisa menggunakan Petir Hukuman Langit lagi?
Lei Ling mendecakkan lidahnya, kembali pada sifat ketusnya. "Jangan bermimpi! Dantianmu sekarang lebih rapuh dari kaca janda tua! Jika aku memanggil satu petir hukuman, perutmu akan meledak! Kau harus mencapai Foundation Establishment lagi agar meridianmu cukup kuat menahan energiku. Untuk sekarang, keberadaanku hanya bisa membantumu mempertajam Persepsi Roh dan membersihkan racun."
Tiba-tiba, mata Lei Ling menyipit. Hidung miniaturnya mengendus udara di Lautan Kesadaran. Ia merasakan sebuah Niat Membunuh buas dan berat yang menempel di punggung tubuh fisik Zeng Niu.
"Hei... Aura busuk dan barbar apa ini?!" pekik Lei Ling, matanya melotot. "Zeng Niu! Jangan bilang kau mencari istri baru saat aku tidur?! Pedang jelek macam apa yang kau pungut di luar sana?! Baunya seperti tulang berkarat dan darah dewa mati! Kau berselingkuh dari petir murniku demi sebongkah batu nisan berbau mayat?!"
Zeng Niu menahan tawanya agar tidak menyembur di dunia nyata. Bertahun-tahun sendirian membuat Zeng Niu lupa betapa posesif dan berisiknya roh pedang petir ini. Itu hanya alat sementara, Lei Ling. Pedang itu membantuku bertahan hidup. Jangan cemburu pada sepotong tulang tua.
"Siapa yang cemburu?!" Lei Ling membuang muka dengan wajah merona ungu. "Jika aku sudah memulihkan kekuatanku, akan kuhancurkan pedang jelek itu menjadi abu!"
Di dunia luar, Zhao Ying yang sedang mengamati Zeng Niu melihat sesuatu yang aneh. Dari ujung jari pemuda itu, sebuah percikan listrik berwarna ungu kecil melompat-lompat riang.
Mata jernih sang Bintang Putih sedikit melebar. Ia mengenali fluktuasi itu.
"Zeng Niu... Petir surgawimu," bisik Zhao Ying, suaranya memancarkan kelegaan. "Ia kembali."
Zeng Niu perlahan membuka matanya. Percikan petir di jarinya memudar, masuk kembali ke pori-porinya. Ia menatap Zhao Ying dan mengangguk pelan. "Roh pedangku baru saja bangun. Ia banyak mengeluh, tapi ini pertanda bahwa Dantianku bisa menerima hukum alam tingkat tinggi lagi."
"Hebat! Luar biasa!" seru Fugui sambil bertepuk tangan heboh. "Dengan petir di tangan kanan dan pedang raksasa di tangan kiri, Daoist Fugui ini tidak perlu lagi takut pada bandit mana pun di Sembilan Benua!"
"Berhentilah memikirkan bandit fana, Fugui," ucap Zeng Niu. Ia memutar Kompas Navigasi Dimensi di pangkuannya, mengunci piringan koordinatnya lurus ke arah Benua Utara.
Zeng Niu menekan titik pusat kompas tersebut dengan aliran Qi-nya.
WUUUUUSSSSH!
Kompas itu meledak dalam pancaran cahaya perak yang sangat menyilaukan. Dari dalam kompas, sebuah sinar melesat ke udara, merobek ruang kosong di dalam istana kristal. Retakan itu membesar, membentuk sebuah portal dimensi melingkar yang memancarkan pusaran energi spasial stabil. Di seberang portal itu, samar-samar terlihat rimbunnya Hutan Merah, bukan Hutan Miasma Benua Selatan.
Hembusan angin dari dalam portal itu membawa udara yang dingin, bersih, dan dipenuhi oleh Qi spiritual ortodoks yang luar biasa pekat udara dari Benua Utara, benua pusat para kultivator.
"Gerbangnya sudah terbuka," ucap Zhao Ying, jubah sutranya berkibar tertiup angin dimensi.
Zeng Niu bangkit berdiri, menyampirkan Bilah Penebas Tulang ke punggungnya. Ia menoleh ke belakang, menatap ruang kosong Makam Asura, lalu tatapannya menembus ilusi, mengingat kembali semua darah, keputusasaan, dan kehangatan yang ia temukan di Benua Selatan yang kejam ini.
Dunia bawah ini telah menghancurkannya hingga berkeping-keping, namun dari puing-puing itu, ia membangun dirinya menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat, lebih manusiawi, dan lebih mengerikan.
"Mari kita pulang," ucap Zeng Niu serak.
Ia melangkah maju, berdampingan dengan Zhao Ying, sementara Qian Fugui berlari kecil menyusul mereka dengan wajah penuh harap akan harta dan makanan enak di benua baru.
Ketiganya melangkah menembus tirai perak portal dimensi. Bersamaan dengan itu, Kompas Navigasi melesat masuk ke lengan baju Zeng Niu, dan portal itu menutup rapat dengan suara ledakan kecil, menyisakan Istana Kristal Gelap kembali tenggelam dalam kesunyian abadi jutaan tahun.