NovelToon NovelToon
SPION KIRI

SPION KIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: nhatvyo24

Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.

Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.

​Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.

​Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.

​Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.

Ada sesuatu yang ikut berboncengan.

"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"

​"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"

​Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Penjaga Gerbang

​Della menatap meja batu yang dingin itu. Pecahan kaca di atasnya tampak tajam, memantulkan langit Goalpara yang kini berubah warna menjadi kelabu besi. 

Di kejauhan, ia bisa mendengar deru motor yang samar suara mesin yang ia kenali sebagai motor trail Geri.

​"Geri? Kenapa dia nekat nyusul?" bisik Della panik.

​"Temanmu itu punya hati yang terlalu besar untuk kepalanya yang kecil," si kakek penjaga makam menyahut, ia masih sibuk menyapu daun kering seolah-olah tidak ada ketegangan sama sekali. "Tapi dia tidak akan sampai ke sini. Kabut di gerbang itu tidak menyukai orang asing. Dia akan berputar-putar di labirin teh sampai bensinnya habis, atau sampai 'mereka' bosan mempermainkannya."

​Della mengepalkan tangan. Garis hitam di nadinya berdenyut menyakitkan. "Apa yang harus saya lakukan supaya kabut itu hilang?"

​"Buktikan kalau kau bukan sekadar 'pembawa' barang itu, tapi kau adalah pemiliknya," si kakek menunjuk meja batu dengan ujung aritnya yang berkarat. "Taruh tanganmu di atas kaca itu, Biarkan darahmu bicara dengan bayanganmu sendiri."

​Della melangkah maju, Ia meletakkan telapak tangan kanannya yang memiliki garis hitam di atas tumpukan pecahan kaca. Anehnya, kaca-kaca itu tidak terasa tajam. Rasanya justru seperti menyentuh air es yang membeku.

​Begitu kulitnya bersentuhan dengan kaca, garis hitam di tangannya melesat keluar seperti akar tanaman, merambat masuk ke sela-sela pecahan kaca di meja batu.

​SREEEET!

​Cahaya biru yang menyakitkan mata terpancar dari meja batu itu, Della terpaksa memalingkan wajah. Di dalam benaknya, ia melihat kilasan masa lalu yang lebih tajam:

​Kakek Tan berdiri di tempat yang sama, Di depannya ada seorang wanita yang wajahnya perlahan terlihat itu adalah Nenek Buyut Della. Sang nenek sedang memegang sebuah spion motor tua yang retak. "Hok Gie," ucap nenek itu, "Jangan kau simpan rahasia ini di dalam kaca. Biarkan dia terkubur bersama kita."

​Kakek Tan menggeleng. "Kalau aku menguburnya, mereka akan menggali makam kita. Biarkan rahasia ini terus berjalan, sampai ada keturunan kita yang cukup kuat untuk memecahkannya."

​"Della! SADAR!"

​Suara itu bukan dari masa lalu. 

Della tersentak, menarik tangannya dari meja batu. Ia melihat ke arah gerbang kayu. Geri berdiri di sana, nafasnya tersengal-sengal, jaketnya sobek di bagian bahu, dan wajahnya dipenuhi goresan daun teh.

​"Ger! Loe bisa masuk?" Della berlari menghampiri temannya.

​"Gue... gue hampir mati konyol di sana, Del," Geri terengah-engah. "Tiba-tiba jalannya muter terus. Terus ada anak-anak kecil bawa kaca... mereka nunjuk-nunjuk ke arah sini. Pas gue nabrak semak, tau-tau gue udah di depan gerbang ini."

​Si kakek penjaga makam terkekeh. "Berarti kau diizinkan masuk, Anak Muda. Karena kau memegang kunci yang lain."

​Geri mengerutkan kening, Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah benda yang ia temukan saat jatuh di kebun teh tadi. Sebuah baut pengunci spion yang terbuat dari kuningan murni, dengan ukiran yang sama dengan yang ada di spion Della.

​"Gue nemu ini di jalan setapak. Pas gue pegang, kabutnya langsung belah," kata Geri.

​Della melihat ke arah tangannya. Garis hitam itu kini tidak lagi gelap pekat, tapi berubah menjadi warna merah marun, dan denyutnya sudah tenang.

​"Kalian sudah menemukan bagian yang hilang," si kakek berkata sambil berjalan menjauh masuk ke dalam kabut pinus. "Tapi ingat, ini baru gerbang pertama. Spion itu butuh 'ruang' untuk bernapas. Jika kalian terus mengurungnya, dia akan memecahkan motor itu dari dalam."

​Della dan Geri berdiri diam di tengah pemandangan makam yang sunyi. 

Della melihat ke arah Scoopy-nya. Spion kirinya kini tidak lagi dibungkus timah timahnya sudah meleleh sepenuhnya dan menyatu dengan gagang spion, menciptakan lapisan logam baru yang terlihat lebih kokoh, sekaligus lebih asing.

​"Kita pulang, Ger," ajak Della. "Sesuatu bilang ke gue... ini baru permulaan dari apa yang bakal terjadi sama mesin motor gue."

​Della menghidupkan mesin Scoopy-nya. Suara mesinnya kini terdengar berbeda lebih halus, namun ada nada rendah yang bergetar seperti suara orang yang sedang bersenandung.

Geri membantu Della menuntun Scoopy-nya keluar dari area pemakaman. 

Keanehan di Goalpara seolah tersedot hilang begitu ban motor mereka kembali menyentuh aspal jalan raya. Namun, keheningan di antara mereka berdua jauh lebih berat daripada kabut tadi.

​"Del," panggil Geri saat mereka berhenti sejenak di pinggir perkebunan teh untuk memakai sarung tangan. "Baut kuningan yang gue temuin tadi... pas gue pasang di pikiran gue, rasanya kayak ada yang nyambung. Lo ngerasa motor lo jadi lebih... enteng?"

​Della mencoba menarik tuas gasnya. Mesin itu merespon dengan kehalusan yang tidak wajar. "Bukan enteng, Ger. Tapi kayak dia tahu ke mana gue mau pergi sebelum gue belok."

​Saat mereka menuruni jalur berliku menuju kota Sukabumi, matahari mulai terbenam dibalik Gunung Gede. Langit berubah menjadi jingga kemerahan yang dramatis. 

Della melirik spion kirinya.

​Timah yang meleleh tadi kini telah membeku kembali, namun tidak lagi menutupi kaca. Timah itu melapisi pinggiran bingkai spion, membentuk ukiran sulur yang tampak seperti urat syaraf logam. Kaca spion itu sendiri kini terlihat lebih jernih, namun retakannya tetap ada tujuh garis tajam yang membagi pantulan menjadi beberapa fragmen.

​Di dalam fragmentasi itu, Della melihat sesuatu yang tidak ada di jalanan asli.

​Di setiap tikungan yang mereka lewati, Della melihat sosok-sosok penunggu jalanan mulai dari bayangan tinggi di balik pohon beringin hingga sosok yang duduk di atas tiang listrik semuanya menunduk saat Scoopy Della lewat. Seolah-olah motor itu adalah kendaraan seorang bangsawan yang sangat disegani di dunia mereka.

​"Mereka takut, Ger," bisik Della lewat intercom.

​"Siapa yang takut?" tanya Geri bingung.

​"Penghuni jalanan ini. Mereka nggak berani natap motor gue."

​Tiba-tiba, dari arah blok mesin Scoopy-nya, terdengar suara ketukan.

Tok... tok... tok...

​Suaranya bukan seperti suara piston yang oblak atau klep yang longgar. Suaranya sangat ritmis, seperti seseorang yang sedang mengetuk pintu kamar dengan sopan.

​Della menurunkan kecepatannya. "Ger, denger nggak?"

​Geri mendekatkan motor trail-nya, mencoba menajamkan pendengaran. "Nggak denger apa-apa, Del. Mesin loe suaranya paling halus yang pernah gue denger."

​Tok... tok... tok...

​Ketukan itu makin keras. Della merasa getarannya menjalar dari pijakan kaki (dek) motornya ke tulang keringnya. Ia merasa seolah-olah ada sesuatu yang sedang mencoba keluar dari dalam wadah oli atau ruang pembakaran.

​Begitu mereka memasuki batas kota, ketukan itu berhenti, berganti menjadi suara desis panjang.

​"Gue antar sampai rumah," kata Geri khawatir melihat wajah Della yang pucat.

​"Nggak usah, Ger. Loe balik ke bengkel aja, Cek baut kuningan yang loe temuin tadi. Gue rasa itu bukan baut biasa," Della mencoba tersenyum, meski tangannya masih sedikit gemetar.

🍃🍃🍃🍃🍃

​Sesampainya di rumah, Della segera memarkirkan motornya di garasi. Ia mematikan mesin, namun jarum speedometer-nya tidak kembali ke angka nol. Jarum itu tertahan di angka 20, bergetar kecil seolah masih ada aliran listrik yang mengalir meskipun kunci kontak sudah dicabut.

​Della mendekatkan telinganya ke blok mesin yang masih panas.

​Dari dalam sana, terdengar suara bisikan halus, sangat tipis, seperti suara kaset pita yang diputar terbalik.

​"Tujuh... sudah tujuh... tinggal sisa sedikit lagi untuk membuka pintunya..."

​Della tersentak mundur.

 Ia melihat ke arah garis merah marun di pergelangan tangannya. Garis itu kini membentuk sebuah simbol kecil yang menyerupai mata yang terpejam.

​"Pintu apa?" tanya Della pada mesin motornya yang diam.

​Tidak ada jawaban. 

Hanya aroma bensin yang menguap dan bau mawar kering yang kembali memenuhi garasi. Della tahu, meskipun ia sudah pulang dari makam, ia tidak benar-benar pulang sendirian. Sesuatu dari Goalpara telah memilih untuk menetap di dalam mesin Scoopy-nya.

1
falea sezi
)bakar.lah motornya goblok amat della
falea sezi
sasa ne ngeyel. amat harusnya biarin aja mati biar gk jd beban aja temen goblok
falea sezi
di blg ngeyel sih kapok di tempelin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!