Ini merupakan Novel Sekuel dari Melepas para Benalu,
Wina tak pernah menyangka kisah hidupnya yang tragis membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kejam tapi sangat mencintai dan menyayangi dirinya yaitu Alexander
Alexander adalah seorang Mafia kelas kakap yang bahkan polisi juga sangat segan kepadanya.
Pertemuan tidak sengaja itu pun menjadikan Tuan Mafia yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu akhirnya memiliki tempat pulang dan orang yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Ketiganya langsung menatap bibi Mirna dengan tatapan terkejut, jadi Alex dan ibunya sudha pulang dan sekarang menunggu mereka.
"Iya bi, kami senang bisa bertemu dengan beliau". Ucap Wina pelan.
Jantungnya berdebar kencang entah karena apa, ini pertama kalinya dirinya kembali merasa jika dia akan bertemu orang yang akan membuatnya disidang seperti saat dia pertama kali bertemu dengan mantan ibu mertuanya.
Mereka berjalan perlahan begitu pintu lift terbuka, Wina dibantu oleh bibi Mirna untuk mendorong kursi roda itu.
Wina mematung begitu melihat wanita parubayah didepannya itu, tangannya tiba-tiba bergetar hebat.
"Bibi". Cicitnya pelan. pandangannya tak lepas dari wanita itu
Wanita parubayah yang amat dia kenal, dulu saat orangtuanya masih hidup, bibi inilah yang menjadi kepala pelayan di rumahnya hingga usianya masuk 17 tahun dan dia pergi entah kemana dan kini dia bertemu kembali setelah sekian lama.
"Bagaimana kabarmu nona Wina? ". Sapanya dengan senyuman hangat.
Matanya berkaca-kaca mengingat berapa sayangnya dirinya pad gadis ini sebelum dirinya pergi. Saat dirinya bekerja dikeluarga Aditama, dia melanjutkan kuliahnya dan juga mengambil jurusan lainnya untuk menunjang hidupnya kelak dan kini mereka berdiri sejajar dalam hal materi.
"Bibi apa kabar? ". Tanyanya dengan tubuh bergetar.
Dia bahkan tidak menjawab pertanyaannya malah balik bertanya kepadanya.
Sejujurnya dia sangat merindukan ibu keduanya itu, selama bibinya ini tinggal bersamanya dia merasakan kasih sayang ganda karena sang bibi begitu menyayanginya.
"Kabarku baik nona, aku sungguh merindukan nona". Ibunda Alex itu mendekati Wina dan langsung memeluknya.
Tangis keduanya pecah seketika saat berpelukan, Alex menunduk menyembunyikan air mata yang tengah mengenang dipelupuk matanya begitu juga dengan Leo dan Ratna.
Mereka berdua jelas mengingat siapa bibi yang ada dihadapan mereka itu, mereka sudah mengenal Wina sejak kecil terutama Leo.
"Apa kabar tuan muda? ". Sapanya dengan ramah dan sopan.
Dia melepaskan pelukannya pada Wina kemudian menatap Leonardo yang berada dibelakang Wina dengan senyuman tulus dan rindu, dia memang sudah menganggap Wina dan kawan-kawan masa kecilnya itu seperti anak sendiri karena mereka menggantikan peran Alex yang saat itu berada di sekolah asrama.
Walau dirinya sudah setara dengan keduanya, dia masih merasakan rendah jika berhadapan dengan mereka saat ini.
"Kabarku baik bi, terima kasih karena telah menolong kami". Leo mendekati dan bibi kemudian memeluknya seperti Wina tadi.
Dia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan bibi yang seperti ibu bagi mereka bertiga sejak mereka masih kecil karena saat itu orangtua mereka sibuk dengan pekerjaan.
Sedangkan ibunda Alex itu tidak pernah menyangka akan bertemu dengan anak-anak yang sejak dulu dia rindukan, dia pikir sahabat Wina itu bukan cuma mereka mungkin orang lain walau dia sempat mendengar nama mereka di percakapan kemarin, dia pikir orang yang berbeda namun namanya sama.
"Bibi". Ucap salah satu pemuda yang terpaku di belakang mereka semua.
Mereka mengalihkan pandangannya kepada Ben yang baru saja tiba dan berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kabar tuan muda kecil". Sapanya lembut masih dalam pelukan Leo
Ben berlari kecil kemudian langsung memeluk ibunda Alex itu dengan tangis yang pecah, lelaki tampan itu adalah bungsu kesayangan sang bibi semasa kecil mereka.
Pertemuan penuh haru dan tangis itu begitu membuat mereka larut dalam suka cita, Alex memalingkan wajahnya karena dia ingin menangis, dia tidak tahu jika ibunya begitu dekat dengan ketiganya.
Dia melewatkan banyak hal selama dirinya disekolah asrama, bahkan kuliahnya pun juga masuk sekolah asrama saat itu dan dia memang tahu jika ibunya bekerja dikeluarga Aditama sampai dirinya lulus.
"Ya ampun bi, aku tadi sampai tidak mengenali bibi, habis bibi cantik sekali". Cerocos Ben dengan nada riang.
Wina dan Leonardo langsung tertawa, benar mereka juga sempat tidak mengenali sang bibi, saat sang bibi menyapa barulah mereka mengenalinya dari suara dan cara menyapanya.
Sedangkan Nissa mengenali mereka bertiga karena sejak kecil hingga remaja mereka selalu bermain di rumah Wina dan ornag yang mengurus mereka adalah dirinya
Nissa ikut tertawa, dia ingat betul jika sibungsu mereka ini memang cukup bawel saat bertemu dengannya.
"Kabarku baik tuan muda, dan terima kasih pujiannya, hidung bibi nanti terbang karena dipuji". Ucapnya dengan nada bercanda.
Ratna yang sejak tadi diam mematung memasang wajah cemberutnya, mereka seakan melupakan dirinya, dia memang baru mengenal Wina saat usia mereka sudah remaja itu sebabnya bibi Nissa mungkin tidak mengenalinya.
"Bibi lupa padaku yah". Ucapnya merajuk.
Mereka semua mengalihkan pandangannya kepada Ratna yang kini melipat kedua tangannya bersedekap dada memandang kesal kearah mereka.
Nissa memiringkan kepalanya pelan, dia berusaha mengingat siapa gadis dewasa yang berada dihadapannya ini.
Melihat wajah kebingungan dari bibinya itu, Ratna menghentakkan kakinya kesal kemudian memajukan bibirnya.
"Bibi mah, kok aku dilupain sih". Rengeknya lagi.
Nissa mengerjap kan matanya kemudian memasang wajah polosnya karena melupakan sigadis manja tetapi jagoan itu.
"Maaf yah nona Ratna bibi lupa, habis nona sangat berbeda sekarang".
Nissa menampilkan gigi putihnya kepada Ratna yang cemberut kemudain menghampiri dan memeluknya dengan rindu dan sayang.
"Kangen bibi". Ucapnya sambil menangis memeluk sang bibi.
Mereka semua langsung mendekat dan memeluk sang bibi bersama, mereka semua memang sangat merindukan ibu kedua mereka selama ini entah kemana, saat usia mereka 17 tahun dan akan lulus SMA sang bibi meninggalkan kediaman Aditama tanpa penjelasan apapun.
Alex yang sejak tadi menonton adengan hari itu hanya menggelengkan kepalanya karena mereka semua terlihat seperti anak kecil.
"Ayo sarapan, nanti lagi kangen-kangennya". Ucapnya membuat pelukan mereka terlepas seketika.
Nissa langsung mengajak mereka berempat untuk sarapan bersama.
"Ayo duduk anak-anak, kita sarapan yah setelah itu kalian minum obat kalian, kalian masih dalam pemulihan kan?". Tanya Nissa mengelus kepala mereka masing-masing.
Mereka berempat langsung mengangguk pelan dan mengikuti langkah sang bibi duduk di meja makan.
Hanya terdengar suara sendok dan piring beradu diantara mereka, mereka fokus kepada makanan mereka masing-masing karena mereka memang terbiasa tidak berbicara saat makan.
"Kalian sudah mendingan? ". Tanya Nissa begitu mereka berkumpul diruang keluarga utama dirumah ini.
"Alhamdulillah bi, kami lebih baik dari sebelumnya, kami sungguh berterima kasih pada anak lelaki bibi itu". Ucap Wina sambil melirik Alex yang kini tersenyum tipis melihatnya.
"Tentu saja nona, dia wajib melakukannya, kami berutang nyawa dan harta kepada nona dan keluarga". Jawab Nissa dengan tegas.
"Bibi berhenti panggil aku nona yah, aku sekarang tamu dan bibi bukan pelayan kami". Ucap Wina tidak suka.