Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.
Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang di Balik Malu
Semenjak kejadian "lamaran" dan aksi kabur ke taman itu, suasana di Paviliun Sanctuary jadi agak canggung—setidaknya bagi Geneviève. Setiap kali mendengar suara langkah kaki bot Eisérre, Geneviève langsung sibuk mencari alasan: entah itu tiba-tiba asyik membaca buku terbalik, atau pura-pura tidur sambil menutupi seluruh wajahnya dengan selimut.
Sore itu, Geneviève sedang bersembunyi di balik pilar balkon, mengintip apakah Eisérre sudah pergi ke markas atau belum.
"Berhentilah menghindariku, Ève."
Geneviève tersentak sampai kepalanya hampir membentur pilar. Eisérre sudah berdiri di belakangnya dengan tangan bersedekap, menatapnya dengan senyum tipis yang menyebalkan (tapi tampan).
"Aku tahu waktu itu kau cuma bercanda," lanjut Eisérre, melangkah mendekat hingga bayangannya menutupi tubuh mungil Geneviève. "Ayo kemari, kau belum makan apa-apa sejak tadi siang. Jangan sampai kau sakit karena terlalu sibuk merasa malu."
"A-aku tidak malu! Aku hanya sedang... sedang menghitung burung di langit!" Elak Geneviève dengan wajah yang kembali memerah.
Eisérre hanya terkekeh, lalu dengan lembut menarik tangan Geneviève untuk membawanya kembali ke dalam. Namun, kehangatan itu tidak bertahan lama.
Satu jam kemudian. Eisérre harus pergi ke ruang kerjanya di bangunan utama karena ada urusan mendesak. Di saat itulah, Madame Hestia—sang nenek yang selama ini menyimpan rasa penasaran yang mematikan—memanfaatkan celah tersebut.
Tanpa suara, wanita tua yang angkuh itu masuk ke paviliun. Ia menemukan Geneviève sedang duduk sendirian menatap vas bunga.
"Jadi begini rupanya kerjaan mu, hanya memperhatikan Vas bunga dan membuat cucuku kehilangan akal sehatnya," suara Madame Hestia dingin, memecah keheningan.
Geneviève bangkit, ia merasa terintimidasi oleh aura wanita tua di depannya. "Nyonya Besar."
Madame Hestia berjalan mengitari Geneviève, menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan meremehkan. "Kau terlihat sangat biasa. Tidak ada martabat, tidak ada kelas. Hanya seperti seorang gadis yatim piatu yang tidak tahu diri, yang menempel pada Jenderal besar seolah kau adalah Putri Mahkota yang malang."
Kata-kata itu... "Putri Mahkota".
Deg!
Seketika, denyut di kepala Geneviève terasa seperti dihantam palu godam. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari tengkuk hingga ke pelipisnya. Bayangan ledakan, tumpukan mayat, dan suara teriakan mendadak memenuhi kepalanya.
"Kenapa? Kau tersinggung?" Ejek Madame Hestia lagi, tidak menyadari perubahan wajah Geneviève yang mulai memucat. "Kau hanyalah beban bagi keluarga Valois. Seharusnya kau mati saja bersama para mayat di perbatasan itu daripada menjadi sampah di sini—"
"Cukup!"
Suara bariton yang menggelegar menginterupsi. Eisérre muncul di ambang pintu dengan wajah yang dipenuhi amarah yang murni. Ia melihat Geneviève sedang memegangi kepalanya, tubuhnya gemetar hebat.
"Apa yang Anda lakukan, Nenek?!" Bentak Eisérre sambil berlari ke arah Geneviève.
"Aku hanya mengatakan kebenaran pada gadis ini, Eisérre! Dia harus tahu posisinya!" Sahut Madame Hestia tajam.
"Gara-gara dia pertunangan mu dengan Belle dibatalkan," pungkasnya lagi.
"Cukup!" Ucapnya sekali lagi dengan nada sedikit meninggi.
Namun, Geneviève tidak lagi mendengar perdebatan mereka. Pandangannya mengabur, suaranya tercekat di tenggorokan. Rasa sakit di kepalanya begitu hebat hingga dunianya gelap seketika.
Bruk!
Geneviève jatuh pingsan tepat di pelukan Eisérre.
"Ève! Ève, bangun!" Teriak Eisérre panik. Ia menatap neneknya dengan tatapan yang sangat mengerikan, seolah ia sanggup membakar seluruh istana ini jika sesuatu terjadi pada gadis di pelukannya.
"Ève, hei ayolah." Untuk pertama kalinya Eisérre seperti orang yang takut kehilangan.
"Jika terjadi sesuatu padanya... Saya tidak akan pernah memaafkan siapa pun di rumah ini. Keluar!"