"Aku cuma mau jadi beban keluarga CEO, kenapa malah dikasih beban nyawa Mafia?!"
Velin mengira transmigrasi ke tubuh istri pengganti dalam drama CEO klise adalah tiket liburannya dari dunia korporat. Tugasnya mudah: diabaikan suami, dihina pelakor, lalu mati konyol.
Tapi Velin menolak alur! Saat ia sedang asyik berendam mawar untuk merayakan kebebasannya, plafon kamar mandinya jebol.
Bukannya suami yang datang minta maaf, justru seorang pria asing bersimbah darah jatuh tepat di hadapannya. Kieran Marva D’Arcy—Ketua Mafia kejam yang seharusnya tidak ada dalam naskah ini.
Satu pria ingin membuangnya, satu pria lagi mengancam akan menembaknya.
Saat alur drama sudah "Salah Server", apakah Velin akan tetap mengikuti naskah, atau justru menulis takdir baru bersama sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Selamat Datang di Neraka Berlapis Emas
Helikopter mewah itu mendarat dengan mulus di sebuah helipad yang terletak di puncak bukit sebuah pulau pribadi. Saat pintu terbuka, Velin yang tadinya masih ingin protes mendadak kehilangan kata-kata.
Ia melangkah turun dengan kaki gemetar, menatap pemandangan di depannya. Sebuah kastel modern berdiri megah dengan arsitektur yang melampaui logika kemewahan dunia Adriano. Halaman depannya bukan lagi sekadar taman, tapi hamparan rumput hijau seluas lapangan sepak bola yang dikelilingi pohon-pohon eksotis.
Ratusan pelayan dan pengawal berpakaian serba hitam berjejer rapi dalam barisan panjang yang seolah tak berujung. Saat Kieran dan Velin melintas, mereka semua membungkuk serentak hingga sudut sembilan puluh derajat.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda D'Arcy! Selamat datang, Nyonya Muda!" seru mereka dengan suara yang menggelegar, lebih keras daripada sorakan suporter bola.
Velin menelan ludah, matanya berkedip-kedip tidak percaya. "Mampus... Adriano itu cuma tingkat RT kalau dibandingin sama ini," batinnya. "Kalau di rumah Adriano pengawalnya cuma sepuluh, di sini kayaknya satu batalion. Apa aku baru saja diculik ke negara kecil?!"
Kieran berjalan dengan tenang, wajahnya kembali dingin dan datar, seolah kemewahan ini hanyalah hal biasa baginya. Namun, saat mereka memasuki pintu utama yang terbuat dari kayu ek kuno berlapis emas, langkah Velin melambat.
Di ujung aula besar, duduk seorang pria tua dengan rambut putih yang disisir rapi ke belakang. Wajahnya dipenuhi garis-garis tegas, matanya tajam seperti elang, dan ia memegang tongkat dengan kepala naga dari perak. Auranya begitu menekan, membuat udara di ruangan itu terasa berat.
Itu adalah Evander D'Arcy, sang kakek—legenda hidup dunia bawah yang tangannya sudah berlumuran darah musuh selama puluhan tahun.
Velin merinding. Ketakutan yang nyata mulai menyelimutinya. Ini bukan lagi soal ginjal atau drama pelakor, pria tua di depannya ini terlihat seperti orang yang bisa melenyapkan satu kota dalam sekali jentikkan jari.
Tanpa sadar, Velin bergeser ke belakang tubuh kekar Kieran. Ia meraih telapak tangan Kieran yang besar dan menggenggamnya sangat erat, seolah-olah pria itu adalah satu-satunya pelampung di tengah badai.
Kieran tertegun. Ia merasakan kehangatan jemari Velin yang kecil dan sedikit berkeringat di telapak tangannya. Jantungnya yang biasanya berdetak stabil untuk urusan membunuh, kini tiba-tiba berdegup tidak karuan. Ada rasa gugup dan gerogi yang menyerangnya secara mendadak—sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada menghadapi moncong pistol musuh.
Kieran mencoba bersikap biasa saja, namun telinganya memerah. "Kakek, aku pulang," ujar Kieran dengan suara yang sedikit lebih berat dari biasanya.
Evander D'Arcy bangkit dari kursinya, langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai marmer. Ia menatap Velin yang masih bersembunyi di balik punggung cucunya dengan tatapan menyelidik yang sangat menyeramkan.
"Jadi... ini wanita yang Jaxon ceritakan?" tanya Silas dengan suara bariton yang berat. "Wanita yang mengenakan Segel Darah D'Arcy?"
Velin semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Kieran, ia memejamkan mata, bersiap jika pria tua ini memerintahkan pengawal untuk membuangnya ke laut.
Namun, suasana tegang itu pecah seketika.
Evanderp berhenti tepat di depan mereka. Ia menatap wajah Velin yang mengintip takut-takut. Tiba-tiba, wajah menyeramkan itu melunak. Senyum lebar yang hangat muncul di wajah Evan, membuat kerutan di matanya terlihat ramah.
"Wah! Cantik sekali!" seru Evan riang, suaranya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi kakek-kakek yang gemas melihat cucu menantunya. "Kieran! Kau benar-benar punya selera yang bagus! Aku kira kau akan membawa wanita kaku dari kalangan bisnis, tapi kau malah membawa bunga yang begitu segar!"
Velin melongo. "Hah?"
Evander tertawa kencang, menepuk bahu Kieran dengan keras. "Lihat bagaimana dia memegang tanganmu! Dia pasti sangat mencintaimu! Bagus, bagus! Segera siapkan pesta! Aku tidak sabar melihat cicit-cicit kecil D'Arcy berlarian di rumah ini!"
Kieran membuang muka, wajahnya kini benar-benar merah padam karena malu. "Kakek, jangan bicara sembarangan. Ini bukan seperti yang kau pikirkan..."
Velin yang masih bingung hanya bisa bergumam dalam hati, "Cicit? Pesta? Tunggu sebentar... Seratus miliarku bakal jadi uang mahar ya?!"
terimakasih 🙏🙏🙏