"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Kanaya memaksa kala untuk istirahat, 2 hari sudah kala tidak masuk kerja, pria itu meremote pekerjaannya dari rumah saja.
Siang ini sebenarnya kala ada temu janji dengan beberapa mitra bisnisnya, terpaksa ia meminta edo, asistennya untuk menghadiri pertemuan itu. Setelah kala menyelesaikan tugasnya dan menyerahkan kepada edo, iapun segera menutup tabnya.
"Ahhhhh......" kala berdiri, meregangkan tubuhnya.
"Ternyata istirahat itu, menyenangkan.." bisiknya tersenyum.
Kanaya yang membawa nampan berisi teh dan cookies untuk cemilan kala, ikut tersenyum. Ia meletakan nampan itu di atas meja, dan mengambil posisi duduk di depan pria itu.
"Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu!" ujar kanaya cepat.
Kanaya ingin menyampaikan niatnya yang ingin bekerja pada ferdian, ia tak ingin menutupi atau menunda-nunda lagi. Bagaimanapun ia harus segera bekerja, kontrak mereka menyisakan waktu sebulanan lagi.
Setelah kontrak usai, berarti ia akan segera menganggur. Dan kanaya tidak boleh menganggur, adik bungsunya masih membutuhkan dana untuk kuliahnya.
Belum lagi ibunya yang bolak-balik keluar masuk rumah sakit, yang jelas-jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Sementara usaha bengkel adik laki-lakinya belum begitu menunjukkan hasil yang signifikan, Kanaya harus segera bekerja.
"Ada apa...?" tanya kala serius menatap kanaya, sementara mulutnya mulai mengunyah cemilan yang kanaya bawa tadi.
"Hmmm....besok aku mulai bekerja..." tutur kanaya tenang, kala mengerutkan keningnya menatap kanaya penuh tanya.
"Kenapa....?" tanyanya singkat namun nada suaranya sedikit meninggi.
Gantian kanaya yang mengernyitkan keningnya keheranan, mendengar pertanyaan dan nada suara kala. Apakah pria ini lupa kalau kontrak mereka akan segera berakhir.
Kalau kontrak mereka berakhir otomatis kanaya jadi pengangguran, dan rasanya aneh kala tidak tahu itu.
Dengan menarik nafasnya perlahan, kanaya menjelaskan alasannya kepada kala.
"Aku butuh pekerjaan untuk menyambung hidupku dan keluargaku, kala"
"Bukan aku mengecilkan arti dari harga kontrak yang sudah kita tanda tangani, tapi sebentar lagi, kontrak kita selesai, dan aku butuh pekerjaan"
Jelasnya dengan suara tanpa jeda, sebentar kanaya mengambil nafas, ia berusaha menjelaskan dengan tenang.
"Dimana kamu akan bekerja" tanya kala singkat, dari nada suaranya kanaya tahu, kala masih belum begitu menerima penjelasannya.
"Di perusahaan kak ferdi..", jawab kanaya menatap tepat ke mata kala yang terkejut, kerutan yang menautkan alisnya menunjukkan rasa yang ada dihatinya, kanaya tahu kala tak suka.
"Kenapa harus dengan dia?, kenapa kamu tak bekerja lagi di kantorku saja" tukasnya cepat.
"Hahahhahaha......", tawa kanaya pecah mendengar saran kala yang tak masuk akal.
"Apakah kamu serius menyarankan aku bekerja untukmu lagi?" tanyanya menatap mata kala tak berkedip, kala kelihatannya tersinggung dengan tawa dan pertanyaan itu.
"Setahu orang-orang diluar sana, kita ini pasangan suami istri nyata kala!, apakah menurutmu tidak aneh, jika aku bekerja padamu disaat aku sudah jadi mantan istrimu?" lirih suara kanaya, ia menghela nafasnya berat.
Kala tersentak, mendengar penjelasan kanaya ia tersadar, betapa tolol dirinya tidak berpikir sampai kesitu.
Matanya menatap kanaya nanar, ada sesuatu yang menyentuh hatinya, nada lirih suara kanaya tadi menyadarkannya, bahwa pembicaraan ini begitu penting untuk wanita ini.
"Bagaimana kalau aku memberimu tambahan dari jumlah yang kita tanda tangani, dengan itu kamu bisa membuat usahamu sendiri, setelah kontrak kita selesai.." cetus kala tiba-tiba, Kanaya terkejut, tidak lebih tepatnya dia sedih dan kecewa mendengarnya.
Padahal dirinya masih memiliki setitik harapan di hati bahwa kala mau mempertahankan rumah tangga ini, ia masih memiliki sedikit asa dihatinya, bahwa 6 bulan kebersamaan mereka berhasil membuka hati kala.
Tapi sepertinya harapan kanaya sia-sia saja, ia menatap kala dengan sorot mata sendunya.
"Tidak perlu kala, yang sudah kamu berikan ke aku sudah lebih dari cukup.." sahut kanaya lirih.
"Aku bukan minta ijin ke kamu, aku hanya memberi tahu kalau besok aku mulai bekerja"
Kanaya berusaha menetralkan hatinya kembali, nada suaranya pun sedang diusahakan untuk terdengar baik-baik saja.
"Hmmm....baiklah, aku rasa hanya itu yang ingin aku sampaikan ke kamu..."
Kanaya berdiri bersiap-siap beranjak dari tempat duduknya, sebelum beranjak pergi kanaya menyempatkan tersenyum dan menanyakan kala mau makan apa siang itu.
Kanaya hendak beranjak, tangannya mengambil gelas kosong didepan kala, tetapi dengan cepat kala memegang tangan kanaya. wanita itu terperanjat, menatap kala penuh tanya, kernyitan alis kanaya semakin menaut, melihat wajah kala yang berubah semakin serius.
"Duduklah...aku juga ada yang ingin kusampaikan padamu" perintahnya, menatap kanaya dengan sorot mata yang tak ingin dibantah. Kanaya duduk kembali meletakkan gelas kosong yang dipegangnya tadi, ia menatap kala lekat, menunggu penjelasan pria itu.
Helaan nafas terdengar dari mulut kala, sepertinya sesuatu yang ingin ia sampaikan itu bukan masalah sepele. Mata mereka saling menatap, kanaya masih menunggu dengan sabar.
kala mengalihkan matanya dari tatapan itu, denyut dan irama jantungnya mendadak berdebar lebih cepat, entah mengapa tatapan mata lembut kanaya selalu membuatnya seperti itu.
"Hhhhh.....", hembusan nafas kala terdengar lagi, dan semakin berat.
"naya..." panggilnya lirih
"Aku mau minta maaf untuk segalanya"
"Dan juga terima kasih untuk semuanya" kala berhenti sesaat.
"Mari kita akhiri sekarang saja...."
Kanaya terperanjat kaget, matanya membola, sejenak ia tak meyakini pendengarannya, mulut kanaya terperangah tak percaya.
"Aku anggap kita sudah menjalaninya 6 bulan, karena aku yang membatalkan kontrak ini, aku akan memberikanmu ganti rugi" sambung kala tanpa ekspresi, wajah dingin itu tiba-tiba kembali.
"Aku—aku..salah apa?" terbata-bata kanaya bertanya
"Kenapa....?kenapa tiba-tiba?"
Mata kanaya menatap kala meminta jawaban, bola mata itu berkaca-kaca.
"Bagaimanapun kontrak kita pasti akan berakhir, aku hanya mempercepatnya sedikit"
"Aku akan mentransfer ganti rugi itu ke rekeningmu.."
"Jadi mulai detik ini...aku membatalkan kontrak kita, dan membebaskanmu, dan untuk surat cerai, akan aku urus secepatnya" jelas kevin tenang, sangat tenang.
Kemudian melangkah pergi meninggalkan kanaya yang kelihatan syok.
Kanaya masih terperanjat, dia masih belum sepenuhnya mencerna penjelasan kala. Hatinya syok berat, ia tak mampu berkata-kata.
Tanpa kanaya sadari air matanya jatuh di pipinya yang ranum, hatinya benar-benar sakit.
Belakangan ini kanaya melihat kala tidak sedingin dulu, ia pikir ada perkembangan dari hubungan mereka, ada harapan dalam hatinya bahwa kala sudah membuka hati untuknya.
Kanaya terisak, hatinya sakit sekali. Ternyata harapannya sia-sia saja, kala tidak pernah menganggapnya sedikitpun. Isakan kanaya semakin kencang, bahunya terguncang-guncang menahan isakannya.
Lalu apa artinya ciuman itu, lalu apa artinya tatapan sendunya itu, lalu apa artinya genggaman erat itu.
Logika kanaya menyadari ia memang tak pantas berharap apapun kepada pria itu. Mereka sudah berjanji untuk tidak melibatkan perasaan apapun dalam kontrak, tapi siapa yang bisa mengatur hati.
Tiba-tiba notifikasi di ponsel kanaya berbunyi, dania melirik ponselnya, ia melihat notif dari mobile bangkingnya tertera angka yang cukup bombastis masuk dari transaksi tranferan kala.
Kanaya semakin terisak, suara isakan itu tak mampu lagi ia tahan, bahunya terguncang lebih kencang, ia menangis sesenggukan, kanaya mendadak merasa begitu hina. Ternyata ia benar-benar tak ada artinya dalam hati kala.
*********
Kala menatap kanaya dari lantai 2, hatinya terasa sakit melihat wanita itu menangis tersedu-sedu dibawah sana.
"maafkan aku kanaya, tapi ini harus aku lakukan"
"Aku ingin memulainya dengan awal yang baik, bagaimanapun hubungan kita saat ini bukanlah hubungan yang sehat"
Kala masih menatap pilu, tangisan kanaya terasa bagai sembilu yang menoreh luka di hatinya.
Kala tahu keputusan yang dia ambil tiba-tiba ini cukup mengagetkan kanaya, tapi hanya itu yang terlintas di benaknya tadi.
Ia tak ingin melihat kanaya bekerja dengan pria itu, hatinya tak terima ia tak ingin melihat kanaya dekat dengan pria itu.
Ia berharap kanaya bisa memanfaatkan uang yang di berikan itu, untuk membuka usaha atau apalah, asal kanaya jangan bekerja dengan lelaki itu.
Kanaya masih menangis pilu, ia tahu hati kanaya, pasti sakit sekali menerima perlakuannya. Kala tahu, cara yang ia lakukan tadi cukup kejam.
Matanya masih menatap kebawah, memandang kanaya, wanita yang belakangan ini mengusik tidur malamnya. Yang membuatnya selalu bahagia jika wanita itu selalu tersenyum dan berada di sisinya.
Wanita yang mampu membuatnya bahagia.
"Sabarlah kanaya..tunggu aku..."
"Jangan kemana-kemana, tunggu aku mempersiapkan diriku"
Bersambung.....