Zhevanya Maharani Karasya (Vanya) selalu menjadi anak yang dapat dibanggakan oleh kedua orangtua nya, siapa sangka sifat nya yang ceria periang dan selalu berfikir positif itu ternyata menyembunyikan rasa sakit yang sangat menyiksa. Vanya yang selalu ingin menyerah oleh penyakit nya itu tak pernah menduga masa remaja nya akan terasa sangat berwarna.
Pertemuan nya dengan Nana, Farida, dan Irgi benar benar membuat masa remaja nya begitu berwarna, indah dan membuat banyak kenangan yang tak terlupakan, sampai pada akhirnya Semua terasa begitu sia sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CieMey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasmaran
Raka sedang berjalan menuruni tangga menuju dapur hari ini ia tak berniat main keluar rasa nya badan nya sedikit lelah. ia mencari makanan di rumah nya karna sejak pagi ia belum makan sama sekali.
"ah sialan ga ada makanan lagi"
dengan sangat terpaksa ia harus keluar untuk membeli makanan di ujung komplek.
saat sampai didepan gerbang Vanya mendengar suara mesin motor yang di matikan
"Kayak nya Vanya pulang, abis maen kemana tuh anak" Raka berniat ingin membuka gerbang dan melihat dengan siapa adik nya pulang tapi belum sempat Raka menarik gerbang itu Raka sudah lebih dulu mendengar percakapan yang tak seharusnya ia dengar.
"eh eh bentar"
"apalagi sih"
"kalo udah pacaran tuh harus romantis Vanya"
"ih apa sih gausah ngomongin pacaran nanti ada yang denger"
Tanpa sengaja Raka mendengar percakapan itu yang membuat nya tersenyum.
"adek gue udah gede, udah berani pacaran"
ia mencoba mengingat kembali suara cowok itu, suara nya tak asing bagi nya tapi ia belum sadar kalau itu adalah suara Nana.
"yaudah sana masuk, mandi trus langsung tidur ya cantik jangan begadang"
"iya bawel, bye Na ati ati di jalan ya"
"iya"
Raka merasa lega setelah mengetahui kalau cowok itu adalah Nana. Nana adalah anak baik baik ia tak perlu di ragu kan lagi kesempurnaan nya bahkan Raka tak berani untuk membandingkan dirinya dengan Nana.
setelah mendengar suara motor menjauh, Raka baru berani keluar, ia tau jika ia mengaku kepada Vanya kalau ia mendengar percakapan mereka Vanya pasti akan sangat malu dan marah pada Raka, jadi Raka memutuskan untuk berbohong, lagi pula Vanya berpacaran dengan Nana jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan.
...☘️☘️☘️...
Jalanan malam yang terasa tenang, tanpa ada kemacetan dan kebisingan suara klakson yang terkadang membuat nya emosi Raka menikmati suasana malam ini sudah sejak lama ia tak pernah merasa setenang ini, melihat adik kecil nya yang sangat ia sayangi tersenyum ceria dengan mata sayu nya yang berbinar itu membuat hati nya terasa hangat. Vanya sudah terlalu banyak menderita ia memang tak sekuat anak yang lain nya, kondisi fisik nya yang kian melemah perlahan menghilangkan senyum indah di wajah nya, semua keluarga sudah mencoba berbagai cara untuk menyembuhkan nya memberikan pengobatan terbaik tak mampu membalikan senyum indah itu. Siapa sangka masuk kedalam sekolah menengah pertama dan bertemu dengan Nana mampu membuat Vanya kembali tersenyum. Raka tak tau apa yang Nana lakukan sampai mampu membuat Vanya tersenyum bahkan tertawa lepas saat bersama nya.
jika ia boleh jujur selama ini Raka selalu memantau keadaan Vanya, ia selalu memastikan Vanya baik baik saja dan merasa bahagia. Raka bahkan memohon kepada Irgi untuk terus menjaga Vanya melindungi nya saat Vanya berada di sekolah.
"Halo bang kenapa?"
"Gi gue mau ngomong lo ada waktu ga besok? "
"ada, mau jam berapa?"
"sebangun nya lo aja"
"oke, eh ngomong ngomong nih ya tumben lo begini kenapa nih?"
"gak papa gue mau ngobrol aja"
"tentang?"
"Vanya"
"oke"
Irgi selalu paham jika Raka sudah membicarakan tentang Vanya hatinya pasti sangat rapuh bahkan Raka pernah nangis saat bercerita kepada Irgi tentang kondisi Vanya yang kian melemah.
"Vanya cepet turun makan nih udah di beliin"
"Iya abang sebentar"
Raka menyiapkan makanan di meja makan sambil menunggu Vanya turun.
"Wih dapet gulai sapi dimana jam segini bang"
Vanya turun dengan senyum yang merekah di wajah nya.
"ada di depan taman tuh"
"Vanya makan duluan ya bang"
"iya"
Vanya makan dengan sangat lahap, Raka hanya bisa tersenyum melihat adiknya yang kembali ceria.
Haruskah ia menemui Nana dan mengucapkan terimakasih kepadanya karna ia benar benar merasa bersyukur saat ini.
...☘️☘️☘️...
"pagi Vanya cantik pacar akuh"
"ih apasih Na, alay banget mana pagi pagi banget lagi telpon nya"
"maaf maaf keganggu ya"
"enggak kok, untung aja udah bangun"
"ya bagus dong emang udah waktunya bangun"
"kenapa telpon"
"jalan jalan lagi ga?"
"kemana?"
"ke ragunan mau?"
"boleh tuh"
"yaudah sana mandi siap siap jangan lupa sarapan dulu di jalan pasti panas banget nanti pusing lagi"
"oke aku mandi dulu ya"
"iya pelan pelan ya jangan keburu buru"
"iya siap"
Tak ada jawaban dari Vanya karna Vanya sudah lebih dulu berjalan ke kamar mandi dengan telpon yang belum di matikan.
Vanya menuruni tangga dengan pakaian yang sangat rapih, ia terlihat sangat cantik dengan sedikit riasan di wajah nya.
"tumben jam segini udah rapih mau kemana?" tanya Raka yang sedang membuatkan sarapan di dapur.
"aku mau pergi sama Nana ke ragunan ya bang"
"oke tapi makan dulu ya"
"iya abang"
"Nana ga sekalian ajakin makan disini?"
"Nana juga lagi sarapan di rumah nya"
"Yaudah nih makan"
Nasi goreng ebi kesukaan Vanya sudah di saji kan. nasi goreng itu tak pernah gagal membuat Vanya makan dengan lahap.
"Van kalo udah selesai makan kabarin ya" satu pesan masuk dari Nana tepat setelah Vanya menghabiskan makanannya.
"udah nih Na baru aja selesai"
"oke 10 menit lagi aku jemput ya cantik"
Vanya tak sanggup membalas nya, ia sudah lebih dulu tersipu malu.
Raka yang melihat Vanya senyum senyum tidak jelas itu sedikit keheranan. ia tau jatuh cinta memang sebegitu aneh nya kadang terlihat seperti orang gila tapi melihat adik nya sendiri yang seperti itu ternyata mampu membuat nya bergidik ngeri.
"Van udah selesai makan nya?" tanya Raka untuk mencairkan suasana.
"nih bang udah" Vanya menyodorkan piring kotor nya dengan mata yang masih tertuju pada layar ponselnya.
Raka menerima piring dan langsung merapihkan meja makan. ia juga harus siap siap karna sudah ada janji dengan Irgi.
Suara klakson motor terdengar dari luar.
"siapa tuh Van"
"Nana kayanya bang"
Raka sudah lebih dulu keluar dan membukakan gerbang, dan benar saja Nana sudah sangat rapih di atas motor nya.
"eh Na mau kemana pagi pagi"
"eh bang Raka, gue mau main sama Vanya ke ragunan ya bang, boleh kan?"
"iya boleh tapi jangan kecapean ya, jangan lupa di ajak makan Vanya nya"
"Iya aman bang"
Vanya berlari kecil kearah Nana dengan senyum manis nya.
"Abang aku jalan ya"
"Iya ati ati bawa motor nya Na, kabarin ya kalo udah sampe"
"Iya bang" Vanya dan Nana menjawab berbarengan.
Raka sempat terdiam beberapa menit memastikan adik nya dan Nana pergi dengan selamat, paling tidak sampai mereka selamat sampai Motor nya tak terlihat lagi di mata Raka.