Kwee Lan, seorang Sinseh Wanita yang kehilangan chi akibat sakit keras menemukan seorang pemuda pingsan di bukit Peng San.
Karena Sumpah Sinseh, ia wajib menolong pemuda itu. Walaupun resikonya dicap bo-li-mo(amoral), ia takkan mundur. Tapi, warga sudah nyaris membakarnya atas tuduhan berzinah.
-----------
Sebagian besar nama dan istilah menggunakan Dialek Hokkien, sebagian Mandarin. Untuk membangkitkan kembali era Silat Kho Ping Hoo dalam sentuhan Abad 21.
AI digunakan untuk asistensi bahasa dan budaya akibat penulis mengalami penghapusan budaya besar-besaran dan kehilangan cukup banyak warisan budaya walaupun dalam hati dan keseharian masih menerangkan nilai-nilainya.
---The Bwee Lan (Anggrek Indah dari Marga The), penulis--
nb. Bwee bisa bermakna indah, cantik (wanita), atau tampan (pria).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluit di Tengah Malam
Peluit di Tengah Malam
Malam di Bukit Pheng San sunyi. Terlalu sunyi.
Kwee Lan sudah terlelap di dipan samping, napasnya teratur—tidur nyenyak setelah seharian capek bangun rumah dan panen obat darurat. Tapi Go Beng Liong? Dia terjaga.
Bukan karena lukanya nyeri, tapi karena suara itu.
Fiuuu... fiuuu... fiuuu...
Tiga kali pendek. Satu kali panjang. Hau-chui (Peluit Macan) dari bedua arah berbeda.
Beng Liong ingin loncat, tapi tubuhnya mematung. Bukan karena lumpuh, tapi karena takut. Takut rumah baru ini roboh lagi.
Ia memegang peluit dan barang-barang yang Kwee Lan berikan. Ada 3 peluit. Hau chui untuk mencari, Choa Chui (peluit ular) untuk bilang sedang sakit berat, dan Liong Chui (peluit naga) untuk bilang masih bisa jalan. Ia membalasnya dengan 2 kali Choa chui. Perutnya sakit. Sekadar pipis dan BAB saja dia tidak nyaman karena nyusahin Sinseh. Apalagi… Sinseh nya wanita dan masih perawan!!!
Gila, pikir Beng Liong. Dua-duanya nyampe sini barengan.
Takut Kwee Lan bangun dan ngamuk, Beng Liong buru-buru buka jendela. Dia menjulurkan badan ke luar, jahitannya protes tapi dia tahan.
"Turun! Turun lo berdua!" desisnya keras ke arah kegelapan. "Masuk lewat pintu belakang pelan-pelan! Giam-giam-lai (diam-diam saja)! Jangan berisik, jangan rusak rumah!"
Dua bayangan mendarat di tanah. Senyap. Presisi. Pintu bambu digeser pelan, dan masuklah dua pria dengan tampang sangar tapi bingung.
Yang pertama: kekar, jenggot tebal, mata elang—Tai Tiong Kun (Jendral Besar) Kim.
Yang kedua: rambut kusut, lengan kiri diperban asal-asalan—Jendral Choa Beng Ho.
"Lo kenapa, Go?" tanya Kim heran. "Rumah reot begini aja disuruh jalan jinjit."
"Bukan masalah reotnya, Kiam-pau (kurang ajar)!" bisik Beng Liong melas. Dia menunjuk ke luar jendela, ke arah tanah gundul bekas kebun. "Lo liat itu? Itu kebun punya sinseh gua. Kemarin gua bangun, chi gua meledak. Rumah roboh, kebun ludes. Semua tanaman obatnya habis dalam sehari!"
Choa menelan ludah. "Terus hubungannya sama kita?"
"Gua masih ngutang nyawa sama dia! Stok obatnya habis buat ngerawat gua dan ngeredam amuk warga. Dan sekarang lo berdua dateng bawa chi besar, luka-luka, dan mau numpang juga?" Beng Liong melotot. "Kalian harus diam! Jangan rusak apa pun. Kalau rumah ini roboh lagi, gua sumpah—lo berdua yang ganti utang gua!"
Kim dan Choa, dua jenderal yang tidak takut seribu musuh, kompak mengangguk pelan. Takut ditagih ganti rugi kebun.
Tiba-tiba—
BYUR!
Sesuatu melesat dari dipan Kwee Lan.
DANG! DANG! DANG!
Sumpit kayu terbang tepat menghantam kentongan di sudut rumah. Ritme bahaya.
"MALING! ADA MALING MASUK RUMAH!" teriak Kwee Lan sekencang mungkin.
"Kwee Lan, bentar—!" Beng Liong panik.
"TIGA ORANG! BAWA PENTUNG!" teriak Kwee Lan lagi, gak dengerin.
Lima Menit Kemudian: Tragedi di Bukit Pheng San
Pintu rumah Kwee Lan jebol. Bukan karena tenaga dalam, tapi didobrak massa desa yang bawa obor, pacul, dan semangat membara.
"DI MANA MALINGNYA?!"
"BERANI MASUK RUMAH PERAWAN MALAM-MALAM!"
Tai Tiong Kun Kim—panglima pasukan macan—kena pentung di kepala.
POK!
"Aduh! Gua bukan maling—"
"DIAM LU, MALING TERIAK MALING!" POK!
Jendral Choa Beng Ho—penyintas penyergapan maut—kena gebuk pacul di punggung.
POK! POK!
"SAKIT, WA-LAU! AMPUN!"
Go Beng Liong hanya bisa angkat tangan pasrah di dipan. Dia selamat dari gebukan karena warga kasihan lihat jahitannya yang masih basah.
Ah Niu datang sambil ngupil, nonton tiga jenderal besar dihajar massa. "Woi, Lan-A," dia menyenggol Kwee Lan. "Lo panggil massa buat ngeroyok pasien lo?"
Kwee Lan gemetar di pojok kamar. Ia merasakan chi dari 2 laki-laki. Secara refleks dia membunyikan kentongan. Membawa satu laki-laki ke rumah saja dia sudah sangat sial sekali. Ini? Dia temannya pria datang tengah malam!
"Tapi itu temennya si Beng-A, bukan?"
Pasca Gerebekan
Setelah massa puas dan Pak Lau Cu datang menenangkan warga (sambil megangin kepala karena pingsan keempat kalinya), suasana mulai adem. Tiga jenderal itu duduk di lantai dengan kondisi mengenaskan.
Kim megangin benjol di dahi. "Gua... belum pernah dipukuli pakai pacul… sakit… mending pake golok…"
Choa meringkuk di pojok. "Penyergapan musuh mah gak ada apa-apanya dibanding emak-emak desa sini…udah dipukul dicubit terus dicium… amsyong banget"
Kwee Lan tangannya gemetar. Tapi sumpah Sinsehnya membuatnya bangkrut. Pil terakhirnya untuk dijual besok diberikan pada kedua Jendral bonyok.
Kim menatap Kwee Lan. "Lo... lo yang panggil massa?"
"Iya."
"Lo tahu kita jenderal?"
"Ya ga tau, Beng Sut! Aku ini wanita. Otak kalian di mana?”
Mereka berdua masih kaget. Mereka kaget campur senang.
Sinseh Wanita, makhluk dunia Kang Ouw yang sangat langka seperti makhluk mitologi itu berdiri di depan mereka.
Akhirnya ibu, adik, dan saudari mereka ada peluang tertolong dengan nyaman. Mereka langsung mengingat-ingat lokasi ini dan tidak fokus ketika ditanya.
“Kamu dua orang mau apa?” tanya Lau Cu
“Mau kasi tau mama kalo ada Sinseh Wanita di sini” Jawab Tai Tong Kim
“Istri Gua mau lahiran bulan depan, pesen tempat boleh Sinseh?” Jawab Jendral Choa
Kwee Lan menatap mereka masih dengan tatapan ketakutan.
Ah Niu mengambil minum untuk Kwee Lan. Wanita itu terlihat shock berat … sangat berat.
Beng Liong cuma bisa senyum pahit. "Mereka gak gitu, kok. Mereka datang bawa dekrit supaya menyisir betul karena mayat aku dan mayat Choa belum ketemu."
Jendral Kim mengambil dekrit dan menyerahkan pada Lau Cu tentang penyisiran untuk Jendral Choa dan Jendral Go karena mayat belum ketemu. Sehingga yang dikubur baru papan nama saja.
Warga mulai paham apa yang terjadi. Ini operasi yang sudah biasa. Gunung Peng San memang perbatasan wilayah Cia Agung. Dan kadang banyak serangan di Muara sungai Peng. Tapi bagian gunung lebih aman.
Ah Niu duduk di samping mereka, masih asik ngupil. "Jadi... tiga jenderal mati, habis digebukin warga, sekarang mau ngapain di rumah Sinseh perawan, ya?"
Tai Tong Kim yang diberi minum Sinseh Kwee yang gemetar berkata, “Ini masih masa tolak. Selama masa tolak, 2 Jendral belum ketemu: Jendral Choa dan Jendral Go bisa ditolak status kematiannya”
Kim melirik Ah Niu. "Lo siapa? Kok tenang banget?"
"Gua Ah Niu. Calon pejabat gagal. Profesional ngupil." Dia menunjukkan jarinya. "Mau?"
Kim menggeleng cepat. "Bo-gam, bo-gam (nggak berani)!"
Sekarang tiga jendral itu merasa gak enak. Mereka 3 laki-laki. Dua laki-laki ceroboh yang asal menerobos tengah malam ke rumah Sinseh Wanita Legendaris….
[Bersambung]