NovelToon NovelToon
Kembali Sebelum Penghianatan

Kembali Sebelum Penghianatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Api Yang Mulai Membesar

Suasana di meja itu tidak lagi sekadar tegang, melainkan sudah berubah menjadi medan tarik-menarik yang halus namun berbahaya, di mana setiap kata yang diucapkan bukan hanya memiliki arti di permukaan, tetapi juga membawa maksud tersembunyi yang bisa menjadi senjata kapan saja, dan Lisa yang berada di pusat semua itu justru terlihat paling tenang, seolah ia adalah satu-satunya orang yang benar-benar memahami arah permainan ini sejak awal.

Pelayan datang membawa makanan yang telah mereka pesan, mencoba menjalankan tugasnya tanpa terganggu oleh atmosfer aneh yang menyelimuti meja tersebut, namun bahkan saat hidangan disajikan dengan rapi, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar fokus pada makanan, karena perhatian mereka sepenuhnya tertuju pada percakapan yang terus bergerak di antara empat orang dengan kepentingan berbeda.

“Kalian tidak makan?” tanya Lisa dengan nada ringan, seolah mencoba mengembalikan suasana menjadi normal.

Namun tidak ada yang langsung menjawab.

Arvin akhirnya mengambil alat makan, mencoba memecah ketegangan dengan tindakan sederhana, “Kita lanjut saja makan,” katanya, meskipun jelas pikirannya tidak berada di sana.

Luna tersenyum tipis, lalu ikut mengambil gelasnya.

“Setuju,” katanya santai, “aku tidak mau melewatkan makan malam mahal hanya karena suasana sedikit… menarik.”

Kata “menarik” itu diucapkan dengan sengaja.

Seolah ia sedang menikmati setiap detik dari konflik yang mulai terbuka.

Sementara itu, Devan tetap duduk dengan tenang, tidak terburu-buru menyentuh makanannya, matanya justru sesekali kembali ke arah Lisa, mengamati setiap gerakan kecil wanita itu dengan perhatian yang tidak ia sembunyikan lagi.

Lisa menyadari itu.

Namun ia tidak bereaksi.

Ia justru mengambil sendoknya dengan tenang dan mulai makan, seolah tidak ada apa pun yang perlu dikhawatirkan.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang aneh, hingga akhirnya Luna kembali membuka percakapan dengan nada yang terlihat santai namun jelas memiliki tujuan.

“Lisa,” katanya sambil menyandarkan dagu di tangannya, “aku penasaran… kamu tipe orang yang suka permainan atau justru menghindarinya?”

Lisa tidak langsung menjawab.

Ia meletakkan sendoknya dengan perlahan, lalu menatap Luna dengan mata yang tenang.

“Tergantung permainannya,” jawabnya.

Luna tersenyum.

“Dan kalau permainannya berbahaya?” tanyanya lagi.

Lisa sedikit memiringkan kepalanya.

“Kalau berbahaya… berarti layak dimainkan,” katanya pelan.

Jawaban itu membuat suasana kembali berubah.

Arvin menatap Lisa dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Sementara Devan…

Hanya tersenyum tipis.

Dan Luna…

Terlihat semakin tertarik.

“Kalau begitu kita sama,” kata Luna, matanya berkilat, “aku juga tidak suka hal yang terlalu mudah.”

Arvin akhirnya tidak bisa diam lebih lama.

“Ini bukan permainan,” katanya tegas.

Semua mata langsung tertuju padanya.

Arvin melanjutkan dengan nada yang lebih dalam, “Setidaknya tidak untukku.”

Lisa menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata dengan tenang, “Semua hal adalah permainan, Arvin… hanya saja tidak semua orang menyadarinya.”

Kalimat itu membuat Arvin terdiam.

Karena untuk pertama kalinya…

Ia benar-benar tidak mengenali Lisa.

Di saat yang sama…

Di luar restoran, seorang pria berdiri sambil memperhatikan dari kejauhan, mengenakan pakaian sederhana namun dengan tatapan yang penuh perhitungan.

Riko Saputra.

Seorang informan yang sering bekerja untuk siapa pun yang berani membayar lebih.

Ia menatap ke arah meja tempat Lisa dan yang lainnya duduk, lalu tersenyum kecil.

“Jadi ini targetnya…” gumamnya pelan.

Ia mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat, lalu mengirimkannya.

Penerimanya…

Kevin Hartono.

Dan di tempat lain…

Kevin membaca pesan itu sambil tersenyum tipis.

“Permainan mulai ramai…” katanya pelan.

Kembali ke dalam restoran…

Ketegangan di meja itu tidak juga mereda, justru semakin dalam seiring percakapan yang terus mengarah ke hal-hal yang lebih pribadi tanpa benar-benar disebutkan secara langsung.

Devan akhirnya berbicara lagi, suaranya rendah namun jelas.

“Kamu berubah cukup cepat,” katanya kepada Lisa.

Lisa meliriknya sebentar.

“Atau mungkin kamu baru mulai melihatnya sekarang,” balasnya.

Devan tidak membantah.

Namun matanya menunjukkan bahwa ia setuju.

Sementara itu, Luna menatap keduanya dengan penuh minat.

“Sepertinya kalian berdua punya komunikasi yang cukup… unik,” katanya.

Lisa tersenyum tipis.

“Kami hanya bicara apa adanya,” jawabnya.

Luna mengangguk pelan.

“Berbahaya,” katanya singkat.

Arvin yang sejak tadi menahan diri akhirnya meletakkan alat makannya dengan sedikit lebih keras dari seharusnya.

“Cukup,” katanya.

Suasana langsung hening.

Lisa menatapnya.

“Apa?” tanyanya.

Arvin menatap Lisa dengan serius.

“Aku tidak suka ini,” katanya jujur.

Lisa mengangkat alis sedikit.

“Tidak suka apa?” tanyanya lagi.

Arvin menarik napas dalam.

“Situasi ini… cara dia melihatmu… dan cara kamu membiarkannya,” katanya dengan nada yang mulai menunjukkan emosi yang selama ini ia tahan.

Lisa tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap Arvin dengan tenang.

Lalu berkata pelan…

“Kenapa? Kamu merasa terancam?”

Kalimat itu seperti percikan api terakhir.

Dan dalam sekejap…

Suasana berubah menjadi jauh lebih panas.

Arvin mengepalkan tangannya.

“Lisa…”

Namun sebelum ia bisa melanjutkan…

Devan menyela dengan suara yang tetap tenang namun memiliki tekanan kuat.

“Dia tidak perlu menjelaskan apa pun padamu.”

Arvin langsung menoleh tajam.

“Ini bukan urusanmu,” katanya dingin.

Devan tidak bergeser sedikit pun.

“Sekarang ini… jadi urusanku,” balasnya.

Dan di saat itu…

Semua batas mulai hilang.

Tidak ada lagi percakapan santai.

Tidak ada lagi topeng yang utuh.

Yang tersisa hanyalah…

Keinginan untuk menang.

Dan bagi Lisa…

Ini adalah momen yang ia tunggu sejak awal.

Karena semakin besar api yang mereka ciptakan…

Semakin mudah baginya untuk membakar semuanya hingga habis. 🔥

1
Su Darno
blm ada ending nya msh penasaran thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!