satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desa Munjuk Sempurna
Satria berjalan menuju mobil Hadi yang sudah menunggu. Hadi dan Bimo sudah turun dari mobil dan membantu Satria memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi.
"Yuk, berangkat!" seru Bimo dengan senyumnya yang ceria, meskipun di hatinya ia merasa sedih harus berpisah dengan sahabatnya. Bimo juga sudah tahu tentang rencana Satria dan dengan senang hati ikut mengantarnya.
Satria masuk ke dalam mobil, dan sebelum mobil bergerak, ia menoleh sekali lagi ke arah rumah kecil itu dan para tetangga yang masih berdiri di sana. Ia melambaikan tangan untuk terakhir kalinya, lalu mobil pun bergerak menjauh, meninggalkan rumah kenangan itu dan menuju ke arah Kalianda
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya mereka sampai di Desa Munjuk Sempurna, Kalianda. Desa ini terletak di kaki Gunung Rajabasa, dan udaranya terasa sangat sejuk dan segar, berbeda dengan udara di kota yang panas dan berdebu. Pemandangan di sekitar desa sangat indah, dengan hamparan kebun-kebun yang hijau dan Gunung Rajabasa yang menjulang tingi
Mobil Hadi berhenti di depan sebuah rumah kayu yang cukup besar yang terletak di pinggir desa.
"Nah, ini kayanya tempatnya deh," ucap Hadi sambil melihat ke sekeliling. namun tak terlihat seorang pun di luar
" sepi amat?" ucap Bimo
" Mungkin pada kerja, coba ketuk rumah itu saja" sahut Satria
Mereka pun turun dari mobil.
" Tok"
" Tok"
" Tok"
"Assalamualaikum"
Satria mengetuk pintu rumah kayu itu dengan perlahan.
" Waalaikum salam" terdengar salam balasan dari dalam rumah
" Krieeet"
Tak lama kemudian, pintu terbuka, dan muncul seorang pria paruh baya dengan tubuh yang kekar dan wajah yang tegas namun ramah. Pria itu mengenakan kemeja lengan pendek
" Selamat siang, Pak. Maaf mengganggu. Saya mau bertanya Rumahnya Pak Karno di mana yah pak" ucap Satria sopan bertanya
" Saya Karno, maaf adik adik ini siapa ?" tanya Pak Karno karena ia tak mengenal satu pun dari mereka bertiga
" Maaf pak saya Satria, yang baru saja diterima kerja di sini sebagai pemelihara kebun," ucap Satria sopan sambil mengulurkan tangan.
Pria itu menatap Satria sejenak, lalu tersenyum lebar dan menjabat tangan Satria dengan erat. "Oh, kamu Satria ya? Iya, saya sudah dapat kabar dari kantor pusat. Saya Mandor Karno. Selamat datang di Desa Munjuk Sempurna, Nak. Silakan masuk." Sahut Pak Karno menyambut mereka setelah mengetahui Satria akan bekerja di daerahnya
" Terima kasih pak" ucap Satria
Mereka pun masuk ke dalam rumah itu. Di dalamnya, perabotannya sederhana namun terlihat bersih dan rapi. Mandor Karno mempersilakan mereka duduk di ruang tamu, lalu memanggil istrinya untuk membuatkan teh hangat.
" kalau adik ini?" tanya Mandor Karno sambil menatap Hadi dan Bimo.
" Oh ini sahabat saya pak mereka hanya mengantar saya kemari," jawab Satria.
" Bapak pikir kalian juga akan bekerja di sini" ucap Mandor Karno.
" Saya lagi kuliah pak, tapi kalau saya sering bermain di sini boleh pak?" tanya Bimo
" Tentu saja boleh, ayo di minum dulu nanti aku ajak ke tempat tinggal kamu" ucap pak karno
Mereka berbincang bincang melepas lelah dan setelah menghabiskan air teh yang di suguhkan, Mandor Karno mengajak Satria dan teman-temannya melihat tempat tinggal Satria nanti.
" Ayo kita ke rumah yang akan kau tempati nak Satria" ajak Pak Karno" bawa saja sekalian perlengkapan kamu biar ga bolak balik" lanjut pak Karno
"Baik pak" sahut Satria, ia segera mengambil tas yang berisi pakaian, Bimo dan Hadi membawakan yang lainnya, mereka mengikuti pak Karno yang berjalan di depan melewati jalan setapak setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka tiba di sebuah rumah panggung
" Nak Satria, ini rumah yang akan kau tempati, ayo masuk" ajak pak Karno
Satria mengangguk, dan naik ke rumah panggung
Saat masuk, ruangan dalam rumah itu tak terlalu besar hanya ada satu kamar, satu ruang tamu, dapur dan Kamar mandi di bawah dengan pagar bambu sekelilingnya
Bimo dan Hadi saling tatap, karena tak ada aliran listrik ke rumah panggung yang akan di tempati oleh Satria
" Sat, ga ada listrik, loe ngecas hpnya gmana" tanya Bimo
" Gw punya dua power bank, nanti numpang ngecas aja di rumah warga" Sahut Satria santai, ia menyusun barang barang yang di bawanya dengan rapih
" Ia , nanti kalau mau ngecas ke rumah aja" timpal Pak Karno yang mendengar ucapan Bimo tadi
Setelah selesai membereskan pakaian dan menyusun barang barang yang ia bawa, Satria turun ke dapur sambil membawa kopi, di dapur hanya ada tungku saja tak ada kompor namun itu tak menjadi soal bagi Satria ia mengambil kayu bakar yang ada di dekat tungku dan mulai menyalakannya. setelah air mendidih ia membuat kopi untuk mereka
" Pak ngopi dulu" ucap Satria sambil meletakan segelas kopi di hadapan pak Karno
" terima kasih nak satria" ucap Pak Karno senang
" Pak kok rumahnya masih panggung yah?" tanya Hadi
" kalau di sini ia bagusnya rumah panggung karena masih di pinggir hutan, kadang kalau malam ada binatang buas lewat" sahut pak karno
" Bi.....binatang buas!?" ucap Bimo tergagap
" iya, kadang babi hutan, dan juga harimau" jawab Pak Karno santai
" Sat, Loe beneran mau tinggal di sini?" tanya Hadi sambil menelan ludah
" iya, tenang aja, binatang buas itu ga akan ganggu kalau kita ga ganggu mereka" sahut Satria
" ga gw lagi ngbayangin aja lagi tidur di cium pak Kumis ( Harimau) kumisnya geli geli gimana gitu hiii?" Ucap Hadi bergidik sendiri membayangkan dirinya di cium oleh pak kumis, karena ia pernah membaca kucing , macan dan harimau jika akan makan ia akan mengendus endus dulu makanannya
saat sore hari Hadi dan Bimo pamit pulang, mereka sebenarnya berat meninggalkan Satria seorang diri di sana
" Gw pulang dulu, nanti libur pas ga ada mata kuliah gw usahain mampir kesini" sahut Hadi
" iya, tapi jangan di paksain, loe kan lagi belajar jangan sampai pelajaran loe ke ganggu karena gw" sahut Satria sambil menepuk bahu kedua sahabatnya
setelah hadi dan Bimo pulang bersama pak Karno, Satria melihat keadaan sekeliling rumah yang di tempatinya
sekeliling rumahnya kebun tanaman coklat semua, dan di belakang rumahnya ada sedikit tanah lapang yang berbatasan dengan tebing batu
" Sepertinya tempat ini cocok buat latihan " Gumam Satria senang, ia duduk bersila di sebuah batu dan mulai menjalankan tehnik pernapasan
Seketika dada Satria terasa segar, karena energi alam yang sangat melimpah belum tercampur polusi. ia berlatih terus hingga tak terasa sudah malam, saat ia membuka mata hari telah gelap, ia dengan cepat mengudahi latihannya dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Minal Aidin Wal Fa Idzin
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Selamat hari lebaran 1 Syawal 1447 Hijriah
Tapi sayang kalau Satria jika dipecat dari kerjanya, soalnya kerjanya sudah mantap tuh, santai dan lingkungannya sangat mendukung untuk latihan²nya... 😁