NovelToon NovelToon
Pendekar Racun Nirwana

Pendekar Racun Nirwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.

Semua orang mengira ia telah mati.

Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.

Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Sementara itu…

Arka membuka pintu dengan hati-hati sambil membawa selimut merah tua.

Namun begitu masuk, ia mendapati Ratna telah duduk di sisi ranjang. Ia sudah bangun dan berpakaian rapi. Sepasang matanya yang indah—tenang seperti air yang tak beriak—menatap Arka tanpa emosi.

Arka meletakkan selimut itu di atas meja, lalu berkata santai,

“Istriku, kamu bangun sepagi ini. Bagaimana tidurmu tadi malam?”

“Kau tidak ingin menjelaskan dulu ke mana kau pergi tadi malam?” tanya Ratna pelan.

“Tidak perlu,” jawab Arka sambil meregangkan tubuh dan merapikan rambutnya di depan cermin.

“Karena aku tahu kamu pasti tidak tertarik.”

Ratna terdiam.

Meski semalam ia tertidur di pegunungan belakang bersama Lili, suasana hati Arka pagi ini justru sangat baik.

Setelah merapikan pakaian dan rambutnya, kembali pada penampilan pemuda tampannya, ia berdiri dan berkata,

“Ayo pergi. Ini pagi pertama setelah pernikahan kita. Kita harus memberi hormat kepada kakek… Kamu tidak akan menolak, bukan?”

Tanpa berkata apa-apa, Ratna berdiri dan melangkah keluar lebih dulu.

Arka mengangkat bahu santai lalu menyusul.

Nata Wijaya selalu bangun pagi.

Hari ini pun sama.

Saat mereka memasuki halaman rumahnya, mereka melihat Nata Wijaya sedang menyiram bunga dan tanaman. Begitu melihat mereka datang, ia tersenyum lembut.

“Kalian datang.”

Di bawah tatapan penuh perhatian Nata Wijaya, Arka segera menggenggam tangan kecil Ratna.

Tangannya lembut dan halus, tetapi terasa dingin—mungkin karena ia berlatih Teknik Awan Beku.

Tubuh Ratna langsung menegang.

Namun ketika ia hendak menarik tangannya kembali, ia menyadari Nata Wijaya sedang memandang mereka. Ia pun menahan diri dan membiarkan Arka menggandengnya.

Benar-benar bajingan… gumamnya dalam hati.

“Kakek, kakek bangun pagi lagi hari ini,” sapa Arka.

“Ratna memberi hormat kepada kakek,” ucap Ratna Pradana sambil memberi salam dengan anggun.

Seandainya bukan karena tenaga dalamnya bisa langsung terdeteksi oleh Nata Wijaya yang berada di puncak Alam Tenaga Dalam Sejati, ia pasti sudah membekukan Arka Wijaya dengan Teknik Awan Beku.

“Haha, kalian berdua juga bangun sangat pagi,” kata Nata Wijaya dengan wajah cerah.

“Arka, Ratna… meskipun usia enam belas tahun masih sangat muda untuk menikah, setidaknya ini membuat hatiku sedikit lebih tenang.”

Ia memandang Ratna dengan lembut.

“Ratna, kamu tentu sudah tahu kondisi Arka. Sejujurnya, pernikahan ini memang tidak adil bagimu. Namun keluarga kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menebusnya. Harapan terbesarku sekarang hanyalah melihat kalian hidup dengan damai.”

Ratna belum sempat menjawab.

Arka sudah lebih dulu menyela,

“Kakek, jangan bilang begitu! Aku ini cucu kakek. Di bawah langit ini tidak ada wanita yang tidak pantas untukku.”

“Setelah masuk keluarga, tentu dia harus memberi hormat kepada kakek dan merawatku dengan baik. Kalau tidak, aku akan menceraikannya dan mencari istri yang lebih baik. Benar begitu, istriku Ratna?”

Ratna hampir saja membekukan mulut Arka saat itu juga.

“Hahaha!”

Nata Wijaya tertawa lepas.

“Dasar bocah. Ratna baru saja masuk keluarga, tapi kamu sudah menggertaknya.”

“Kalian belum sarapan, bukan? Aku sudah menyuruh Harun menyiapkan sarapan. Ayo kita makan bersama.”

Baru saja mereka hendak duduk, tiba-tiba terdengar langkah kaki tergesa dari luar.

“Tetua Kelima! Apakah Tetua Kelima ada di sini?!”

“Ada apa?” tanya Nata Wijaya.

“Perintah Kepala Keluarga! Semua Tetua Keluarga diminta segera berkumpul di Aula Keluarga untuk membahas urusan besar yang menyangkut masa depan Keluarga Wijaya!”

Nata Wijaya terdiam sejenak.

Sepanjang ingatannya, belum pernah ada panggilan mendesak sepagi ini.

Ia mengenakan mantelnya lalu berkata,

“Kalian makan saja dulu. Tidak perlu menungguku.”

Setelah itu ia segera pergi.

Begitu Nata Wijaya pergi, Arka langsung melepaskan genggaman tangan Ratna dan melompat mundur.

“Istriku Ratna, kamu pasti mengerti bahwa aku menggenggam tanganmu tadi hanya untuk menenangkan hati kakek. Aku benar-benar tidak punya niat lain.”

Ekspresi Ratna kembali dingin.

“Jika kamu berani menyentuh tubuhku lagi tanpa izin, aku tidak akan bersikap sopan seperti ini.”

“Eh! Tidak separah itu, kan?” Arka berkata dengan wajah muram.

“Kita ini pasangan suami istri yang sah! Baru menikah kurang dari sehari, tapi kamu sudah sedingin ini…”

Ratna benar-benar tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Amarahnya tadi perlahan mereda.

“Sudahlah. Mari makan.”

Arka langsung tersenyum lebar.

“Jadi istriku Ratna sudah tidak marah lagi? Hehe… begitu dong!”

Ia memindahkan kue kacang hijau dari piringnya ke piring Ratna.

Ratna terdiam.

Dalam hatinya, ia mulai meragukan keputusan yang telah ia ambil meminta izin kepada gurunya untuk tinggal di sisi Arka selama satu bulan.

Keputusan itu terasa…

sangat keliru.

Dan juga…

sangat berbahaya.

Baru setelah Arka dan Ratna selesai menyantap sarapan, Nata Wijaya kembali. Wajahnya tampak jauh lebih berat dari biasanya, disertai sisa keterkejutan yang belum sepenuhnya memudar.

“Kakek, ada apa?” Arka segera bangkit berdiri dan bertanya.

“Peristiwa besar. Bagi Keluarga Wijaya, ini urusan yang sangat penting,” ujar Nata Wijaya. Namun, kerutan di dahinya perlahan mengendur. “Tapi seharusnya tidak ada hubungannya dengan kita.”

“Urusan besar? Urusan seperti apa?” Arka semakin terkejut.

“Perguruan Wijaya.”

“Perguruan Wijaya?” Kali ini, bukan hanya Arka, bahkan Ratna pun mengangkat alisnya.

“Sekitar setengah jam yang lalu, Kepala Keluarga menerima sepucuk surat dari Perguruan Wijaya. Isinya menyatakan bahwa Perguruan Wijaya akan segera mengirim sekelompok orang ke sini. Bukan hanya itu, pemimpin rombongan tersebut adalah putra bungsu dari Pemimpin Perguruan Wijaya saat ini, Rangga Wijaya,” kata Nata Wijaya perlahan.

Berita ini membuat Arka terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Kalau begitu, ada yang tidak masuk akal. Meski Keluarga Wijaya kita memang berasal dari Perguruan Wijaya seratus enam puluh tahun yang lalu, Perguruan Wijaya selalu memandang kita dengan jijik dan meremehkan. Setelah lebih dari seratus tahun terpisah, mustahil masih ada orang di Perguruan Wijaya yang peduli pada Keluarga Wijaya kecil seperti kita. Mengapa mereka tiba-tiba mengirim orang ke sini? Jika dibilang mereka punya rencana tersembunyi… pengaruh Perguruan Wijaya begitu besar hingga menutupi langit, untuk apa mereka bersusah payah merencanakan sesuatu terhadap kita? Dan kalau dikatakan mereka ingin memberi kita kebaikan… itu lebih tidak mungkin lagi.”

Nata Wijaya menggelengkan kepala. “Tentu saja ada alasannya. Leluhur pendiri Keluarga Wijaya kita, Surya Wijaya, sebenarnya diusir secara diam-diam dari Perguruan Wijaya karena bakatnya terlalu biasa. Namun, ayahnya saat itu adalah Tetua Balai Penegakan Hukum Perguruan Wijaya, Bayu Wijaya. Tidak lama berselang, Bayu meninggal dunia. Pada tahun terakhir sebelum wafat, pikirannya tidak lagi tertuju pada kekuasaan dan ketenaran, melainkan pada kenyataan bahwa ia masih memiliki seorang putra bernama Surya Wijaya. Setelah seratus tahun tanpa kabar, hatinya diliputi rasa bersalah. Ia meninggalkan wasiat terakhir, berharap agar Perguruan Wijaya, setelah kematiannya, mencari keturunan Surya Wijaya dan memilih satu anak muda paling berbakat untuk dibawa kembali ke Perguruan Wijaya guna dibina. Ini juga dimaksudkan sebagai permintaan maaf atas sikap acuh tak acuh dan pengusiran yang pernah ia lakukan terhadap Surya Wijaya.”

1
Uswatun Hasanah
lanjutkan
Uswatun Hasanah
lanjut
Uswatun Hasanah
bagus... up
Jojo Shua
gasss
Sastra Aksara: Gasss terus 😄😄
total 1 replies
Oktafianto Gendut
alurnya kerennn
Sastra Aksara: Terimakasih kak. Terus Support yaa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!