NovelToon NovelToon
GAMON

GAMON

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: Vianza

"Cintai aku sekali lagi."

(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)

---

"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Rina Mulai Curiga

...GAMON...

...Bab 27: Rina Mulai Curiga...

...POV Rina...

---

Senin – 09.00 WITA

Villa di Umalas – Canggu

Rina bangun dengan matahari yang masuk lewat celah gorden.

Dia geliat. Capek. Tapi capek yang enak. Badan pegel. Tapi senyum nggak lepas dari bibir.

Tangan kanannya, tanpa sadar, nyari sisi ranjang yang kosong. Dingin. Bima udah bangun.

Rina duduk. Rambut berantakan. Pake kaos besar Bima—dia ambil dari koper tanpa bilang. Wangi sabun Bima masih nempel. Wangi yang udah familiar. Wangi yang bikin dia nyaman.

Dari luar, ada suara air.

Rina buka pintu kamar. Bima lagi di kolam. Pake kacamata renang, nggak pake baju. Badannya—berisi, lebih padet dari dulu. Hasil gym setahun terakhir.

Tapi yang bikin Rina berhenti, bukan badannya.

Matanya.

Bima lagi liat ke langit. Kosong. Kayak lagi liat sesuatu yang nggak ada. Kayak lagi mikir sesuatu yang jauh. Jauh banget.

Rina duduk di pinggir kolam. Kaki dicelupin ke air. Dingin.

"Bim."

Bima nengok. Matanya berubah—dari kosong jadi hangat. Cepet. Kayak ditukar.

"Udah bangun?"

"Iya." Rina senyum. "Lo dari tadi di sini?"

"Subuh udah bangun. Nggak bisa tidur lagi."

Rina diem. Mikir. Kenapa nggak bisa tidur lagi? Karena mimpi? Karena mikir? Karena apa?

Tapi dia nggak nanya.

"Aku buatin kopi, ya."

Bima naik dari kolam. Air ngetes. Badannya basah. Rina kasih handuk. Bima elus rambutnya—basah juga, karena tadi dicelupin ke kolam.

"Makasih."

---

10.00 WITA

Dapur Kecil Villa

Rina sibuk di dapur. Kecil. Tapi lengkap. Kompor, kulkas, kopi, roti, telur. Rina buat scrambled egg, roti bakar, dan kopi hitam buat Bima.

Bima duduk di meja. Ponsel di tangan. Sesekali liat. Sesekali scroll. Lalu tutup. Liat ke luar jendela. Buka lagi.

Rina liat itu dari dapur.

Kenapa dia buka tutup terus?

"Bim, kopi udah."

Rina taruh cangkir di depan Bima. Warna cokelat gelap. Wangi robusta.

"Makasih, Rin."

"Lo ada kerjaan?"

Bima kaget dikit. "Nggak. Lagi baca berita."

Rina diem. Dia tahu Bima bohong. Karena pas dia liat sekilas tadi—layar ponsel Bima nggak hitam-putih kayak berita. Ada warna. Ada foto.

Tapi Rina nggak nanya.

---

13.00 WITA

Pantai Pandawa – Dalam Perjalanan

Rina sibuk dengan kamera. Setiap kali lihat pemandangan bagus—pohon kelapa, laut biru, tebing putih—dia potret. Kadang ajak Bima foto bareng. Bima nurut. Senyum di depan kamera.

Tapi pas kamera turun, senyumnya ilang.

"Bim, senyum dong!" Rina dari balik kamera.

Bima senyum. Lebar.

Klik.

Rina liat hasilnya. Senyum Bima lebar. Tapi matanya—matanya nggak ikut senyum.

Dia lihat foto itu lama.

"Gimana?" tanya Bima.

Rina cepet-cepet tutup kamera. "Bagus."

Tapi di dalam hati, ada sesuatu yang mengganjal.

---

16.00 WITA

Pantai Pandawa

Mereka duduk di pasir. Es kelapa muda. Payung besar di atas. Ombak pecah di depan. Ramai—banyak turis. Tapi buat Rina, ini surga.

"Bim, lo tahu nggak, aku pernah mimpi ke sini."

Bima nyruput es kelapa. "Mimpi?"

"Iya. Waktu masih SMA. Liat temen-temen pada liburan ke Bali. Aku nggak ikut. Ibu nggak punya uang. Tapi aku mimpi suatu hari nanti, aku ke sini sama suamiku."

Rina tatap Bima.

"Dan sekarang... aku di sini. Sama lo."

Bima tatap balik. Senyum.

"Lo seneng?"

"Seneng banget."

Tapi di dalem hati, Rina ngerasa ada yang kurang. Bukan Bima yang kurang. Tapi... ada sesuatu. Sesuatu yang nggak bisa dia sebut. Sesuatu yang bikin Bima kayak... nggak sepenuhnya di sini.

---

18.00 WITA

Restoran Jimbaran – Makan Malam Lagi

Meja yang sama. Lampu-lampu kecil yang sama. Bau ikan bakar yang sama.

Rina pesan ikan bakar, udang, cumi. Bima pesan yang sama.

Mereka makan. Bima ngobrol. Rina ketawa.

Tapi di sela-sela, Rina liat Bima liat ke laut. Kosong. Kayak liat sesuatu yang nggak ada.

"Bim."

Bima nengok. "Hmm?"

"Lo mikirin apa?"

Bima diem sebentar.

"Nggak. Cuma liat ombak."

Rina tahu itu bohong. Tapi dia nggak nanya lebih.

"Aku mau ke toilet, ya."

Bima ngangguk.

---

18.15 WITA

Toilet Restoran

Rina berdiri di depan cermin. Wajahnya sendiri. Masih cantik—makeup masih rapi. Tapi matanya—matanya ada yang berbeda. Ada ragu.

Kenapa aku curiga?

Dia suamiku. Dia milih aku. Dia nikah sama aku.

Tapi kenapa...

Kenapa dia kayak nggak pernah beneran ada?

Rina cuci muka. Tarik napas. Balik ke meja.

---

18.30 WITA

Meja Makan – Restoran Jimbaran

Bima lagi liat ponsel. Layar nyala. Matanya fokus. Nggak kedip.

Rina jalan mendekat dari belakang. Mau kasih kejutan.

Tapi pas jarak tinggal tiga langkah, dia lihat layar ponsel Bima.

Foto.

Foto cewek. Cewek dengan rambut panjang, senyum lebar, pegang es krim. Latar belakang gunung. Foto lama—keliatan dari kualitasnya. Bukan foto baru.

Rina berhenti.

Dadanya berdegup kencang. Tangannya gemetar. Matanya—nggak bisa lepas dari layar itu.

Bima masih nggak sadar. Dia liat foto itu. Lama. Kayak liat sesuatu yang sangat berharga.

Lalu dia scroll ke atas. Cepet. Buka chat.

Chat dengan nama yang nggak Rina kenal. Tapi dia liat sekilas—baris terakhir.

"Maafin aku."

Rina mundur. Langkahnya pelan. Balik ke toilet.

Pintu ditutup. Tubuhnya jatuh di dinding.

Maafin aku.

Dua kata itu. Dikirim ke cewek lain. Oleh suaminya. Di bulan madu.

Rina nggak nangis. Matanya kering. Tapi dadanya sesak. Kayak ada yang ngepres. Susah napas.

Ini yang aku takutin.

Ini yang selama ini aku hindari.

Dia masih ada. Dia masih di sana. Di dalam hati Bima.

Rina duduk di lantai toilet. Punggung sandar ke pintu.

Dia liat cincin di jarinya. Emas putih. Ukiran dedaunan. Cincin yang Bima pilih. Cincin yang Bima pasang di jarinya seminggu lalu.

Sekarang, cincin itu terasa berat.

---

19.00 WITA

Meja Makan – Bima Sendirian

Bima nutup ponsel. Rina belum balik dari toilet.

Dia liat ke laut. Gelap. Ombak masih pecah. Tapi sekarang nggak ada lampu-lampu kecil yang bikin romantis. Cuma gelap. Dan suara air.

Kenapa gue buka foto itu?

Kenapa gue buka chat itu?

Kenapa gue nggak bisa hapus?

Dia tutup mata. Di balik kelopak, Keana masih ada. Masih tersenyum. Masih pegang es krim.

"Bim."

Bima kaget. Rina udah di samping. Wajahnya biasa. Senyum.

"Lama banget."

Rina duduk. "Antri."

Bima liat dia. Ada yang beda. Matanya. Matanya kayak... merah? Atau cuma efek lampu?

"Lo baik-baik aja?"

Rina senyum. Senyum yang lebar.

"Baik. Aku laper."

Mereka makan. Rina ketawa. Cerita tentang ibu-ibu di toilet yang ramah.

Bima ikut ketawa.

Tapi di dalam hati Rina, ada yang pecah.

---

22.00 WITA

Villa – Kamar Tidur

Rina udah di ranjang. Bima masih di ruang tamu.

Rina pejam mata. Tapi nggak tidur. Dia nunggu.

Suara langkah kaki. Bima masuk. Lampu dimatikan. Dia rebahan di samping Rina. Nggak nyender. Nggak peluk. Cuma rebahan.

"Bim."

"Hmm?"

Rina balik badan. Hadap Bima. Gelap. Tapi dia bisa lihat garis wajah Bima.

"Lo sayang aku, kan?"

Bima kaget.

"Iya. Kok nanya?"

Rina diem sebentar.

"Nggak. Cuma pengen denger."

Bima ambil tangannya. Genggam.

"Gue sayang lo, Rin."

Rina senyum. Tapi di dalam, ada perih.

Karena dia tahu. Bima sayang. Tapi sayangnya Bima... mungkin nggak cukup. Atau mungkin sayangnya Bima... bukan untuk dia sepenuhnya.

---

Bersambung ke Bab 28: Curhat ke Ibu Mertua

---

...Preview Bab 28:...

Rina nggak bisa tidur. Setiap kali pejam mata, dia liat foto itu. Cewek dengan es krim. Senyum yang bukan untuknya.

Esoknya, dia telepon Ibu Bima. Bukan mau ngadu. Tapi... dia bingung.

Ibu dengerin. Lalu bilang: "Anakku masih luka, Rin. Sabar, ya."

Rina nangis. Tapi dia janji. Dia akan sabar.

Bab 28: Curhat ke Ibu Mertua—segera!

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!