NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Waktu merangkak maju dengan kelambatan yang menyiksa jiwa. Keheningan Kastil Ravenscroft terasa tebal, hanya dipecahkan oleh detak jantungnya sendiri yang berdegup lamban dan teratur. Di luar jendela, pekatnya malam mulai memudar, digantikan oleh semburat abu-abu pucat yang perlahan merayap naik di ufuk timur. Tidak ada rona keemasan atau kehangatan merah muda pada fajar di wilayah utara; yang ada hanyalah cahaya monokrom yang mengingatkan pada warna mayat yang terbengkalai di atas salju.

Suhu di dalam kamar mencapai titik terdinginnya. Udara yang terhirup terasa membekukan bulu-bulu halus di hidungnya. Genevieve tetap tak bergeming, matanya setengah terpejam, mempertahankan perannya dengan disiplin mental yang luar biasa.

Sayup-sayup, dari kedalaman perut kastil, suara kehidupan mulai terdengar. Dentang lonceng menara berbunyi pelan, menandakan pergantian shift pagi para penjaga. Suara derit kayu dari gerbang utama yang dibuka, lolongan anjing pemburu dari halaman belakang, dan akhirnya... suara gesekan sol sepatu dari ujung lorong batu di luar kamarnya.

Jantung Genevieve melewatkan satu detaknya, namun wajahnya tetap sedatar permukaan danau yang membeku. Langkah kaki itu tidak diseret seperti kemarin pagi. Langkah itu terdengar lebih cepat, lebih terburu-buru, dan membawa bobot kecemasan yang kental. Itu adalah langkah seseorang yang dikejar oleh tenggat waktu kematian, seseorang yang sangat putus asa untuk menyelesaikan tugas kotornya.

Suara derit nyaring dari engsel logam memecah kesunyian kamar. Pintu ek raksasa itu didorong terbuka, kali ini tertahan sedikit sebelum terbuka lebar, menandakan keraguan sekejap dari sosok yang berdiri di baliknya.

Martha melangkah masuk.

Hawa dingin dari koridor kembali menerobos masuk, namun kali ini membawa aroma yang lebih pekat: bau herbal yang sangat tajam, wangi tanah basah yang menyengat, yang bercampur dengan bau keringat gugup dari sang pelayan.

Di atas nampan kayu yang dipegang erat oleh Martha, tidak ada bubur atau makanan apa pun. Hanya ada satu objek: sebuah cangkir keramik besar yang mengepulkan asap tebal. Uapnya menari-nari di udara dingin, membawa serta aroma racun akar Silvershade yang konsentrasinya telah dilipatgandakan hingga ke titik yang mematikan. Cairan di dalam cangkir itu pasti memiliki warna pekat yang mengerikan, begitu kental hingga aromanya saja bisa membuat kepala pusing.

Melalui celah bulu matanya yang dibiarkan setengah terbuka, Genevieve menatap wajah Martha. Pelayan wanita itu tampak kacau. Bintik-bintik di wajahnya terlihat kontras dengan kulitnya yang memucat pasi. Kantung matanya menghitam, menandakan ia tidak tidur semalaman penuh—teror dari ancaman Gideon dan algojo ibukota jelas telah menghantuinya. Bibir Martha terkatup rapat, rahangnya mengeras dalam tekad yang gelap, namun tangannya yang memegang nampan itu bergetar hebat. Cangkir keramik itu berdenting pelan, beradu dengan permukaan nampan kayu berulang kali, menciptakan melodi kematian yang sumbang.

Martha berjalan mendekati sisi ranjang dengan langkah kaku. Matanya menatap tajam ke arah sosok Lady Genevieve yang terbaring tak berdaya. Genevieve memainkan perannya dengan brilian. Ia mengeluarkan suara rintihan tertahan dari pangkal tenggorokannya, sebuah erangan lemah yang terdengar sangat menyayat hati, seolah sekadar menarik napas saja adalah sebuah penderitaan yang tak tertahankan. Ia membiarkan kepalanya berguling lemah ke samping, menatap Martha dengan pandangan sayu yang kosong dan tidak fokus.

Kepuasan, bercampur dengan kelegaan yang sakit, melintas di mata Martha saat melihat kondisi majikannya yang begitu menyedihkan. *Dia hampir mati,* itulah yang pasti dipikirkan pelayan itu. *Satu dorongan lagi, dan mimpi buruk ini akan berakhir.*

Martha meletakkan nampan kayu itu di atas meja nakas dengan gerakan kasar, tidak peduli lagi jika suaranya akan mengejutkan majikannya. Ia menatap cangkir yang masih mengepul itu, lalu menoleh kembali pada Genevieve.

"Selamat pagi, Nyonya," sapa Martha. Suaranya terdengar tegang, terlalu tinggi dan melengking, kehilangan nada monotonnya yang biasanya meremehkan. "Kondisi Anda terlihat semakin memburuk pagi ini. Tabib kastil... tabib kastil menitipkan ramuan khusus untuk Anda. Anda harus meminumnya. Semuanya. Sampai tetes terakhir."

Genevieve tidak menjawab. Ia hanya menggerakkan bibirnya yang kering dan pecah-pecah tanpa mengeluarkan suara, meniru gerakan ikan yang kehabisan napas di daratan. Ia mengangkat tangan kirinya yang kurus kering dengan getaran yang sangat dramatis, seolah mencoba menggapai udara kosong di atasnya sebelum membiarkannya jatuh kembali ke atas selimut dengan bunyi gedebuk pelan.

Keheningan yang mencekam menggantung di antara mereka. Martha, yang tidak memiliki kesabaran lagi dan didorong oleh ketakutan akan nyawanya sendiri, akhirnya mengambil tindakan drastis. Ia tidak lagi menunggu majikannya mengambil cangkir itu sendiri.

Dengan tangan yang masih gemetar, pelayan itu meraih cangkir panas berisi racun kental tersebut dengan tangan kanannya. Tangan kirinya menjulur maju, berniat untuk mencengkeram rahang Genevieve, bersiap untuk memaksa wanita yang tampak sekarat itu membuka mulut dan menuangkan cairan mematikan itu secara paksa langsung ke tenggorokannya. Mata Martha membelalak lebar, memancarkan keputusasaan murni seorang pembunuh yang tersudut.

"Maafkan saya, Nyonya," desis Martha dengan suara bergetar saat jemarinya yang kasar hampir menyentuh kulit dingin di rahang Genevieve. "Tapi Anda harus mati hari ini."

Tepat pada detik di mana ujung jari pelayan itu bersentuhan dengan dagunya, ilusi kelemahan Lady Genevieve pecah berkeping-keping.

Mata biru kristal yang tadinya sayu dan kosong itu tiba-tiba terbuka lebar, memancarkan kilatan es yang tajam, nyalang, dan penuh dengan aura keagungan yang mematikan. Empat detik yang dikalkulasikan oleh Sistem dimulai sekarang.

Sebelum otak Martha sempat memproses perubahan drastis pada tatapan majikannya, tangan kanan Genevieve yang sejak semalam tersembunyi di bawah bantal melesat keluar dengan kecepatan yang menyerupai patukan ular berbisa. Jemarinya mencengkeram erat tusuk konde perak berujung mawar hitam. Dalam satu gerakan tunggal yang ditenagai oleh seluruh sisa energi vitalnya, Genevieve tidak menancapkan senjata itu ke leher atau dada pelayan tersebut. Tidak, itu akan terlalu berisik dan berisiko gagal.

Alih-alih, Genevieve menusukkan ujung tajam perak itu tepat ke punggung telapak tangan kanan Martha yang sedang memegang cangkir racun, menembus kulit dan menyematkannya dengan paksa.

Sebuah jeritan tertahan, yang bercampur antara keterkejutan luar biasa dan rasa sakit yang menyengat, keluar dari tenggorokan Martha. Cangkir keramik itu terlepas dari genggamannya yang seketika lumpuh.

Namun, sebelum cangkir berisi racun kental itu sempat jatuh dan pecah berkeping-keping di lantai batu, tangan kiri Genevieve—yang beberapa detik lalu terlihat sangat tak bertenaga—melesat dengan presisi yang mengerikan dan menangkap cangkir panas itu tepat di udara. Tidak ada setetes pun racun mematikan itu yang tumpah menyentuh seprai.

Waktu seakan membeku di dalam kamar redup itu.

Martha berdiri terpaku dengan tubuh gemetar hebat, napasnya tersentak putus-putus. Matanya melebar penuh horor menatap ujung tusuk konde perak yang kini menggores dalam punggung tangannya, dan kemudian perlahan naik, bertemu dengan tatapan membunuh dari Lady Genevieve yang kini duduk tegak di atas ranjang.

Genevieve menggenggam cangkir berasap itu dengan tangan kirinya yang stabil, tanpa getaran sedikit pun. Ia tersenyum—sebuah senyuman aristokrat yang sangat anggun, dingin, dan benar-benar tidak kenal ampun.

"Kau terlalu terburu-buru, Martha," bisik Genevieve pelan, suaranya jernih dan tajam seperti belahan pedang yang mengiris udara dingin. "Jika kau sangat ingin melihat seseorang meminum racun ini... mengapa kau tidak memulainya dengan dirimu sendiri?"

1
Bambang Widono
🙏👍💯💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏🙏
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗋𝗂𝗄
Wahyuningsih
thor sustemnya kok cuman gitu aja gk srulah
Wahyuningsih
thor buat suaminya menyesal d buat segan matipun tk mau biar nyakho dia n buat bbadaz abuz biar mkin keren
Wahyuningsih
q mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!