NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hangat di Tengah Air yang Dingin

Aku terbangun. Pak Bobi sepertinya sudah lebih dulu bangun.

Begitu membuka resleting tenda, udara dingin langsung menyentuh wajah. Di depan mata, permukaan danau terlihat tenang. Kabut tipis masih mengapung di atas air, perlahan menghilang saat tersapu sinar matahari yang mulai muncul dari balik puncak gunung.

Tidak ada suara bising. Hanya gemericik air yang pelan dan kicauan burung dari pepohonan rimbun di sekeliling. Semuanya terasa bersih, segar, dan sangat teduh.

Aku melihat Ayah Cila sedang menyiapkan alat pancing.

“Pak Bobi ke mana, Om?” tanyaku, sekadar basa-basi.

“Oo, dia lagi minta izin sewa rakit di danau itu. Nanti kita mancing pakai itu,” jawabnya sambil tersenyum. Wajahnya terlihat antusias, seolah menantikan momen ini.

“Wih, mantap tuh, Om,” balasku semangat.

“Cila sudah bangun, Om?” tanyaku lagi.

Tiba-tiba dari belakang terdengar suara, “Apa?”

Aku langsung menoleh sedikit kaget. Ayah Cila hanya tertawa kecil melihat reaksiku.

“Udah mandi belum?” tanya Cila santai.

“Belum. Emang kamu udah?” tanyaku balik.

“Belum, hehe,” jawabnya ringan. Lalu ia menoleh ke Ayahnya. “Emang di sini kalau mandi di mana, Pa?”

“Ya langsung nyemplung ke danau,” jawabnya santai.

“Tapi danaunya aman kan, Om?” tanyaku memastikan.

“Aman, asal bisa berenang!” jawab Ayah Cila.

“Berarti basah-basahan dong,” kata Cila dengan nada senang.

Kami pun mengambil perlengkapan mandi—sabun dan yang lainnya.

Aku sampai lebih dulu di dermaga. Perlahan kuturunkan kaki ke air, mencoba beradaptasi dengan dinginnya.

Tiba-tiba—

Byur!

Cila mendorongku ke danau.

Air langsung menelan tubuhku. Dengan cepat aku pura-pura panik.

“Tolong! Tolong, Cila! Aku nggak bisa berenang!” teriakku sambil membuat suara bergelembung, “Blub… blub…”

Cila langsung panik.

“Eh?! Serius?!” katanya, lalu tanpa pikir panjang ikut turun ke air untuk menolong.

Begitu ia masuk—

Airnya hanya setinggi leher.

Aku langsung muncul ke permukaan sambil tertawa.

“Baa! Hahaha… emang kamu pikir aku nggak bisa berenang?” kataku sambil menyeringai.

Cila menatapku kesal, masih sedikit terkejut.

“Ih! Nyebelin!” katanya sambil menyipratkan air ke wajahku.

“Haha, lagian siapa yang duluan?” balasku sambil meledek.

Aku lalu berenang menjauh sedikit ke bagian yang lebih dalam, lalu berbaring telentang di permukaan air, menatap langit.

“Kamu nggak bisa, kan, berenang kayak gini?” ujarku santai.

Cila hanya mendengus kecil, lalu ikut mencoba.

Dan ternyata…

dia lebih jago.

Kami pun akhirnya sama-sama mengapung santai, berenang telentang di danau, menatap langit yang perlahan semakin cerah.

Angin pagi berhembus pelan, membawa udara dingin yang menenangkan.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang kami bicarakan.

Hanya ada air yang tenang, langit yang luas… dan perasaan yang entah kenapa terasa hangat di tengah dinginnya pagi.

Setelah puas berenang, kami mandi seperti biasa di danau, masih dengan pakaian. Setelah itu, kami kembali ke tenda masing-masing untuk berganti baju.

Aku selesai lebih dulu. Tapi tidak dengan Cila.

Seperti biasa… lama.

Aku hanya bisa menghela napas kecil sambil menunggu. Kulihat Ayah Cila sudah selesai dengan persiapannya.

Aku pun ditawari sarapan, dan kami makan bersama terlebih dahulu.

Beberapa saat setelah sarapan selesai, barulah Cila keluar dari tendanya. Melihat itu, aku hanya bisa menepuk jidat dalam hati.

Tak lama kemudian, Pak Bobi datang. Ia memberi tahu bahwa kami sudah mendapat izin untuk menggunakan rakit di tepi danau.

Ayah Cila pun bersiap untuk berangkat.

“Papa duluan ya, Cila. Ndra, Om tunggu di sana sambil nyiapin,” katanya.

“Aku ikut bantu, Om,” jawabku.

“Lho, kok aku ditinggal?” keluh Cila.

“Nanti kamu nyusul. Itu dari sini juga kelihatan,” ujarku sambil menunjuk ke arah rakit di tengah danau.

“Pak Bobi nggak ikut?” tanyaku.

“Enggak, dia jaga barang di sini,” jawab Ayah Cila.

Aku dan Ayah Cila pun berjalan menuju rakit. Sesampainya di sana, kami mulai membuka ikatan dan menyiapkan segala sesuatunya.

Di sela-sela itu, aku mencoba membuka percakapan.

“Om, kalau boleh tahu… ulang tahun Cila kapan ya?” tanyaku, sedikit canggung sambil menggaruk kepala.

Ayah Cila menyebutkan tanggalnya. Intinya, masih sekitar enam bulan lagi.

“Ooo…” aku mengangguk pelan.

“Memangnya kenapa? Kok kamu kelihatan mikir?” tanya beliau.

Aku sedikit ragu, lalu menjawab, “Cila sukanya apa ya, Om…”

Ayah Cila langsung tertawa kecil.

“Haha… santai aja, Ndra. Masih lama,” katanya sambil menepuk pundakku.

“Lagian, ingat hari ulang tahunnya saja itu sudah cukup buat Cila,” tambahnya.

Aku ikut tertawa kecil, meski dalam hati masih sedikit bingung.

Tak lama kemudian, Cila datang. Melihat kami berdua di atas rakit, ia langsung bersuara,

“Kalian ngomongin aku, ya?”

“Dih, geer,” jawabku cepat. “Ayo, naik.”

Aku mengulurkan tangan untuk membantunya naik ke rakit agar tetap seimbang.

Cila menerimanya, lalu berdiri di sampingku.

Dan akhirnya, kami pun mulai berangkat, perlahan menjauh dari tepi danau.

Perlahan, rakit kami mulai menjauh dari tepian danau menuju bagian tengah. Sepertinya Ayah Cila sudah tahu betul di mana spot memancing terbaik.

Aku menatap sekeliling.

Kabut tipis yang tadi menyelimuti permukaan danau kini mulai menghilang, berganti dengan udara pagi yang terasa segar dan bersih.

Matahari perlahan naik, sinarnya yang hangat menembus celah-celah dedaunan pohon besar di sekitar danau. Di atas air yang tenang, bayangan pegunungan dan langit cerah terpantul begitu jelas.

Suara burung-burung terdengar semakin riuh, seolah menyambut hari yang mulai hidup.

Sesampainya di titik yang dituju, kami mulai memasang umpan. Satu per satu, joran diayunkan, melemparkan kail ke permukaan air yang tenang.

Dalam diam, kami menikmati suasana alam yang asri sambil menunggu umpan disambar ikan.

Tak lama kemudian, pelampung milik Ayah Cila bergerak.

Dengan timing yang tepat, beliau menarik joran—dan ikan pertama pun berhasil didapatkan.

Tak berselang lama, aku menyusul.

“Yeeey, aku dapat yang besar!” seruku sambil memperlihatkannya ke arah Cila, lalu memasukkannya ke dalam keranjang.

Cila hanya manyun, menunjukkan wajah kesalnya.

Beberapa saat berlalu.

“Ih, kok aku belum dapat sih…” keluhnya.

“Sabar ya,” jawabku santai.

Setelah aku dan Ayah Cila beberapa kali mendapatkan ikan—mungkin sudah yang ketiga atau keempat—Cila masih belum juga mendapatkannya.

Aku pun terpikir untuk menghiburnya.

Saat pelampungku mulai bergerak, tanda ada tarikan, aku segera memberikan joran itu padanya.

“Cil, nih. Coba tarik. Kayaknya udah dapat,” kataku.

Cila langsung sigap memegang joran itu dan mulai menariknya.

Sementara itu, aku cepat-cepat mengambil ponsel untuk mengabadikan momen.

“Tarik, bang…” godaku sambil merekam.

Cila terlihat sedikit menahan tawa, tapi juga kewalahan karena tarikan ikan yang cukup kuat.

Beberapa detik kemudian, akhirnya ikan itu berhasil diangkat dengan bantuan Ayah Cila.

“Yeeey! Dapet!” seru Cila dengan wajah yang langsung berubah cerah.

Ikan yang didapatkannya bahkan lebih besar dari yang sebelumnya.

“Ayo, tunjukin ke sini! Dari tadi aku rekam, lho!” kataku sambil mengarahkan kamera.

Cila pun mengangkat ikan itu ke arah kamera dengan senyum lebarnya.

Setelah itu, aku menghentikan rekaman dan beralih ke kamera foto.

“Sekarang ayo kita foto,” ajakku, ingin mengabadikan momen kebersamaan Cila dan ayahnya.

Beberapa foto pun kami ambil.

Tak terasa, matahari semakin tinggi. Kami pun memutuskan untuk kembali.

Rakit mulai kami dayung perlahan menuju tepian danau. Sesampainya di sana, kami mengikatnya kembali agar tidak hanyut.

Setelah itu, kami membereskan semuanya—melipat tenda, merapikan peralatan, dan membersihkan sisa-sisa sampah agar tempat ini tetap indah.

Dan akhirnya, kami pun bersiap meninggalkan danau, kembali menuju kota dengan membawa kenangan yang hangat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!