Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum yang Mulai Berarti
Hari-hari kembali berjalan.
Namun bagi Ryan ada sesuatu yang berubah.
Bengkel itu masih sama.
Panas, berisik, dan penuh bau oli.
Tapi entah mengapa ia jadi lebih sering melihat ke arah jalan.Seolah menunggu sesuatu atau seseorang.
Ryan sendiri tidaklah suka dengan perasaan itu.Ia bukan tipe orang yang berharap pada hal yang tidak pasti Namun kenyataannya pikirannya kembali teringat pada Arini.
Sudah dua hari sejak gadis itu datang terakhir Dan tanpa sadar, Ryan mulai merasa sepi.
“Gila,” gumamnya pelan sambil mengencangkan baut.apa apaan mikirin dia.
Ia menggeleng, dan mencoba fokus.
Namun tepat saat itu
suara mesin mobil kembali terdengar.
Ryan refleks menoleh
Dan kali ini, ia tidak bisa menyembunyikan reaksinya.
Mobil itu lagi.
Tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat.
Pintu mobil terbuka.Arini keluar seperti biasa, dengan langkah tenang yang selalu membuat suasana terasa berbeda.
“Sepertinya aku datang terlalu sering,” ucapnya sambil tersenyum tipis.
Ryan mengangkat bahu.
“Selama bukan buat nambah kerjaan, tidak masalah.”jawab Ryan.
Arini pun tertawa kecil.
Suara tawanya ringan, tapi cukup membuat Ryan diam sejenak.
“Aku tidak bawa masalah hari ini,” kata Arini.
“Lalu?”tanya Ryan.
Arini mengangkat sebuah kantong kecil.
“Aku bawa ini.”Ryan mengernyit.
“Apa itu?”tanya Ryan lagi.
“Makanan.”jawab gadis itu.
Ryan terdiam.
“Buat… saya?”
Arini mengangguk santai.
“Kamu kemarin tidak mau dibayar. Jadi aku pikir… setidaknya aku bisa membalas dengan cara lain.”
Ryan tidak langsung mengambilnya.
Ia bukan orang yang terbiasa menerima pemberian, apalagi dari orang seperti Arini.
Namun melihat ekspresi Arini yang santai tanpa kesan merendahkan akhirnya ia menerima.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Arini tersenyum.
“Sama-sama.”
Ryan membuka sedikit kantong itu.
Isinya makanan yang jelas bukan makanan biasa.
Bukan yang ia makan sehari-hari.
“Kamu tidak perlu repot,” katanya.
Arini menatapnya.
“Aku mau.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi membuat Ryan tidak bisa berkata apa-apa.
Mereka duduk di bangku kayu depan bengkel.
Untuk pertama kalinya…
Ryan tidak langsung kembali bekerja.
Ia makan pelan, sementara Arini duduk di sampingnya Melihat jalan.
Melihat kehidupan yang jauh dari dunianya.
“Aneh ya,” kata Arini tiba-tiba.
“Apa?”
“Tempat ini… sangat sederhana.”
Ryan tertawa kecil.
“Bisa dibilang begitu.”
“Tapi…” Arini melanjutkan, “rasanya lebih tenang.”
Ryan menoleh.
“Kamu tidak terbiasa dengan ketenangan?”
Arini tersenyum tipis.
“Di duniaku… semuanya ramai. Tapi tidak selalu nyaman.”
Ryan terdiam.
Ia tidak sepenuhnya mengerti dunia Arini.
Namun ia bisa merasakan
gadis itu tidak sebahagia yang terlihat.
“Kalau di sini…” lanjut Arini, “aku bisa jadi diri sendiri.”
Ryan menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Kalau begitu… datang saja sesekali.”
Arini menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk beberapa detik…
tidak ada yang berbicara.
Namun suasana itu tidak canggung.
Justru terasa hangat.Arini tersenyum.
“Baik.”
Waktu berlalu tanpa terasa.
Hari mulai sore.
Langit perlahan berubah warna.
Arini berdiri.“Aku harus pergi.”
Ryan mengangguk.
“Iya.”
Namun kali ini… ada sedikit rasa tidak ingin.
Yang bahkan Ryan sendiri tidak mengerti.
Arini berjalan menuju mobilnya.
Namun sebelum masuk, ia berhenti.
Menoleh kembali.
“Ryan.”
“Iya?”
“Kamu tidak pernah bertanya tentang aku.”
Ryan sedikit terdiam.
“Perlu?”
Arini tersenyum.
“Harusnya iya.”
Ryan menghela napas pelan.
Lalu berkata,
“Kalau kamu mau cerita… aku dengar.”
Jawaban itu membuat Arini diam sejenak.
Seolah tidak menyangka.
Namun kemudian ia tersenyum.
“Lain kali.”
Ryan mengangguk.
“Baik.”
Arini masuk ke mobil.
Dan seperti sebelumnya
mobil itu kembali menjauh.
Namun kali ini…
Ryan tidak hanya mengingat namanya.
Ia mulai mengenal sedikit tentang siapa Arini.
Dan tanpa ia sadari perasaan itu mulai tumbuh perlahan lahan namun pasti.