Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24. Kemarahan Dante
Lampu kristal di aula utama meredup, menyisakan pendar keemasan yang suram. Dante berdiri di tengah ruangan, mencengkeram cambuk sutra hitam dengan jemari yang memutih. Matanya yang biru es berkilat dengan amarah yang sanggup membekukan darah saat pintu aula terbuka.
Aira melangkah masuk dengan keanggunan yang mematikan. Jubah hitam Zane tersampir di bahunya seperti piala kemenangan. Ia tidak menunduk; ia justru menatap Dante dengan smirk yang sangat merendahkan. Zane berjalan satu langkah di belakangnya, tangan di gagang pedang, siap mati demi wanita di depannya.
"Selamat datang kembali, Nyonya," suara Dante rendah, bergetar oleh kecemburuan yang gila. "Saya tidak tahu bahwa Nyonya rumah ini sekarang gemar berkeliaran di hutan seperti pencuri, hanya untuk kembali dengan aroma pengawal rendahan di kulitnya."
Aira berhenti tepat di depan Dante. Tanpa melepaskan kontak mata, ia melepaskan jubah Zane dan membiarkannya jatuh ke lantai marmer dengan suara yang menghina.
"Kau berisik sekali, Dante," desis Aira. Ia tidak gemetar. Ia justru melangkah maju, memangkas jarak hingga dadanya hampir bersentuhan dengan dada Dante. "Apakah aku butuh izin darimu untuk menghirup udara malam? Sejak kapan kau merasa punya hak untuk menginterogasiku?"
Dante mencengkeram rahang Aira dengan kasar, matanya tertuju pada noda darah di leher Aira. "Darah siapa ini?! Apa yang kau berikan padanya di kegelapan itu, Isabella?!"
Aira tidak meringis. Ia justru tertawa kecil, sebuah tawa yang meremehkan harga diri Dante sebagai kepala pelayan. Ia mengangkat tangannya yang terluka—bekas irisan belati Zane—dan mengusapkannya ke pipi Dante, meninggalkan noda merah di kulit pria itu.
"Itu adalah darah rahasia, Dante. Sesuatu yang tidak akan pernah kau miliki karena kau terlalu sibuk dengan aturan-aturan konyolmu," ujar Aira dengan nada yang sangat sensual namun kejam. "Kau ingin menghukum Zane karena membawaku keluar? Silakan. Tapi ingat, setiap cambukan yang kau berikan padanya, akan kubalas sepuluh kali lipat padamu di dalam kamar nanti."
Dante tertegun. Kekejaman Aira yang tenang ini justru membuatnya semakin terobsesi.
"Berlutut, Zane!" teriak Dante, menghantamkan cambuknya ke lantai. CARRRR!
Zane bersiap menghunus pedangnya, namun Aira mengangkat tangannya. "Zane, berlututlah. Biarkan dia merasa menang sejenak."
Zane perlahan turun ke satu lutut. Dante mengangkat cambuknya, namun Aira berdiri di depan Zane, melindungi pengawalnya itu. Ia menatap mata Dante dengan tatapan yang seolah berkata: Coba saja jika kau berani.
"Kau benar-benar ingin mengujiku, Dante?" tantang Aira. Ia merebut cambuk itu dari tangan Dante dengan sentakan kasar—memanfaatkan keterkejutan pria itu. "Kau marah karena aku berbagi darah dengan Zane? Kalau begitu, mari kita buat kesepakatan. Kau boleh menghukumnya, tapi kau harus melakukannya sambil melihatku menciumnya. Bagaimana?"
Dante mematung. Harga dirinya hancur berantakan di bawah smirk Aira. Ia menyadari bahwa Aira bukan lagi mangsa; Aira adalah pemilik sah dari setiap rasa sakit dan gairah di rumah ini.
"Kembalilah ke kamarmu, Dante," perintah Aira, suaranya kini sehalus sutra namun setajam belati. "Dan bersyukurlah aku masih membiarkanmu memegang kunci mansion ini. Jika kau berulah lagi, aku akan memberikan kunci itu pada Kael."
Aira melangkah melewati Dante yang masih terpaku, meninggalkan aroma mawar dan darah yang menyesakkan. Di dalam hatinya, Aira berbisik: "Jadi ini rasanya memegang kendali atas predator? Ternyata Isabella benar... ini jauh lebih baik daripada menjadi orang baik."
Di pojok ruangan, Isabella asli tertawa puas. Aira benar-benar telah menjadi "Monster" yang ia dambakan.
Aira melangkah maju, membiarkan ujung gaun beludrunya menyapu punggung tangan Zane yang masih bersandar di lantai marmer. Ia berdiri tepat di depan Dante, begitu dekat hingga ia bisa merasakan radiasi panas dari tubuh pria itu yang sedang menahan amarah luar biasa. Aira mengangkat tangannya, jemarinya yang lentik dan masih bernoda darah sisa sumpah di hutan tadi, dengan sengaja menyentuh kerah kemeja Dante yang kaku.
"Kau terlihat sangat menyedihkan saat sedang cemburu, Dante," bisik Aira, suaranya sehalus desiran beludru namun sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya. "Apakah kau takut posisimu sebagai anjing penjaga utamaku akan digeser oleh seorang bayangan yang jauh lebih... penurut?"
Dante menggeram, rahangnya mengeras hingga otot-otot di pelipisnya berdenyut. Ia mencengkeram pergelangan tangan Aira yang menyentuh kemejanya, namun Aira tidak meringis. Ia justru memberikan smirk yang lebih tajam, sebuah tatapan yang meremehkan setiap inci otoritas yang Dante banggakan.
"Lepaskan," perintah Aira pelan, namun mengandung kekuatan yang tak terbantahkan. "Atau aku akan menyuruh Zane memotong tangan yang berani menyentuhku tanpa izin ini. Kau lupa siapa yang memberimu hak untuk bernapas di rumah ini?"
Dante perlahan melepaskan cengkeramannya, matanya yang biru es kini meredup, dipenuhi oleh hasrat yang tersiksa. Ia menyadari bahwa wanita di depannya ini telah benar-benar bertransformasi. Bukan lagi sekadar Isabella yang kejam, tapi sosok manipulatif yang tahu cara menghancurkan harga diri pria paling perkasa sekalipun hanya dengan satu kalimat.
Aira berbalik menatap Zane yang masih berlutut. Ia mengulurkan tangannya pada Zane, sebuah gestur yang sangat intim di depan mata Dante. "Berdirilah, Zane. Kau telah melakukan tugasmu dengan sangat baik malam ini. Darah yang kita tumpahkan di hutan tadi adalah janji yang jauh lebih berharga daripada semua laporan formal yang dibuat Dante."
Zane berdiri, matanya berkilat penuh kemenangan saat menatap Dante. Ketegangan di aula itu kini mencapai titik didih. Aira kembali menatap Dante, ia mengambil cambuk sutra hitam dari tangan Dante dengan gerakan yang sangat lambat, seolah sedang mengambil mainan dari seorang anak kecil.
"Kau pikir kekuatan hanya ada pada senjata ini?" Aira bertanya dengan nada dingin yang menusuk. Ia mengembalikan cambuk itu ke tangan Dante, namun dengan cara yang menghina—membiarkan gagangnya jatuh ke lantai marmer sebelum Dante sempat meraihnya. "Kekuatan sejati adalah ketika aku bisa membuatmu merasa tak berdaya tanpa perlu menyentuh kulitmu sedikit pun."
Aira menatap Dante dengan tatapan yang kosong namun penuh otoritas. "Masuk ke ruang kerja dalam sepuluh menit. Bawa semua laporan keuangan yang selama ini kau sembunyikan. Jika kau ingin membuktikan kesetiaanmu, lakukan dengan kejujuran, bukan dengan kecemburuan yang kekanak-kanakan. Jika tidak, aku yakin Zane atau Kael akan lebih dari senang untuk melakukan audit terhadap semua asetmu."
Aira melepaskan ketegangan itu dengan berbalik arah, membiarkan Dante berdiri mematung di tengah aula yang dingin. Suara langkah sepatunya yang berirama tegas bergema di seluruh ruangan, menciptakan suasana mencekam bagi siapa pun yang mendengarnya. Ia tidak lagi memedulikan emosi yang berkecamuk di wajah Dante; baginya, setiap orang di ruangan ini hanyalah bidak dalam permainan yang lebih besar.
Di balik pilar gelap, Kael tetap diam, mengamati interaksi itu dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Ia melihat bagaimana fondasi kekuasaan Dante mulai retak, dan ia tahu bahwa saatnya untuk bergerak akan segera tiba. Ketegangan di antara para pelindung Aira bukan lagi sekadar persaingan pribadi, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas mansion tersebut.
Lanjuutt