Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Hujan turun dengan deras malam itu, mengguyur kota yang seolah ikut berduka. Aspal hitam berkilat memantulkan cahaya lampu jalanan yang remang-remang.
Di sebuah gudang pelabuhan yang terbengkalai di sektor selatan—wilayah kekuasaan yang baru saja diserang—suasana terasa seperti di neraka. Bau mesiu, darah, dan karat bercampur menjadi satu.
Kaelan melangkah masuk melalui pintu besi raksasa yang sudah penyok. Ia mengenakan setelan jas hitam pekat yang basah kuyup, memegang sebuah pistol SIG Sauer P226 di tangan kanannya. Di belakangnya, puluhan anak buahnya yang bersenjata lengkap menyebar seperti bayangan mematikan, menyisir setiap sudut gudang.
Mayat-mayat bergelimpangan di lantai beton yang dingin. Beberapa di antaranya adalah anak buah Kaelan, namun sebagian besar adalah pasukan bayaran berseragam hitam tanpa lambang yang disewa oleh Paman Arthur.
Di tengah gudang, terikat pada sebuah kursi kayu yang reyot, duduklah Paman Arthur. Pria tua yang selalu tampil angkuh di ruang rapat itu kini terlihat berantakan. Wajahnya babak belur, bibirnya pecah, dan setelan mahalnya berlumuran darah. Di sekelilingnya, lima sniper bayarannya tergeletak tak bernyawa.
Kaelan melangkah perlahan mendekati pamannya. Suara sol sepatunya yang beradu dengan genangan darah bergema mengerikan di dalam gudang yang kosong itu.
"Kau... kau monster, Kaelan," erang Arthur, meludahkan darah ke lantai. Matanya menatap Kaelan dengan campuran kebencian dan ketakutan yang mendalam. "Kau membantai orang-orangku seperti serangga."
Kaelan berhenti tepat di hadapan Arthur. Ia menodongkan moncong pistolnya yang masih berasap tepat ke dahi pria tua itu. Wajah Kaelan tidak memancarkan emosi apa pun. Sedingin es, segelap malam. Sang Bos Es telah kembali, menyingkirkan semua keraguan dan kelembutan yang ia rasakan di pulau tadi.
"Kau yang memulai simfoni peluru ini, Arthur," suara Kaelan datar, nyaris berbisik, namun menggetarkan udara di sekitarnya. "Kau berani menyentuh wilayahku. Kau menembak Dante dan Leo. Dan yang paling tidak bisa kumaafkan... kau berani mengirim pembunuh bayaran untuk menyentuh istriku."
"Istrimu?!" Arthur tertawa sumbang, tawanya berubah menjadi batuk berdarah. "Gadis jalanan itu?! Dia hanya pelacur murahan yang kau bayar untuk merusak aliansi kita dengan Vivaldi! Kau menghancurkan masa depan klan ini hanya demi lubang—"
DOR!
Suara tembakan memekakkan telinga.
Arthur menjerit kesakitan yang luar biasa. Kaelan tidak menembak kepalanya, melainkan menembak tepat di tempurung lutut kanan pamannya. Tulang lutut itu hancur berkeping-keping.
"Satu kata kotor lagi keluar dari mulut busukmu tentang Anya," desis Kaelan, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan Arthur yang kini menangis kesakitan, "aku akan memastikan peluru berikutnya bersarang di selangkanganmu."
Arthur terengah-engah, wajahnya pucat pasi menahan sakit yang tak tertahankan. Ia akhirnya menyadari bahwa keponakannya ini benar-benar tidak main-main. Anya bukanlah sekadar tameng kontrak; gadis itu adalah urat nadi Kaelan yang baru.
"B-bunuh saja aku," rintih Arthur putus asa. "Para Tetua lainnya... mereka tahu apa yang kulakukan. Mereka merestui seranganku malam ini! Jika kau membunuhku, kau akan menyatakan perang dengan seluruh dewan!"
Kaelan menegakkan tubuhnya. Ia memasukkan pistolnya kembali ke sarung di balik jasnya dengan gerakan tenang yang mengerikan.
"Membunuhmu terlalu mudah, Arthur. Dan terlalu kotor," ucap Kaelan dingin. Ia memberi isyarat tangan.
Dua anak buahnya melangkah maju, membawa sebuah koper perak dan sebuah dokumen tebal. Mereka meletakkan koper itu di atas meja kayu di dekat Arthur, lalu membukanya. Di dalamnya, tidak ada uang, melainkan puluhan flashdisk dan setumpuk foto.
Mata Arthur membelalak ngeri saat mengenali isi koper itu. "I-itu..."
"Bukti penggelapan dana klan selama lima tahun terakhir, rekening rahasiamu di Swiss, dan foto-foto perselingkuhanmu dengan istri walikota yang jika bocor, akan membuat sekutu politik kita menghancurkanmu sebelum dewan klan sempat bertindak," jelas Kaelan santai, seolah sedang membacakan menu sarapan.
Kaelan mengambil dokumen tebal dari tangan anak buahnya dan melemparkannya ke pangkuan Arthur yang bersimbah darah.
"Itu adalah surat penyerahan seluruh asetmu, sahammu di kasino, dan hak suaramu di dewan Tetua. Semuanya jatuh ke tanganku," lanjut Kaelan.
"Kau... kau memeras darah dagingmu sendiri?!" geram Arthur, tangannya gemetar memegang dokumen itu.
"Aku hanya mengambil kembali apa yang kau curi," Kaelan menunduk lagi, kali ini tatapannya mengunci mata Arthur dengan janji kematian yang absolut. "Tanda tangani. Malam ini juga. Lalu, kau dan keluarga kecilmu akan naik pesawat pertama ke Siberia. Jika aku melihat wajahmu, atau mendengar namamu diucapkan di kota ini lagi... aku tidak akan menggunakan peluru. Aku akan menguliti kalian hidup-hidup."
Arthur menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu ia telah kalah telak. Ia tidak hanya kalah dalam baku tembak, tapi ia kalah dalam permainan strategi yang sudah Kaelan persiapkan sejak lama. Sang keponakan ternyata telah mengumpulkan bukti-bukti ini jauh sebelum insiden makan malam itu terjadi.
Anya hanyalah pemicu yang mempercepat rencana Kaelan untuk membersihkan klan dari para parasit tua.
Dengan tangan gemetar hebat dan menahan rasa sakit di lututnya, Arthur mengambil pena yang disodorkan anak buah Kaelan. Ia membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen itu, menyerahkan seluruh kekuasaannya. Air mata kekalahan mengalir di pipi keriputnya.
"Satu hal lagi," Kaelan mengambil kembali dokumen itu dan menyerahkannya pada anak buahnya. Ia menatap pamannya yang kini tak berdaya. "Katakan pada para Tetua lainnya... jika mereka masih berani mendesakku untuk menikahi Isabella, atau jika ada satu goresan pun pada istriku... aku akan melakukan hal yang sama pada mereka. Aku akan menghancurkan mereka satu per satu hingga tidak ada yang tersisa dari klan ini selain aku dan Nyonya Obsidian."
Malam itu, di tengah guyuran hujan dan genangan darah, sebuah kesepakatan iblis tercipta. Kaelan tidak hanya membalas dendam; ia telah menancapkan dominasinya secara mutlak. Ia bukan lagi sekadar Ketua Klan yang diatur oleh dewan. Ia adalah raja tunggal yang tak terbantahkan.
Kaelan berbalik, melangkah keluar dari gudang neraka itu tanpa menoleh lagi. Pikirannya kini hanya tertuju pada satu hal: kembali ke pulau secepat mungkin, ke pelukan preman pasarnya yang pasti sedang mengumpat-umpat karena ditinggal sendirian.