Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.
Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.
Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan
Malam harinya di kamar utama. Kamar yang sangat luas, dingin karena AC, dan bernuansa mewah. Rara duduk di tepi ranjang king size yang empuk itu, memeluk bantal guling erat-erat. Wajahnya terlihat waspada, matanya terus mengawasi gerak-gerik Aksara yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Aksara hanya mengenakan celana tidur dan handuk yang melilit di leher. Air menetes sedikit dari ujung rambutnya yang basah, memperlihatkan dada bidang dan otot-ototnya yang terbentuk sempurna.
'Tuhan... kok dia ganteng banget sih dilihat dari deket gini? Jantungku rasanya mau copot! Jangan-jangan malam ini dia mau... eh! Rara! Jangan mikir macem-macem!' Batin Rara panik sendiri.
Aksara menyeka rambutnya sambil berjalan santai mendekati ranjang. Melihat Rara yang sudah bersembunyi di balik selimut sampai setengah badan, ia tersenyum miring.
"Kamu kenapa? Seperti kelinci yang ketakutan." Tanya Aksara sambil melempar handuknya ke kursi.
"E-eh! Tidak apa-apa! Cuma kedinginan!" Jawab Rara terbata-bata. "Kamu jangan dekat-dekat! Lagian, kenapa sih kamu disini?Harusnya kamu tidur di ruangan yang lain saja seperti biasa!"
Aksara malah makin geli hati. Ia naik ke atas ranjang dan merangkak perlahan mendekati Rara dengan tatapan tajam yang menggoda.
"Kenapa? Aku kan suami kamu. Aku berhak menyentuh istriku sendiri. Lagipula, aku sudah rindu. Sejak awal kita menikah, kita belum pernah tidur berdua, kan?" Goda Aksara sambil perlahan mengulurkan tangannya ingin menyentuh pipi Rara.
HIYAT!
Dengan gerakan lincah, Rara langsung mundur cepat sampai menempel ke sandaran kepala ranjang. Ia mengangkat kedua kakinya dan memeluk lututnya sendiri, membentuk tembok pertahanan.
"JANGAN! JANGAN SENTUH!" Seru Rara pelan tapi panik. "Itu... walaupun itu hak suami istri, memang boleh sembarangan?!"
Aksara sampai tertawa lebar melihat tingkah istrinya yang super polos dan lucu itu.
"Wah! Kenapa kamu malah balik bertanya? Memang kamu pikir aku mau ngapain?"
"Ya... ya mana aku tahu! Orang di novel-novel yang aku baca, kalau suami istri satu kamar malam-malam pasti... pasti..." Rara berhenti bicara, wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
"Pasti apa?" Aksara makin mendekat, wajahnya tinggal beberapa senti saja dari wajah Rara.
"PASTI MAU NGERJAIN!" Seru Rara sambil menutup matanya kuat-kuat. "TAPI AKU KAN MASIH POLOS! AKU MASIH KECIL!"
Aksara tertawa terbahak-bahak sampai harus memegangi perutnya.
"Astaga! Otak kamu isinya novel melankolis semua, kah?" Aksara mengusap air mata tawa di sudut matanya. "Aku cuma mau ambil selimut yang ada di sebelah kamu, tuh. Tidak mau makan kamu, tenang saja!"
Rara perlahan membuka sebelah matanya, mengintip curi-curi. "I...iyakah?"
"Iya. Aku ini gentleman, tidak akan pernah memaksa kamu melakukannya," jawab Aksara sambil mengambil selimut itu, tapi sengaja tangannya menyenggol kaki Rara sedikit.
Seketika Rara melompat kaget seperti tersengat listrik.
"ADUH!"
"Sensitif sekali jadi istri," celetuk Aksara geli.
Akhirnya Aksara berbaring santai di sisi kiri, dan Rara tetap memeluk bantal di sisi kanan dengan jarak aman yang lumayan jauh.
Suasana hening beberapa saat. Tapi Rara tidak bisa tidur. Ia melirik ke arah Aksara yang sudah memejamkan mata. Dadanya yang bidang terlihat begitu menenangkan.
'Ganteng sih iya... tapi serem kalau lagi godain gitu. Tapi... kan aku istrinya. Tapi aku takut...' Batin Rara.
Dengan sangat pelan dan hati-hati, Rara mencoba menggeser tubuhnya mendekat sedikit demi sedikit. Ia ingin membalas mengerjai Aksara.
Saat jarak mereka sudah tinggal beberapa senti...
Tiba-tiba tangan Aksara bergerak cepat dan menarik pinggang Rara dengan satu tarikan kuat!
BRUK!
Rara langsung terpental masuk ke dalam pelukan hangat Aksara. Wajahnya tepat menempel di dada bidang pria itu.
"Heeeh?! Aksara!" Rara berontak kecil, kaget setengah mati.
"Sudah. Disini saja. Jangan jauh-jauh, dingin." Bisik Aksara di telinga Rara dengan suara berat dan mengantuk, tapi tangannya mengunci pinggang Rara erat sekali, tidak memberi celah untuk kabur.
"Ta... tapi..." cicit Rara lemah, wajahnya sudah merah padam.
"Jangan takut. Aku tidak menggigit. Kecuali kamu nakal," goda Aksara sambil terkekeh pelan. "Tidur ya, istriku yang polos dan lucu. Aku hanya mau peluk kamu. Tidak akan ngapa-ngapain selain membuat kamu nyaman."
Rara akhirnya diam. Ia mencium aroma wangi parfum dan sabun dari tubuh Aksara yang sangat menenangkan. Detak jantung suaminya yang teratur membuat rasa takutnya perlahan hilang, digantikan oleh rasa hangat dan damai yang luar biasa.
'Dasar lelaki ini... tapi pelukannya sangat hangat, tubuhku seakan menolak untuk menjauh' Batin Rara senang sendiri. Ia pun memejamkan mata, hanyut dalam kehangatan itu.