NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Kepanikan Murni

Debu mengepul dari sandal jepit Jamilah yang melangkah buru-buru memasuki pekarangan rumah bata.

Matanya membulat rakus.

Sepeda biru mengkilap dengan pita merah itu bersandar manis di teras.

Anak-anak Sukma sedang asyik mengelilingi sepeda baru itu.

Gito mengelus sadelnya. Syaiful memeluk ban depan.

Jamilah menepuk tangan berkali-kali. Mengusir mereka seperti mengusir ayam.

"Minggir kabeh. Jangan dirusuhi sepedanya. Nanti lecet." Jamilah menarik paksa tangan Syaiful dari ruji sepeda.

"Iki sepedane Paklik Joko buat ngantor nanti. Bapakmu sing belikan."

Gito melotot. Tangan kecilnya mencengkeram stang sepeda kuat-kuat.

"Dudu. Iki punya Ibuku."

Syaiful langsung menangis melengking. Balita itu beringsut mundur mencari perlindungan.

Sinta dan Sigit refleks maju menutupi sepeda itu dengan tubuh kurus mereka. Keduanya menatap Jamilah dengan tatapan penuh permusuhan.

Jamilah mendecak sebal melihat perlawanan itu. "Heh, arek cilik ojo nakal. Iki sepeda buat Paklikmu. Bapakmu Trisno, iku kan bakalane bantuin bojoku. Kalian jangan ngeriweti"

Beberapa tetangga yang baru pulang dari sawah berhenti di depan pagar bambu.

Bisik-bisik mulai terdengar. Masuk akal juga. Joko kan katanya bakalan direkomendasikan sama Trisno jadi pegawai balai desa. Mesti Sutrisno membelikan sepeda agar adiknya terlihat pantas.

Pintu depan terbuka lebar. Sukma keluar membawa lap basah. Matanya langsung menajam melihat Jamilah berdiri arogan di dekat sepeda barunya.

"Jamilah, Koen ngimpi siang bolong?" Sukma melempar lap basah ke kursi kayu.

"Aku beli sepeda iki pakai seratus delapan puluh ribu uangku dewe, Koen denger. Kapan Mas Trisno ngirim duit ke aku buat beliin bojomu sepeda."

Jamilah pucat pasi tapi berusaha menutupi kepanikannya dengan senyum sinis.

"Mbakyu, Koen ojo ngapusi. Mas Trisno kan sayang banget sama Mas Joko. Duit dari mana Koen beli barang semahal iki."

Sukma meludah ke tanah pekarangan.

"Lek Mas Trisno wani buang duit ratusan ribu buat adik benalunya, Aku kate minggat, tak cerai de'e detik iki juga."

Ancaman itu menghantam batin empat bocah di sana telak. Cerai. Minggat.

Mereka baru saja merasakan hangatnya kasih sayang seorang ibu. Perut mereka baru saja kenyang oleh makanan mewah yang tak pernah mereka rasa.

Kalau ibu Sukma pergi meninggalkan mereka, anak-anak ini akan kembali ke neraka rumah Lasmi.

Gito langsung menjatuhkan diri. Lututnya menghantam tanah berdebu tepat di depan kaki Jamilah.

"Bulik, kulo mohon." Tangis Gito pecah.

"Ojo ambil sepedane Ibu. Ojo bikin Ibu pergi. Kita ndak mau kehilangan Ibu lagi."

Sigit terpaku di tempatnya. Tangannya bergetar hebat melihat adiknya membuang harga diri demi sebuah sepeda.

Sinta menatap Jamilah dengan mata merah menyala. Gadis kecil yang biasanya penakut itu tiba-tiba meledak dari dalam.

"Bulik jahat." Sinta menjerit sekuat tenaga.

"Bulik dulu ambil selimutku, Bulik ambil jatah makanku. Saiki bulik mau hancurin keluargaku. Bulik ndak pengen kita hidup."

Sinta memutar tubuhnya. Kakinya berlari kencang menerobos pagar bambu.

"Aku mau lapor Pak Kades. Lek ndak didenger, aku mending lompat ke kali ae."

Gadis itu berlari kesetanan menuju jalan raya. Jamilah terperanjat melihat reaksi berlebihan anak kecil itu.

"Sinta." Sukma menjerit panik. Kakinya langsung mengejar putrinya secepat kilat.

Jalanan desa riuh. Sri, anak paklik Karto yang baru pulang dari ladang membuang sabitnya.

Ia ikut berlari mengejar Sinta yang melesat menuju arah sungai di ujung desa.

Sinta berlari membuta. Air mata menghalangi pandangannya. Kakinya tersandung akar beringin besar di pinggir sungai desa yang arusnya sedang deras.

Brak. Tubuh kecil itu tergelincir. Separuh badannya tercebur ke dalam air keruh yang berputar.

"Sinta." Sri berhasil mencengkeram kerah baju gadis kecil itu tepat waktu.

Sukma tiba sedetik kemudian. Napasnya putus-putus. Ia menarik lengan Sinta sekuat tenaga, menyeret anak itu naik ke daratan berbatu yang aman.

Sinta terbatuk-batuk memuntahkan air sungai. Kakinya gemetar hebat.

"Ibu, ada yang narik kakiku. Ada hantu air."

Hanya sehelai ganggang sungai yang melilit pergelangan kaki Sinta.

Sukma membuang napas panjang. Rasa takut kehilangan anak ini mengalahkan segalanya. Ia membalikkan tubuh Sinta. Tangannya mendarat keras di bokong gadis kecil itu.

Plak. Plak. Plak.

"Koen wani bunuh diri." Sukma membentak dengan suara bergetar keras.

"Koen pikir nyawamu murah. Koen mau bikin Ibu mati jantungan."

Sinta menangis keras. Bukan karena rasa sakit di bokongnya, tangisan itu pecah karena pelukan ibunya yang menyusul kemudian sangat erat dan penuh kepanikan murni.

Sigit dan Gito yang baru tiba membeku. Mereka melihat ibu mereka menangis memeluk Sinta.

Ibu mereka benar-benar peduli. Rasa aman itu merasuk ke dalam relung hati mereka yang paling dalam.

Kerumunan warga mengikuti dari belakang. Jamilah menyusul dengan wajah tegang. Ia takut disalahkan Kades jika Sinta benar-benar celaka.

"Mbakyu." Jamilah memasang wajah memelas mencari simpati warga.

"Aku kan cuma nanya baik-baik. Kenapa Sinta sampai segitunya. Koen juga jangan emosi bawa-bawa cerai. Kita berdua ini sama-sama salah paham saja."

Sukma melepaskan pelukannya dari Sinta. Ia berdiri tegak. Matanya merah menyala menatap Jamilah.

Tangan kanan Sukma berayun ke belakang, lalu melesat cepat ke depan.

Plak.

Pipi Jamilah terlempar ke samping. Tubuhnya oleng menabrak batang pohon beringin.

"Koen bilang kita sama-sama salah." Sukma menerjang maju. Tangannya menjambak rambut Jamilah tanpa ampun.

"Koen hampir bikin anakku bunuh diri. Koen bikin anak lelakiku sujud di tanah. Koen iku pancen setan alas."

Jamilah menjerit kesakitan berusaha melepaskan cengkeraman Sukma. Rambutnya rontok berhamburan.

Sukma melepaskan jambakan itu lalu mendorong Jamilah hingga tersungkur ke tanah berbatu.

Ia menunjuk wajah Jamilah di depan puluhan pasang mata warga desa.

"Koen pikir masuk akal njaluk sepeda ratusan ribu gratis. Kuli tani nyangkul bertahun-tahun baru iso beli. Koen moro-moro minta buat suamimu sing pengangguran iku. Koen ini penjahat beneran."

Warga desa terkesiap. Logika itu langsung masuk ke kepala mereka. Sepeda seharga seratus delapan puluh ribu rupiah itu barang mewah yang sangat sulit didapat. Memintanya secara paksa adalah tindakan perampokan berkedok urusan keluarga.

Tatapan warga berubah jijik.

"Jamilah pancen nggak duwe isin tenan."

"Mentang-mentang suamine ate dadi Carik, padahal loh belum tentu dadi."

"Pancen uteke Jamilah separuh, wong barang larang kok moro-moro dijaluk."

Jamilah menangis terisak. Harga dirinya hancur lebur di depan warga. Ia bangkit dan berlari terbirit-birit menuju rumahnya meninggalkan kerumunan yang mencibirnya.

Sukma tak mempedulikan Jamilah lagi. Ia kembali duduk di tanah memeluk Sinta erat-erat. Air matanya menetes membasahi rambut putrinya.

"Maafin Ibu, nduk. Ibu janji ndak bakal ngomong cerai lagi. Ibu ndak bakal ninggalin kalian."

Malam harinya rumah bata dipenuhi tetangga yang datang menjenguk.

Sinta sudah diganti bajunya dengan yang bersih. Ia duduk di pangkuan Sukma memakan singkong rebus. Wati, Mak Karman, Bik Pon, Bu Karto, dan Sri duduk melingkar di atas tikar pandan.

"Koen pancen hebat, Sukma. Wani ngelawan Jamilah." Bu Karto mengupas singkongnya.

"Anak-anakmu iku rezekimu. Koen lindungi mereka, Gusti Allah pasti ngelindungi Koen."

1
Dewiendahsetiowati
mantab hajar aja keluarga benalu
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
SENJA
kok jadi mak karman? ibue sukma kan namanya marni lho thor🤭
SENJA
cuok drama cuok 😤
SENJA
kenapa ga berani?!? 😄🤣
SENJA
laki laki apa ini 😤
SENJA
ini lagi hadeeeh benalu 😤
SENJA
jamilah mulutnya comberen banget😤
gina altira
jgn kasih ampun Ningsih
Enah Siti
🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍😍👍👍👍smngat thor maksih
Dewiendahsetiowati
bisa gak si Jamilah dibikin stroke gitu heran bikin emosi terus
SENJA
bener kata sukma do
SENJA
cangkem mu lho 😤
SENJA
hajar terus hajar 😤😤😤 asssuuu emang dia
SENJA
lu ga tau malu banget jadi perempuan 😤
Enah Siti
🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍👍👍👍 ljut thor mksih byak byak
Enah Siti
💪💪💪💪💪😍😍😍😍 nuhun thor
Enah Siti
💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍👍👍👍👍👍ljut thor
SENJA
hadeeeeh 😤
SENJA
yaaah kebetulan banget ini weeeh 🤭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!