Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 - Permohonan Tantri Lagi
Ge berjalan mengikuti Tantri menjauh dari Bimo dan Taufik. Kedua temannya itu masih terdengar cekikikan di belakang, tapi Ge sudah tidak peduli.
Mereka berhenti di sisi lain lapangan, tidak jauh dari pagar belakang sekolah. Tempat itu cukup sepi, hanya suara angin dan daun yang bergesekan.
Tantri berbalik menghadap Ge. Wajahnya terlihat tenang, tapi sorot matanya tidak bisa menyembunyikan kegelisahan.
Ge memasukkan tangan ke saku jaketnya, lalu menyeringai tipis.
“Gue tebak dulu, ya,” katanya santai.
Tantri mengernyit. “Apa?”
Ge mendekat sedikit. “Lu mau bahas soal utang bapak lu… sama soal siapa lu sebenarnya kan?”
Tantri langsung terdiam.
Ge tertawa kecil. “Kena, kan?”
Beberapa detik Tantri tidak bicara. Lalu dia menghela napas pelan.
“Iya,” jawabnya akhirnya.
Ge mengangguk-angguk kecil, seolah itu hal biasa.
“Gue udah duga dari awal,” lanjut Ge.
Tantri mengepalkan tangannya. Wajahnya langsung menegang.
“Tenang aja,” kata Ge santai. “Gue belum cerita ke siapa-siapa.”
Tantri menatapnya tajam. “Belum… atau belum sempat?”
Ge menyeringai.
“Belum tertarik,” jawabnya jujur.
Jawaban itu justru membuat Tantri semakin gelisah.
“Lu lagi ngerencanain sesuatu, ya?” tanyanya.
Ge memiringkan kepala. “Menurut lu?”
Tantri menggigit bibirnya pelan. “Ge… gue serius.”
Ge tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Tantri dengan ekspresi santai, seolah tidak ada beban sama sekali.
“Untuk sekarang,” kata Ge akhirnya, “gue belum ada niat ngerusak hidup lu.”
Tantri sedikit menghela napas lega.
“Tapi…” lanjut Ge.
Napas Tantri langsung tertahan lagi.
Ge menyeringai tipis.
“Bisa aja nanti berubah.”
Wajah Tantri langsung pucat.
“Ge…” suaranya mulai bergetar. “Jangan…”
Ge hanya menatapnya.
Tantri tiba-tiba melangkah maju dan meraih tangan Ge.
“Gue mohon,” katanya cepat.
Ge sedikit kaget, tapi dia tidak menarik tangannya.
“Jangan sebarin itu,” lanjut Tantri. “Kalau orang-orang tau… gue habis.”
Ge mengangkat alis.
Tantri menatapnya dengan putus asa.
“Lu mau apa?” tanyanya.
Ge diam.
Tantri menggenggam tangan Ge lebih erat.
“Gue bakal lakuin apa aja,” katanya tanpa ragu.
Ge menatapnya tajam sekarang.
“Apa aja?” ulangnya pelan.
Tantri mengangguk cepat. “Iya. Apa aja.”
Ge belum menjawab.
Tantri terlihat semakin nekat.
“Serius,” katanya. “Selama rahasia gue aman… gue bakal nurut sama lu.”
Ge masih diam.
Beberapa detik hening. Lalu Tantri, dengan tangan sedikit gemetar, mulai menarik bagian kerah seragamnya.
“Kalau perlu…” suaranya lirih. “…harga diri gue juga—”
“Udah! Begini lagi ya lu.” Ge langsung menahan tangannya.
Gerakan Tantri terhenti. Dia menatap Ge kaget.
Ge menghela napas pelan. “Lu pikir gue apaan? Kenapa penawaran lu selalu itu?” katanya datar.
Tantri terdiam.
Ge menggeleng kecil. “Gue emang badung,” lanjutnya, “tapi gue bukan sampah.”
Tantri menunduk perlahan. Untuk beberapa detik, suasana jadi hening.
Ge melepaskan tangannya dari genggaman Tantri. “Tenang aja,” katanya santai lagi. “Gue belum tertarik ngebongkar hidup lu.”
Tantri masih diam, tapi kali ini bahunya sedikit turun, seolah beban di dadanya berkurang.
Namun Ge tiba-tiba menyeringai. Ada sesuatu yang terlintas di kepalanya.
“Hmm…”
Tantri mengangkat kepala perlahan. “Apa?”
Ge memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Gue emang belum tertarik,” katanya pelan. Dia melangkah mendekat sedikit.
“Tapi bukan berarti gue nggak bisa manfaatin situasi.”
Tantri menegang lagi. Ge menatapnya dengan senyum tipis yang sekarang terlihat lebih licik.
"Gimana kalau gue pengen lu hentikan kebiasaan geng Bintang yang suka menindas adik kelas? Bisa nggak?" ujarnya.