Dia adalah Kezia Putri Ramadhan – CEO muda berusia 25 tahun yang menguasai bisnis tekstil keluarga dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan rapat bisnis, target penjualan, dan tanggung jawab berat hingga dia tak punya waktu untuk cinta. Namun, semuanya berubah ketika keluarga dihadapkan pada kehancuran keuangan yang hanya bisa dihindari dengan satu cara: menikahi putra keluarga Wijaya.
Yang tak disangka, calon suaminya adalah Rizky Wijaya – seorang anak SMA berusia 18 tahun yang baru saja lulus ujian masuk kampus, suka bermain game, ngemil keripik, dan masih sering lupa menyetrika baju!
Tanpa pilihan lain, mereka menjalani pernikahan yang tak diinginkan. Di rumah besar Kezia, tingkah lucu Rizky tak pernah berhenti: memasak yang malah membuat kompor berasap, menempelkan stiker kartun di laptop kerja istri, hingga menyuruh asisten perusahaan memanggilnya "Mas Rizky". Tapi bukan hanya kelucuannya yang menghiasi kehidupan mereka – rasa cemburu sang suami muda yang masih dibawa umur ju
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERHATIAN YANG TIDAK DI HARAPKAN
Dion Pratama menatap layar ponselnya yang menampilkan foto Kezia yang diambil saat acara ulang tahunnya beberapa hari lalu. Dalam foto itu, Kezia sedang tersenyum lembut saat melihat sesuatu di luar bingkai kamera – sebuah senyuman yang jarang dia tunjukkan di depan orang lain. Dia menghela napas dan menutup ponselnya, mencoba menghilangkan pemikiran yang mulai muncul di benaknya.
"Pak Dion, rapat dengan klien dari Surabaya sudah siap," ucap asistennya yang masuk ke ruang kerja dengan dokumen di tangan.
"Baik, kita mulai saja," jawab Dion dengan suara yang kembali menjadi tenang dan profesional. Namun selama rapat, pikirannya terus terganggu dengan wajah Kezia yang selalu muncul di benaknya. Dia ingat bagaimana dulu di universitas, Kezia adalah sosok yang dicintai banyak orang – pintar, cantik, dan memiliki semangat yang luar biasa dalam setiap hal yang dia lakukan. Tapi saat itu, dia hanya melihatnya sebagai teman sekelas yang sangat berbakat.
Setelah rapat selesai, Dion memutuskan untuk mengunjungi perusahaan Ramadhan Textile. Dia tahu ini bukan alasan bisnis yang sah, tapi dia merasa perlu melihat Kezia lagi. Saat sampai di gedung perusahaan, dia disambut oleh Maya yang langsung mengenalnya.
"Pak Dion, ada apa ya? Bu Kezia sedang dalam rapat penting nih," ucap Maya dengan senyum ramah tapi juga menunjukkan sedikit keraguan.
"Tidak apa-apa, aku bisa menunggu saja. Aku mau memberikan proposal kerja sama baru untuk proyek tekstil ramah lingkungan," jawab Dion dengan senyum yang menenangkan. Padahal proposal itu sebenarnya sudah bisa dia kirim melalui email.
Setelah sekitar satu jam, Kezia keluar dari ruang rapat dengan wajah yang masih tampak lelah. Ketika melihat Dion yang sedang duduk di ruang tunggu, ekspresinya yang dingin sedikit berubah. "Dion? Apa kamu ada di sini?"
"Aku mau memberikan proposal kerja sama baru. Aku pikir ini bisa menjadi kesempatan bagus untuk perusahaan kita berdua," ucap Dion sambil memberikan amplop berisi dokumen. Namun sebenarnya, dia sudah menyiapkan proposal itu seminggu yang lalu dan sengaja menunggu saat yang tepat untuk memberikannya secara langsung.
Kezia menerima amplop dengan sopan dan mengundangnya ke ruang kerjanya. Selama mereka berbincang tentang proposal, Dion sengaja membicarakan masa lalu mereka di universitas – tentang bagaimana mereka pernah bekerja sama dalam proyek akhir semester dan bagaimana Kezia selalu bisa menemukan solusi untuk setiap masalah yang muncul.
"Kamu masih sama saja, Kezia – selalu bisa melihat peluang di mana orang lain hanya melihat masalah," ucap Dion dengan pandangan yang penuh perhatian. "Aku selalu kagum denganmu, tahu tidak?"
Kezia hanya tersenyum sedikit dan mengalihkan pandangannya. "Itu sudah lama lewat, Dion. Kita sudah bukan lagi mahasiswa yang polos seperti dulu."
Setelah itu, Dion mulai sering datang ke perusahaan Kezia dengan berbagai alasan – terkadang untuk membicarakan bisnis, terkadang hanya untuk memberikan makanan ringan yang dia tahu adalah favorit Kezia, atau bahkan hanya untuk memberikan kabar tentang teman-teman lama mereka di universitas. Setiap kali dia datang, dia selalu mencoba menunjukkan perhatiannya dengan cara yang tidak terlalu mencolok.
Suatu hari, ketika Kezia sedang kesulitan menyelesaikan masalah dengan pasokan bahan baku, Dion datang dengan membawa informasi tentang pemasok baru yang bisa memberikan bahan berkualitas tinggi dengan harga yang lebih terjangkau. "Aku tahu kamu sedang menghadapi masalah dengan pasokan, jadi aku mencari informasi ini untukmu," ucapnya dengan senyum hangat.
Kezia merasa sangat terbantu dan mengucapkan terima kasih dengan tulus. "Kamu benar-benar menyelamatkan perusahaan ini, Dion. Aku tidak tahu harus bagaimana kalau tidak ada kamu."
Kata itu membuat hati Dion berdebar kencang. Dia hampir mengatakan sesuatu yang lebih dalam, tapi melihat Kezia yang sedang fokus membaca dokumen pemasok baru membuatnya berpikir dua kali. Dia tahu bahwa Kezia sudah menikah dengan Rizky, dan dia tidak ingin menjadi orang yang merusak hubungan orang lain. Tapi perasaan yang dia coba sembunyikan semakin besar setiap hari.
Pada hari yang sama, Rizky datang ke kantor Kezia untuk memberitahu bahwa dia sudah lulus ujian semester pertamanya dengan nilai yang cukup baik. Namun saat dia sampai di depan ruang kerja Kezia, dia melihat Dion yang sedang berdiri sangat dekat dengan Kezia, bahkan sedang membantu membaca dokumen yang ada di tangan Kezia dengan wajah yang penuh perhatian.
Perasaan cemburu yang sudah pernah dia rasakan muncul lagi dengan lebih kuat. Dia ingin langsung masuk dan mengatakan bahwa Kezia adalah istrinya, tapi dia ingat nasihat Maya tentang bagaimana dia harus lebih dewasa dalam menghadapi masalah seperti ini. Dengan hati yang berat, dia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu dan menunggu Kezia di rumah.
Saat malam tiba dan Kezia pulang ke rumah, dia melihat Rizky yang sedang duduk di ruang tamu dengan wajah yang murung. "Ada apa denganmu, Rizky? Bukankah kamu senang karena lulus ujian dengan baik?" tanya Kezia dengan suara lembut.
"Aku melihat kamu dengan orang itu lagi di kantor," ucap Rizky dengan suara pelan. "Aku tahu aku masih muda dan tidak bisa membantu kamu dengan pekerjaanmu seperti dia bisa. Tapi aku benar-benar mencintaimu, Kak Kezia. Jangan pergi dari aku ya."
Kezia duduk di sebelahnya dan memegang tangannya dengan erat. "Aku tidak akan pergi kemana-mana, Rizky. Kamu adalah suamiku, dan tidak ada orang lain yang bisa menggantikanmu di hatiku. Dion hanya teman baik yang membantu saya dengan pekerjaan saja."
Namun di balik itu semua, Kezia mulai menyadari bahwa perhatian Dion bukan hanya dari teman bisnis atau teman lama. Ada sesuatu di dalam pandangan dan perilakunya yang menunjukkan bahwa dia menginginkan lebih dari itu. Dan dia harus segera menemukan cara untuk menyampaikan bahwa hatinya sudah milik seseorang lain – meskipun suaminya itu masih muda dan sering bertingkah konyol.
Di rumahnya sendiri, Dion sedang duduk di depan jendela sambil melihat langit malam. Dia tahu bahwa apa yang dia lakukan mungkin salah, tapi dia tidak bisa mengontrol perasaannya terhadap Kezia. Dia memutuskan bahwa dia akan tetap menjadi teman bagi Kezia, tapi dia juga akan mulai menjaga jarak agar tidak membuatnya merasa tidak nyaman. Namun dia tidak bisa menolak perasaan bahwa mungkin saja ada kesempatan baginya untuk mendapatkan cinta Kezia – jika hanya dia bisa menemukan cara yang tepat untuk mendekatinya tanpa menyakiti orang lain.