Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.
Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Takhta dan Ketenangan di Valois
Istana d’Orléans yang biasanya menjadi simbol kemegahan dan kedamaian, kini terasa mencekam. Di dalam ruang kerja raja yang kedap suara, suara barang pecah belah terdengar nyaring. Mantan Raja Henri, ayah Geneviève, berdiri dengan napas memburu di depan jendela besar.
"Dua minggu! Bagaimana bisa seorang putri kerajaan lenyap begitu saja tanpa meninggalkan satu helai benang pun?!" Teriak Henri, suaranya parau karena amarah dan kesedihan yang bercampur.
Beliau tidak menyalahkan siapa pun, karena ia tahu betul betapa keras kepalanya putri bungsu kesayangannya itu. Namun, fakta bahwa Geneviève menghilang di wilayah kekuasaannya sendiri adalah penghinaan sekaligus luka yang sangat dalam.
Di sudut ruangan, Raja Alaric tertunduk lesu. Tangannya terkepal erat di atas meja jati. "Ini salahku, Ayah. Seharusnya aku tidak mendengarkan argumennya. Seharusnya aku tidak membiarkannya pergi hanya dengan identitas medis biasa."
Ibu Suri Eleanor, ibu mereka, duduk di sofa dengan sapu tangan yang sudah basah oleh air mata. "Ève adalah segalanya bagi kita. Jika terjadi sesuatu padanya di perbatasan itu, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."
"Cari dia sampai ke lubang semut sekalipun!" perintah Henri dengan nada yang tak terbantahkan. "Kerahkan intelijen rahasia. Jangan sampai publik tahu Putri Mahkota hilang, tapi jangan biarkan satu jengkal tanah pun terlewatkan!"
Mereka tidak menyadari, bahwa di saat mereka sedang menggeledah setiap sudut perbatasan, sang Putri justru sedang berada di bawah perlindungan pria yang paling tidak mungkin dicurigai: Jenderal mereka sendiri.
Sementara itu, jauh dari ketegangan istana, Geneviève berdiri di balkon paviliun pribadi milik Eisérre Valois. Matanya yang jernih menatap takjub pada pemandangan di depannya.
Paviliun ini bukan sekadar bangunan tambahan. Ini adalah sebuah mahakarya arsitektur yang dikelilingi oleh tanah luas yang disebut Valois Sanctuary. Tempat ini seperti sebuah oase hijau yang tersembunyi. Sejauh mata memandang, terdapat hamparan padang rumput yang dipangkas rapi, hutan ek yang rimbun dengan pepohonan berusia ratusan tahun, dan sebuah sungai kecil yang airnya sebening kristal mengalir membelah area tersebut.
Suara gemericik air sungai dan kicauan burung memberikan ketenangan yang aneh pada jiwa Geneviève yang sedang kosong. Aroma embun pagi dan bunga-bunga liar yang bermekaran di taman bawah balkon menyapu penciumannya.
"Ini... terlalu indah untuk menjadi milik seorang tentara," gumam Geneviève pelan.
"Tentara juga butuh tempat untuk mencuci darah dari tangannya, Nona."
Geneviève tersentak dan berbalik. Eisérre sudah berdiri di sana, tanpa seragam militer, hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan terkena angin, dan mata birunya yang setenang danau malam menatap ke arah sungai.
"Kau menyukai tempat ini?" Tanya Eisérre tanpa melihatnya.
"Sangat luas. Dan sangat... sepi," jawab Geneviève jujur. Ia menatap Eisérre dari samping. "Kenapa kau memiliki tempat sebesar ini sendirian?"
Eisérre akhirnya menoleh. Ia menatap wajah Geneviève yang terkena sinar matahari pagi—wajah yang begitu baby face sehingga ia sempat berpikir apakah gadis ini benar-benar seorang dokter.
"Karena di sini, tidak ada yang bisa mengatuku. Tidak nenekku, tidak juga kerajaan," jawab Eisérre dengan nada datar namun tersirat pemberontakan. "Kau bisa berjalan-jalan di sekitar sungai jika kau mau. Tapi jangan pernah melewati pagar hutan sebelah barat. Itu wilayah luar, dan kau... belum punya identitas untuk berada di sana."
Geneviève tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang membuat jantung Eisérre berdegup aneh lagi. "Terima kasih, Tuan Jenderal. Setidaknya di sini aku merasa bukan sebagai mayat yang kau temukan, tapi sebagai manusia."
Eisérre terdiam, lalu pergi tanpa kata. Ia harus segera menemui neneknya di istana utama Valois, namun pikirannya tertinggal di paviliun, pada gadis kecil yang tidak tahu bahwa namanya sedang diteriakkan dengan penuh tangis di istana d’Orléans.