Acara perayaan ulang tahun Rachel, Sang Keponakan yang berusia empat tahun, keponakan dari si kembar Seza dan Sazi. Yang seharusnya menjadi hari paling menyenangkan dan membuat happy semua orang tapi tidak untuk Sazi adik dari Seza. Dunianya seolah runtuh karena tragedi tenggelam saat itu.
Antara hidup dan mati yang ia rasakan saat itu, keduanya tenggelam bersamaan. Namun cara diselamatkan oleh kedua pria berbeda usia itu yang jauh berbeda juga dari adegan romantis seperti drama film pada umumnya. hal itu yang dirasakan oleh Sazi adik dari Seza.
jika Seza ditolong dengan cara digendong ala bridal seperti ala drama romantis, tapi berbwda dengan pria ngeselin yang bikin kesal Sazi sepanjang sejarah ia baru ditolong dengan cara menyebalkan yaitu dengan cara dijambak dan diseret.
dan yang lebih memalukan lagi sazi hampir saja diberi nafas buatan oleh pria itu. namun saat bibir itu sudah mulai mendekat ia langsung memaksakan diri untuk sadar. dari situ ia sadar akan satu hal, apa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Suara bel berbunyi beberapa kali, Sazi yang penasaran pun langsung berlari dan meletakkan lebih dulu mangkoknya diatas meja makan.
Pintu villa pun ia buka perlahan, namun ia sempat terkejut saat dihadapannya saat ini seperti sosok yang ia pernah tolong beberapa tahun lalu.
"Siapa ya?, Bang fadlinya lagi enggak dirumah pak, nanti saja kesini lagi ya." ucap Sazi awalnya saat ia reflek tanpa sadar keluar ucapan begitu saja.
"Uhuk uhuk, kamu usir saya hmm?."
Sazi masih membeku, masih mengingat siapa sosok yang dihadapannya saat ini, ia mengelilingi sosok itu dengan menatapnya dari atas ke bawah sambil telunjuknya ia gerakkan di dagunya sedang berpikir akan sesuatu.
Namun saat ingatannya kembali muncul, seketika sosok pria itu dikagetkan dengan suaranya yang lantang. "Astaga OmG Masya Allah tabarakallah, ini Si om yang pernah dorong kakek kakek pake kursi roda yang hampir ketabrak itu kan ya?." celetuk Sazi.
Ayah Fadli yang tadinya sempat elus dada saking kagetnya tak lama ia malah tersenyum melihat menantu randomnya tak ada berubahnya sama sekali tetap gadis yang ceria seperti saat pertama kali ia bertemu.
"Iya nak, ini Om,..Alhamdulillah akhirnya kamu ingat juga sama Om. Tapi sekarang panggil Ayah saja ya, karena Om ini ayahnya suami kamu Fadli."
"What!, seriusan ini Om eh ayah beneran ga salah ini Sazi, ya Alloh dunia sempit amat sih."
"Enggak nyangka Sazi jadi mantu Om, kok bisa sih?."
"Hahaha, Sazi,..Sazi, sekarang ayah boleh masuk enggak nih?."
"Yaiyalah masa yaiya dong, masuk lah yah, silahkan duduk wahai ayah mertuaku, sebentar Sazi buatkan teh dulu ya."
Nampak wajah lelah ayah Fadli seolah baru saja menempuh perjalanan yang cukup jauh. Saat memasuki ruangan villa itu, pandangan ayah Fadli langsung menyapu menatap ke sekeliling area tersebut.
Nampak diatas meja, hanya ada satu mangkok mie instan yang kuahnya sudah hampir habis. Sendoknya pun masih berada di mangkok itu.
"Sazi, kamu makan itu?." ayah Fadli mengerti menunjuk ke arah mangkok diarea meja makan.
"Oh, itu, hmm iya yah lagi pengen aja hehe, diminum dulu yah teh nya, maaf ya cuma adanya teh."
"Iya nak tidak apa apa, maaf ayah jadi merepotkan mantu ayah."
"Enggak kok yah, enggak ada kata merepotkan."
"Tapi yah, seriusan ini Om beneran bapaknya bang Fadli, ini Sazi berasa mimpi kok bisa kebetulan gini sih Om eh ayah."
"Iya Sazi, kebetulan juga ayah ini kenal dekat sama ayah kamu." ucap Sazi menutupi.
Sambil menatap lekat wajah menantunya yang seolah seperti ada bekas airmata di pipi Sazi yang masih terlihat sembab dan belum kering sepenuhnya.
Ayah Fadli terdiam sejenak, dadanya serasa Sesa. Ia tau laporan dari orang suruhannya kalau Sazi belum makan sejak pagi. Tapi melihatnya secara langsung hatinya begitu teriris jauh lebih menyakitkan dari yang dibayangkan.
Akan tetapi ia tak menyangka Sazi menantunya masih nampak ceria dan berusaha untuk tertawa menutupi luka terhadap masalah rumah tangga yang dihadapinya saat ini.
Ayah Fadli tidak banyak bertanya ia memilih diam seribu bahasa. Saat melihat Sazi pergi ke area dapur pun ia melihat sesuatu dari belakang tubuh menantunya yang sedikit gemetar. Seolah menahan sesuatu dan berusaha menahannya seorang diri. Tanpa ingin menunjukkannya pada siapapun. Hanya menunjukkan keceriaan yang dipaksakan.
Ayah Fadli menatap Sazi dengan perasaan campur aduk saat itu. Dalam hatinya ia pun berkata pelan "Nak, maafkan kami, kami yang meminta mu untuk masuk ke rumah ini tapi justru kamu yang menanggung luka."
Sedangkan ditempat lain dirumah sakit, Fadli yang masih berada di ruang tunggu. Duduk dalam kondisi bimbang. Disisi lain ia terus terlintas wajah istrinya namun sisi lainnya ia tidak tega pada cinta pertamanya Nadia.
Tak lama dokter yang menangani Nadia pun keluar dari ruangan.
Fadli langsung bangkit dari duduknya saat itu. "Dok".
"Nona Nadia, sudah mulai stabil hanya saja kondisi tubuhnya masih sangat lemah masih perlu banyak istirahat."
"Terimakasih dok." ucap Fadli.
Tak lama kemudian ia pun langsung masuk kedalam ruang rawat. "Tuh nad kata dokter kamu sudah mulai stabil cuma butuh istirahat saja. Makanya jangan terlalu diforsir sama kerjaan."
"Iya iya, kamu masih cerewet ya fad, belum berubah sama sekali masih sama kayak dulu, thanks ya, pasti istrimu sangat beruntung dapetin kamu."
"Coba aja aku yang lebih dulu."
Fadli tak menjawab, ia hanya tersenyum saja saat itu, dan tak lama,.. "Oia NAD aku pamit ya."
"Akunkira kamu masih mau temani aku fad, yasudahlah pergilah sebelum aku berubah pikiran."
Mendengar hal itu seketika langkahnya untuk keluar menjadi berat, Fadli langsung kembali duduk didekat Nadia.
"Yasudah kamu istirahat saja, aku tidak akan kemana mana."
Kembali ke villa. Menatap foto anak dan menantunya, ayah Fadli begitu bahagia. Memiliki menantu secantik Sazi.
"Cantiknya menantu ayah, fadlinsangat beruntung bisa punya istri secantik kamu Sazi."
"Masa sih yah cantik dari mananya coba."
"Oia Sazi, ayah mau tanya."
"Iya yah, tanya apa?."
"Kamu nyesel nggak nikah sama Fadli?." pertanyaan itu nyaris membuat Sazi tersedak saat ia sedang minum.
"Oh Insyaallah enggak yah."
"Alhamdulillah kalo gitu." ayah Fadli hanya mengangguk sambil melihat gelagat kelakuan Sazi saat itu.
"Sazi,..."
"iya yah."
"Kamu ikut pulang sama ayah sekarang yah?."
"Hah, sekarang ya?."
"Bang Fadli gimana?."
"Sudah dia sudah dewasa biarkan saja, kamu siap siap sana?."
"Iya yah." mau tidak mau Sazi pun menurut patuh ajakan mertuanya itu.
"Kalau gitu Sazi siap siap dulu ya." diangguki ayah mertuanya. Sazi pun berlari menaiki anak tangga. Meski saat beberapa anak tangga terakhir yang sudah semakin dekat dirinya melangkah sedikit berat dan airmata tak lama terjatuh ke wajahnya namun langsung cepat ia menyekanya.
Setelah selesai membereskan semua keperluan yang harus dibawa. "Akhirnya selesai juga."
"Ayah, Sazi sudah selesai."
"Oke sini ayah yang bawa saja."
"Iya yah terimakasih."
Namun saat ia keluar area villa ia menatap sekelilingnya lebih dulu. Terlintas dalam ingatannya saat dirinya diselamatkan oleh Fadli, lalu tragedi kecoa saat baru saja ia sah menjadi istri Fadli. Dan saat dirinya baku hantam perihal kamar.
Tak lupa ia menutup semua jendela, dan mematikan semua lampu diseluruh ruangan. Dan mobil itupun pergi meninggalkan area villa. Namun tak lupa stok keresek selalu ia bawa saat hendak naik kendaraan roda empat. Selalu waspada jika dirinya tiba tiba saja mengalami mabuk kendaraan yang sudah jadi makanan sehari hari Sazi sejak kecil mula.
Lebih memilih berjalan kaki dari pada harus menaiki kendaraan bermobil meski harga mobil itu diatas rata rata bagi Sazi tak perduli asal dirinya aman dari mabuk yang selalu menyiksanya.
Divilla seseorang barusan aja berhasil pulang dari rumah sakit. Namun saat melihat kondisi villa begitu gelap ia langsung menegang sekaligus tanda tanya.
Ia langsung berlari ke semua ruangan dan mebukan lemari kamar. Tak lupa lampu pun ia nyalakan lebih dulu.
"SAZIII!." terisknya mencari istrinya yang entah kemana.