NovelToon NovelToon
Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.

Claire mendapatkan sebuah notifikasi..

[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]

Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.

Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amarah Maxime

Jantung mereka seakan mencelos, merosot ke dasar perut saat sepasang mata mereka dipaksa menyaksikan pemandangan asusila yang terhampar di atas ranjang besar itu. Di sana, di tengah remang cahaya, sosok pria bertubuh kekar dengan kulit gelap yang kontras tampak mendominasi, terjebak dalam jaring gairah bersama tiga wanita yang seluruh lekuk tubuhnya terekspos tanpa selembar benang pun menyelimuti.

Pemandangan itu begitu liar; sementara salah satu wanita melakukan tindakan intim yang memuakkan, sang pria justru membalas dengan ciuman brutal pada bibir wanita di sampingnya, seolah-olah moralitas telah lama menguap dari ruangan tersebut.

Dia bukan Claire—sosok yang seharusnya berada di sana tidak ditemukan di sudut mana pun dalam kamar terkutuk itu. Kakek Carlos berdiri mematung dengan wajah pucat pasi, Nyonya Mariam menutup mulutnya demi menahan jerit histeris, sementara Julian dan Amber hanya bisa terpaku dalam keterkejutan yang melumpuhkan saraf.

Namun, badai paling hebat berkecamuk di dalam diri Maxime. Dunianya seakan runtuh berkeping-keping saat ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana istrinya—wanita yang ia puja—justru bergerak dalam ritme gairah di atas pria asing itu. Amarah yang dingin dan pengkhianatan yang pedih menyatu, membuat tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-bukunya memutih, menahan ledakan emosi yang siap menghancurkan apa pun di hadapannya.

Napas Maxime memburu, dadanya naik turun seolah oksigen di ruangan itu telah habis terbakar kemarahan.

"APA-APAAN INI?!" teriak Maxime, suaranya menggelegar hingga memekakkan telinga.

Namun, dunia seolah terputus bagi mereka yang ada di atas ranjang. Ketiga wanita itu—Glenna, Ana, dan Yunda—terus mengerang dan mendesah, seolah teriakan Maxime hanyalah angin lalu yang tak berarti. Kabut gairah yang tak kasat mata tampak menyelimuti kewarasan mereka.

Maxime melangkah lebar, cengkeramannya mendarat kasar pada lengan Glenna. Ia menyeret istrinya itu hingga jatuh terduduk di lantai yang dingin.

PLAK!

Tamparan keras itu mendarat di pipi Glenna, meninggalkan bekas merah yang kontras dengan kulit pucatnya.

"DASAR WANITA JALANG! WANITA MURAHAN!" maki Maxime dengan suara menggelegar karena murka. "Berani sekali kau bermain api di belakangku! Di rumah ini! Di depanku!"

Kakek Carlos, dengan tangan gemetar dan wajah sepucat kapas, melangkah maju berusaha menahan menantunya. "T-Tuan Maxime... tolong tenanglah. M-mungkin ini hanya kesalahpahaman... mungkin mereka dijebak..."

Maxime menoleh perlahan, tatapannya setajam belati yang siap menguliti siapa saja. "Kau bilang kesalahpahaman, Tuan Carlos? Apa matamu sudah buta total karena usia?!" telunjuknya mengarah lurus ke arah Glenna. "Putrimu baru saja melemparkan kotoran tepat ke wajahku! Dia menginjak-injak kehormatanku!"

Amber, yang masih berdiri mematung di ambang pintu dengan air mata yang mulai mengalir, mencoba membela adiknya. "Tuan Maxime, saya mohon... ini pasti jebakan. Mereka tidak mungkin melakukan hal sehina ini secara sadar. Saya mengenal pribadi mereka, saya tahu mereka—"

"Tutup mulutmu!" potong Maxime kasar. "Kau selalu menghina menantumu sebagai wanita murahan, tapi lihatlah sekarang! Ternyata darah yang mengalir di keluargamu jauh lebih busuk. Lihat adikmu, dan lihat kedua putrimu! Mereka semua sama saja!"

Mendengar nama putri dan cucunya disebut, Nyonya Mariam seolah baru tersadar dari syoknya. Ia mendekat ke arah Ana dan Yunda yang masih tampak linglung, matanya menyala-nyala oleh amarah dan kekecewaan yang mendalam.

PLAK! PLAK!

Dua tamparan mendarat di wajah cucu-cucunya. "BAGAIMANA BISA KALIAN MELAKUKAN INI?! Di mana otak kalian?! Kalian menghancurkan nama baik keluarga ini dalam satu malam!" teriak Nyonya Mariam histeris.

Ana dan Yunda hanya gemetar. Tubuh mereka menggigil hebat, namun ada kekosongan di mata mereka. Seolah-olah jiwa mereka sedang terpenjara di tempat lain, sementara tubuh mereka digerakkan oleh sesuatu yang gelap dan tak terkendali. Mereka ingin bicara, ingin memohon ampun, tapi lidah mereka terasa kelu oleh sisa-sisa hasrat yang masih berdenyut aneh di pembuluh darah mereka.

Di depan pintu, Ares berdiri menyandarkan bahunya ke dinding. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sarat akan kemenangan. Ia menyesap suasana kacau itu layaknya anggur mahal.

" Pertunjukan ini..." bisik Ares dalam hati, matanya berkilat puas menyaksikan kehancuran keluarga tersebut. "Jauh lebih menyenangkan dari yang aku bayangkan."

Atmosfer di kamar itu terasa begitu pekat, seolah oksigen telah habis terbakar oleh amarah membara yang meledak dari sosok Maxime. Setiap hantaman tinjunya yang menghujam pria di lantai menciptakan bunyi tumpul yang menggidikkan, sebuah simfoni kekerasan yang lahir dari pengkhianatan yang tak termaafkan. Claire melangkah maju, kakinya mengetuk lantai dengan ritme yang tenang namun penuh otoritas, mendekati ambang pintu kamar yang kini menjadi panggung bagi sebuah insiden memalukan.

Di dalam sana, pemandangan kacau tersaji dengan gamblang--- tiga wanita meringkuk gemetar di sudut ruangan, kulit polos mereka tersembunyi di balik lilitan selimut yang kusut, sementara seorang pria berkulit hitam tersungkur tak berdaya di bawah amuk buta Maxime.

Tak satu pun jiwa di ruangan itu yang berani berkutik--- Kakek Carlos, Nyonya Mariam, Amber, hingga Julian hanya bisa mematung dengan napas tertahan, seolah-olah satu kata saja sanggup membuat amarah Maxime beralih membakar mereka.

Di tengah kekacauan itu, hanya Ares yang berdiri dengan wajah datar sedingin es, seakan ia sangat menikmati adegan di depan nya. Claire menatap pemandangan mengerikan itu, namun bukannya ketakutan, sebuah senyum tipis yang sarat akan kemenangan tersungging di bibirnya. Sebuah ironi yang sempurna—mereka yang semula menyusun jaring-jaring muslihat untuk menjeratnya, kini justru terperosok dan membusuk dalam jebakan yang mereka gali sendiri.

BUAGH!

BUAGH!

BUAGH!

"KURANG AJAR! BERANI SEKALI KAU MENYETUBUHI ISTRIKU!" teriak Maxime, suaranya parau oleh murka yang meluap.

Ia berhenti sejenak, beralih menatap Glenna yang meringkuk di sudut ranjang, gemetar di balik selimut yang ia cengkeram erat. "DAN KAU GLENNA, DASAR JALANG RENDAHAN! Kau pikir kau siapa bisa mengotori nama keluargaku dengan pria ini?!"

Glenna gemetar hebat, menarik selimut lebih erat hingga menutupi dagunya. "Sayang... Maxime, tolong dengarkan aku... Ini tidak seperti yang terlihat. Aku bersumpah, aku tidak tahu bagaimana aku bisa ada di kamar ini!"

Maxime berbalik dengan mata menyalang merah, menunjuk tepat ke wajah Glenna."DIAM! Jangan sebut namaku dengan mulut kotor itu, Glenna! Kau adalah wanita rendah yang pernah kukenal. Aku memberikanmu segalanya, bahkan aku rela mengkhianati istriku yang pertama.. tapi balasan mu... AKU MENYESAL.. SANGAT MENYESAL GLENNA!!!"

Di ambang pintu, Claire melangkah maju. Sepatunya mengetuk lantai marmer dengan irama yang tenang, kontras dengan kekacauan di depannya. Ia memasang raut wajah ngeri yang dibuat-buat, meski hatinya bersorak melihat jebakan itu berbalik arah.

"ASTAGA! Apa yang terjadi di kamar ini?" suara Claire memecah ketegangan yang mencekam.

Julian, yang sejak tadi terpaku seperti patung, mendadak tersentak saat mendengar suara istrinya. Tanpa pikir panjang, ia menerjang maju dan merengkuh Claire ke dalam pelukannya—sebuah tindakan protektif yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.

" Syukurlah... syukurlah bukan kau," bisik Julian di ceruk leher Claire. Tubuhnya bergetar hebat antara rasa lega dan amarah yang belum padam.

Claire mematung. " Sejak kapan dia peduli?" batinnya sinis. Namun, di samping nya, ia bisa merasakan sepasang mata elang sedang mengintainya. Ares berdiri di sana, wajahnya sedingin es, namun rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Ada gejolak aneh yang membakar darahnya saat melihat tangan Julian melingkari pinggang Claire.

Sementara itu, Amber mendekat dan memeluk kedua tubuh putrinya yang hanya di lindungi oleh selimut. "Hiks... hiks... aku tidak tahu apa yang terjadi! I-- ini pasti jebakan." kata Ana terisak.

Suara Kakek Carlos bergetar, mencoba menengahi dengan tangan terulur yang gemetar. "T--Tuan Maxime, tolong... kendalikan amarahmu. Mari kita bicarakan ini secara kekeluargaan. Jangan biarkan emosi menghancurkan segalanya..."

Maxime tertawa sinis, menusuk. "Kekeluargaan? Tuan Carlos, lihat wajah anakmu itu! Dia bukan lagi bagian dari keluargaku. Tadinya aku masih menghormatimu sebagai mertuaku, tapi pengkhianatan ini adalah deklarasi perang. Bersiaplah, karena aku akan memastikan setiap aset yang kau miliki hancur berkeping-keping mulai besok pagi!"

Glenna melihat Claire, matanya memancarkan kebencian murni. "KAU! Ini pasti perbuatanmu, kan?! Maxime! Claire yang mengatur semua ini! Dia sengaja memancingku ke sini untuk menjebakku!"

Claire melepaskan diri perlahan dari Julian, menatap Glenna dengan tatapan terluka yang dibuat-buat. "Bibi Glenna, tega sekali kau menuduhku? Aku saja baru sampai ke tempat ini. Bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal sekeji ini padamu? Apa kau begitu putus asa sampai harus menyeret ku ke dalam skandal memalukanmu?" Claire berakting dengan mata berkaca - kaca. Ares yang fokus melihat Claire merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan--- sebuah ketertarikan yang nyata.

" Wanita.... lebih berbahaya dari yang aku duga.. tapi entah kenapa, justru itu membuatku semakin tertarik padanya." batin Ares.

Yunda berteriak histeris dari balik selimut. "JANGAN BERAKTING, CLAIRE! Kau selalu benci pada kami! Kau pasti membayar pria ini untuk masuk ke sini, kan? Kau ingin membalas dendam karena penghinaan yang selalu kami lakukan!"

Amber menambahi dengan nada mengintimidasi. "Katakan yang sejujurnya, Claire! Jangan mencoba bermain api dengan kami. Apa kau yang membawa pria ini masuk? Bicara! Apa motifmu menjebak putri dan adikku dalam situasi memuakkan seperti ini?!"

" Sangat menarik. Sebuah drama keluarga yang luar biasa." Ares melangkah mendekat, matanya menatap sinis ke arah Amber. "Menyalahkan menantu atas perbuatan memalukan adik dan putrimu sendiri... Anda sungguh ibu mertua yang baik, Nyonya Amber. Apakah strategi menyalahkan orang lain ini sudah Anda latih sebelumnya?"

"Cukup! Aku tidak butuh drama tambahan!" menunjuk ke arah Kakek Carlos dan Amber. "Jangan pernah menampakkan wajah kalian di depanku lagi sebelum hutang kehormatan ini lunas. GLENNA! AKU AKAN SEGERA MENGURUS SURAT CERAI UNTUK MU."

" TIDAAAK!!"

Ares berjalan melewati Claire, berbisik sangat pelan hingga hanya Claire yang dengar. "Pertunjukkan yang menyenangkan, Nona Claire.." Ares keluar dengan sudut bibir yang tertarik ke atas. Untuk pertama kalinya dia merasa tertarik pada seseorang.. namun sayangnya... orang itu adalah istri orang. Tidak masalah.. karena apapun yang dia inginkan selalu bisa dia dapatkan.

Selama 5 Tahun-- sejak kejadian dimana dia meniduri seorang wanita asing yang ternyata masih perawan. Sejak saat itu, Ares mencoba bertanggung jawab dengan mencari keberadaan wanita itu. Namun sampai sekarang hasil nya nol. Ares memejamkan mata, keinginan nya untuk menemukan wanita itu perlahan menurun, di gantikan perasaan ingin merampas milik orang lain.

Langkah Ares terhenti, matanya terpejam. " Claire.." nama itu terucap begitu saja dari hatinya. " Aku sudah menandai mu... sekarang kau adalah milik ku! Julian yang bodoh itu.. tidak pantas memiliki mu."

BERSAMBUNG

1
Murni Dewita
double up lah thor
Sulati Cus
knp g cb tes DNA dg si twins🤔
Murni Dewita
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Murni Dewita
👣
Siti Sa'diah
wah jangan2 clair iniii
Musdalifa Ifa
WOW
Musdalifa Ifa
seru banget, selalu suka sama peran wanita yg kuat, tegas dan punya banyak kelebihan begini👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!