Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.
Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.
Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.
“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”
Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Mantan Pacar
“Nadira…” gumam Sinta pelan.
Wanita yang dipanggil itu langsung tersenyum lebar.
“Lho, Tante Sinta? Ya ampun, aku nggak nyangka banget kita bisa ketemu di sini!” ucap Nadira dengan nada riang. “Tante apa kabar? Udah lama banget kita nggak ketemu.”
Sinta yang tadi sempat terkejut kini berusaha menetralkan ekspresinya. Senyum tipis tersungging di bibirnya, meski sorot matanya masih menyimpan kehati-hatian.
“Iya, sudah lama sekali. Dan seperti yang kamu lihat… Tante baik-baik saja,” jawabnya tenang. “Kamu sendiri ke sini sendirian atau sama siapa? Gimana kabarnya?”
“Aku baik, Tante,” jawab Nadira ringan.
Lalu matanya kembali fokus pada Sinta saja. “Tante sendirian?”
Pertanyaan itu membuat Sinta sedikit menggeser tubuhnya.
“Ah, nggak. Tante sama cucu sama menantu,” ujarnya sambil menunjuk ke arah Samira dan Binar di sampingnya.
Dan dalam satu detik—
Senyum Nadira memudar.
Matanya berpindah dari Sinta… ke Samira.
Samira yang sedari tadi hanya diam langsung merasakan perubahan suasana. Ia menunduk sopan sedikit.
“Halo,” sapanya pelan.
Nadira tidak langsung menjawab. Tatapannya meneliti wajah Samira dengan saksama, seolah mencoba memastikan sesuatu dalam pikirannya.
Sementara itu, Binar yang masih mengantuk memeluk leher ibunya erat, tidak menyadari ketegangan halus yang mulai terbentuk di antara orang dewasa di sekelilingnya.
Sinta berdeham kecil, mencoba mencairkan suasana.
“Ini Samira, menantu Tante,” jelasnya. “Istrinya Samudra.”
Nama itu.
Begitu saja meluncur.
Dan efeknya langsung terlihat. Jari Nadira menegang di sisi tubuhnya.
Namun hanya sepersekian detik.
Ia cepat-cepat tersenyum lagi, senyum yang rapi, sopan… tapi tidak sampai ke mata.
“Oh…” ucapnya pelan. “Jadi… ini istri Mas Samudra sekarang.”
Nada suaranya terdengar ringan, tapi ada sesuatu yang samar tersembunyi di baliknya sesuatu yang terlalu tipis untuk disebut kasar, tapi terlalu tajam untuk disebut netral.
Samira mengangguk kecil. “Iya.”
Sinta melirik Nadira sekilas. Ia tentu tahu persis siapa gadis ini. Bagaimana mungkin ia lupa?
Nadira.
Mantan kekasih Samudra.
Dulu, hubungannya dengan keluarga mereka sangat baik. Bahkan Sinta pernah mengira gadis itulah yang kelak akan menjadi menantunya. Namun semuanya runtuh ketika kebenaran tentang perselingkuhan Nadira terbongkar. Sejak saat itu, hubungan mereka putus bukan hanya dengan Samudra, tapi juga dengan seluruh keluarga.
Dan sekarang…
Orang dari masa lalu itu berdiri di depan mereka. Tak disangka. Tak direncanakan.
Nadira menatap Binar yang setengah tertidur. “Ini… anaknya Mas Samudra?”
“Iya,” jawab Sinta singkat.
Nadira tersenyum tipis. “Lucu ya.”
Samira membalas sopan, “Makasih.”
Hening lagi.
Udara parkiran terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Tak ada yang bicara beberapa detik.
Sampai akhirnya—
“Mas Samudra… apa kabar?” tanya Nadira tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Sinta langsung menoleh padanya.
Sementara Samira…
diam.
Matanya tidak lagi menatap Nadira. Melainkan lurus ke depan. Seolah sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang belum ia ketahui… tapi ia rasakan akan datang.
Dan entah kenapa sejak bertemu wanita itu…
Ada firasat kecil yang membuat hatinya tidak tenang.
Pertanyaan itu menggantung di udara.
“Mas Samudra… apa kabar?”
Nada Nadira terdengar ringan, hampir seperti basa-basi biasa. Tapi entah kenapa, kalimat itu terasa berbeda saat sampai di telinga Samira.
Sinta menyilangkan tangan di depan dada. Bukan sikap kasar lebih tepatnya sikap waspada.
“Baik,” jawabnya singkat.
Nadira mengangguk pelan. “Syukurlah.”
Matanya masih tertuju pada Samira.
Menilai.
Mengukur.
Membandingkan.
Samira bisa merasakannya.
Namun ia tetap berdiri tenang, tangannya mengusap punggung Binar perlahan agar anak itu tetap nyaman di pelukannya.
Sinta melangkah setengah langkah maju, sedikit menutup posisi Samira tanpa terlihat mencolok. Naluri seorang ibu dan sekaligus mertua langsung aktif.
“Kamu sendiri sekarang gimana, Nadira?” tanya Sinta, suaranya sopan tapi jelas memberi batas. “Masih di kota ini?”
“Iya, Tante. Aku baru pindah lagi ke sini beberapa bulan lalu,” jawab Nadira.
“Kerja?”
“Iya. Di perusahaan konsultan.”
Sinta mengangguk tipis. “Bagus.”
Hening lagi.
Namun kali ini bukan hening canggung.
Hening penuh makna.
Nadira melirik Samira lagi. “Mbak Samira… ya?”
“Iya,” jawab Samira lembut.
“Mbak kelihatan pendiam atau memang pemalu?"
Samira tersenyum tipis. “Nggak juga. Cuma lagi capek habis nemenin anak main.”
“Oh…” Nadira tertawa kecil. “Iya sih. Jadi ibu memang capek ya.”
Kalimat itu terdengar normal.
Tapi ada sesuatu di ujungnya.
Sesuatu yang membuat Sinta langsung menyipitkan mata sedikit.
Namun Samira tetap tenang.
“Iya,” jawabnya sederhana. “Tapi capek yang menyenangkan.”
Nadira terdiam sepersekian detik. Lalu tersenyum lagi.
“Mas Samudra beruntung ahh lebih tepatnya Mbak yang beruntung dapat suami seperti Mas Samudra,” ucapnya.
Sinta langsung menatapnya tajam.
Namun Nadira melanjutkan seolah tak terjadi apa-apa—
“Dapet suami yang sempurna."
Samira menunduk sedikit. “Semoga memang begitu.”
Jawaban itu tenang. Tidak defensif. Tidak tersinggung. Tidak juga terpancing.
Dan justru karena itulah ekspresi Nadira berubah tipis.
Seolah ia tidak mendapatkan reaksi yang ia harapkan.
Binar bergerak kecil di pelukan Samira, menguap pelan.
“Mama… ngantuk…”
Suaranya lirih, setengah sadar.
Samira langsung mengusap rambutnya. “Iya sayang, bentar lagi kita pulang.”
Sinta tersenyum lembut melihat cucunya, lalu kembali menatap Nadira.
“Kalau gitu, kami duluan ya. Anak kecil nggak bisa diajak lama-lama berdiri begini.”
“Oh iya, Tante,” jawab Nadira cepat. “Maaf ya tadi nggak sengaja nabrak. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya, Tan?"
“Nggak apa-apa. Iya kapan-kapan kalau Tante GK sibuk,” balas Sinta.
Samira mengangguk sopan. “Permisi.”
Ia berbalik.
Langkahnya pelan menuju mobil.
Sinta mengikuti di sampingnya.
Namun—
Baru dua langkah.
“Tunggu sebentar.”
Suara Nadira.
Samira berhenti.
Sinta ikut berhenti.
Perlahan mereka menoleh.
Nadira berdiri di tempat yang sama. Wajahnya masih tersenyum… tapi matanya berbeda sekarang. Lebih dalam. Lebih tajam.
“Aku cuma mau bilang…” katanya.
Hening.
“Aku senang Mas Samudra akhirnya nikah juga.”
Kalimatnya terdengar seperti ucapan tulus.
Tapi entah kenapa…
Dada Samira terasa sedikit sesak.
Nadira melanjutkan, pelan—
“Karena dulu… aku kira dia nggak akan pernah bisa mencintai orang lain lagi.”
Sunyi.
Lampu neon parkiran berdengung pelan di atas kepala.
Sinta langsung menegang.
Sementara Samira diam.
Tidak bergerak.
Tidak menjawab.
Tidak juga membalas senyum.
Dan di dalam dadanya sesuatu bergetar halus. Bukan marah. Bukan sedih.
Tapi... keraguan kecil yang tiba-tiba muncul tanpa izin.
•••••
Di dalam mobil, suasana hening sepenuhnya.
Tak ada percakapan.
Samira fokus menatap jalan di depannya, kedua tangannya mantap memegang setir. Lampu-lampu jalan memantul di kaca depan, sesekali menyilaukan mata. Di kursi belakang, Sinta memeluk Binar yang sudah tertidur pulas sejak keluar dari mall. Kepala kecil itu bersandar di dada neneknya, napasnya teratur, damai seolah dunia tak pernah punya masalah.
Mobil melaju stabil menembus jalanan Sore.
Tak ada radio.
Tak ada suara.
Hanya dengungan mesin dan suara napas pelan seorang anak kecil yang tertidur.
Samira tidak bicara.
Sinta juga tidak.
Namun bukan karena mereka tak punya hal untuk dikatakan.
Justru karena terlalu banyak yang ingin dikatakan… tapi tak tahu harus mulai dari mana.
Beberapa menit kemudian, mobil perlahan memasuki halaman rumah Sinta.
Samira mematikan mesin.
Sunyi kembali.
Ia menoleh sedikit ke belakang.
“Mah… sudah sampai,” ucapnya lembut.
Sinta mengangguk pelan. Ia menatap wajah cucunya sebentar, lalu mengusap pipinya dengan sayang sebelum perlahan menggeser posisi agar bisa turun tanpa membangunkannya.
Samira cepat membuka pintu, berjalan memutar, lalu membuka pintu belakang.
Dengan hati-hati ia mengambil Binar dari pelukan Sinta.
Tubuh kecil itu langsung merapat refleks ke dada ibunya.
Samira tersenyum tipis.
“Tidur terus ya, putri Mama…” bisiknya.
Sinta turun dari mobil sambil merapikan tas di bahunya.
“Makasih ya, Nak… hari ini Mama senang banget,” ucapnya hangat.
Samira menggeleng pelan. “Samira yang harusnya makasih, Mah. Jarang-jarang bisa jalan bareng Mama.”
Sinta menatapnya beberapa detik.
Tatapan itu lembut.
Tapi juga… penuh sesuatu yang sulit dijelaskan.
“Nak…” panggilnya pelan.
“Iya, Mah?”
Sinta ragu sepersekian detik. Seolah sedang menimbang sesuatu di dalam pikirannya.
Namun akhirnya ia hanya tersenyum.
“Jangan kepikiran omongan orang, ya.”
Samira terdiam.
Ia tahu.
Ia tahu maksud kalimat itu.
Dan siapa yang dimaksud.
Samira tersenyum kecil. “Iya, Mah.”
Sinta mengangkat tangan, mengusap pipi menantunya pelan.
“Kamu itu perempuan baik. Mama tahu itu.”
Kalimat sederhana.
Tapi entah kenapa dada Samira terasa hangat sekaligus perih.
“Iya, Mah…” jawabnya lirih.
Sinta mengangguk puas, lalu berbalik menuju pintu rumah. Sebelum masuk, ia sempat menoleh lagi.
“Hati-hati di jalan.”
“Iya.”
Pintu rumah tertutup pelan.
Halaman kembali sepi.
Samira berdiri sebentar di samping mobil, memeluk Binar yang masih terlelap. Ia menarik napas panjang.
Lalu menghembuskannya perlahan.
Seolah baru sekarang ia mengizinkan dirinya merasa.
Perlahan ia masuk kembali ke mobil, menaruh Binar dengan hati-hati di kursi belakang, memasangkan sabuk pengaman anak, lalu kembali ke kursi pengemudi.
Mesin dinyalakan.
Mobil bergerak keluar halaman.
Malam semakin sunyi.
Jalanan tak seramai tadi.
Lampu lalu lintas berganti warna dengan malas.
Pikiran Samira benar-benar kembali ke satu kalimat itu.
"…aku kira dia nggak akan pernah bisa mencintai orang lain lagi.”
Tangannya di setir mengencang sedikit.
Napasnya tertahan. Ia menatap lurus ke depan. Namun bayangan itu terus terulang.
Nada suara Nadira. Ekspresi wajahnya. Cara ia mengucapkannya. Samira menelan ludah pelan.
“Kamu tidak tahu aslinya…” gumamnya nyaris tak terdengar.
Mobil terus melaju.
Lampu jalan satu per satu terlewati.
Dan tanpa ia sadari, satu pertanyaan kecil mulai tumbuh pelan di dalam hatinya.
Selama ini… apakah Samudra benar-benar tidak pernah mencintainya?
Mobil terus berjalan.
Bersambung…
@@@
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!