NovelToon NovelToon
Munajat Cinta

Munajat Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Diam-Diam Cinta
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

EDISI SPESIAL RAMADHAN

Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.

Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.

Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.

Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!

Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjenguk

Keesokan paginya suasana di kantor pusat kurikulum nampak ganjil, Zunaira yang biasanya sudah hadir paling pagi untuk merapikan berkas, tidak nampak batang hidungnya.

Gus Azlan yang sedang memimpin rapat kecil bersama para pengurus ustadzah terus melirik ke arah kursi kosong di ujung meja.

"Ustadzah Sarah, di mana Ustadzah Zunaira? Belum pernah dia terlambat seperti ini." tanya Azlan dengan suara yang diusahakan tetap datar dan berwibawa.

"Tadi saya lewat kamarnya, pintunya terkunci rapat Gus, saya panggil tidak ada jawaban. Mungkin kecapekan habis nerima bingkisan mewah kemarin, jadi bangunnya kesiangan." ucap Ustadzah Sarah dengan menyindir Zunaira.

Rahang Azlan mengeras mendengar sindiran Sarah, namun ia tetap tenang.

"Tolong cek kondisinya setelah rapat ini, jika dia sakit segera panggilkan perawat pesantren." tegas Gus Azlan.

Rapat itu terasa sangat lama bagi Azlan, begitu selesai ia segera menuju ndalem dan menemui Ning Arifa.

"Arifa, tolong ke asrama ustadzah sekarang dan cek Zunaira. Mas merasa ada yang tidak beres." perintah Gus Azlan.

Arifa yang sedang bermain boneka dengan Naura langsung berdiri.

"Tuh kan firasat Arifa bener! Mas Azlan dari tadi wajahnya kayak baju belum disetrika kusut banget. Oke, Arifa meluncur!" seru sang adik kemudian pergi dari sana menuju ke kamar ustadzah Zunaira.

Setengah jam kemudian, Arifa kembali dengan wajah panik.

"Mas Azlan! Ustadzah Zu demam tinggi! Wajahnya pucat sekali, dia pingsan di dekat tempat tidurnya. Tadi Mbak Hana sudah ke sana bawa kompres." seru Ning Arifa khawatir.

Azlan merasa jantungnya seperti berhenti berdetak, ia ingin lari ke asrama itu sekarang juga.

Ia ingin memegang tangan Zunaira dan memastikan wanita itu baik-baik saja.

Namun ia terpasung oleh aturan dan kerahasiaan, jika ia datang ke asrama putri di jam produktif tanpa alasan yang mendesak bagi umum, itu akan menjadi skandal besar.

"Lan, sabar." Gus Haidar menahan pundak Azlan.

"Biarkan Hana dan Arifa yang mengurusnya. Kamu kalau ke sana sekarang justru akan mempersulit posisi Zunaira. Ingat, ada Ning Syifa yang mungkin punya informan di sini." ujar Gus Haidar.

Azlan mengepalkan tangannya di balik saku jubah, ia hanya bisa menatap asrama putri dari jendela kantornya yang tinggi.

Di sana, di salah satu kamar kecil itu calon istrinya sedang berjuang melawan sakit yang bersumber dari kecemasan demi melindunginya.

Ia mengambil ponselnya, mengetik sebuah pesan singkat dengan tangan bergetar.

Gus Azlan: [Zunaira, maafkan saya yang hanya bisa menjagamu lewat doa dari balik tembok ini. Arifa dan Mbak Hana sudah bersamamu, cepatlah sembuh jiwaku dan jangan biarkan surat-surat itu melukai hatimu. Ingatlah, sebentar lagi tidak akan ada lagi tembok yang memisahkan kita untuk saling menguatkan. Laa ba'sa thahurun insya Allah.]

Azlan kemudian duduk di meja kerjanya sambil menundukkan kepala, ia teringat sebuah hadis yang sangat menyentuh hati:

"Sesungguhnya besarnya pahala itu seiring dengan besarnya ujian." (HR. Tirmidzi).

"Ujian kita sedang dimulai, Zu." bisiknya lirih.

Sore hari, kabar dari Arifa sedikit melegakan, Zunaira sudah sadar meski masih sangat lemah.

Ia menolak dibawa ke rumah sakit dan memilih dirawat di asrama yang membuat Azlan terenyuh adalah pesan balasan dari Zunaira yang dikirimkan melalui bisikan kepada Arifa untuk disampaikan padanya.

"Mas Azlan." Arifa masuk ke ruangan kakaknya dengan wajah lebih tenang.

"Tadi Ustadzah Zu bilang... jangan khawatirkan dia, dia cuma butuh istirahat. Dia bilang surat untuk Ning Syifa sudah dia selesaikan dan ada di atas mejanya dan dia minta Mas tetap fokus pada persiapan hari Kamis nanti." ujar Arifa menyampaikan pesan dari calon kakak iparnya itu.

Azlan tersenyum pahit dengan pean yang disampaikan oleh sang adik.

"Bahkan dalam sakitnya, dia masih memikirkan aku dan harga diri keluarga kita." lirih Gus Azlan.

Malam itu Azlan tidak pulang ke kamarnya, ia menghabiskan waktu di mushala ndalem, bersujud lama di tempat di mana lusa nanti ia akan mengucapkan akad.

Ia berdoa agar kabut dari Jawa Timur segera sirna dan agar wanita yang sedang terbaring lemah itu diberikan kekuatan ekstra.

Karena sesungguhnya, badai sesungguhnya bukan datang dari Kyai Mansur melainkan dari sejauh mana mereka sanggup bertahan dalam kesabaran yang disembunyikan.

...****************...

Pagi di Pesantren Al-Anwar biasanya diawali dengan simfoni langkah kaki santri yang terburu-buru menuju kelas madrasah, namun hari ini sebuah keheningan yang tak biasa menyelimuti koridor asrama ustadzah.

Zunaira masih terbaring lemah, tubuhnya memang berangsur pulih dari demam semalam, namun jiwanya masih terasa letih oleh beban rahasia yang kian menghimpit.

Di atas meja kecil samping tempat tidurnya sepucuk surat balasan untuk Ning Syifa sudah terlipat rapi.

Zunaira telah memantapkan hati, ia tidak akan membiarkan dirinya ditarik ke dalam pusaran manipulasi,a teringat sebuah hadis yang sering diulang oleh almarhum ayahnya ketika ia masih kecil.

"Barangsiapa yang membuat manusia rida dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan menyerahkan nasibnya kepada manusia dan barangsiapa yang membuat Allah rida meskipun manusia murka, maka Allah akan mencukupkan dia dari beban manusia." (HR. Tirmidzi).

Zunaira memejamkan mata sejenak dan meresapi makna kemerdekaan hati dalam ketaatan.

Namun ketenangannya buyar saat pintu kamarnya diketuk dengan irama yang anggun bukan ketukan kasar khas Ustadzah Sarah, bukan pula ketukan ceria ala Ning Arifa.

"Assalamu’alaikum, Ustadzah Zunaira." salam seseorang dari luar.

Darah Zunaira seolah berhenti mengalir, ia mengenali suara itu yaitu suara yang tenang, berwibawa, namun menyimpan ketajaman di tiap ujung nadanya dan itu Ning Syifa.

Ning Syifa baru saja datang kembali ke pesantren Al-Anwar, entah apa tujuannya apakah karena surat tersebut dan ancamannya yang tidak pernah main-main tentang Gus Azlan atau hanya sekedar menjenguk Zunaira yang sakit padahal kemarin Ning Syifa baru saja pulang ke pesantren nya.

Zunaira berusaha bangkit dan membetulkan jilbab instannya yang agak berantakan.

Dengan langkah gontai ia membuka pintu dan di sana berdiri Ning Syifa yang mengenakan gamis sutra berwarna hijau zamrud dengan kerudung yang tersampir sempurna.

Di belakangnya, seorang santri khadam membawa keranjang buah yang terlihat sangat mahal.

"Ning... Ning Syifa? Mari silakan masuk, mohon maaf kamar saya berantakan." ujar Zunaira dengan suara parau.

Syifa tersenyum, tipe senyum yang tidak sampai ke mata.

Ia melangkah masuk ke kamar sempit itu, matanya dengan cepat memindai setiap sudut ruangan, mulai dari tumpukan kitab tafsir, sajadah yang masih tergelar, hingga surat yang terletak di atas meja.

"Saya dengar ustadzah sedang sakit dan sebagai sesama perempuan di lingkungan Al-Anwar saya merasa perlu menjenguk, lagi pula Gus Azlan nampaknya sangat khawatir tadi saat rapat meski beliau berusaha menutupinya." ujar Syifa sambil duduk di kursi belajar Zunaira.

"Terima kasih atas perhatiannya Ning, saya hanya sedikit kelelahan." ucap Zunaira sambil menundukkan kepalanya.

Syifa mengambil surat di atas meja sebelum Zunaira sempat menyembunyikannya.

"Oh, apakah ini balasan untuk saya? Boleh saya baca sekarang?" Tanpa menunggu jawaban Syifa membuka lipatan kertas itu.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...

...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...

...VOTE 💌...

...LIKE 👍🏻...

...KOMENTAR 🗣️...

...HADIAHNYA 🎁🌹☕...

...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...

...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...

1
Kasih Bonda
next Thor semangat
Rahma Inayah
harap..harap cemas ..
Kasih Bonda
next Thor semangat
Supryatin 123
😭😭😭😭❤️❤️❤️ semoga samawa Gus Azlan n ustadzah Zu.💪💪💪menjaga rahasia.lnjut thor 💪💪
Supryatin 123
dag dig dug rasanya hati ini 🤭🤭 lnjut thor 💪💪
Kasih Bonda
next Thor semangat.
Kasih Bonda
next Thor semangat
Rahma Inayah
lanjut thir
tiara
lanjuut thor
Kasih Bonda
next Thor semangat .
Kasih Bonda
next Thor semangat
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪❤️❤️
Rahma Inayah
ni knp nikah nya SDH berapa part blm nikah gregetan ..bacanya ..
Kasih Bonda
next Thor semangat
tiara
duh Naura polosnya bikin gemeeez aja
Kasih Bonda
semangat thor
Lala_Syalala: terima kasih kak dukungannya, semoga bisa terus suka ya sama ceritanya 🙏😊😊🤗
total 1 replies
Kasih Bonda
next Thor semangat
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor
Kasih Bonda
next Thor semangat
Rahma Inayah
jgn sampai rahasia besar kebongkar Krn ke polosan Naura .🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!