Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.
Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?
Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?
Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja
27 Oktober 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
WARNING TYPO BERTEBARAN
***
Aku berlahan menutup mataku merasa diriku yang sedang berbaring diatas padang rumput. Aroma wangi bunga dari berbagai jenis tercium oleh hidung kecilku. Aku membuka mataku dengan berlahan. Cahaya terang menyilaukan penglihatanku ‘sudah pagi’. Aku takjup dengan pemandangan yang kulihat saat ini, hamparan bunga beraneka warna. Aku berlarian seperti anak kecil menikmati alam. Aku melihat ada danau yang berwarna jernih memantulkan apapun dalam bentuk bayangan.
Aku berjalan menuju danau sekilas mataku menangkap sosok gadis dengan rambut panjang dan berpakaian pink
dengan mahkota bunga. Aku mendekatinya “ Halo” sapaku dengan ramah. Berlahan dia menoleh dengan senyuman yang manis.
Aku menganggkat tanganku untuk menutup mulutku yang terkejut aku melihat Melisa asli didepanku dengan senyum cerah.
“ Melisa kenapa kau berada disini” kataku kepada Melisa asli.
“ Karena Lisa dan Melisa satu” kata Melisa asli dengan senyum yang tidak luntur.
Aku merasa binggung dengan apa yang terjadi saat ini “ Melisa apa kau masih hidup?” tanyaku tidak percaya.
Melisa asli mengeleng “ Tidak aku sudah mati sama sepertimu” jawabnya santai. Aku semakin binggung kalau Melisa asli sudah mati kenapa dia berada disini. Melisa asli menganggkat daguku otomatis mataku menatapnya. Aku bisa melihat Melisa menganggkat sudut bibirnya. Melisa asli mendekati kearah telingaku “ Bisa dibilang satu tubuh dua jiwa” bisiknya dengan penuh penekanan. Aku menelan ludahku apa yang barusan kudengar.
“ Mungkin ini terdengar konyol bagimu tapi jiwamu dan jiwaku menempati satu tubuh yang sama. Kita saling berbagi dalam hal apapun seperti tubuh, ingatan, pemikiran, alam bawah sadar, memori” ucap Melisa asli menjelaskan.
“ Tunggu” kataku menghentika penjelasan Melisa “Apa akibat dari dua jiwa dalam satu tubuh” tanyaku waspada karena cerita dinovel tidak ada kasus sepertiku apalagi Melisa asli terlihat berbeda dibandingkan yang aku baca di novel dan ingatan.
“ Akibatnya kau dan aku berubah tanpa kita sadari. Maksudku dulu kau jenius, hebat, ceria, luar biasa sekarang kau kebalikannya. Sedangkan aku dulu pemarah, arogan, sombong, manja, bodoh sekarang aku menjadi orang yang lebih tenang, ceria, kuat, mandiri. Kau bisa menganggapku sisi lain darimu. Intinya aku selalu berkebalikan darimu” ucap Melisa menjelaskan panjang kali lebar.
“ Mengapa kau tidak mengatakan ini dari awal?” kataku shock atas penjelasan Melisa asli.
“ Aku malas menemuimu” kata Melisa asli santai ‘alasan macam apa itu’ pikirku. Yang ini aku yakin seorang Melisa asli karena sikap malas dan acuhnya terlihat jelas.
Aku menghelan nafas kasar memengang kepalaku yang berdenyut “ Pantas saja otakku semakin tidak berguna saat berada disana” gumanku kesal. Aku manarik nafas meredakan emosiku “ Baiklah karena aku sudah mengetahui kekurangannya maka mari kita selesaikan teka-teki ini. Sekarang kita bagi tugas aku akan fokus untuk melempar perangkap sedangkan kau mengamati sekeliling. Kau bertugas untuk menuntunku dan memberikan singyal informasi palsu. Sedangkan aku akan mengorek informasi dan mendapatkan bukti” kataku membagi rencana supaya kasus ini segera selesai. Aku ingin segera kabur untuk menghabiskan uang yang sudah kusembunyikan.
“ Maksudmu kita bergantian setiap sedetik?” tanya Melisa asli.
“ Tidak” kataku menunjuk danau “ Aku tahu kau melihat hal apa yang aku lakukan lewat danau karena danau seperti cermin yang akan merefleksikan perbuatan kita”
“ ahh.. kau ingin aku mengamati sesuatu yang tidak bisa kau amati dan menujukkannya. Baiklah itu mudah bagiku” kata Melisa asli menatap danau.
“ Sepahammu saja toh lama-kelamaan kau pasti akan mengerti” kataku santai menghadapi Melisa asli yang mendapat pelototan. Aku berpikir sebentar “ Apa cuman itu saja akibatnya?”
Melisa tampak berpikir sejenak “ perasaan” kata Melisa asli. Aku masih binggung dengan perkataan melisa asli “ kata malaikat dua jiwa yang melebur menjadi satu akan memiliki perasaan yang berbeda apabila keduanya memiliki tipe yang berbeda. selanjutnya apabila kedua jiwa tidak akur maka akan terjadinya permusuhan antar jiwa yang akan mengakibatkan melemahnya tubuh atau wadah jiwa-jiwa tersebut. Untungnya kita tidak” ucap Melisa asli menjelaskan.
“ Apa maksudmu ini berkaitan dengan cinta?” tanyaku tidak percaya kepada Melisa asli.
“ iya” kata Melisa asli santai “ Aku menyukai Elgar dan kau tidak maka kita akan bertentangan dengan itu” kata Melisa asli dengan ekpresi sedih. Aku tidak tega melihatnya bersedih jadi aku menepuk-nepuk pundaknya “ Aku tidak paham mengapa kau mencintai makluk es?”
Melisa mendongkrak ke langit “ waktu kecil Elgar menemaniku dan menghiburku saat aku ditinggalkan ibu”
“ El juga yang mengantar kematianmu” kataku sarkas penuh kebencian yang dibalas ekpresi sedih Melisa asli. Aku membuka mulutku “ Tanpa dia kita bisa tertawa dan tersenyum bahagia” kataku menghibur Melisa asli.
“ kau benar” kata Melisa asli “ terimakasih atas permainan yang seru, makanan yang lezat, aktivitas baru, tontonan baru dan semunya” kata Melisa asli sambil memelukku. Kita seperti saudara kembar yang beda sifat namun saling melengkapi.
“ Melisa bagaimana kau dan aku mati?” tanyaku serius setelah tadi mendengarkan kata Melisa asli bahwa kami berdua sudah mati. Aku penasaran dengan ending Melisa asli apakah mirip seperti yang diceritan dinovel 'mati dipenjara'.
Melisa asli membawaku kesebuah pohon yang besar. Ditengah pohon ada sebuah cermin besar. Cermin yang memantulkan segalanya. Sekarang aku bisa melihat wajahku dan wajah Melisa saling bergandeng tangan. “ Ayo” kata melisa menarikku masuk kedalam cermin.
----
Suasana suram, gelap dan becek itulah pertama kali masuk kedalam retinaku. Aku melihat seseorang dengan penampilan yang tidak terawat, kumal, dekil dan kotor. Tempat ini juga kotor dan dingin membuatku menggigil. Suara tetesan air menambah keseraman. Besi-besi yang terasa dingin menambah kesan kematian.
Aku mendekatinya bermaksud untuk menolongnya. Aku menyentuh kulitnya ‘dingin’ itulah yang aku rasakan. Wanita itu begitu kedinginan dengan tulang kurus kering krotang. Seluruh tubunya hanya tulang nafas wanitaku semakin lemah. Sampai aku merasakan nafas wanita itu berhenti.
“ itu kematianku” kata Melisa dengan tenang dan wajah tanpa ekspresi. Aku menutup mulutku ‘kejam’ kata yang terlintas diotakku. Melisa membawaku kesebuah pintu ‘sejak kapan ada pintu kayu dipenjara?’. Memintaku membuka pintu kayu tersebut. Aku melakukan hal yang diperintahkan Melisa asli.
Aku merasa sangat bahagia sampai tidak bisa dilukiskan dalam kata-kata sampai-sampai air mataku mengalir. Sekarang aku berada dikamarku. Aku bisa melihat ada banyak tumpukan buku\, leptop\, novel s****n itu\, dan foto keluargaku. Foto bersama saat pergi kekebun binatang. Aku ingat waktu itu kami seharusnya pergi kepantai tapi malah kesasar sampailah kekebun binatang. Aku terkekeh pelan menginggat hal itu. Sampai sebuah pintu terbuka.
Aku terkejut melihat diriku dengan sayatan dan goresan disekujur tubuh. Pakaianku berwarna semerah darah. Telapak kakiku meninggalkan jejak darah segar. Bau anyir mengelitik hidungku dengan langkah kaki yang terseok-seok. Aku mataku mengalir deras tidak percaya apa yang barusan aku lihat.Entah ekpresi apa yang saat ini aku gunakan hanya keterkejutan yang dominan.
Diriku sedang berjalan kearahku “ kamu kenapa!” bentakku. Diriku tidak menjawab pertanyaanku\, melewatiku begitu saja mengambil novel s****n itu. Diriku berbaring sambil membaca bagian akhir cerita novel itu. “ Aku lelah...” kata diriku lirih berlahan memejamkan mata. Tangisku pecah mengoyang-goyangkan diriku yang tertidur lelap dengan darah yang menyelimuti. Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat 'Aku tidur karena lelah'. Lelah karena kekurangan darah 'kanapa tidak ada yang menolongku?'. Goyanganku berlahan berhenti tubuhku lemas air mataku kering 'seakan dunia runtuh'.
-----
KLIK Bunyi jetikan jari membuatku berada didepan cermin. Melisa asli menenangkanku dengan memberikanku tisu. Setelah aku tenang Melisa asli memberikan secangkir teh ‘entah dari mana dia mendapatkan teh’. Aku meminumnya sesekali sesegukan.
“ Mengapa tidak menampilkan memori sepenuhnya? “ kataku kepada Melisa asli dengan nada frustasi, keputusasaan dan amarah.
“ Emosimu” kata Melisa “ Bila emosimu tidak stabil maka memori ditampilkan akan semakin sedikit” jelas Melisa asli kepadaku
Aku mengumpulkan kekuatanku dan mengantur emosiku “ Bagaimana keadaan keluargaku? Apa pelakunya mendapat hukuman setimpal?” tanyaku kepada Melisa asli.
“ Aku tidak tahu yang jelas masa lalu berada dipeti memori kita tinggal membukanya dan masa depan penuh misteri” kata Melisa asli menatap cermin besar didepan kami.
Keheningan menguasaai kami. Kami hanya diam menatap cermin besar. Berbagai keindahan alam yang tidak dapat terlukiskan berada disini. Aku bisa merasakan hangatnya sinar mentari.
“ Sudah waktunya pergi kesekolah” kata Melisa memberikan tanda. Aku memandang Melisa asli begitu pula Melisa asli memandangku dengan penuh keyakinan bahwa esok akan membawa kebahagiaan bagi kita.
***
Halo semuanya....