Leticha gadis 22 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang dijodohkan oleh ayahnya demi menyelamatkan perusahaan. Seharusnya saudaranya yang dijodohkan, tetapi karena menurut sang ayah Leticha membutuhkan seorang pemimpin dalam keluarga, membuat sang ayah memilih untuk menjodohkannya.
Leticha berusaha dengan semampunya untuk membatalkan perjodohan dengan pria berusia 36 tahun. Pria agamis dengan segala ilmu pengetahuan, tetapi usahanya tidak berhasil yang akhirnya membuatnya menikah dengan pria tersebut.
Tidak sampai di sana, Leticha masih terus mencari cara agar bisa berpisah dari tingkah lakunya agar tidak disukai, tetapi suaminya memiliki hati dan sifat yang benar-benar sabar.
Jangan lupa terus ikuti cerita saya.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 Dukungan
Rakash menoleh ke arah Letisha membuat Letisha kebingungan dengan tatapan wajah itu.
"Ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Letisha.
"Kenapa tidak mengembangkan bakat, jika kamu memiliki kemampuan untuk mendesain dan apa salahnya kamu mengembangkan bakat kamu dengan mendesain perhiasan," ucap Rakash.
"Huhhh, ribet, aku harus mencari sponsor dulu, peralatan yang dibutuhkan tidak sedikit dan juga tidak murah. Itu yang membuatku selama ini malas untuk memulai, tidak ada yang mendukungku, memberi support untuk memberikan tempat dan juga peralatan untukku," jawabnya.
"Jika kamu minta pada orang tuamu dan saya rasa mereka pasti akan memberikannya," sahut Rakash.
"Papa tidak pernah peka atas apapun yang aku inginkan, jadi daripada meminta dan banyak komentar, lebih baik tidak peduli," jawabnya dengan santai.
"Kalau begitu saya akan memberikan fasilitas pendukung kepada kamu," ucap Rakash.
Letisha sampai terdiam dengan menatap suaminya itu, terlihat keseriusan di matanya, tanpa banyak berbicara ingin memberikan kesempatan kepada istrinya untuk mengembangkan bakat dengan semua yang dia inginkan.
"Hmmm," Letisha mengalihkan pandangannya.
"Mau memberikan support seperti apa?" tanyanya tiba-tiba saja menjadi gugup dan bahkan tangannya melepaskan rangkulan pada lengan suaminya.
"Kamu tinggal katakan saja apa yang kamu butuhkan, aku memiliki gudang, memiliki tempat untuk para pekerja mendesain, apapun yang kamu inginkan ada di sana, kamu siapkan saja desainnya dan jika ingin diproduksi maka aku mencoba bantu, siapa tahu saja justru menjadi selera perusahaan dan juga bisa dipromosikan," jawab Rakash.
Letisha memang seharusnya memanfaatkan suaminya yang memiliki Perusahaan besar dan bukan hanya satu perusahaan saja, namun memiliki banyak perusahaan dalam bidang yang berbeda-beda.
"Bisa langsung katakan kepada saya jika sudah siap," ucap Rakash.
"Hmmmm, aku akan memikirkannya nanti, soalnya saat ini masih ingin bersenang-senang dulu," ucap Letisha benar-benar tidak ada serius dalam hidupnya.
"Baiklah! Saya akan menunggu.
Malam yang begitu dingin. Ternyata Rakash masih tetap dengan pekerjaannya yang fokus pada laptopnya dan ternyata Letisha masih menemani suaminya meski sudah tertidur dengan kepalanya berbantalkan paha Rakash.
Letisha memang tidak ada jaim-jaimnya dengan sang suami, dia sudah lelah melakukan semua itu, jika menurutnya nyaman dengan apa yang dia lakukan. Maka Letisha tidak masalah sama sekali melakukannya. Menurutnya semua santai-santai saja.
Rakash menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan, dengan melihat jam pada ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi.
Rakash mematikan laptopnya dan kemudian meletakkan di atas meja. Karena Letisha tertidur membuat Rakash tidak tega untuk membangunkannya dan lebih memilih menggendong ala bridal style membawa memasuki kamar.
Dengan sangat hati-hati Rakash membaringkan sang istri di atas tempat tidur, tidak ingin membuat istrinya terbangun. Rakash juga menarik selimut sampai dada.
Letisha benar-benar sangat nyenyak tertidur, tidak terbangun sama sekali dan mungkin saja karena dia juga baru sembuh, jadi pembawaannya ingin tidur terus. Setelah memastikan istrinya tertidur dengan lelap membuat Rakash langsung keluar dari kamar.
****
Pagi hari sudah kembali tiba. Letisha masih menggunakan piyama duduk di meja makan terlihat menikmati sarapan yang baru saja diberikan Rakash.
"Aku sudah sembuh dan seharusnya tidak memberiku bubur. Aku ingin makan, makanan yang enak-enak," keluh Letisha dengan wajah tampak cemberut.
"Kamu sarapan dulu dan nanti untuk makan siang, saya akan membuatkan makanan yang lain," ucap Rakash.
"Membuatkan makanan untukku, memang kamu tidak ke kantor? Apa kamu akan menemaniku di Apartemen?" tanyanya tampak ingin memastikan secara jelas.
"Benar! saya hari ini harus ke kantor, saya akan memesankan makanan untuk kamu dari kantor," jawab Rakash.
"Huhhhh!" Letisha menghela nafas dengan melanjutkan makanannya.
Wajahnya terlihat terpaksa dalam menikmati makanan itu, tetapi lagi-lagi Letisha tidak bisa menolak daripada tidak disiapkan sama sekali, karena asisten rumah tangga yang biasa berada di rumah itu belum pulang dari kampung sampai saat ini.
******
Letisha siang ini berada di ruang tamu tampak menikmati makanan yang sangat banyak. Rakash ternyata menepati janjinya untuk memesankan makanan pada istrinya.
"Huhhhh, ternyata enak juga menikah, hidup dibiayai, apa-apa tidak perlu mengeluarkan uang, aku mau minta dunia ini sudah pasti akan diberikan. Sudah begitu, kehidupanku tidak pernah diatur, dia juga memperlakukanku dengan baik, dari makanan tempat tinggal dan fasilitas lainnya. Kalau aku tahu aku akan menikah dengan orang seperti itu, maka aku akan mengucapkan terima kasih begitu banyak kepada Vanila yang memberikanku semua ini," ucap Letisha dengan tersenyum sembari mengunyah makanan itu dengan lahap.
Letisha ternyata masih sempat mengambil foto-foto makanan itu berfoto selfie sembari menikmati makanannya, jarinya yang begitu lincah juga mengetik pada akun media sosial.
Vanila berada di butik melihat ponselnya, dahinya terlihat berkerut saat melihat postingan dari saudaranya itu yang tampak begitu bahagia.
"Terima kasih untuk suamiku tercinta," Vanila terlihat begitu jijik melihat caption yang diberikan Letisha.
"Dasar lebay! Apa dia begitu beruntung menikah dengan pria seperti itu?" ucap Vanila dengan rasa iri hati terlihat jelas di wajahnya.
Vanila benar-benar penasaran dengan kehidupan pribadi Rakash, sampai membuatnya melihat internet.
"Pengusaha kaya raya nomor 2 dengan kekayaan mencapai 500 terliun dan bahkan ayahnya orang terkaya nomor satu di negara ini. Jika memiliki harta sebanyak ini otomatis akan jatuh ke tangan Letisha!" Vanila terlihat begitu kesal terus saat mengetahui kekayaan suami dari saudaranya.
Tampak jelas penyesalan di wajahnya, kenapa harus menyerahkan pria itu kepada saudaranya, hanya usia saja yang berbeda jauh, tetapi ketampanan pria itu bahkan tidak memperlihatkan usianya yang sangat matang.
"Seharusnya sebelum mengambil tindakan aku harus berpikir dulu dan melihat dulu siapa laki-laki yang akan menikah denganku, mungkin usianya 36 tahun, tetapi wajahnya bahkan tidak terlihat seperti itu. Aku pikir aku dia akan menikah dengan om-om. Jika seperti ini maka Letisha yang diuntungkan dan sementara aku tidak.
"Issss, kenapa menyebalkan sekali," Vanila benar-benar terlihat begitu semua.
Terdengar suara heels membuat Vanila melihat ke arah depan. Liana ibunya menghampirinya.
"Kamu sedang sibuk?" tanya Liana.
"Tidak! Vanila hanya sedikit kesal. Ma, Vanila ingin menikah," ucap Vanila tiba-tiba membuat Liana mengerutkan dahi.
"Kenapa tiba-tiba kamu meminta untuk menikah seperti meminta untuk membeli mainan saja? Waktu itu, Papa kamu menjodohkan kamu dan kamu tidak menerimanya, dan sekarang malah tiba-tiba ingin meminta untuk menikah," ucap Liana terlihat kebingungan.
"Aku tiba-tiba kepikiran saja dan merasa sudah cocok untuk menikah. Lagi pula apalagi yang harus aku tunggu-tunggu dan bukankah Letisha juga di usia muda sudah menikah, aku juga ingin membangun rumah tangga," jawabnya.
"Apa kamu punya calon suami yang akan menikah dengan kamu?" tanya Liana.
"Mama tahu sendiri jika aku tidak berpacaran dan juga tidak mungkin berpacaran karena itu perbuatan dosa. Sudah pasti aku menyerahkan kepada Mama dan Papa mencarikan calon suami untukku dan aku ingin calon suami sesuai dengan kriteriaku baik fisik maupun materi," jawab Vanila.
"Untuk urusan seperti itu, kamu harus berbicara dengan papa kamu, karena beliau yang memiliki rekan bisnis dengan semua kriteria yang kamu inginkan," ucap Liana.
"Baiklah, Mama juga harus membantu untuk membicarakan semua ini dengan Papa. Pria yang menikah denganku harus benar-benar sempurna dan bisa mengimbangi ku dan aku ingin lebih dari suami Letisha," ucap Vanila dengan tegas.
Bersambung....