NovelToon NovelToon
Lentera Abadi Di Makam Bintang

Lentera Abadi Di Makam Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Sistem
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

​Xing Shenyuan, pangeran kesembilan Dinasti Bintang Agung, dikhianati oleh saudaranya sendiri. Tulang Surgawi miliknya dicabut, basis kultivasinya dihancurkan, dan dia dibuang ke Makam Leluhur yang terlarang untuk menjadi pelayan nisan seumur hidup. Di tengah keputusasaan, sebuah suara kuno bergema di jiwanya. Dengan sistem "Masuk Log" (Sign-In), setiap inci tanah pemakaman menjadi gudang harta karun ilahi.
​"Masuk Log di Makam Kaisar Pertama, hadiah: Tubuh Kekacauan Primordial!"
"Masuk Log di Gundukan Pedang Dewa, hadiah: Niat Pedang Penghancur Cakrawala!"
​Sepuluh ribu tahun berlalu dalam sekejap mata. Dunia luar telah berganti zaman, kekaisaran runtuh, dan dewa-dewa baru bermunculan , ketika musuh dari langit mencoba mengusik ketenangan makam leluhur nya, xing shenyuan bangkit dari debu hanya satu jentikan jari untuk meratakan seluruh galaksi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24 tarian pedang di ngarai angin mati dan tangan di balik tirai

Ngarai Angin Mati bukanlah tempat yang indah. Itu adalah celah sempit di antara dua tebing granit hitam yang menjulang setinggi langit, tempat angin terjebak dan berputar dalam siklus abadi, menciptakan suara siulan yang menyerupai tangisan wanita. Tidak ada sinar matahari yang menyentuh dasar ngarai ini bahkan di siang hari bolong.

Di sinilah Xing Shenyuan memilih panggungnya.

Ia tidak berdiri dengan gagah menantang langit. Sebaliknya, ia berlutut di tanah berlumpur, tangannya yang pucat namun kokoh memegang sebuah pahat yang terbuat dari tulang binatang buas. Dengan sabar dan presisi yang menakutkan, ia mengukir garis-garis rumit pada permukaan batu di dasar ngarai.

Ini bukan sihir instan. Ini adalah Formasi.

"Guru," suara Lin Xiaoyue bergema pelan, memantul di dinding tebing. Gadis itu duduk di atas batu besar sepuluh meter di atas Shenyuan, matanya mengawasi langit yang mulai menggelap. "Mereka sudah dekat. Aku bisa merasakan getaran Qi pedang mereka. Tajam... dan sangat marah."

Shenyuan tidak berhenti memahat. "Kemarahan adalah cacat dalam pertahanan, Xiaoyue. Orang yang marah tidak melihat ke mana kakinya melangkah. Mereka hanya melihat target di depan mata."

Ia menyelesaikan ukiran terakhir. Sebuah pola bintang terbalik yang dikelilingi oleh simbol-simbol kematian kuno kini terukir sempurna di tanah seluas lima meter persegi. Shenyuan bangkit, menyeka debu batu dari jubahnya.

Ia mengambil Panji Sepuluh Ribu Jiwa dari punggungnya dan menancapkannya tepat di pusat formasi itu.

Dumm.

Suara tumpul terdengar saat ujung tombak panji menembus batu. Kain hitam panji itu seketika berkibar liar, meskipun tidak ada angin di titik itu. Asap hijau tipis mulai merayap keluar, menyatu dengan kabut alami ngarai.

"Mereka datang bertiga," ucap Shenyuan, matanya yang memiliki pupil ganda bersinar ungu dalam kegelapan. "Tetua Ketiga, Keempat, dan Kelima dari Sekte Pedang Langit. Tiga ahli Jiwa Baru Lahir. Di dunia luar, mereka adalah dewa. Di sini... mereka hanyalah bahan bakar."

Tamu dari Langit: Kesombongan Sang Tetua

Di langit, perahu terbang raksasa milik Sekte Pedang Langit melambat. Tiga sosok melompat turun, pedang mereka bersinar terang membelah kegelapan ngarai.

"Hah! Tikus itu bersembunyi di lubang yang pas untuk kuburannya sendiri!" Tetua Kelima, pria gemuk dengan wajah merah yang membawa pedang besar berapi, tertawa menggelegar. Suaranya mengandung Qi yang cukup kuat untuk meruntuhkan bebatuan kecil di tebing.

Tetua Ketiga, pria kurus dengan mata tajam seperti elang, mendarat dengan ringan di atas sebuah batu menonjol. Ia tidak tertawa. Matanya memindai area itu dengan curiga.

"Hati-hati, Saudara Kelima," peringatnya. "Ada bau formasi di sini. Dan... benda apa itu?"

Tatapan mereka tertuju pada Panji Sepuluh Ribu Jiwa yang berdiri sendirian di tengah ngarai. Panji itu memancarkan aura yin yang begitu pekat hingga membuat udara di sekitarnya membeku.

"Itu... Artefak Iblis Tingkat Kuno!" mata Tetua Keempat, seorang wanita tua dengan rambut putih yang memegang dua pedang kembar, berbinar tamak. "Lihat aura jiwanya! Jika kita membawa ini kembali ke Sekte, Leluhur pasti akan memberi kita hadiah pil perpanjangan umur!"

Keserakahan, seperti yang diprediksi Shenyuan, mengalahkan kehati-hatian.

"Siapa peduli dengan formasi bocah ingusan!" Tetua Kelima tidak sabar. Ia menghentakkan kakinya, meluncur ke arah panji itu seperti bola meriam api. "Bocah Iblis! Keluar kau! Atau aku akan membakar mainanmu ini!"

Tepat saat kaki Tetua Kelima menyentuh area formasi yang diukir Shenyuan, dunia berbalik.

Perangkap Terbuka: Gravitasi Bintang Mati

"Formasi Pembalik Langit dan Bumi: Aktif."

Suara Shenyuan terdengar dari segala arah, namun tidak ada wujudnya.

WUUUUUNG!

Ukiran di tanah menyala ungu. Tiba-tiba, gravitasi di dalam lingkaran formasi itu meningkat lima puluh kali lipat.

Tetua Kelima yang sedang meluncur di udara tiba-tiba merasa seolah-olah ada gunung yang dijatuhkan ke punggungnya. Kecepatannya nol seketika.

BRAK!

Ia menghantam tanah dengan wajah terlebih dahulu. Tulang rusuknya berderak. Api di pedangnya padam seketika, tertekan oleh beratnya atmosfer.

"Apa... ini?!" Tetua Kelima mencoba bangun, tapi ia bahkan tidak bisa mengangkat jari kelingkingnya. Darah segar menyembur dari mulutnya.

"Saudara Kelima!" Tetua Keempat berteriak panik, hendak melompat masuk untuk menolong.

"JANGAN MASUK!" Tetua Ketiga menahannya. "Itu Formasi Gravitasi Tingkat Tinggi! Bocah itu... dia bukan kultivator liar biasa. Dia ahli formasi!"

Dari balik bayangan tebing, Shenyuan melangkah keluar perlahan. Ia tidak mengenakan zirah penuh, hanya jubah hitam longgar. Namun di tangan kanannya, Lentera Abadi menyala dengan api putih dingin.

"Selamat datang di Makamku, Tuan-tuan dari Sekte Pedang Langit," ucap Shenyuan sopan. "Maaf tempatnya agak lembap. Tapi saya jamin, akomodasinya permanen."

Pertarungan Tiga Babak: Strategi Memecah Belah

"Kau..." Tetua Ketiga menatap Shenyuan dengan kebencian murni. "Lepaskan saudaraku, dan aku mungkin akan membunuhmu dengan cepat."

Shenyuan tersenyum tipis. "Negosiasi hanya berlaku jika posisi kita setara, Tetua. Saat ini... kau adalah mangsa."

Shenyuan menjentikkan jarinya.

Dari atas tebing, Xiaoyue melepaskan tembakan yang telah ia tahan sejak tadi.

"Panah Feniks Biru: Penembus Jantung!"

Siuuu!

Sebuah panah api biru melesat ke arah Tetua Keempat yang sedang lengah karena panik. Wanita tua itu bereaksi cepat, menyilangkan pedang kembarnya.

Tring!

Panah itu berhasil ditangkis, namun ledakan api dingin yang menyertainya membuat tangan Tetua Keempat mati rasa. Lapisan es biru merambat di pedangnya.

"Pemanah di atas! Aku akan mengurusnya!" Tetua Keempat berteriak, melompat ke dinding tebing untuk mengejar Xiaoyue.

"Tunggu!" Tetua Ketiga mencoba mencegah, tapi terlambat. Formasi musuh telah terpecah.

Sekarang, tinggal satu lawan satu. Shenyuan vs Tetua Ketiga. (Dan Tetua Kelima yang masih mencium tanah di bawah gravitasi).

"Kau pikir memisahkan kami akan membantumu?" Tetua Ketiga mendengus. Aura Jiwa Baru Lahir Tahap Menengah-nya meledak. Angin di ngarai itu berubah menjadi ribuan bilah pedang tak kasat mata. "Teknik Pedang Badai Langit!"

Ribuan bilah angin itu meluncur ke arah Shenyuan, mencabik-cabik tanah dan batu di jalurnya.

Shenyuan tidak menghindar. Ia mengangkat tangannya.

"Zirah Bayangan Bintang: Absorpsi."

Lapisan hitam pada zirahnya menyala. Saat bilah angin itu mengenai tubuhnya, 50% kekuatannya diserap, sisanya diredam. Jubah luarnya robek di beberapa tempat, dan goresan darah muncul di pipinya, tapi Shenyuan tidak mundur satu langkah pun.

"Hanya segitu?" tanya Shenyuan.

Tetua Ketiga terbelalak. "Bagaimana mungkin? Tubuh fisikmu... itu setara dengan binatang buas tingkat raja!"

"Sekarang giliranku," Shenyuan menyentuh Panji di sebelahnya. "Tie Zha, makan malam sudah siap."

Asap hijau dari panji itu memadat. Hantu Jenderal Tie Zha muncul, kali ini ukurannya lebih besar dan lebih padat berkat jiwa-jiwa yang ia makan di Lembah Merah.

GRAAAARRHH!

Tie Zha menerjang Tetua Ketiga dengan gada raksasanya. Pertarungan antara Roh Jenderal dan Tetua Pedang pun meletus, menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan dinding ngarai.

Eksekusi: Akhir dari Tiga Tetua

Sementara Tie Zha menahan Tetua Ketiga, Shenyuan berjalan santai mendekati Tetua Kelima yang masih terkapar di tanah.

Pria gemuk itu menatap Shenyuan dengan mata melotot. "Kau... Iblis..."

"Simpan pujianmu," Shenyuan berjongkok. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi Tetua Kelima. "Sutra Penelan Bintang: Ekstraksi Jiwa."

"TIDAAAAKKK!"

Tubuh Tetua Kelima kejang-kejang. Cahaya putih (Jiwa Baru Lahir-nya) ditarik paksa keluar dari ubun-ubunnya. Shenyuan tidak memberinya kesempatan untuk meledakkan diri. Ia langsung memasukkan jiwa yang berteriak itu ke dalam Lentera Abadi.

Api lentera itu membesar, berubah warna menjadi merah darah sesaat, sebelum kembali putih murni.

Satu tumbang.

Di atas tebing, Xiaoyue sedang berjuang. Tetua Keempat jauh lebih berpengalaman darinya. Pedang kembar wanita tua itu terus mendesak Xiaoyue hingga ke tepi jurang.

"Bocah kecil! Mati kau!" Tetua Keempat mengayunkan pedangnya ke leher Xiaoyue.

Tiba-tiba, bayangan hitam muncul di belakang Tetua Keempat. Shenyuan telah menggunakan Langkah Hantu.

"Kau melupakan satu hal, Nenek," bisik Shenyuan.

Tetua Keempat berputar, tapi Shenyuan sudah mencengkeram pergelangan tangannya.

"Tangan Penghancur Bintang."

Krak!

Tulang tangan Tetua Keempat hancur menjadi serbuk. Pedangnya jatuh. Sebelum ia sempat berteriak, Shenyuan menendang dadanya dengan kekuatan penuh zirah bintang.

Wanita tua itu terlempar jatuh dari tebing, langsung menuju ke area gravitasi di bawah.

BRAK!

Tubuhnya hancur saat menghantam tanah dengan kecepatan 50 kali lipat. Jiwanya melayang keluar, bingung dan ketakutan.

Panji Sepuluh Ribu Jiwa di bawah sana membuka mulutnya. Slurp. Jiwa kedua pun tertelan.

Akhir Pertarungan

Melihat kedua saudaranya tewas dalam waktu kurang dari sepuluh menit, mental Tetua Ketiga hancur. Ia bertarung dengan putus asa melawan Tie Zha, tapi ia tahu ia tidak bisa menang melawan monster yang tidak bisa mati ini.

"Aku akan membawamu mati bersamaku!" Tetua Ketiga mulai menggembungkan Dantian-nya. Ia berniat meledakkan diri. Ledakan diri seorang ahli Jiwa Baru Lahir bisa meratakan gunung ini.

Shenyuan mendarat di depannya.

"Tidak, kau tidak akan melakukannya."

Shenyuan mengeluarkan Lonceng Penenang Jiwa yang ia dapatkan dari login di Jembatan Ratapan.

Ting...

Suara lonceng itu kecil, tapi frekuensinya mengacaukan aliran Qi di tubuh Tetua Ketiga. Proses peledakan diri itu terhenti sesaat—sebuah jeda fatal.

Tie Zha mengayunkan gadanya.

DHUAR!

Tubuh Tetua Ketiga hancur lebur. Jiwanya yang kuat—yang paling lezat di antara ketiganya—ditangkap oleh tangan Shenyuan sebelum sempat kabur.

"Jiwa pemimpin... ini akan menjadi inti yang bagus untuk Lantai Ketiga," gumam Shenyuan, memasukkan jiwa itu ke dalam botol giok khusus.

Hening.

Ngarai Angin Mati kembali sunyi. Hanya suara napas berat Xiaoyue yang terdengar dari atas tebing.

Shenyuan berdiri di tengah mayat-mayat itu. Ia tidak merasa bangga. Ia hanya merasa... efisien.

Perspektif Lain: Ketakutan di Kemah Pangeran

Seratus mil ke selatan, di dalam tenda komando Pangeran Ketiga, Xing Feng.

Xing Feng sedang mondar-mandir dengan gelisah. Ia baru saja menerima laporan bahwa Sekte Pedang Langit telah mengirim tiga tetua untuk memburu "pihak ketiga" yang membantai pasukannya dan pasukan kakaknya di Lembah Merah.

Tiba-tiba, tirai tendanya tersibak. Seorang mata-mata bayangan masuk dengan wajah pucat pasi. Ia jatuh berlutut, napasnya tersengal.

"Lapor, Yang Mulia! Lapor!"

"Bicara! Apa yang terjadi dengan para Tetua Sekte?" bentak Xing Feng.

Mata-mata itu menelan ludah, tangannya gemetar saat menyerahkan sebuah kristal memori yang retak.

"Mereka... mereka lenyap, Yang Mulia. Kami menemukan perahu terbang mereka jatuh di Ngarai Angin Mati. Tidak ada mayat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya... hanya sisa-sisa baju zirah yang hancur dan..."

"Dan apa?!"

"Dan sebuah bendera hitam tertancap di sana. Di bendera itu tertulis dengan darah: 'Hutang Lunas. Jangan Mengganggu Lagi.'"

Xing Feng terhuyung mundur, jatuh terduduk di kursinya. Kristal memori itu jatuh dari tangannya.

Ia teringat pada lencana giok bergambar Lentera yang diberikan padanya beberapa hari lalu. Ia teringat pada pil ungu yang menyembuhkannya. Ia teringat pada Su Yan.

"Ini bukan sekutu..." bisik Xing Feng, wajahnya kehilangan warna. "Aku tidak sedang bekerja sama dengan sekutu. Aku sedang memelihara iblis."

Di sudut tenda, bayangan lilin bergoyang. Xing Feng merasa seolah-olah ada mata ungu yang menatapnya dari setiap sudut gelap. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: Perang saudara ini hanyalah panggung boneka, dan tali kendalinya bukan dipegang oleh dia ataupun kakaknya.

Interlude: Su Yan dan Sang Pangeran Mahkota

Sementara itu, di Istana Pangeran Pertama.

Su Yan sedang meracik teh untuk Xing Jian. Tangannya stabil, meskipun ia tahu Shenyuan baru saja melakukan pembantaian besar-besaran. Koneksi jiwanya dengan Shenyuan memberitahunya bahwa tuannya selamat dan semakin kuat.

"Berita buruk, Nona Su," Xing Jian masuk dengan wajah merah padam, membanting pintu. "Tiga Tetua Sekte Pedang Langit hilang kontak. Ayahanda Kaisar sangat marah. Beliau akan mengirim Divisi Pengawal Naga untuk menyelidiki."

Su Yan meletakkan cangkir teh. "Hilang? Itu sangat... meresahkan, Yang Mulia. Apakah mungkin Pangeran Ketiga memiliki dukungan dari sekte tersembunyi?"

"Pasti!" Xing Jian memukul meja hingga retak. "Siapa lagi yang punya kekuatan untuk membunuh tiga Jiwa Baru Lahir tanpa jejak? Adikku itu... dia benar-benar ingin menghancurkan segalanya!"

Su Yan mendekat, menyentuh lengan Xing Jian dengan lembut—sebuah sentuhan yang dihitung dengan presisi.

"Jika Pangeran Ketiga bermain kotor, mungkin Yang Mulia juga harus mulai menggunakan kartu as. Bukankah ada rumor tentang Artefak Terlarang di gudang harta kerajaan yang bisa memanggil makhluk dari dimensi lain?"

Mata Xing Jian berkilat. Itu adalah ide gila. Tapi dalam keputusasaan dan kemarahan, ide gila seringkali terdengar masuk akal.

"Kau benar, Nona Su. Jika dia ingin perang iblis, aku akan memberinya neraka."

Su Yan tersenyum dalam hati. Bagus. Hancurkan satu sama lain.

Penutup Bab: Panen Besar

Kembali ke Ngarai Angin Mati.

Shenyuan telah selesai membersihkan medan perang. Tiga cincin penyimpanan milik para tetua kini ada di tangannya. Isinya? Ribuan batu roh, senjata tingkat tinggi, dan manual teknik rahasia Sekte Pedang Langit.

Tapi yang paling berharga adalah Panji Sepuluh Ribu Jiwa.

Kain panji itu kini telah pulih sepenuhnya. Tidak ada lagi lubang. Warnanya hitam pekat dengan aura merah darah yang mengalir seperti pembuluh darah.

[Sistem: Evolusi Panji Sepuluh Ribu Jiwa Selesai.]

[Tingkat Saat Ini: Artefak Tingkat Bumi (Puncak).]

[Fitur Baru Terbuka: "Pasukan Bayangan". Tie Zha dapat memanggil 100 Prajurit Hantu untuk bertarung secara fisik selama 10 menit.]

Shenyuan menatap Xiaoyue yang sedang membalut luka di lengannya. Gadis itu lelah, tapi matanya lebih tajam dari sebelumnya. Dia telah bertahan hidup melawan ahli Jiwa Baru Lahir. Fondasi mentalnya kini sekuat baja.

"Kita sudah selesai di sini, Xiaoyue," ucap Shenyuan. "Dengan sumber daya dari cincin ini, kita tidak perlu lagi berburu recehan. Kita bisa langsung menuju ke tujuan utama kita."

"Ke mana, Guru?"

"Ke Kota Perdagangan Seribu Sungai. Di sana, kita akan menjual barang-barang curian ini di pasar gelap, dan membeli satu hal yang tidak bisa didapatkan dengan membunuh: Informasi tentang lokasi Kunci Bintang Sembilan."

Shenyuan melihat ke arah selatan. "Kaisar akan mengirim anjing yang lebih besar. Kita harus menghilang sebelum mereka datang."

Dengan satu kibasan jubah, Shenyuan dan Xiaoyue menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan ngarai yang kini menjadi kuburan tanpa nama bagi para legenda sekte.

* Kultivasi: Setengah Langkah Jiwa Baru Lahir (Siap Terobosan Penuh).

* Kekayaan: Meningkat Drastis (Harta 3 Tetua).

* Reputasi: "Iblis Tanpa Wajah" (Menjadi teror di kalangan elit).

* Tujuan: Kota Seribu Sungai.

1
Seorang Penulis✍️
Tess
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!