Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. The Queen's Chess Move
Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah gorden sutra, menerangi kamar yang masih beraroma maskulin dan sandalwood. Jennie menggeliat pelan, merasakan gesekan selimut tebal di kulitnya. Saat tangannya meraba sisi ranjang di sebelahnya, ia hanya menemukan seprai yang sudah dingin.
Jennie terbangun dengan keadaan telanjang di bawah selimut tebal tanpa adanya sosok pria yang menghabiskan malam bersama dengannya. Jejak-jejak intensitas semalam masih terasa di sekujur tubuhnya, mengingatkannya bahwa Limario bukan lagi pria yang ia hindari, melainkan tempatnya pulang.
"Dasar..." bisiknya dengan senyum lebar yang tak bisa ia sembunyikan. Limario memang tipe pria yang lebih suka beraksi daripada berbasa-basi setelah malam yang panjang.
Di atas nakas, terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan yang tegas:
“Aku ada urusan di markas. Sarapan sudah disiapkan. Pakai Black Card-mu jika ingin membakar uang hari ini. Jangan keluar tanpa pengawalan. - L"
Jennie terkekeh. "Khas sekali seorang Vincentius," gumamnya. Ia segera beranjak menuju kamar mandi, tidak ingin membuang waktu. Hari ini adalah hari di mana keluarga Choi akan mulai merasakan dinginnya lantai jurang.
Sarapan dan Strategi
Turun ke ruang makan, Jennie disambut oleh Ny. Maurel yang sedang membacakan buku cerita untuk Kenzhi. Pemandangan itu membuat hati Jennie menghangat.
"Pagi, Ibu. Pagi, Sayang," Jennie mengecup kening Kenzhi dan pipi Maurel secara bergantian.
"Pagi, Mummy! Daddy bilang Mummy capek jadi tidak boleh dibangunkan," ucap Kenzhi dengan polosnya.
Wajah Jennie sedikit memerah, sementara Ny. Maurel hanya tersenyum penuh arti. "Limario terlihat sangat bersemangat pagi ini sebelum pergi. Ibu senang melihat kalian kembali akur."
"Ini baru permulaan, Bu," jawab Jennie sambil mengoles selai pada rotinya. "Oh ya, Bu. Hari ini mungkin akan ada banyak berita di TV tentang bisnis properti di Utara. Apapun yang Ibu dengar, jangan khawatir. Lim sudah mengaturnya."
Kehancuran Dimulai
Di sisi lain kota, di kantor pusat keluarga Choi, suasana sangat kacau. Choi Reynard, dengan wajah yang masih diperban akibat "pelajaran" dari anak buah Limario, menatap layar komputer dengan mata terbelalak.
"Tuan! Bank Vincentius baru saja menarik semua jaminan mereka! Investor dari Singapura juga membatalkan kontrak proyek Utara secara sepihak!" teriak Sarah, sekretarisnya, dengan suara gemetar.
"Apa?! Bagaimana bisa?! Itu rahasia!" Reynard menggebrak meja. "Pasti Jennie! Wanita jalang itu pasti membocorkannya pada suaminya!"
Reynard mencoba menghubungi ponsel Jennie, namun yang ia dengar hanyalah suara operator. Ia tidak tahu bahwa saat ini, Limario sedang duduk di ruang kerjanya yang gelap, menyaksikan saham keluarga Choi terjun bebas di layar monitor besar.
"Hancurkan mereka sampai ke akarnya," perintah Limario pada asistennya. "Dan pastikan tidak ada satu bank pun di negara ini yang berani memberi mereka pinjaman."
Aksi Nekat Reynard
Reynard yang sudah kehilangan akal sehatnya akibat kebangkrutan yang mendadak, menatap Sarah dengan tatapan gila.
"Jika Jennie tidak mau memberiku uang, maka dia harus membayar dengan hal lain," desis Reynard. "Siapkan mobil. Kita tahu jadwal Kenzhi pulang dari sekolah balet hari ini, kan?"
Sarah ragu. "Tuan... itu bunuh diri. Limario akan membunuh kita."
"Kita tidak punya pilihan! Tanpa uang itu, ayahku akan membunuhku lebih dulu karena hutang judi itu! Kita culik anaknya, minta tebusan, lalu kita lari ke luar negeri!"
Reynard tidak menyadari, bahwa di dalam tas Sarah yang diletakkan di meja, terdapat sebuah alat penyadap kecil yang sudah dipasang oleh orang kepercayaan Jennie saat pertemuan di butik kemarin.
Jennie, yang sedang bersantai di balkon mansion sambil menyesap teh, mendengarkan percakapan itu melalui earpiece-nya. Senyumnya semakin lebar, namun matanya memancarkan kedinginan yang mematikan.
"Begitu rupanya..." Jennie menyesap tehnya perlahan. Ia menekan tombol panggilan pada ponselnya. "Lim, tikusnya sudah mulai masuk ke dalam perangkap. Kau siap untuk pertunjukan utamanya?"
Suara berat Limario terdengar dari balik telepon, dingin dan tanpa ampun. "Aku sudah menyiapkan tim di sekitar sekolah balet Kenzhi, Jennie. Tapi aku tahu kau ingin tangamu sedikit 'kotor' kali ini. Apa rencanamu?"
Jennie berdiri dari kursi balkon, menatap hamparan taman mansion yang luas dengan tatapan tajam. "Biarkan mereka merasa berhasil menculiknya, Lim. Aku ingin mereka membawa 'target' itu ke gudang tua di pinggiran kota—tempat yang sama di mana mereka menghancurkanku di kehidupan lalu. Aku ingin mengakhiri ini di sana."
....
Sore itu, sebuah mobil van hitam berhenti dengan kasar di depan sekolah balet. Reynard, dengan masker menutupi wajahnya, turun dan menarik seorang anak kecil yang mengenakan kostum balet berwarna merah muda. Anak itu berteriak, namun Reynard segera membungkamnya dan melemparnya ke dalam mobil.
"Cepat jalan!" teriak Reynard pada Sarah yang gemetar di kursi kemudi.
Mereka memacu mobil menuju sebuah gudang terbengkalai di pelabuhan tua. Reynard merasa menang. Dalam pikirannya, ia akan memeras Limario Vincentius sebesar 500 miliar rupiah dan kabur ke luar negeri.
Sesampainya di gudang, Reynard menyeret anak itu masuk. Namun, saat ia membuka penutup kepala sang bocah, jantungnya seolah berhenti berdetak. Itu bukan Kenzhi. Itu adalah manekin plastik yang dipasangi perekam suara yang terus memutar tangisan anak kecil.
KLIK.
Lampu tembak gudang menyala satu per satu, menyilaukan mata Reynard. Di tengah ruangan, duduk Jennie Ruby Jane di atas sebuah kursi kayu mewah yang seolah sengaja diletakkan di sana. Ia menyilangkan kakinya yang jenjang, mengenakan sepatu hak tinggi berwarna merah darah yang tampak kontras dengan lantai semen yang kotor.
Di belakangnya, Limario berdiri tegak seperti malaikat maut, tangannya memegang pistol berperedam yang diarahkan tepat ke dahi Reynard.
"Mencariku, Reynard?" tanya Jennie dengan nada tenang yang mengerikan.
"J-Jennie... bagaimana... di mana anakmu?!" Reynard mundur selangkah, namun ia menabrak dada bidang salah satu anak buah Limario yang sudah mengepungnya.
"Kenzhi sedang makan es krim bersama neneknya di rumah aman. Kau benar-benar berpikir aku akan membiarkanmu menyentuh sehelai rambutnya lagi?" Jennie berdiri, berjalan mendekat dengan langkah yang berirama.
Ia berhenti tepat di depan Reynard yang kini berlutut karena gemetar. Jennie merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah foto—foto hasil USG dari kehidupannya yang lalu, yang selalu ia simpan sebagai pengingat lukanya.
"Kau tahu apa ini?" bisik Jennie. "Ini adalah bukti dari dosa yang belum kau lakukan di waktu ini, tapi sudah kau lakukan di ingatanku. Dan untuk itu, kau tidak akan mati dengan cepat."
Jennie menoleh ke arah Limario. "Lim, aku ingin dia hidup. Tapi pastikan dia tidak akan pernah bisa berjalan atau melihat cahaya matahari lagi. Kirim dia ke tambang batu bara milikmu di pedalaman, biarkan dia bekerja di sana sampai napas terakhirnya."
Limario memberikan kode pada anak buahnya. Reynard berteriak histeris saat ia diseret keluar, namun suaranya segera hilang ditelan kegelapan malam.
Setelah gudang itu sepi, Limario mendekati Jennie. Ia melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, menariknya ke dalam pelukan yang protektif. "Sudah selesai, Sayang. Kau aman sekarang."
Jennie menyandarkan kepalanya di dada Limario, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi candunya. "Belum sepenuhnya selesai, Lim. Masih ada keluarga Choi yang harus kita ratakan dengan tanah besok pagi."
Limario terkekeh rendah, mencium kening Jennie. "Apapun perintahmu, Ratuku."
Malam itu, di bawah rembulan pelabuhan, Jennie menyadari satu hal: Kesempatan kedua ini bukan hanya untuk membalas dendam, tapi untuk mencintai pria yang dulu ia anggap iblis, namun ternyata adalah satu-satunya pelindung sejatinya.
Keluarga Choi dinyatakan bangkrut total dan diusir dari kediaman mereka. Sementara itu, Jennie mulai menunjukkan taringnya di dunia bisnis sebagai istri CEO yang cerdas, membuat semua orang yang dulu meremehkannya bertekuk lutut. Namun, sebuah rahasia kecil tentang "bagaimana Jennie bisa tahu masa depan" mulai dicurigai oleh seseorang dari masa lalu Limario.
Setelah suara jeritan Reynard menghilang di kejauhan, keheningan yang mencekam menyelimuti gudang tua itu. Jennie masih berdiri mematung, menatap lantai semen yang dingin, tempat di mana ia pernah merasa hancur berkeping-keping.
Penutup Luka Lama
Limario melangkah mendekat, sepasang tangan besarnya yang hangat melingkar di bahu Jennie yang sedikit gemetar. Ia bisa merasakan sisa-sisa amarah dan kesedihan yang memancar dari tubuh istrinya.
"Dia sudah pergi, Jennie. Dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu atau Kenzhi lagi," bisik Limario dengan suara rendah yang menenangkan.
Jennie berbalik, menatap mata suaminya yang tajam namun penuh kasih. Ia meraih wajah Limario, mengusap rahangnya yang tegas dengan ibu jari. "Terima kasih, Lim. Terima kasih karena sudah percaya padaku, bahkan saat aku sendiri tidak percaya pada diriku sendiri."
Limario tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menggendong Jennie ala bridal style, membuat Jennie terpekik kecil dan refleks mengalungkan tangan di leher suaminya.
"Kita pulang," ucap Limario singkat. "Kenzhi dan Ibu pasti sudah menunggu."
Kembali ke Mansion
Sesampainya di mansion, suasana jauh lebih hangat. Ny. Maurel menyambut mereka di pintu depan dengan wajah cemas yang langsung berubah lega. Kenzhi, yang memang benar sedang menikmati es krim cokelatnya, berlari memeluk kaki ayahnya.
"Mummy! Daddy! Lihat, Kenzhi dapat es krim besar dari Grandma!" seru bocah itu riang.
Jennie turun dari gendongan Limario dan berlutut untuk memeluk putrinya. "Enak? Besok kita beli lagi yang lebih besar ya, Sayang?"
Melihat pemandangan itu, Ny. Maurel mendekati Limario dan berbisik, "Ibu tidak tahu apa yang terjadi hari ini, tapi Ibu bersyukur kau tidak melepaskan Jennie. Dia adalah nyawa rumah ini."
Limario hanya mengangguk tipis, matanya tak lepas dari Jennie.
Malam Penebusan
Malam itu, setelah Kenzhi tertidur pulas, Jennie masuk ke ruang kerja Limario. Ia membawa sebuah berkas kecil. Limario yang sedang menatap peta bisnis wilayah Utara mendongak.
"Ini apa?" tanya Limario.
"Daftar aset rahasia keluarga Choi yang mereka sembunyikan di luar negeri," Jennie meletakkan berkas itu di meja. "Ambil semuanya. Jadikan itu modal untuk yayasan panti asuhan yang ingin Ibu bangun. Biarkan uang haram mereka menjadi berkah bagi anak-anak yang membutuhkan."
Limario menarik tangan Jennie, membuatnya terduduk di pangkuannya. Ia menatap istrinya dengan selidiki yang lebih lembut. "Bagaimana kau bisa tahu begitu banyak hal, Jennie? Informasi ini... bahkan intelijenku butuh waktu berbulan-bulan untuk menemukannya."
Jennie terdiam sejenak. Ia menyandarkan dahinya ke dahi Limario. "Anggap saja aku telah menempuh perjalanan yang sangat jauh dan menyakitkan hanya untuk kembali ke pelukanmu, Lim. Aku tidak akan menyia-nyiakan satu detik pun di kehidupan ini."
Limario mengecup bibir Jennie singkat, sebuah janji tanpa kata bahwa ia akan menjaga rahasia itu, apapun bentuknya.
"Besok," ucap Limario sambil mengelus pinggang Jennie, "keluarga Choi akan resmi diusir dari rumah mereka. Kau ingin datang melihatnya?"
Jennie tersenyum penuh kemenangan. "Tidak perlu. Melihat mereka hancur dari jauh sudah cukup. Besok aku punya agenda lain."
"Apa itu?"
"Membelikanmu kemeja baru. Kemeja yang semalam kau robek karena terburu-buru," goda Jennie dengan kerlingan mata nakal.
Limario tertawa rendah, suara tawa yang hanya bisa didengar oleh Jennie. Ia mematikan lampu ruang kerja, membiarkan kegelapan menyelimuti mereka saat ia kembali membimbing istrinya menuju kamar—memulai babak baru kehidupan mereka yang jauh lebih indah dari sebelumnya.