––Tak ada angin, tak ada hujan, Ailena di ajak oleh seorang laki-laki yang entah muncul darimana tiba-tiba menarik nya menuju kantor urusan agama (KUA).
"Cepat katakan nama mu! Dan tanda tangan setelah nya" desak Haikal dengan nada tegas.
"Tapi kita nggak saling kenal!"
"Nanti kenalan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(16) Ibu Lebih Cepat
Ailena dan Haikal terbangun di jam 7 pagi, setelah Ailena yang bergadang karena kepikiran dengan tanggapan Ibu nya yang sampai sekarang belum kembali menelepon nya, saat Ailena menelepon balik pun jawaban nya hanya memanggil..
Ailena langsung uring-uringan mondar-mandir tak jelas, dia takut Ibu nya kenapa-kenapa di kampung.
"Hoam..udah bangun aja kamu Yang" ujar Haikal sembari duduk mengumpulkan nyawa, ia merasa tempat samping nya kosong.
"Aku kepikiran Ibu" jelas Ailena dengan jujur, tak ada lagi panggilan lo-gue karena rasa nya sudah tak enak di dengar apalagi jika Haikal yang selalu memanggil nya dengan aku-kamu, itu lebih baik daripada suami-istri.
"Mau nyusul Ibu ke kampung?" tebak Haikal yang melihat Ailena benar-benar gelisah.
Ailena beringsut duduk dengan wajah yang tetap gelisah. "Kalau aku ke kampung, kerjaan ku.."
"Nggak usah mikirin kerjaan dulu, aku bisa biayain kamu kok sampai kamu lulus kuliah bahkan kalau mau lanjut ambil magister aku tetap sanggup" tembak Haikal membuat Ailena menunduk.
"Uang dari mana? Kamu aja nggak keliatan kerja nya" tanya Ailena dengan nada bergumam, sejauh ini ia tak pernah bertanya tentang kehidupan Haikal yang lain.
"Aku kerja kok Yang, kamu nggak perlu khawatir. Pekerjaan ku halal" jawab Haikal masih belum mau memberitahu Ailena pekerjaan nya.
"Berapa gaji mu perbulan sampai bisa sanggup biayain kuliah ku?" kini Ailena kembali bertanya. Haikal nampak berpikir.
"Em.. Berapa ya.." Haikal sendiri bingung harus menjawab apa. Jujur saja, sebenarnya dia tak di gaji melainkan..
"Kalau buat kebutuhan sehari-hari aja masih kurang, jangan bilang sanggup dulu.. Selagi kampus nggak tau status pernikahan ku, maka aku tetap akan menjadi salah satu penerima bantuan dana pemerintah" ketus Ailena, licik memang tapi ini demi bertahan hidup.
Haikal berdecak pelan. Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh ke tanah juga. Begitu pun Ailena yang berniat menyembunyikan pernikahan mereka dari pihak kampus, lambat-laun pasti akan tercium juga.
Tok tok tok
Di sela obrolan pagi mereka yang terbilang serius, suara ketukan pintu memecahkan atensi kedua nya yang masih di landa khawatir dengan keadaan Ibu Ailena.
Ceklek
"Ibu?!"
"Assalamualaikum nduk"
"Wa-waalaikumsalam.."
Ibu berdiri dengan senyum tipis dan tas ransel peninggalan Ailena yang sering di pakai Ailena dulu selama sekolah sebelum mengeyam pendidikan di kota.
"Kapan Ibu berangkat nya?" cecar Ailena sembari membuka lebar pintu dan mempersilakan Ibu nya untuk masuk.
Haikal yang baru cuci muka pun langsung menghampiri dan menatap tegang ke arah mertua nya itu.
"Tadi malam, Ibu langsung minta Paman Danan carikan bus malam ke kota. Untung nya ada tinggal satu, jadi alhamdulilah bisa sampai sini dengan selamat" jelas Ibu nya dengan perlahan menurunkan tas yang tersampir di pundak nya.
Usia nya masih belum terlalu tua, jadi untuk kemana-mana ia tak perlu di bantu orang lain terlalu over.
Ailena berdecak sebal tapi tetap menatap khawatir ke arah sang Ibu. "Maaf Bu" sesal Ailena.
Ibu menghela nafas pelan dan mengangguk. Dia ke kota untuk melihat dengan mata kepala nya sendiri, sekaligus menanyakan alasan pernikahan dadakan ini.
Ibu nya sempat melirik ke arah perut Ailena yang rata. Ailena yang paham langsung menggeleng cepat. "Bukan karna hamil duluan Bu" tegas Ailena dengan cepat.
Ibu kembali menghela nafas kali ini lebih lega. "Lalu karna apa?"
"Sebaiknya kita bicara di dalam aja Bu, Ibu juga pasti capek habis perjalanan jauh" cetus Haikal menyela.
Ailena menuntun Ibu nya untuk masuk dan menutup pintu dengan rapat.
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
sehat-sehat ya kakkk ❤️