Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.
Sejak saat itu, dunia Arga berubah.
Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.
Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.
Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Amukan Badai Platinum
Hanggar tua itu berguncang seolah-olah fondasinya sedang dicabik oleh tangan raksasa yang tak kasat mata. Begitu cairan perak dari Akselerator Merkuri menyatu dengan darah Arga, realitas di sekelilingnya memadat. Suara helikopter di luar terdengar melambat, detak jantung pasukan Mahendra terdengar seperti tabuh genderang perang yang kacau, dan setiap butiran debu yang melayang di udara tampak seperti kristal diam.
Arga berdiri di tengah pusaran energi. Tubuhnya bukan lagi sekadar daging dan tulang; ia adalah wadah dari dua kutub yang saling menghancurkan. Aura emas dari Mustika Macan Kencana dan biru elektrik dari Pedang Mahendra kini melebur menjadi satu warna yang mengerikan: Platinum.
"Tembak! Hancurkan subjek itu!" perintah komandan pasukan elit melalui interkom yang statis.
Hujan peluru menembus asap ledakan. Namun, saat logam panas itu mendekati radius satu meter dari tubuh Arga, peluru-peluru tersebut melambat, berpijar, dan mencair menjadi tetesan logam yang jatuh tak berdaya ke lantai semen. Arga tidak menghindar; ia hanya berjalan maju.
Setiap langkahnya meninggalkan jejak retakan yang bercahaya platinum di lantai hanggar.
“Inang... rasakan ini... ini adalah puncak dari segalanya!” Macan Kencana meraung, namun suaranya kini selaras dengan denting baja pedang.
Arga mengangkat Pedang Patah yang kini memiliki bilah cahaya sepanjang satu setengah meter. Dengan satu ayunan horizontal yang pelan namun bertenaga, ia melepaskan gelombang kejut yang membelah barisan depan pasukan Mahendra. Perisai taktis baja mereka hancur berkeping-keping seolah hanya terbuat dari kertas tipis.
"Jangan sentuh teman-temanku," suara Arga bukan lagi suaranya sendiri. Itu adalah suara kolektif dari kemarahan leluhur yang dikhianati.
Di sudut hanggar, Sari menatap Arga dengan perasaan campur aduk—kekaguman yang beradu dengan ketakutan yang dalam. Ia melihat Arga yang ia cintai perlahan-lahan menghilang di balik selubung kekuatan dewa yang dingin.
"Arga, cukup! Tubuhmu tidak akan kuat!" teriak Sari, suaranya nyaris tenggelam oleh deru energi.
Arga menoleh sejenak. Mata platinumnya bertemu dengan mata Sari yang berkaca-kaca. Untuk sepersekian detik, kesadaran manusianya muncul ke permukaan, memberikan senyum tipis yang puitis di tengah badai. Aku melakukannya agar kau tetap bisa melihat matahari besok, Sari.
Namun, Indra Mahendra tidak mengirimkan pasukan biasa. Dari balik kepulan asap, muncul tiga orang berjubah hitam dengan tanda Sembilan Elit di pundak mereka. Mereka adalah Trisula Kematian—algojo rahasia yang telah dimodifikasi secara genetik untuk menahan serangan energi tingkat tinggi.
"Master Muda yang sombong," salah satu dari mereka mendesis sembari mencabut rantai berduri yang berpendar merah darah. "Mari kita lihat seberapa lama merkuri itu bisa menahan jantungmu agar tidak meledak."
Mereka menyerang secara bersamaan. Rantai merah, tombak plasma, dan belati getar mengincar titik vital Arga.
Pertarungan kali ini berada di level yang berbeda. Arga tidak lagi bertarung dengan gaya kuli panggul. Ia bertarung dengan kebijaksanaan kuno yang mengalir dari Pedang Patah. Ia memutar pedang cahayanya, menciptakan perisai melingkar yang menangkis setiap serangan. Tring! Clang! Percikan api platinum dan merah memenuhi hanggar seperti kembang api maut.
Arga merasakan panas yang luar biasa membakar dadanya. Waktuku hampir habis.
Ia memusatkan seluruh energi platinumnya ke ujung pedang. Tubuhnya mulai bergetar hebat, pori-porinya mengeluarkan keringat darah. Arga menerjang maju, melampaui batas kecepatan suara.
“TEKNIK MAHENDRA: TEBASAN CAKRAWALA!”
Satu garis cahaya platinum membelah ruangan secara vertikal. Ketiga algojo itu membeku. Jubah mereka terbakar, dan senjata mereka hancur menjadi debu sebelum mereka sempat menyadari apa yang terjadi. Ledakan energi itu begitu besar hingga menjebol atap hanggar dan menjatuhkan satu helikopter tempur yang sedang melayang di atasnya.
Hening.
Arga berdiri diam di tengah reruntuhan. Bilah cahaya dari pedangnya perlahan memudar, menyisakan besi patah yang berkarat. Aura platinum di tubuhnya menghilang, digantikan oleh kulit yang pucat pasi dan napas yang terputus-putus.
Bruk.
Arga jatuh berlutut. Darah segar menyembur dari mulutnya, membasahi lantai hanggar yang hancur.
"Arga!" Sari berlari menembus debu, menangkap tubuh Arga sebelum menyentuh lantai.
Arga menatap Sari, matanya kembali ke warna aslinya, namun redup dan lelah. "Data... Abah... amankan..."
"Sudah, Arga! Kita punya semuanya! Sekarang kita harus pergi!" Maya berteriak sembari mengarahkan mobil cadangan yang muncul dari ruang bawah tanah hanggar.
Di kejauhan, sirine bantuan Mahendra mulai terdengar lebih banyak. Arga merasakan kesadarannya mulai hanyut ke dalam kegelapan yang dingin. Namun, di genggamannya, Pedang Patah itu bergetar pelan—sebuah sinyal bahwa asimilasi telah berhasil, meski harganya hampir merenggut nyawanya.
"Jangan lepaskan aku, Sari..." bisik Arga sebelum semuanya menjadi gelap.