Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.
Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Rahasia Oma Rosa
Malam itu, Wisma Lavender terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah dinding-dinding tuanya pun ikut beristirahat setelah keriuhan siang tadi. Setelah kegilaan konten eyeliner Gendis yang membuat Arka harus menggosok kelopak matanya berulang kali sampai perih dengan cleansing oil, ia memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Selain rasa kantuk yang belum kunjung datang, ia berniat mengembalikan kunci gudang sekalian melaporkan bahwa stok bohlam cadangan sudah benar-benar habis.
Arka menemukan Oma Rosa sedang duduk di ruang tengah yang luas, satu-satunya ruangan di kos ini yang masih mempertahankan gaya arsitektur kolonial yang kental dengan langit-langit tinggi dan jendela-jendela kayu raksasa. Ruangan itu dipenuhi foto-foto tua dalam bingkai perak yang sudah sedikit menghitam karena oksidasi usia, menciptakan atmosfer yang membawa siapa pun yang masuk kembali ke masa puluhan tahun silam. Oma Rosa, dengan kacamata rantainya yang bertengger di ujung hidung, sedang asyik merajut sesuatu yang tampak seperti syal panjang berwarna lavender gelap—warna yang menjadi identitas rumah ini.
"Oma? Belum tidur?" sapa Arka pelan, suaranya sedikit bergema di ruangan yang sunyi itu. Ia melangkah hati-hati, takut mengejutkan wanita tua yang selama ini selalu tampak tegar dan mandiri di mata para penghuni.
Oma Rosa mendongak, tersenyum tipis yang membuat kerutan di sudut matanya terlihat lebih dalam namun teduh. "Ah, Arka. Sini, duduk sebentar. Oma baru saja mau menyeduh teh melati. Kamu mau? Teh hangat bagus untuk menenangkan saraf setelah seharian berurusan dengan kamera Gendis."
Arka mengangguk kecil dan duduk di kursi kayu jati yang berat dan kokoh. Selama enam bulan tinggal di sini, Arka selalu memendam satu pertanyaan besar yang sering menjadi bahan diskusi rahasia di antara para penghuni saat mereka berkumpul di dapur. Wisma Lavender terletak di kawasan premium Jakarta yang harga tanahnya melangit, bangunannya sangat luas, dan fasilitasnya—meski sering rusak karena faktor usia—sebenarnya sangat lengkap dan eksklusif pada masanya. Namun, harga sewa yang dipatok Oma Rosa hampir tidak masuk akal; hanya sepertiga dari harga kos-kosan standar di sekitarnya.
"Oma," Arka memulai dengan nada bicara yang sangat hati-hati setelah secangkir teh melati hangat diletakkan di depannya. "Boleh saya tanya sesuatu yang mungkin sedikit lancang atau terlalu pribadi?"
Oma Rosa terkekeh pelan, suara tawanya terdengar seperti gesekan kertas tua yang kering namun hangat. "Tentang harga sewa, kan? Kamu bukan orang pertama yang merasa ada yang 'salah' dengan hitung-hitungan Oma, Arka. Ziva juga menanyakan hal yang sama tahun lalu dengan wajah yang sama bingungnya seperti kamu sekarang."
Oma meletakkan rajutannya di pangkuan dan mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar yang menghadap ke taman samping yang gelap. "Banyak orang, termasuk agen properti yang sering datang mengetuk pintu, mengira Oma sudah pikun atau tidak tahu harga pasar properti yang sedang gila-gilaan. Anak-anak Oma yang sukses di Jakarta setiap bulan menelepon tanpa henti, menyuruh Oma menjual rumah warisan ini dan pindah ke apartemen mewah yang dijaga satpam 24 jam bersama mereka. Mereka bilang, memelihara rumah tua yang boros listrik dan air ini hanya membuang-buang uang dan energi."
Arka terdiam, mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar. Ia tahu anak-anak Oma Rosa jarang sekali berkunjung, biasanya hanya datang saat hari raya besar itu pun tidak lama.
"Rumah ini dulu milik orang tua Oma, dibangun dengan penuh cinta dan harapan," lanjut Oma Rosa dengan nada nostalgia yang semakin kental, seolah setiap inci ruangan ini memiliki memori tersendiri. "Dulu, rumah ini selalu ramai, Arka. Suara tawa anak-anak yang berlarian, langkah kaki yang berderit di tangga kayu, hingga wangi masakan rempah yang selalu menguar dari dapur setiap sore... Oma merasa rumah ini punya jiwa yang hidup. Tapi setelah suami Oma meninggal dan anak-anak pergi membangun hidup mereka sendiri, rumah ini jadi sangat dingin dan hampa. Terlalu luas untuk satu wanita tua yang hanya ditemani oleh kenangannya sendiri."
Oma Rosa meraih sebuah album foto tua dengan sampul beludru yang mulai menipis dan membukanya dengan perlahan. Di sana ada foto hitam putih seorang gadis muda yang cantik—Oma Rosa di masa lalu—sedang tertawa bersama teman-temannya di depan teras rumah ini.
"Oma membuat kos ini murah bukan karena Oma tidak butuh uang untuk biaya hidup, Arka. Tapi karena Oma sangat butuh 'suara' dan 'kehidupan'. Oma ingin ada energi di sini. Oma ingin melihat anak-anak muda seperti kamu yang berjuang dengan mesin, Ziva yang tekun dengan bukunya, Gendis yang ceria, dan yang lainnya berjuang mengejar mimpi masing-masing di kota yang keras ini. Oma sengaja memilih kalian yang tampak sungguh-sungguh tapi mungkin sedang dalam kesulitan finansial atau sedang merintis jalan dari nol. Kalau Oma mematok harga mahal sesuai pasar, yang datang ke sini mungkin hanya anak-anak orang kaya yang manja, yang hanya peduli pada kenyamanan pribadi dan fasilitas, bukan pada nilai kebersamaan atau rasa memiliki terhadap sebuah rumah."
Arka merasakan tenggorokannya sedikit tercekat, ada rasa hangat yang menjalar di dadanya. Ia teringat kembali momen beberapa bulan lalu ketika ia hampir putus asa mencari tempat tinggal yang layak namun terjangkau dengan sisa tabungannya setelah membayar semesteran yang melonjak tiba-tiba.
"Oma tahu Gendis itu terkadang sangat berisik dengan konten TikTok-nya, Oma tahu kamu sering menggerutu soal pompa air yang meledak atau genteng yang bocor, dan Oma tahu Ziva sering menangis diam-diam di balkon saat ujiannya terasa terlalu sulit untuk ditanggung. Tapi bagi Oma, semua keributan dan keluhan itu adalah melodi kehidupan. Itu adalah tanda bahwa rumah ini masih bernapas. Tanpa kalian, rumah ini hanyalah tumpukan batu bata dan kayu tua yang dingin, menunggu waktu untuk dihancurkan oleh pengembang properti yang ingin membangun beton-beton bisu lainnya."
Oma Rosa menjangkau tangan Arka dan menepuknya dengan sangat lembut, seolah Arka adalah salah satu cucunya sendiri. "Jadi, Arka, jangan pernah merasa berhutang budi atau merasa kasihan pada Oma. Kamu dan teman-temanmu memberikan sesuatu yang tidak akan pernah bisa dibeli dengan uang sewa setinggi apa pun: kalian membuat Oma tidak merasa sendirian di usia senja ini. Kalian adalah 'nyawa' dan detak jantung dari Wisma Lavender. Selama kalian ada di sini, Oma merasa rumah ini masih mencintai Oma sebagaimana ia mencintai penghuninya dulu."
Arka menatap sekeliling ruangan itu dengan sudut pandang yang sepenuhnya berbeda sekarang. Retakan-retakan kecil di dinding, suara kayu tangga yang berderit saat dipijak, dan debu tipis di sudut plafon tinggi bukan lagi tanda pengabaian atau kemiskinan, melainkan jejak-jejak sejarah dan cinta yang dijaga dengan gigih oleh Oma Rosa agar tetap hidup di tengah gempuran modernitas. Murahnya harga sewa di sini bukan karena bangunan ini tidak berharga, melainkan karena Oma Rosa telah menetapkan bahwa nilai kemanusiaan, solidaritas, dan kehadiran fisik manusia di dalamnya jauh lebih berharga bagi jiwanya daripada angka-angka di rekening bank.
"Terima kasih banyak, Oma. Saya... saya benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Penjelasan Oma membuat saya merasa tempat ini jauh lebih dari sekadar kos-kosan," bisik Arka dengan nada tulus yang bergetar.
"Cukup bantu Oma memperbaiki kran wastafel yang bocor besok pagi tanpa harus diminta, itu sudah lebih dari cukup untuk membayar sewa bulan ini," jawab Oma Rosa sambil mengedipkan sebelah matanya dengan nakal, kembali ke gaya humornya yang biasanya untuk mencairkan suasana yang sempat emosional.
Malam itu, Arka kembali melangkah naik ke kamarnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan damai. Ia menyadari bahwa Wisma Lavender bukan sekadar tempat berteduh sementara bagi para perantau; ini adalah sebuah rumah yang dibangun kembali di atas pondasi kesepian yang berhasil diubah menjadi kasih sayang yang tulus. Dan bagi Arka, rahasia di balik murahnya sewa ini adalah hal paling berharga dan bermakna yang pernah ia temukan di balik dinding-dinding tua berwarna ungu pucat yang penuh rahasia itu.