NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Berbaikan / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:535
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 : KITA BISA BERSAMA

Udara pagi yang masih segar menyapa setiap sudut halaman belakang rumah sakit ketika Lia mulai membuka bak cuci besar yang terbuat dari beton bertulang. Dia menyortir pakaian pasien dengan hati-hati, memisahkan yang perlu dicuci dengan deterjen khusus dari yang bisa dibersihkan dengan sabun biasa. Tangan kirinya yang penuh dengan kapalan masih sedikit bergetar setelah menghabiskan waktu hampir dua jam mencuci sepuluh karung pakaian yang dikumpulkan dari berbagai ruangan rawat inap. Di mejanya yang kini sudah ditambahkan rak kayu kecil untuk menyimpan barang penting, sebuah buku catatan baru dengan sampul kulit hitam terpampang jelas – setiap halaman berisi nama dan kondisi pasien yang pernah dia rawat selama bertahun-tahun bekerja di sini.

“Selamat pagi, Lia. Kamu sudah mulai kerja ya?” ucap Pak Joko dengan suara yang khas, membawa segelas air putih hangat yang diberikan oleh Bu Siti dari bagian makanan rumah sakit. “Kamu bisa istirahat sebentar sebelum melanjutkan pekerjaan sore – ada pesanan cuci dari ruangan dokter spesialis yang harus diselesaikan sebelum jam empat sore nanti.”

Lia mengangguk dengan senyum lembut, menerima gelas air putih dengan rasa terima kasih yang mendalam. Dia menyimpan buku catatan kecil yang selalu ada di mejanya – setiap halaman berisi catatan tentang pasien yang pernah dia tangani, mulai dari nama, jenis kelamin, hingga kondisi pakaian yang perlu diperhatikan khusus. Di halaman terakhir buku itu, terdapat catatan khusus tentang Adit yang sudah dia cari selama bertahun-tahun: berat badan 1,8 kilogram, panjang badan 45 sentimeter, dan bintik merah berbentuk hati di bagian punggung kanannya yang tidak akan pernah dia lupakan.

“Saya sudah lama mencari dia, Pak Joko,” ucap Lia dengan suara lembut sambil melihat foto kecil yang selalu ada di mejanya. “Setiap hari saya berdoa bisa ketemu dia lagi dan memberikan cinta yang sama dengan yang saya kasih pada Mal dan Rini.”

Pak Joko mengangguk dengan pengertian yang dalam. Dia sudah melihat betapa sulitnya Lia menjalani hidup sendirian setelah kehilangan suaminya dan harus merawat tiga anak sendirian. “Kamu adalah orang yang kuat, Lia,” ucapnya dengan suara hangat seperti ayah bagi semua pekerja di bagian cuci. “Tidak semua orang bisa menghadapi kesulitan seperti yang kamu alami, namun kamu tetap kuat untuk anak-anakmu.”

Lia mengangguk sambil menyimpan buku catatannya ke dalam tas kerja yang sudah dia jahit sendiri dari kain bekas. Di dalam tas itu juga ada amplop kecil berisi surat dari orang tuanya yang tinggal jauh di Jawa sebelum mereka meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Isi surat itu selalu membuat hatinya terasa hangat setiap kali membacanya:

 

“Untuk putri kita yang tersayang, Lia.

Kita tahu hidupmu penuh dengan ujian yang berat, tapi kita percaya kamu punya kekuatan untuk menghadapinya. Setiap hari kita berdoa agar kamu dan cucu-cucu kita selalu sehat dan bahagia.

Kita tahu kamu telah membuat keputusan sulit tentang Adit. Kita tidak akan pernah menyalahkanmu karena kita tahu kamu hanya mau yang terbaik buat dia. Ingat selalu bahwa keluarga bukan hanya tentang tempat tinggal atau darah, tapi tentang kasih sayang yang kita berikan satu sama lain.

Dengan cinta yang tak pernah padam,

Orang Tua Kamu”

 

Air mata mulai menggenang di matanya saat membaca surat itu lagi. Dia menyimpan amplop dengan hati-hati di dalam tasnya yang selalu ada di sampingnya. Di halaman belakang buku catatannya, terdapat gambar kecil yang digambar Mal – tiga anak sedang bermain bersama dengan senyum ceria, sebuah lambang bahwa cinta keluarga tidak akan pernah hilang meskipun harus hidup di tempat yang berbeda.

“Saya sudah mulai membuat rencana untuk mencari dia dengan cara yang benar, Pak Joko,” ucap Lia dengan suara penuh tekad. “Saya mau hubungi dinas sosial dan komunitas yang bisa bantu saya nemuin dia dengan cara yang sesuai hukum.”

Pak Joko mengangguk dengan senyum bangga. “Kamu benar-benar kuat, Lia. Semoga kamu segera menemukan apa yang kamu cari.”

Setelah itu, Lia mulai melanjutkan pekerjaannya dengan hati-hati. Dia mencuci setiap pakaian dengan teliti, memastikan tidak ada satu kain pun yang rusak atau sobek akibat deterjen yang terlalu banyak. Di tengah pekerjaannya, dia melihat sekelompok anak-anak dari sekolah dasar dekat rumah sakit sedang bermain dengan bola kecil di halaman depan. Suara tawa mereka membuat hatinya terasa hangat dan penuh dengan harapan.

“Siang sudah, Lia. Kamu bisa istirahat sebentar ya,” ucap Bu Warsih yang baru saja datang membawa makanan hangat untuk anak-anak di kontrakan. “Mal dan Rini sudah pulang dari sekolah lho, mereka bilang pengen cerita sama kamu tentang teman baru mereka.”

Lia mengangguk dengan senyum. Dia menyelesaikan cucian terakhir dengan hati-hati sebelum mengambil tasnya untuk pulang. Di jalan pulang, dia menyapa setiap orang yang mengenalnya – dari pedagang sayur yang selalu memberi dia harga murah hingga tukang becak yang sering menawarkan tumpangan gratis.

Ketika sampai di kontrakan, Mal dan Rini sudah menunggu dengan wajah ceria. “Bu sudah datang!” teriak mereka berdua dengan senyum lebar.

Lia memeluk mereka dengan erat. “Kamu berdua sudah makan belum?” tanyanya dengan suara lembut.

“Belum, kita mau makan bareng Bu,” jawab Mal dengan senyum ceria.

Setelah itu, Lia memasak makanan dengan hati-hati. Dia menyiapkan nasi hangat dengan lauk yang cukup banyak agar anak-anak bisa makan dengan kenyang. Di mejanya yang sudah lebih rapi dengan buku dan foto kecil yang selalu ada di sana, mereka makan bersama dengan suasana yang hangat dan penuh cinta.

“Bu, kapan kita bisa ketemu sama Kak Adit ya?” tanya Rini dengan suara lembut sambil melihat foto kecil yang ada di mejanya.

“Kita akan ketemu dia suatu hari nanti, sayang,” jawab Lia dengan senyum hangat. “Yang penting kita selalu cinta satu sama lain ya.”

Mal dan Rini mengangguk dengan senyum ceria. Di luar jendela, matahari mulai terbenam dengan warna jingga yang cantik – sebuah lambang bahwa meskipun hari sudah malam, esok pagi akan datang lagi dengan harapan baru.

Di tengah malam, setelah anak-anak tidur dengan nyenyak, Lia mengambil foto kecil itu lagi. Dia melihat wajah tiga bayinya dengan cinta yang mendalam, berdoa agar mereka selalu sehat dan bahagia, di mana pun mereka berada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!