Aurora menyeringai, "Kakak maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti mu. Selama ini kami saling mencintai. Karena kamu memaksa, akhirnya Jake menikahi mu. Jadi aku mengambil yang sudah menjadi hak ku."
"Apa maksud mu? Jake suami ku," ucap Caroline dengan nada menekan. Air matanya sudah mengalir, entah semenjak kapan. Ia tidak tau. Sakitnya seperti tercabik-cabik.
Tommy tertawa dan melangkah ke arah Caroline. "Jake suami mu." Sekali lagi ia mengulang ucapan Caroline. Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Caroline. "Apa selama ini kau menikmati pelayanan ku?"
.....
Demi balas dendam untuk kekasihnya. Jake Willowind dan Tommy Willowind menggunakan sandiwara. Mereka bergantian tidur dengan Caroline. Seolah Caroline adalah barang. Sehingga suatu hari, Caroline mengetahui semuanya bahwa Jake memiliki saudara kembar dan sering kali berperan sebagai suaminya. Bahkan suaminya diam-diam masih bersama dengan adik tirinya Aurora.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab enam belas
Jake mendorong paksa Aurora hingga wanita itu mundur beberapa langkah. "Caroline ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Dia yang datang memeluk ku."
Aurora menganga, ia tidak percaya Jake menjelaskannya pada Caroline. Jelas semua ini Jake sudah berubah.
"Jake kau tidak perlu menjelaskannya. Kita saling mencintai."
Aurora menatap Caroline. Apa bagusnya wanita di hadapannya sampai Jake menjelaskannya. "Kalian akan berpisah. Kau pasti paham Caroline." Seharusnya Caroline tidak bodoh. Dia pasti ingat bahwa Jake tidak mencintainya.
Caroline membalikkan wajahnya. Dia mengambil jus di atas nampan dan langsung membuang ke wajah Aurora. "Bertemu dengan mu membuat ku mual. Kau ingin Jake, silahkan ambil. Kalau perlu aku akan menikah kalian."
"Caroline apa maksud mu? Kau hanya istri ku dan tetap istri ku mana bisa aku menikah dengan Aurora."
Caroline hanya tersenyum sekilas. Dia melirik Aurora. Pasti Aurora sedang menahan amarahnya. Melihat kedua tangannya yang urat-uratnya terlihat.
"Jake aku bukan mainan mu."
Caroline berbalik, dia melihat Tommy. Kebetulan sekali pria itu datang di waktu yang tepat.
"Tommy kau datang pasti ingin melihat Aurora. Aku menumpahkannya jus ke wajahnya," ucapnya sengaja. Ia tidak perlu lagi takut bertingkah di hadapan mereka berdua. "Kau ingin balas dendam pada ku? Pastinya kau ingin membuat ku menderita. Kau kan anti pada ku."
Rasanya sangat sakit mengingat bagaimana ia di bohongi oleh mereka. Menikah dengan kakaknya, tapi adiknya juga ikut menjamahnya.
Jake terkejut dengan kedatangan Tommy. Tidak ada yang memberitaunya. Ia mendekati Tommy untuk memperkenalkannya lebih dekat. "Adik kenapa kamu datang kesini? Caroline dia adik ku."
Caroline melangkah dengan santai. Dia mengangguk dengan hati yang kecewa. Berpura-pura menjadi Jake lalu mempermainkannya.
Plak
Dia mengayunkan tangannya hingga Tommy menoleh ke arah samping. "Aku rasa kalian pasti paham kenapa aku menampar kalian. Apa kalian pikir aku masih senang dengan permainan kalian? Sayang sekali, aku tidak lupa. Rasa sakit yang pernah kalian lakukan pada ku. Aku tidak akan pernah melupakannya."
Caroline melewati Tommy dan Jake dengan melewati tengah-tengah mereka.
"Jake, Tommy, kalian tidak ap-apa? Caroline memang seperti itu," ucap Aurora dengan nada sedih. Dia menghapus air matanya.
Jake berlari mengejar Caroline begitu pun Tommy. Caroline masuk ke dalam mobil keduanya pun ikut masuk. Tommy dan Jake saling tatap.
"Kau mau apa ikut masuk?" Tanya Jake tidak suka. Dia kesal karena Tommy juga ikutan.
"Aku ..." Tommy berpikir sejenak. "Aku juga mau minta maaf pada Caroline."
Caroline melihat dari spion mobilnya. "Seharusnya kalian berdua yang pergi bukan kalian malah saling menunjuk."
Caroline keluar, dia menarik paksa Tommy keluar lalu Jake.
"Caroline aku ingin minta maaf pada mu," ucap Tommy. "Aku ingin berbicara dengan mu."
Caroline menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Baiklah, sepertinya kita harus berbicara bertiga."
Ia ingin secepatnya berbicara dengan mereka menuntaskan semua rasa sakitnya.
"Caroline kau tidak boleh kasar pada mereka." Aurora tidak suka Tommy dan Jake dekat dengan Caroline.
"Minggir!" Caroline mendorong Aurora hingga jatuh ke lantai lalu masuk ke mobilnya tanpa berniat memperdulikannya.
Aurora memasang wajah sedih pada Jake dan Tommy dengan air mata yang mengalir.
Tommy dan Jake hanya menatapnya dan tidak bermaksud untuk menolongnya. Saat ini ia hanya ingin berbicara dengan Caroline.
Jake dan Tommy memandangi Caroline yang duduk berhadapan dengannya. Mereka menyewa sebuah club vip.
"Mungkin kalian sudah bisa menebak kenapa aku ingin berbicara dengan kalian," ucap Caroline.
Jake merasa bersalah, air matanya luruh. "Aku minta maaf atas semuanya. Aku tau aku salah dan tidak bisa di maafkan, tapi aku ingin meminta maaf pada mu. Aku ingin memulai dari awal."
Telinga Tommy terasa panas. Hatinya merasa tidak rela Jake kembali pada Caroline.
"Jake aku tidak membutuhkan maaf dan juga Tommy. Kalian begitu luar biasa menpermainkan ku. Mempermainkan perasaan ku." Caroline menarik dalam nafasnya. "Kalian pikir aku boneka yang seenaknya kalian jamah begitu saja. Menghancurkan diriku."
"Aku sangat membenci kalian. Sampai kapan pun aku tidak akan memaafkan kalian. Aku sudah menghubungi kakek dan nenek. Aku ingin bercerai dengan kalian."
Caroline berdiri, Jake dan Tommy langsung bersimpuh di kaki Caroline. Jake memegangi kaki kanan Caroline dan Tommy memegangi kaki kiri Caroline.
"Aku akan melakukan apa saja asalkan kamu memaafkan aku," ucap Tommy. Hatinya merasa sesak jika harus di tinggalkan oleh Croline.
Jake menatap sengit pada Tommy. Caroline bukanlah siapa-siapanya. Ia mulai curiga jika Tommy menaruh perasaan. Ia akan membereskannya nanti setelah mengurus semua masalah dengan Caroline.
"Caroline tolong berikan aku kesempatan."
"Aku akan memberikan kalian kesempatan saat kalian sudah menangis darah." Caroline mengambil segelas nggur lalu menuangkannya ke kepala Tommy dan Jake.
Caroline mendorong kasar Jake dan tommy hingga kepala Tommy membentur sudut meja kaca dan berdarah.
"Aku jijik melihat wajah kalian." Geramnya.
Caroline meninggalkan mereka. Jake langsung menghajar Tommy dengan memberikan pukulan padanya.
"Apa kau menginginkan Caroline? Kau ingin mati Tommy."
Tommy membuang kasar tangan Jake agar melepas pakaiannya. Ia tidak ingib mengalah, sudah cukup baginya mengalah pada Aurora. "Kau sudah memiliki Aurora dan Caroline hanya memiliki aku."
"Brengsek!" Maki Jake. Dia mangambil sebotol anggur dan memukul kepala Tommy. "Jangan pernah berharap. Caroline masih istri ku dan aku tidak akan pernah menceraikannya sampai aku mati."