Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.28 Pesisir Berbahaya
Ponsel satelit itu masih bergetar di telapak tangan Sekar, seolah benda mati itu sendiri sedang menggigil ketakutan.
Kalimat di layarnya—'Mutasi tidak pernah benar-benar berhenti'—terasa seperti vonis mati yang baru saja dijatuhkan oleh hantu dari masa lalu.
Sekar menatap Arini yang tertidur pulas. Napas anak itu teratur, tangannya mendekap buku gambar yang dipenuhi sketsa ombak. Betapa kejamnya takdir yang memberikan kesembuhan hanya untuk menjadikannya target perburuan sekali lagi.
Sekar tidak menunggu fajar. Ia segera menyambar senter dan berlari menembus kegelapan menuju gubuk selancar Alvin yang berjarak dua ratus meter dari kliniknya.
Pasir pantai terasa dingin di kakinya, dan suara deburan ombak yang biasanya menenangkan kini terdengar seperti langkah kaki ribuan prajurit yang sedang mengepung mereka.
"Alvin! Bangun!" Sekar menggedor pintu kayu gubuk itu dengan panik.
Pintu terbuka hanya dalam hitungan detik. Alvin berdiri di sana, matanya langsung awas, tangannya sudah menggenggam sebuah belati taktis—insting yang tidak pernah benar-benar mati meskipun ia sudah berpura-pura menjadi tukang kelapa selama berbulan-bulan.
"Ada apa? Arini kambuh?" tanya Alvin cepat, suaranya rendah dan tajam.
Sekar menyerahkan ponsel satelit itu tanpa kata. Alvin membacanya, dan seketika aura santai—Bule Lokal— yang ia bangun runtuh.
Rahangnya mengeras, dan sorot matanya kembali menjadi Alvin Pratama sang pengatur siasat yang dingin.
"Sialan," umpat Alvin pelan. "Mereka menggunakan satelit termal. Mereka melacak jejak radiasi isotop dari inhibitor Steiner yang kamu suntikkan ke Arini."
Sekilas Sekar menatap bingung. Se-canggih Itukah teknologi zaman sekarang ini, bahkan melacak tempat pun bisa dari cairan inhibitor.
"Rasanya mustahil Alvin," ujar Sekar setengah tidak percaya.
Alvin menghela napas sesaat sebelum melanjutkan ucapannya, "Cairan itu memiliki tanda kimia yang bisa dibaca dari luar angkasa jika mereka tahu apa yang mereka cari."
"Kita harus pergi, Alvin. Sekarang juga," suara Sekar terdengar bergetar.
"Tidak," Alvin menatap ke arah horison laut yang masih gelap. "Jika kita lari sekarang, mereka akan terus mengejar. Kita akan kelelahan, dan Arini akan hancur dalam pelarian. Kita harus menyambut mereka di sini. Di medan yang kita kuasai."
Alvin menarik sebuah peti besi dari bawah tempat tidurnya—peti yang selama ini Sekar kira berisi alat-alat selancar cadangan.
Saat dibuka, isinya adalah peralatan komunikasi militer, beberapa granat asap, dan perangkat pengacak sinyal.
"Kukira kau sudah pensiun dari dunia ini," sindir Sekar, meskipun ada rasa lega melihat persiapan Alvin.
"Aku selalu menyiapkan payung sebelum hujan, Dokter. Masalahnya, ini bukan hujan, ini tsunami," Alvin mulai memasang antena kecil di atap gubuknya. "Aku akan mengaktifkan pengacak sinyal radius dua kilometer. Itu akan membutakan satelit mereka sementara. Tapi itu juga akan memancing mereka untuk datang langsung ke koordinat terakhir kita."
"Berapa lama kita punya waktu?"
"Paling lambat dua jam. Mereka kemungkinan besar akan mendarat lewat laut menggunakan perahu motor cepat dari kapal induk yang menunggu di perairan internasional," Alvin menoleh pada Sekar. "Bawa Arini ke gua di balik bukit kapur. Ingat gua tempat kita pernah melihat matahari terbenam bulan lalu? Di sana ada persediaan air dan jalan setapak rahasia menuju desa sebelah."
Sekar menggeleng mantap. "Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini, Alvin."
Alvin menghentikan aktivitasnya, menatap Sekar dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia melangkah mendekat, memegang bahu Sekar. "Dengar, Sekar. Kamu adalah otaknya, Arini adalah jiwanya, dan aku? Aku hanyalah otot dan tamengnya. Tugas pahlawan bayaran sepertiku adalah memastikan kliennya selamat sampai akhir. Jadi, jangan merusak rencanaku."
"Ini bukan cerita dongeng, Alvin! Ini tentang nyawamu!"
"Nyawaku sudah berutang banyak pada keberanianmu di Zurich," Alvin tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini tidak mengandung sarkasme sama sekali. "Pergilah. Jaga anak kita."
Kata 'anak kita' sempat membuat Sekar terpaku, namun ia segera sadar bahwa tidak ada waktu untuk perdebatan emosional. Ia mengangguk, lalu berlari kembali ke klinik.
Arini terbangun saat Sekar membungkusnya dengan jaket tebal. "Ibu? Kita mau menggambar matahari terbit di gua?" tanya Arini dengan suara serak khas anak kecil yang baru bangun.
"Iya, Sayang. Tapi kita harus bergerak cepat. Ini... ini adalah latihan petualangan, ingat?" Sekar mencoba menjaga suaranya tetap stabil meskipun jantungnya berdegup kencang.
Arini menatap mata ibunya. "Orang-orang berbaju hitam itu datang lagi ya, Bu?"
Sekar membeku. "Bagaimana kamu tahu?"
"Ayah bilang dalam mimpi tadi. Dia bilang mereka sudah dekat, tapi ada Om Alvin yang akan menjadi raksasa di depan pintu." Arini turun dari tempat tidur, meraih tas kecilnya yang berisi buku gambar. "Ayo, Bu. Aku tidak takut."
Sekar terenyuh melihat keberanian putrinya. Mereka keluar melalui pintu belakang, menyelinap di antara rimbunnya pohon pisang dan semak belukar menuju perbukitan kapur.
Di bawah, di bibir pantai, Sekar bisa melihat lampu gubuk Alvin tiba-tiba padam, namun sebuah lampu suar kecil di dermaga justru menyala—sebuah umpan yang sengaja dipasang Alvin.
Satu jam kemudian, suara deru mesin perahu motor memecah kesunyian Pantai Kuta. Tiga perahu hitam tanpa lampu mendarat di pasir.
Sepuluh orang dengan perlengkapan tempur lengkap dan kacamata night vision keluar dari sana. Mereka bergerak dalam formasi yang sangat terlatih.
Alvin berdiri di teras gubuknya, menyalakan sebatang rokok. Cahaya api pemantiknya menjadi satu-satunya titik terang di pantai itu.
"Selamat datang di Lombok, Tuan-tuan," suara Alvin menggema tenang. "Sayangnya, jam kunjung klinik sudah tutup."
Para pengejar itu berhenti, mengarahkan senjata laser merah mereka tepat ke dada Alvin. Salah satu dari mereka, seorang pria tinggi dengan bekas luka bakar di lehernya, melangkah maju. "Alvin Pratama. Kamu adalah gangguan yang sangat mahal bagi Von Hess. Di mana subjeknya?"
"Subjek?" Alvin mengembuskan asap rokoknya ke udara malam. "Kalian bicara soal anak kecil yang sedang bermimpi tentang bintang?" ejeknya.
Alvin menatap mereka semua dengan remeh. Senyuman licik itu sungguh membuat para bawahan Von Hess merasa geram. "Dia tidak ada di sini. Dan jujur saja, kalian baru saja melakukan kesalahan besar dengan menginjak pasir pantai ini."
"Ambil dia!" perintah sang pemimpin.
Tiba-tiba, tanah di bawah kaki para pengejar meledak. Bukan ledakan mematikan, melainkan rentetan ranjau suara yang mengeluarkan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga.
Para pengejar itu berjatuhan, memegangi kepala mereka yang seolah mau pecah. Alvin tidak menyia-nyiakan waktu. Ia bergerak secepat kilat, menggunakan kegelapan sebagai sekutunya.
Ia bukan hanya sekadar— otot, ia adalah predator yang telah mempelajari setiap inci pantai ini selama tiga bulan terakhir.
Ia menjatuhkan lawan satu per satu dengan teknik pelumpuhan saraf, memastikan mereka tidak bisa berdiri lagi dalam waktu dekat.
Namun, sang pemimpin tim berhasil pulih lebih cepat. Ia mengeluarkan sebuah alat penyuntik otomatis. "Jika kami tidak bisa membawanya hidup-hidup, maka residunya tidak boleh jatuh ke tangan orang lain!"
Pria itu menembakkan sebuah peluru pelacak khusus ke arah hutan, tempat Sekar dan Arini bersembunyi. Peluru itu mengeluarkan sinyal panas yang kuat, memberikan tanda bagi unit udara yang mungkin sedang mendekat.
"Sialan!" Alvin menerjang pria itu, mereka bergulat di atas pasir yang basah. Alvin berhasil merebut alat penyuntik itu, namun ia terkena pukulan telak di rusuknya.
Di atas bukit, Sekar melihat sinyal merah yang menyala di dekat posisi mereka. Ia tahu itu adalah suar pelacak.
Suara helikopter mulai terdengar di kejauhan, membelah langit malam Lombok yang biasanya tenang.
"Arini, lari ke dalam gua! Jangan keluar sampai Ibu memanggil!" teriak Sekar.
Sekar berdiri di depan pintu gua, menggenggam sebuah tabung oksigen kecil yang sudah ia modifikasi menjadi bom molotov sederhana dengan alkohol medis. Ia siap mati untuk melindungi Arini.
Namun, sebelum helikopter itu mencapai bukit, sebuah tembakan dari arah laut menghantam baling-baling belakang helikopter tersebut. BOOM! Helikopter itu oleng dan jatuh meledak di laut, jauh dari bibir pantai.
Sekar tertegun. Itu bukan tembakan dari Alvin.
Di dermaga, sebuah kapal nelayan besar nampak muncul dari balik kabut. Di atasnya, berdiri sosok-sosok yang sangat akrab di mata Sekar.
Para nelayan desa, dipimpin oleh Pak Wayan yang beberapa hari lalu nyawanya diselamatkan oleh Sekar. Mereka tidak membawa senjata api, tapi mereka membawa tombak ikan, parang, dan obor.
"Jangan ganggu Dokter kami!" teriak Pak Wayan, suaranya menggelegar di seluruh pantai.
Rakyat desa yang selama ini dirawat oleh Sekar secara cuma-cuma ternyata telah bergerak.
Alvin, yang sebelumnya telah memberikan peringatan rahasia kepada mereka, tidak menyangka bahwa solidaritas orang-orang lokal ini akan sehebat ini.
Para pengejar Von Hess yang tersisa, melihat helikopter mereka jatuh dan dikepung oleh puluhan warga desa yang marah, akhirnya memutuskan untuk mundur ke perahu mereka dan melarikan diri kembali ke laut lepas.
Alvin berdiri dengan napas tersengal, darah mengalir dari sudut bibirnya, namun ia tertawa. "Lihat itu, Sekar? Kamu tidak butuh tentara bayaran. Kamu punya pelindung yang jauh lebih kuat."
Sekar berlari turun dari bukit, menghampiri Alvin dan memeluknya erat. Arini menyusul di belakang, langsung memeluk kaki Alvin.
"Om Alvin hebat!" seru Arini.
Alvin mengusap kepala Arini dengan tangannya yang gemetar. "Hanya keberuntungan, Bocah. Hanya keberuntungan."
Saat mereka berdiri bertiga di pinggir pantai, dikelilingi oleh warga desa yang berjaga, Sekar merasakan kehadiran Rahman sekali lagi.
Kali ini, aroma cendana itu terasa sangat manis, seolah-olah Rahman sedang tersenyum bangga melihat keluarga yang tak terduga ini berhasil memenangkan satu pertempuran lagi.
"Kita tidak bisa tinggal di sini lagi, kan?" tanya Sekar pelan.
Alvin menatap laut yang mulai terang oleh fajar. Ia berbicara seolah perang ininmasih jauh dari kata usai, "Mungkin. Tapi kali ini, kita tidak akan lari dalam ketakutan. Kita akan berpindah sebagai satu tim. Dan Von Hess... mereka baru saja menyadari bahwa memburu seorang dokter adalah kesalahan terbesar dalam sejarah perusahaan mereka."